
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Aris terkejut ketika mendengar penuturan para pelayan itu yang justru malah saling menjawab satu sama lain. Mereka memang sedang mengagumi kedua tuan dan nona mudanya yang sedari tadi tampak bahagia menikmati momen berkemahnya hingga mereka lebih memilih untuk memperhatikan mereka dari kejauhan.
'Bisa seperti itu ya?' batin Aris.
"Memang ada apa ya Tuan?" tanya salah satu pelayan itu.
"Tidak ada terimakasih!" jawab Aris.
Setelah berbicara dengan para pelayan itu, Aris kini terdiam Ia lalu berjalan setelah berbicara dengan para pelayan itu. Aris kini terdiam, ia lalu berjalan berbalik ke arah di mana Amira dan Rayn begitupun Naura telah duduk di depan tenda. Mereka melihat ke arahnya yang sedang berjalan.
Apalagi ketika melihat Amira tengah tersenyum penuh kemenangan melihat Aria berbalik dengan tatapan heran nya menghampiri Amira.
"Aku tidak percaya ketika para pelayan di sini terlihat sangat kompak! Bahkan mereka bisa saling memahami satu sama lain antara pekerja dengan tuan rumah," gumam Aris.
Aris berjalan hingga kini ia berada tepat di hadapan Amira dan juga Kedua saudara itu.
"Kenapa? Jadi kamu sudah siap untuk tidur diluar malam ini?" tanya Amira.
Amira tersenyum penuh kemenangan ketika melihat raut wajah Aris yang terdiam. Bahkan ia terkejut ketika mendengar kenyataan bahwa Aris memang salah dalam menebak.
"Ya, ya, aku memang selalu menepati janjiku, tapi kenapa kamu bisa tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka?" tanya Aris.
"Cukup mudah untuk mengetahui isi pikiran mereka. Sebelum aku memberitahunya kepadamu bayaran apa yang akan aku dapat ketika menjawab pertanyaanmu?" jawab Amira dengan tajam ke arah Aris.
"Kamu masih mau memperhitungkan setiap pertanyaan ku kepadamu Ra?" tanya Aris.
"Setiap pertanyaan pastinya membutuhkan jawaban! Bukankah didalam materi mata pelajaran seperti itu? Ada pertanyaan ada jawaban dan ada hasil dan aku mengharapkan keuntungan," jawab Amira tersenyum.
Apalagi Amira kini menatap tajam kearah Aris yang mengerutkan dahinya melihat sahabatnya itu masih saja dengan sifatnya selalu mencari untung keuntungan di dalam hal apapun.
"Aku baru tahu alasan dimana kamu selalu punya nilai bagus Ra," ucap Aris.
"Apa, menurutmu apa?" tanya Amira.
"Itu karena kamu selalu memperhitungkan setiap hal apapun yang terjadi," jawab Aris. Ia duduk di samping Amira.
"Tidak usah berbelit-belit, sekarang kamu tinggal kasih tahu saja apa yang akan aku dapatkan jika aku menjawab pertanyaanmu?" tanya Amira.
"Baiklah, Baiklah ... aku akan mengabulkan lagi semua permintaan kamu apapun itu aku pasti akan selalu mengabulkannya," jawab Aris.
"Bagus! Itu jawaban yang jauh lebih menarik," ucap Amira tersenyum.
Aris mengangguk ia duduk dengan baik ketika mencoba untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh Amira. Ia sangat antusias ketika akan mendengarkan penuturan sahabatnya itu Amira tersenyum ketika melihat.
"Sebenarnya mereka mengagumi kita yang sedang berkemah disini itu karena mereka tengah mengagumi kakaku apalagi kebersamaan kita, lagipula mereka tidak akan menunggu pekerjaan karena mereka sudah terbagi tugasnya jadi tidak boleh menyentuh bagian pekerjaan yang bukan tugasnya," jelas Amira.
"Bisa seperti itukah?" tanya Aris tidak mempercayainya.
"Atau kau mau menguji semuanya sana! Tanyakan pada kakek Jun, dia yang mengatur semua pelayan disini," ucap Amira.
"Ah, tidak. Lalu bagaimana dengan permintaanmu? Aku harus apa untuk mengabulkan permintaanmu?" tanya Aris.
"Duduk saja! Makan dan minum kopimu, nanti aku pikirkan permintaanku," jawab Amira.
"Ya ya yah, aku turutin apapun itu jika kamu yang minta Ra," balas Aris.
"Tanpamu juga semua sudah aku kabulkan untuk adiku! Kamu tidak merepotkan adiku saja sudah bagus!" sela Rayn.
Amira dan Naura tersenyum ketika melihat kedua pria yang sedari tadi berdebat hal yang menurut mereka adalah hal yang tidak perlu di perdebatkan. Saat mereka tengah menikmati waktu di sore hari, dimana mereka melihat pemandangan di halaman rumah Anggara yang cukup Asri. Apalagi melihat perkebunan buah-buahan yang kini tengah memanen. Saat Amira dan Aris kini berjalan mengitari perkebunan sembari menikmati buah strawberry di tangan Aris, Amira teringat akan ibunya yang kini Ini masih berada di Bandung.
"Kata nenek bahwa ini ada karena ibuku yang sangat menyukai makanan hasil panen sendiri! Aku bahkan sangat mencintai Ibuku itu," ucap Amira sembari berjalan yang diikuti oleh Aris.
__ADS_1
"Aku pernah melihat ibumu yang cantik itu Ra. Ada di media pada tahun berapa ya aku lupa. Saat itu keluargaku sedang memeriksa beberapa perusahaan di Singapura, Tapi tidak tahu buat apa!" ucap Aris.
Amira mengangguk dan tersenyum menanggapi perkataan Aris yang dengan pastinya dia mengetahui tentang kehidupan keluarga Anggara yang memang menjadi bahan dan topik yang menjadi sorotan utama di media. Jika tentang keluarga Anggara yang terkenal dengan keberhasilan perusahaannya begitupun dengan ayahnya Rendy yang terkenal dengan sifat dinginnya dan acuhnya.
Lain dengan Aris dan Amira, juga kini duduk di samping Naura ada Rayn yang bermalas-malasan, tanpa tertarik ikut dengan Amira dan Aris yang kini tengah berkeliling kebun tanpa mereka temani.
"Sayang tanda tanya apa proyek pertama kamu itu itu sudah berjalan dengan lancar?" tanya Naura.
"Tentu saja! Emang apa yang tidak bisa aku lakukan dengan pekerjaanku! " jawab Rayn.
"Ya ... aku tahu itu. Tapi aku dengar itu tentang sebuah perusahaan teknologi yang cukup besar ditangani oleh perusahaan terbesar milik siapa ya aku lupa! Namanya yang terbesar di Jerman itu," ucap Naura.
Ia mengingat-ingat tentang sebuah nama yang cukup familiar di dunia perbisnisan.
"Yang aku tahu dia menjadi sahabatku," jawab Rayn.
"Sahabat? Maksudnya apa pria muda yang sudah sukses di usia nya itu teman kamu?" tanya Naura. Ia sangat penasaran mendengar penuturan kekasihnya itu.
"Yang kita berteman sejak proyek itu dimulai. Da tertarik saat aku memenangkan sebuah proyek yang cukup besar itu, karena untuk pertama kalinya aku terjun ke dunia perbisnisan," jawab Rayn.
"Tapi kamu baru pertama kali terjun ke perusahaan itu. Hal yang tidak mungkin jika kamu tidak mendapatkan proyek itu. Tapi hal yang lebih mengagumkan ketika kamu bisa berteman dengan pengusaha terbesar itu. Dia terkenal dengan kekejamannya loh!Namun ada juga isu yang mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai seorang wanita, "ucap Naura.
"Lalu apa masalahnya atau jangan-jangan Kamu takut aku itu kepadanya jangan bilang kamu cemburu pada seorang pria juga!" ucap Rayn.
Rayn tersenyum melihat Naura yang terdiam, juga hanya bisa ditebak Rayn yang memang selalu tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Naura.
"Kalaupun dia tertarik kepada pria. Tapi aku lebih tertarik pada kamu! Dibandingkan wanita-wanita lain yang lebih cantik bahkan lebih seksi. Meski mereka menunjukkan tubuhnya di depan mataku. Aku tidak akan tertarik. Karena aku hanya akan tertarik pada kekasihku yang super dingin ini," balas Rayn.
Naura tersenyum, ia tersipu malu ketika mendengar penuturan kekasihnya itu yang memang membenarkan bahwa dirinya sedikit khawatir kepada Rayn yang malah berteman dengan pria yang di usianya, sudah sangat jelas tersebar tentang dirinya yang menyukai pria.
"Aku tidak cemburu! Hanya saja sangat menggelikan ketika kamu menyukai dia juga," ucap Naura.
Rayn tersenyum ketika mendengar penuturan kekasihnya itu, lalu ia mendekati Naura yang malah menggeser posisi duduknya menjauh darinya, lalu tersenyum dan menarik tubuh Naura kepelukannya.
Rayn memeluk erat Naura. Saat mendengar penuturan kekasihnya itu, Naura membulatkan kedua matanya lalu mendorong tubuh Rayn. Ia menatap tajam kearah Rayn sembari memajukan bibirnya cemberut, ketika mendengar Rayn mengatakan bahwa sahabat nya itu jauh lebih tampan bahkan sangat serasi dengannya.
"Tapi dia tidak cantik seperti dirimu," ucap Rayn tersenyum dan menarik lagi tubuh Naura yang kini juga tersenyum mendengar penuturan Rayn.
"Kamu sedang menggoda aku ya?" tanya Naura manja.
Rayn tersenyum tipis mendengar percakapan manja dari Naura seorang gadis yang untuk pertama kalinya bersikap dingin kepada Rayan kini ia bertingkah menjadi pelukannya.
"Kalian bisa ya bermesraan di sini tanpa mengajakku! Bahkan berkemah tanpa mengingat aku,"ucap Zain.
Zain datang dari arah belakang yang diikuti oleh Nisa seorang gadis dengan tubuh tingginya, ia kini berdiri bersama dengan Zain seorang gadis manja, cantik dan imut kini berdiri di hadapan Naura dan Rayn.
"Apa kabarmu Zain?" tanya Naura tersenyum.
Dia berdiri meninggalkan Rayn dan menghampiri Zain dan Nisa yang kini mereka berpelukan saling sapa satu sama lain.
"Kabarku baik-baik saja! Hnya saja kekasihmu itu melupakan ku jika sudah bersama dengan kekasihnya ini. Kamu masih saja terlihat cantik bahkan semakin cantik," balas Zain.
Zain berbicara di pelukan Naura begitupun dengan Nisa. Mereka saling berpelukan menyapa satu sama lain. Rayn tidak menghiraukan keduanya, ia merogoh ponselnya dan bermain game tanpa menghiraukan Zain yang berbicara tanpa henti menggerutu kepadanya yang tidak mengajaknya dalam berkemah.
"Untung saja ayahku mengirim sebuah berkas untuk Tuan Anggara, jadi aku mengambil alih tugasnya dan sampai di sini di rumah Tuan Anggara yang sangat besar ini," ucap Zain tersenyum.
Dan kini mereka duduk di tikar bersama dengan Naura, Nisa dan Rayn yang mengajarkan mereka apalagi zain yang telah menggerutu sedari tadi.
"Apa kamu sudah memberikan berkas itu kepada kakek?" tanya Rayn dingin.
"Tentu saja sudah! Memangnya aku tidak bisa bekerja huh," jawab Zein.
"Hmm," balas Rayn masoh fokus bermain game.
__ADS_1
Naura dan Nisa yang tengah duduk keduanya menggelengkan kepalanya dan membuat kopi untuk mereka minum.
"Dimana Amira?" tanya Nisa.
"Dia sedang pergi ke perkebunan, apa kamu mau ikut juga? Aku juga penasaran dengan taman buahnya," jawab Naura.
"Kamu pergi denganku Sayang!" ajak Rayn berdiri dari duduknya.
"Bukannya kamu tadi tidak mau?" tanya Naura.
"Ayo! Kamu mau jalan apa tidak?" balas Rayn.
Naura mengerutkan dahinya dan berdiri berjalan merangkul lengan kekasihnya itu, Ia tersenyum ketika berada di samping Rayn dan berjalan menuju taman buah di ikuti Zein dan Nisa dari arah belakangnya.
Naura begitu mengagumi perkebunan buah strawberry milik kediaman Anggara yang terbilang sangat luas dan asri dengan kehijauan taman itu.
"Apa semua ini di kirim untuk ke pemasaran?" tanya Nisa.
"Tidak! Ini semua milik ibuku dan dia yang berhak mengatur semua ini," jawab Rayn.
"Aku tahu kalo Tante mengirimnya dengan cuma-cuma ke setiap panti kan?" sambung Zein.
"Hmmm, darimana kau tahu?" tanya Nisa.
"Tentu saja aku tahu, ayahku yang mengatur semuanya dan tante Rara yang menjadi tuannya, aku saja sangat menyayangi tanteku itu," jawab Zein.
"Hanya aku yang boleh mencintainya!" cetus dingin Rayn.
"Cih, semua saja kamu cintai, Amira gk boleh tante juga gak boleh, lalu siapa yang boleh aku cintai?" balas Zein.
"Terserah!" balas Rayn dingin.
Naura dan Nisa menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan keduanya, yang terdengar sangat konyol ketika yang satunya dingin dan yang satunya petakilan seperti Zain, yang sedari tadi berbicara tiada hentinya. Begitupun dengan Nisa yang sepanjang jalan ia mendengarkan ocehan Zain yang menggerutu karena tuan mudahnya Rayn tidak mengajaknya untuk berkemah. Apalagi di kediaman Anggara. Saat mereka sampai di pertengahan perkebunan. Mereka berpapasan dengan Amira dan Aris yang telah mengelilingi perkebunan sembari membawa keranjang buah di tangan Aris.
"Amira kamu bersama siapa? Oh sama teman kamu itu! Yang suka banyak berbicara itu ya?" ucap Zain.
Zain melihat kearah Aris dengan tatapan tidak sukanya.
"Siapa yang kamu bilang suka banyak berbicara itu?" balas Aris menatap tajam Zain.
"Cih, tidak terima. Padahal memang iyakan," cetus Zein.
"Kamu ini ya datang-datang sudah berisik saja! Ayo balik ini sudah mulai gelap lagipula kalian mau kemana?" ucap Amira.
"Kita mau nyusul kamu. Tapi kamu sudah balik lagi," balas Naura.
"Hmmm," tambah Zain.
"Gak usah! Ayo kembali!" ajak Amira.
"Tapi aku belum dapat buah loh!" protes Zain.
"Tuh ada di Aris dia metik banyak!" balas Amira.
"Dia? Nggak!" cetus Zain.
"Aku tidak akan membaginya denganmu!" balas Aris.
"Kalian berdua ini sangat cocok jika berpacaran. Sama-sama berisik!" sela Amira.
Amira berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka dan di ikuti Rayn dan yang lainnya. Namun lain dengan Zain yang berselisih dengan Aris dari belakang. Mereka masih saja bersikukuh saling tidak menyukai satu sama lain. Lain dengan Amira yang sudah jauh dari mereka. Kini mereka berkumpul di depan tenda sembari duduk dengan wajah berseri bahagia satu sama lainnya. Namun lain dengan Zain yang memasang wajah kusut tidak menyukai Aris yang memakan buah-buahan sendirian saja. Melihat ke arah Zain dengan tatapan sinis dan tersenyum licik.
Di malam hari mereka menyalakan api sembari membuat makan malam membakar ikan. Amira yang sedang membakar ikan bersamaan dengan kakaknya Rayn. Naura dengan Nisa menyiapkan yang lainnya. Namun Aris dan Zain saling diam duduk di alas tikar memperhatikan Rayn dan Amira yang kini tengah saling membakar ikan satu sama lain.
__ADS_1
"Kak, Mira akan pergi ke perusahaan yang kakak bilang itu lusa nanti!" ucap Amira.