Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Cinta Yang Dalam


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Meski Amira memang tidak pernah banyak berbicara atau bercerita tentang hal-hal yang menurut Amira tidak perlu dibicarakan. Naura tetap tersenyum mencoba untuk menghibur Amira. Sehingga ia pun ikut masuk ke kamar gadis itu,setelah Amira masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Naura merebahkan tubuhnya, ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Apakah dia tidak pulang malam ini? Setidaknya dia mengabariku kan?" ucap Naura.


Naura yang sedang tiduran di atas tempat tidur Amira, ia melihat langit-langit kamarnya yang putih bersih. Naura mengingat apa yang diucapkan oleh kekasihnya itu, yang mengatakan bahwa akan seperti tercepatnya mereka menikah. Mengingat hal itu, Naura tersenyum dengan tersipu malu ia mengingat akan dirinya yang mencium terlebih dahulu kepada Rayn.


Meski tanpa ia mengetahui atau pelajari tentang teori cara berciuman dengan benar, namun Naura bisa merasakannya sentuhan bibir dari kekasihnya itu, membuatnya menjadi merasa malu bahkan salah tingkah ketika melihat wajah kekasihnya itu.


Naura bahkan tidak menyadari jika pintu kamar mandi terbuka. Amira kini sudah terbuka bahkan gadis itu tersenyum dan juga mengerutkan dahinya memperhatikan Naura yang tersenyum-senyum di atas tempat tidurnya .


"Sepertinya terjadi sesuatu hal yang tidak aku ketahui ya Kak?" tanya Amira.


Amira berjalan menghampiri lemari pakaiannya. Pertanyaan Amira tidak didengar oleh Naura yang masih asyik dengan pikirannya sendiri. Naura tersenyum-senyum tanpa menghiraukan Amira. Setelah tahu tidak dihiraukan oleh Naura, Amira mengerutkan dahinya lalu ia mendekatkan dirinya kepada Naura dan ia ikut tidur disamping Naura.


Tepat di telingan gadis itu, Amira berbicara dengan pelan.


"Apa kakakku membicarakan tentang kapan dia akan menikahimu?" bisik Amira sembari tersenyum tertahan.


Naura terkejut ketika mendengar penuturan Amira lalu ia tersipu malu dan terbangun dari tidurnya.


"Apaan sih aku tidak tahu tentang itu," ucap Naura tersipu malu.


"Memang apa yang aku bicarakan? Aku cuman bertanya saja," Amira tersenyum tertahan ketika melihat Naura yang salah tingkah.


"Kamu bicara apa? Pernikahan apa? Aku tidak tahu tapi kakak kamu itu masih belum pulang sampai jam sekarang," Naura teringat akan Rayn yang masih belum pulang juga .


"Mungkin dia sedang banyak pekerjaan atau juga karena proyek pertamanya itu, cukup besar jadi dia harus menyelesaikannya secepat mungkin," ucap Amira.


"Tapi setidaknya kan dia menghidupkan handphonenya! Biar aku juga bisa menghubunginya dan tidak khawatir padanya," geruti Naura dan terdiam.

__ADS_1


"Nanti biar aku hubungi paman Ken saja dia kan yang pergi bersama dengan kakak?" tanya Amira.


Naura mengangguk, ia memasang wajah senang ketika mendapati Amira yang berbicara membuatnya tenang.


"Tapi kamu belum pakai apa-apa," ucap Naura tersenyum tertahan.


Amira terkejut ketika ia menyadari bahwa dirinya belum memakai apapun, hanya mengenakan lilitan handuk di tubuhnya dan juga kepalanya. Ia segera berdiri dan menjadi salah tingkah pergi menuju ruang gantinya. Naura tersenyum tertahan ketika melihat adik iparnya itu, kini sudah masuk dalam ruang ganti yang membuatnya merasa lucu akan tingkah adiknya itu.


Namun Naura masih terpikirkan tentang kekasihnya yang masih belum juga menghubunginya ataupun tanda-tanda ia sudah datang pulang tadi.


"Apa kau sudah masak malam ini?" tanya Amira keluar dari ruang gantinya.


"Hehehe, aku belum masak apa-apa. Aku kepikiran kalian terus makanya aku tidak masak deh," jawab Naura.


"Kamu kepikiran kami? Bukanya kepikiran Kakaku saja?" balas Amira.


"Hehehe iya iya, tapi aku kepikiran kamu juga sayang! Ayo kamu masak ya aku laper," rengek Naura.


"Sebenarnya yang Kakak itu siapa sih? Aku atau kamu sih?" tanya Amira malas.


Dengan malas ia berjalan keluar dari kamarnya sembari Naura yang merangkul lengan Amira, Naura tersenyum dengan manisnya ia ikut turun ke bawah mengikuti Amira yang kini berjalan ke arah dapur untuk memasak.


"Aku bantuin menyiapkan piring saja ya sayang," Naura tersenyum manja.


Amira mengangguk, ia memasak makanan untuk mereka berdua saja. Naura masih berulang kali melihat ke arah pintu masuk berharap kekasihnya segera pulang sesuai apa yang diharapkan.


"Aku rasa Kakakku itu sedang dalam banyak pekerjaan yang harus dikerjakan karena tidak biasanya dia seperti itu," ucap Amira.


"Ya aku juga tidak tahu. Tapi aku sangat merindukan dia," ucap Naura.


"Bukankah kalian baru saja bertemu dan itu hanya beberapa jam yang lalu sudah rindu saja?" Amira mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya harus berapa lama agar aku bisa rindu sama dia? Jngankan begitu lama sebentar saja. Aku tuh sudah rindu sama dia," ucap Naura dengan manja tersenyum ingat-ingat tingkah Rayn yang selalu maju padanya.


"Sepertinya kamu ketularan manjanya Kakakku ya? Aku bukan Rayn nanti saja kamu merengek sama dia aku cewek," cetus Amira.


Ia menyelesaikan makan masaknya dan memberikan makanan kepada Naura dan juga dirinya kini mereka berdua makan malam hanya berdua saja. Tanpa ada kakaknya yang menemani mereka.


Ttidak ada pembicaraan di antara keduanya sejak di meja makan. Namun setelah makan mereka kini duduk di sofa ruang tamu sembari dengan Amira membaca buku. Begitupun dengan Naura memegang camilan sembari ia sesekali melihat ke arah pintu keluar namun masih belum ada tanda-tanda Rayn kembali ke rumah.


"Jadi kita mau begadang saja nih?" tanya Amira.


"Bagaimana kalau kita main game saja!" ajak Naura.


"Game? Bermain game seperti yang kakakku lakukan?" tanya Amira mengerutkan dahinya.


Amira terkejut ketika Naura mengajaknya bermain game, namun dia tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua bermain game di ruang keluarga, dengan berbagai makanan tepat berada di hadapan mereka. Naura dan Amira bersenang-senang bermain game sepanjang malam. Tanpa mereka sadari hari semakin larut dan tidak terasa keduanya berhenti bermain game dan tertidur di ruang keluarga, dengan sembarangan tanpa mereka pergi ke kamar masing-masing.


Saat melihat handphonenya begitu banyak notif panggilan tak terjawab dari Naura. Rayn terkejut saat melihat motif yang begitu banyak, lalu ia melihat kau beberapa dokumen yang sudah selesai ia kerjakan.


"Ini sudah larut Tuan. Kita sudah bisa pulang!" ajak Ken.


Rayn mengangguk, ia lalu berjalan diikuti oleh Ken keluar dari ruangannya. Sudah tidak ada pekerja di kantornya. Namun keamanan di sana masih aktif dengan beberapa anak buah ayahnya. Dalam perjalanan Rayn masih terpikirkan tentang Naura yang pasti tengah marah kepadanya karena tidak mengangkat teleponnya.


"Apa yang anda pikirkan tuan muda?" tanya Ken.


Tidak ada jawaban dari Rayn. Ken memahami apa yang tengah dipikirkan oleh tuan mudanya itu karena Naura. Amira sudah mengirim pesan kepada Ken, bahwa Naura memikirkan kakaknya sedari tadi yang belum pulang.


Setelah sampai di rumahnya Rayn masuk rumah namun saat ia sampai di ruang tamu ia mendengar nyala tv yang begitu kencang di ruang keluarga. Lalu ia berjalan menghampiri ruang keluarga dan membulatkan kedua matanya ketika melihat dua gadis tengah tertidur pulas, di bawah karpet dengan TV yang menyala. Begitupun dengan makanan yang berserakan di mana-mana. Rayn menggelengkan kepalanya dan ia menghampiri mereka yang tengah tertidur.


"Sepertinya kalian bersenang-senang ya malam ini?" ucap Rayn tersenyum.


Kini ia menggendong adiknya terlebih dahulu untuk memindahkannya ke kamarnya. Namun sebelum itu, ia membenarkan posisi tidur Naura mengenakan bantal Sofa dan mencium keningnya. Saat ia tengah menggendong dan memindahkan adik perempuannya ia melihat wajah Amira yang sangat ia sayangi itu. Setelah sampai di kamarnya Rayn membenarkan posisi tidur adiknya dan menyelimuti Amira juga mencium keningnya.

__ADS_1


"Gadis nakal! Jangan lupa untuk bekerja dengan baik," bisik Rayn ditelinga adiknya.


Lalu, ia pergi keluar dari kamar Amira, melihat kembali posisi adiknya yang tengah tertidur pulas dan menutup pintu kamar Amira.


__ADS_2