
Ketenangan keluarga besar Anggara.
Saat menyaksikan adegan dimana nyonya besar menyambut menantunya dengan hangat dan akrab. Tercipta ketegangan dan rasa takut pada orang yang tadi menjelekan Rara juga menghinanya.
Rendi dan juga Tuan Anggara mereka tampak tersenyum bahagia melihat Rara dan juga ibunya saling bahagia menyambut kedatangan Rara.
Mereka seperti teman lama yang baru bertemu kembali dan melepas kerindyan yang sudah lama tidak bertemu.
Tuan Anggara mengisyaratkan Rendi untuk duduk di sofa ruang tamu. Rara di tuntun oleh ibu mertuanya untuk ikut duduk di sampingnya.
Kini semua saling berbincang hangat dengan pembicaraanya.
Lain dengan Rara seperti berbicara dengan sahabatnya Dilla saja. Ia tidak ada kata canggung terhadap mertuanya itu. Lain dari kebanyakan menantu pada mertuanya.
Perasaan takut canggung yang sempat ia rasakan kini hilang tanpa ada rasa takut atau canggung di antar menantu dan ibu mertua.
"Jadi saya udah boleh memanggil Mamah?" Tanya Rara.
"Tentu saja, kamu kan menantu mamah satu-satunya yang mamah suka," jawab ibu Ratih.
Jawaban ibu Ratih membuat orang lain iri pada Rara. Yang bisa mendapatkan hati nyonya utama keluarga Anggara. Mereka yang saudaranya saja tidak bisa mendekati kakak iparnya itu.
Karena banyaknya syarat yan di ajujan nyonya besar jika ingin menjadi orang penting di keluarga. Tapi tidak ada yang sanggup untuk melakukannya. Mereka hanya cukup berdiam diri saja tanpa harus dekat dengan nyonya besar.
"Baiklah Mah, aku senang sekali dan aku juga punya hadiah buat Mamah," ucap Rara antusias kegirangan.
Rendi yang mendengar itu ia tampak terkejut. Ia tidak dapat membayangkan betapa marahnya mamahnya bila mengingat itu semua.
Mamahnya yang tidak suka lelucon
Rendi menduga-duga.
"Semoga tidak terjadi apa-apa," gumam Rendi.
"Oya, apa itu?" Tanya ibu Ratih.
"Sayang kemana hadiahku?" Tanya Rara pada suaminya.
__ADS_1
"Ada Sayang, nanti tanya pelayan ya," jawab Rendi lembut.
Ibu Ratih tertegun saat mendengar ucapan Rendi yang lembut terhadap istrinya. Lain dari biasanya putranya itu selalu teriak jika berbicara pada siapapun itu tanpa mengulang kembali perkataannya.
"Dia bahkan bersikap lembut pada istrinya dengan senyumannya," batin ibu Ratih.
Terlihat seorang pelayan berjalan menghampiri ruang tamu dan membawa boneka besar yang setinggi dada dan memberikanya pada Rara.
Semua orang yang melihatnya terkejut dengan besarnya hadiah dari Rara termasuk Rendi.
Tapi lain dengan ibu Ratih ia bersikap seperti biasa saja dan memasang senyum tulus di wajahnya pada menantunya.
"Huh, wanita kampungan kamu pikir dia anak kecil apa di kasih hadiah yang seperti itu sangat menyedihkan nasibmu jika tahu kaka ipar tidak mennyukainya," ucap salah seorang keluarga Rendi.
"Mah ini buat Mamah, aku memilihkan yang besar biar bisa Mamah peluk bila Mamah tidur, juga kalau Mamah ingin sesuatu bisa ambil di kantung ajaibnya itu, Mamah akan mendapatkan apa yang bisa membuat Mamah bahagia," ucap Rara.
Seisi rumah terkejut dengan hadiah yang Rara berikan apalagi Rendi.
Ia sangat merasa gundah dan tegang.
Apalagi dengan ucapan konyol istrinya yang membuatnya semakin tegang.
"Apa ini special?" Tanya ibu Ratih tersenyum pada Rara, ia tampak tidak kesal ataupun marah.
Dengan ekspresi tak berubah dari ibu Ratih ketenangannya semakin membuat seisi rumah tegang dan mengerutkan dahinya. Ia adalah nyonya besar bahkan tidak marah atau protes tanpa bergeming walau Rara melakukan hal konyol untuk ibu mertuanya.
"Cobalah Mah, Mamah ambil ucapkan permohonan Mamah dan ambil dari kantung ajaibnya," ucap Rara konyol tapi ia sangat sumringah.
Ibu Ratih yang damai melihat sikap Rara yang seperti anak kecil. Malah tambah membuat ia bahagia. Ia merasa melihat anaknya yang hilang. Ibu Ratih tersenyum mengangguk bahkan ia akan mengikuti apapun yang Rara ucapkan.
Ibu Ratih mengangguk dan mengambil isi kantung Doraemonnya. Setelah ia masukan tangannya untuk mengambil isinya ia mengerutkan dahinya beserta ketegangan semua orang yang ada di sana terutama Rendi. Ibu Ratih tersenyum pada Rara dan ia mengeluarkan tiga lembar foto dan melihatnya.
Disana tersirat senyuman yang tampak bahagia di saat ia melihat foto tersebut. Bahkan sangat bahagia dengan perasaan yang sulit di ungkapkan. Ibu Ratih sedikit mengeluarkan air matanya melihat ke arah menantunya ia tersenyum dan memeluk Rara dengan erat dengan kebahagiaan yang Rara berikan padanya.
Rara juga memeluk ibu mertuanya itu. Ia juga ikut menangis bahagia malah Rara yang mengeraskan tangisannya dalam pelukan ibu mertuanya. Merasakan perasaan ibu mertuanya itu .
Karena itu lah hati Rara yang rapuh tegar kuat dan ceria semua bersatu membuat dirinya tetap berdiri menghadapi kehidupanya.
__ADS_1
Rendi yang melihat kelakuan istrinya terdiam .
Tapi ia lebih terkejut saat ibunya mengikuti keinginan istrinya yang kekanakan.
Rendi semakin terkejut saat ibunya menangis dan memeluk Rara.
Rendi seperti melihat kebahagiaan ia mendekati mereka dan bertanya.
"Apa yang terjadi kenapa begitu histeris memang apa yang mamah lihat?" Tanya Rendi.
"Tidak ada, Mamah hanya suka sekali hadiahnya kamu memang pintar dan baik Sayang," ucap ibu Ratih kepada Rara.
Rendi kesal dan geram mendengar jawaban ibunya yang tida k membuatnya senang.
"Sini aku lihat," ucap Rendi.
Ia merebutnya dari tangan ibunya mencoba melihat tiga lembar foto yang di pegang ibunya itu.
Ia terdiam sangat terkejut dengan apa yang ia lihat dan bahkan ia hampir menangis karena bahagia.
Mata Rendi berkaca-kaca tapi ia urungkan karena tidak akan terjadi bila Rendi menangis di depan orang lain.
Tiga lembar tersebut adalah foto janin usia tiga bulan yang masih kecil tapi tampak jelas disana terpampang janin yang baik-baik saja beserta penuturan kesehatan kandungan Rara.
Rara mempersiapkan ini setelah Rendi menceritakan tentang ibunya di pusat perbelanjaan.
Ia sempat kesusahan saat mencari hadiah yang tepat untuk ibu mertuanya. Ia pura-pura sakit padahal ia baik-baik saja tapi benar-benar membuat seisi rumah terkejut.
"Sayang, ini bukan hadiah tapi ini hadiah sangat special buatku aku sangat bahagia," ucap Rendi.
"Bukan kamu saja disini yang bahagia lagipula ini di hadiahkan untuku bukan untukmu," ucap ibu Rendi mengambil foto tersebut dari Rendi dingin.
"Hahahahaaha." Rara tertawa.
Semua orang terdiam dan heran apa yang membuat Rara sampai tertawa seperti itu di depan nyonya besar.
"Mamah dan Suamiku ini sangat lucu aku sangat menyayangi kalian," ucap Rara memeluk ibu Ratih dan memegang pipi Rendi.
__ADS_1
"Benar-benar menantu yang bisa melerai ketegangan antara ibu dan anak semoga kamu kebahagiaan kami Nak," batin tuan Anggara tersenyum melihat kelakuan menantunya pada istri dan putranya.