Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Karna Kau Suamiku


__ADS_3

Prolog.


Di pagi hari rumah Anggara semua pelayan yang ada di rumah ini sudah sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Begitupula yang bertugas di dapur di kebun. Di kolam ikan ada juga yang sudah berangkat bekerja dan pergi kuliah.


Ibu Ratih sudah terbangun dengan pakaian santainya ia mengikat rambutnya dengan sambul gelung warna hitam pekat. Saat ia membalik tubuhnya ia melihat ke arah suaminya yang sudah siap untuk ke kantor.


"Istirahatlah di rumah kita harus menemani putra dan menantu kita," ucap ibu Ratih.


"Hah, harus seperti itukah baiklah tapi aku sudah memakai baju kerja aku malas berganti," ucap suaminya.


"Biar aku bukakan bajumu," ucap istrinya.


"Hah, tidak biar pelayan saja," jawab tuan Anggara.


Tapi ibu Ratih dengan sigap membuka dasi suaminya juga pakaianya.


Tuan besar sangat bahagia saat istrinya memperhatikannya.


Setelah berganti pakaian mereka keluar dari kamarnya menuruni tangga.


Kini tuan Anggara sudah memakai kemeja pendek dengan celana santainya begitupun ibu Ratih masih tetap berpenampilan elegan walau hanya mengenakan blouse putih, rok selutut ketat warna putih, rambut hitam di gelung dengan ikat rambut berwarna emas.


Rara yang terbangun kesiangan ia belum sempat sembahyang, ia bergegas bangun terduduk dari tidurnya karena sinar matahari sudah memasuki jendela kamarnya. Saat ia menoleh ke arah samping.


Ia terkejut saat melihat dada bidang suaminya yang bertelanjang dada bidangnya terlihat.


Rara melihat pakaian yang Rara kenakan ia hanya memakai kemeja suaminya bahkan tanpa memakai dalaman.


"Ini apa yang suamiku pikirkan kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini," gumam Rara.


"Sekalian saja jangan pakai baju," gerutu Rara.


"Benar juga Sayang," ucap Rendi.


Suara Rendi mengejutkan Rara ia berbicara dengan suara sedikit serak sehabis tidur. Suaminya yang tiba-tiba memeluk Rara. Ia tersungkur duduk di atas tubuh suaminya.


"Kamu bahkan sangat cantik di pagi hari Sayang," ucap Rendi melihat istrinya.


Rara membulatkan kedua matanya wajahnya berada sangat dekat dengan wajah suaminya yang terdengar deru nafas suaminya.

__ADS_1


Rara salah tingkah mencoba untuk melepas pelukan suaminya yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang aku gerah aku mau mandi," ucap Rara manja.


"Kalau begitu kita harus berkeringat dulu baru mandi Sayang," jawab Rendi tersenyum pada istrinya.


Rendi tidak menunggu jawaban istrinya. Ia mencium istrinya dan mendalami ciumannya dengan tubuhnya yang kekar ia menekan tubuh istrinya di bawah tubuhnya.


Ia memutar tubuh istrinya agar berada di bawahnya.


Ia menekan pelukan istrinya dengan erat.


Mereka habiskan pagi harinya hanya berduaan saja di kamar, menunggu matahari naik mendahului mereka untuk bangun dan tidurnya dan menyinari dunia mereka hanya berdua saja.


Rara kini sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan aktivitas wanita merawat tubuhnya agar tetap sehat dan terjaga kulitnya walaupun sedang hamil. Saat Rara melihat dirinya di cermin dengan tubuh yang penuh tanda dari suaminya. Ia melihat sesuatu mulai berbeda dari biasanya mungkin karena sedang hamil kini keduanya sedikit membesar. Ia terkekeh membayangkan akan tingkah suaminya padanya.


Ia tersenyum juga karena sudah akan menjadi seorang ibu. Ia juga membayangkan akan kesulitan seorang ibu mengurus anak-anaknya.


"Hehehe, kira-kira kamu datangnya kapan Sayang, Mamah sudah tidak sabar ingin ketemu kamu," gumam Rara tersenyum mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


Dari luar pintu kamar mandi terdengar ketukan dan suara teriakan dari suaminya yang membuyarkan lamunan Rara. Ia menoleh berjalan menghampiri arah suara suaminya.


Rara membuka pintu kamar mandi mengeluarkan kepalnya untuk menjawab suaminya dengan hanya mengenakan handuk di dadanya.


Rendi tersenyum ia menarik tubuh istrinya yang keluar dari arah kammar mandi. Ia menggendong istrinya dan ikut masuk ke kamar mandi.


Ia memandikan istrinya,menggosok punggung istrinya dengan senyuman di wajahnya. Rara hanya tersenyum dengan di manjanya dia oleh suaminya itu dengan kelembutannya.


Senyuman bahagia terpancar diantara mereka berdua hingga mereka berciuman kembali dengan ciuman yang dalam. Setelah itu mereka mandi dan bergegas berpakaian.


Rara yang berdiri masih mengenakan handuk di tubuhnya ia mematung kebingungan dengan pikiran yang penuhh tanda tanya. Apa yang akan ia kenakan. Ia berdiri dengan hanya mengenakan handuk yang pendek yang tidak bisa menutup lututnya.


"Sayang aku pakai baju apa?" Tanya Rara .


Rendi menghampiri istrinya yang masih berbalut handuk.


Bukanya menjawab malah mencium bibir istrinya dan meninggalkan bekas ciuman di pipi istrinya.


Ia seperti kecanduan tiap kali melihat istrinya bicara ia pasti selalu ingin menciumnya.


"Kamu sangat manis sayang aku tidak mau beranjak dari kamar ini," ucap Rendi.

__ADS_1


Rara mendorong suaminya yang malah menciumnya.


"Bisa-bisa gak akan ada berhentinya kamu mah aku kedinginan sayang mana pakaianku," ucap Rara.


"Kalau dingin sini aku peluk biar suamimu ini yang menghangatkanmu," goda Rendi.


Rara menggerutu pergi menjauh dari suaminya yang selalu ingin melakukan hal yang lebih bila ia berdekatan dengannya.


Rendi malah tersenyum melihat ustrinya dengan bibir menggerutu padanya marah-marah. Ia pergi keluar dan meminta pelayan membawakan pakaian untuk istrinya. Tidak begitu lama pelayan tersebut membawa pakaian berlipat berwarna putih dres selutut dan memberikannya pada tuannya.


Saat Rara berdiri dan melihat pakaian itu terkejut.


"Sayang, ini apa bagaimana bisa ini aku pakai kalau begitu aku tidak akan bisa pergi kemana-mana donk?" Tanya Rara.


"Memang kenapa..Itukan pakaian wanita dan juga tidak ada pakaian lagi Sayang mungkin hanya itu yang ada untuk kamu," jawab Rendi.


"Aku tidak mau, aku hanya mau pakai pakaian tertutup aku tidak mau," ucap Rara memajukan bibirnya.


Rendi malah memajukan bibirnya ke arah istrinya untuk menciumnya. Segera Rara menghalanginya dengan kedua tanganya.


"Aku hanya terbuka untukmu suamiku aku tidak mau keluar yang hanya dengan memakai seperti ini tolonglah berikan aku sesuatu yang bisa aku pakai ya." Rara memohon.


Melihat hal seperti itu Rendi sangat gemas pada istrinya. Ia selalu ingin mencium istrinya yang tercinta ini Rendi mengangguk dan mengambil handponenya ia melakukan panggilan kepada seseorang.


"Bawakan pakaian yang bisa istriku pakai," ucap Rendi saat menelpon dan menutup teleponnya.


Rendi kembali melihat istrinya yang tersenyum mekihatnya istrinya masih mengenakan handuk.


"Kamu bahkan selalu menggodaku," ucap Rendi.


"Aku tidak." Jawab Rara.


"Kamu bahkan rela tidak memakai apapun di depanku," goda Rendi.


"Karena kamu suamiku Sayang," jawab Rara tersenyum.


Rendi memeluk istrinya seperti mendengar sesuatu yang sangat indah Rendi sangat bahagia.


Ia bahkan ikut-ikutan belum pakai pakaian dengan istrinya.


Rendi menggelayut di tubuh istrinya yang segar dan harum membuat Rendi di mabuk tubuh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2