Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Ketegangan Rendi


__ADS_3

Saat sebuah mobil keluar dari parkiran di pusat perbelanjaan. Di dalam mobil ada Ken di balik kemudi. Rendi Rara di kursi penumpang. Rendi tampak khawatir mendengar rintihan istrinya yang menahan sakitnya. Ken yang ikut khawatir pada nona mudanya ia mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah sakit terdekat.


Tampak kekhawatiran di wajah cemas Rendi karena Rara mengeluh sakit di perutnya. Saat sampai di rumah sakit Rendi berteriak pada dokter yang ada di sana agar secepatnya memeriksa istrinya yang sedang kesakitan. Saat Dokter menyarankan untuk masuk dan melakukan pemeriksaan pada kandungannya. Rara masuk ke dalam ruang periksa. Ia tidak mau Rendi ikut masuk dalam pemeriksaan walau Rendi memaksa tapi Rara tetap bersikeras menolak suaminya untuk ikut masuk. Rendi tampak kesal saat istrinya tidak mau ia temani untuk melakukan pemeriksaan. Entah apa yang di inginkan istrinya. Ia sangat emosional hari ini pada Rendi. Akhirnya pemeriksaan selesai Rara keluar dengan wajah baik-baik saja. Rendi yang mencemaskannya memeluknya bertanya.


"Sayang kamu tidak apa-apa? Mana yang luka dan apa masih sakit?" Tanya Rendi khawatir.


"Kata Dokter aku baik-baik saja begitupun anak kita dia sehat," jelas Rara tersenyum.


"Apa kamu yakin Sayang?" Tanya Rendi kembali.


Rara memeluk suaminya tersenyum dengan bahagia. Ia berasa mendapatkan kebahagiaan utuh dari suaminya yang sangat memperhatikannya.


Rendi menggandeng istrinya setelah yakin bahwa istrinya baik-baik saja. Walau masih khawatir tapi Rendi menuruti dan percaya akan ucapan istrinya bahwa mereka baik-baik saja.


Setelah melakukan pemeriksaan pada Rara. Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang yang tertunda tadi.


Ken sudah duduk di bangku kemudi dengan pasangandi sampingnya ada boneka Doraemon. Ken tidak mempermasalahkan tentang hal yang konyol nona mudanya yang mau memberikan sebuah boneka untuk nyonya besarnya. Seperti tidak terjadi apa-apa ia tampak fokus ke depan mengemudi dengan kecepatan sedang.


Rendi memeluk istrinya dengan perasaan masih khawatir akan tubuh istrinya yang mungkin kelelahan karena seharian berbelanja. Rendi yang bergelut dengan pikiranya sendiri tampak gelisah dalam duduknya.


"Benarkah wanita itu akan menyukai ini kenapa aku punya pirasat buruk ya," batin Rendi


"Ken kita ke Apartment ya kita langsung ganti baju menuju Rumah besar dan tidak ada bantahan," ucap Rara tegas


Rendi yang mendengar itu terkejut ia sebenarnya ingin mendebat istrinya. Tapi ia urungkan tadi saja emosi istrinya menjadi-jadi takut brpengaruh pada bayinya.

__ADS_1


Rendi lebih memilih mengangguk dan mengikuti keinginan istrinya.


Sesampai di Apartment Rendi melihat istrinya bergegas ke kamar mereka Rendi yang melihat itu ia terdiam


"Apa semua wanita hamil seperti itu?" Tanya Rendi


Ken yang di tanyakan hal seperti itu ia membuka hapenya dan mencari di situs internet


"Kenapa kamu diam?" Bentak Rendi.


"Saya sedang mencariny Tuan" ucap Ken tetap tenang.


"Bahkan ada juga ya yang tidak kamu ketahui," ucap Rendi dingin


"Ayolah Tuan, saya kan belum pernah melahirkan mana saya tahu kalau saya jawab tidak tahu Anda juga tidak akan mau mengerti," batin Ken


"Ini hanya gejala ibu hamil saja Tuan dan Nona tidak mengalami semua ini antara mual lesu lelah tidak ingin makan. Nona bahkan makan dengan lahap tidak terlihat kelelahan malah selalu bersemangat kalau tentang ia mudah marah mungkin itu berasal dari." Ken tidak melanjutkan penuturanya


"Maksudmu istriku mudah marah hah? Kamu pikir istriku seperti itu dia sangat baik lembut juga perhatian bagaimana bisa kamu bicara seperti itu hah !" Bentak Rendi


"Huuuhhh, aku harus bagaimana Tuan aku tidak tahu tentang sifat yang berubah dari Nona mungkin ketularan sifatmu juga Tuan," batin Ken


"Kamu sudah berani ya Ken apa kamu tidak mau menikah apa kamu tidak mau membahagikan Dilla apa kamu tidak ingin pekerjaanmu lagi?" Bentak Rendi


Ken hanya terdiam saja jika ia bicara lagi bisa panjang urusanya. Tuannya yang sedang marah begini karena tidak di hiraukan oleh istrinya pasti akan marah-marah.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan cepat mandi bersiap kamu juga sana balik jangan sampai calon istrimu tidak dapat hidup bahagia hanya karena kamu tidak bekerja," teriak Rara membuyarkan perdebatan suaminya pada Ken


Ken yang mendapat pertolongan dari nonanya tersenyum bahagia. Kali ini ada baiknya ia mencintai Dilla karena Saudari dan Sahabat Rara.


Istri dari tuanya ini bisa menetralisirr sifat tuannya ini yang tidak bisa di ikuti alurnya.


"Saya kembali Tuan," pamit Ken pergi.


"Lihat istriku tidak seperti yang pikirkan huh," ucap Rendi


Ken mengangguk mengerti dari awal dia juga tidak berpikiran buruk. Suaminya aja yang berlebihan Ken keluar dan kembali ke kantor membereskan berkas-berkas yang belum sempat ia kerjakan.


Rendi melihat istrinya yang di balut handuk baju dan kepalanya di gulung handuk


Ia menghampiri istrinya tapi istrinya pergi ke ruang ganti. Rendi yang mendapati istrinya masi emosional tersenyum mengerutkan dahinya juga menggelengkan kepalanya, tidak bisa memahami sifat istrinya untuk kali ini. Rendi pergi ke kamar mandi untuk bersiap takutnya membuat istrinya emosi lagi.


Rendi mandi di bawah sower dengan perasaan yang penuh rasa khawatir akan sikap ibunya pada Rara. Rendi takut akan hal yang pernah ibunya lakukan pada gadis-gadis yang mencoba mendekatinya dan membuatnya di jauhi orang lain.


"Aku tidak bisa membayangkan jika wanita itu tidak menyukai istriku dan mencoba segala cara agar dia meninggalkanku seperti yang pernah ia lakukan pada wanita wanita lain yang tidak ia sukai. Huh dia bahkan memilih sendiri wanita pilihannya yang bahkan mempermalukan nama baiknya," gumam Rendi.


Selang satu jam Rara dan Rendi sudah bersiap keluar dari Apartment. Mereka menuju mobil dan sudah ada boneka di belakang mobil. Rendi mengerutkan dahinya dan melirik ke arah istrinya yang sudah berdandan rapih walau tanpa make up berlebih.


Rendi tersenyum meyakinkan dirinya tentang istrinya yang sudah pasti di sukai keluarganya apalagi ibunya.


"Memang siapa yang berani menolakmu Sayang kamu yang cantik manis menggemaskan ini aku saja gemas sama kamu," batin Rendi tersenyum.

__ADS_1


Kini Rendi memasuki mobilnya dan melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melihat istrinya yang cantik dengan balutan kerudung biru muda samar gaun ramping warna putih berpadu rok bawah biru muda. Ia tampak sangan cantik dan manis dengan riasan wajah yang tidak terlalu tebal warna bibir pink muda menghiasi bibirnya yang mungil. Rendi tampak tersenyum bahagia senang melihat istrinya secantik bidadari.


Rara yang merasa suaminya memperhatikannya terus. Ia mencoba menenangkan hati dan dirinya untuk menghadapi keluarga suaminya.


__ADS_2