Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Di Taman Rumah


__ADS_3

Saat melihat istrinya yang tertawa mengerjainya Rendi tersenyum dengan lembutnya, karena mendapati istrinya yang sudah mulai berani menjahilinya seserius itu.


Dalam perbincangannya Rendi mendekap istrinya yang sedang duduk berada jarak jauh dari yang lainnya, tapi masih bisa berbicara walau hanya berjarak beberapa saja.


Saat yang lain sedang berencana untuk kepulangan besok. Rendi mendekatkan kepalanya ke arah istrinya.


"Kamu sudah nakal dan harus mendapatkn hukumannya," bisik Rendi.


Mendengar ucapan suaminya Rara membulatkan kedua matanya danmenoleh ke arah wajah suaminya yang sedang fersenyum kepadanya.


"Maaf Sayang,aku hanya bercanda tadi,aku juga tidak tahu tentang hal itu aku baru tahu tadi hehe," ucap Rara tersenyum memohon.


"Aku akan tetap menghukummu," jawab Rendi tersenyum .


"Hmm ... baiklah aku terima hukumanmu tapi jangan menyesal ya," ucap Rara tersenyum.


"Kenapa ? Bukannya kamu yang bakalan nyesel sudah bercanda pada suamimu ini?" Tanya Rendi.


"Hmm ... tidak apa- apa, Sayang lihat Rayn semakin hari semakin akrab saja dengan Adam, aku suka," ucap Rara.


"Kamu jangan terlalu lama melihatnya," ucap Rendi dingin.


"Heh, suamiku ini masih saja cemburu, aku hanya memperhatikan putra kita bukan yang lain,kamu saja sudah lebih dari cukup untukku," ucap Rara memegang wajah suaminya dan menempelkan hidungnya pada hidung suaminya.


Rendi tersenyum mendapati istrinya yang semakin kesini semakin pintar dan manja padanya.


Rara sudah paham semua sifat suaminya juga keinginan suaminya .


Ia berusaha untuk tetap mengimbangi sifat dan ke inginan suaminya yang terkadang sangat tidak masuk akal baginya. Untuk itu Rara mencoba menjadi sosok yang bermanja juga pada suaminya agar Rendi selalu merasa di utamakan olenya.


Rara justru merasa bahagia dengan segala peraturan suaminya yang semuanya ke pentingan untuk dirinya sendiri. Ia hanya sedikit membatasi sifat suaminya yang melarang istrinya untuk berbaur dengan orang- orang terdekatnya.


Bagi Rara itu justru perlu karena mengingat setiap hal yang terjadi akhir- akhir ini.


Rara yang di culik berkali - kali, juga ia yang terlalu banyak orang yang tidak menyukainya juga. Rara perlu orang- orang yang harus ia kenali dengan baik agar tahu siapa yang baik dan yang tidak baik menurutnya.

__ADS_1


Iyas yang melihat keharmonisan Rendi bersama istrinya, ia tersenyum, ia mengagumi sosok Rendi yang menjadi panutannya,tetapi ia lebih mengagumi sosok Rendi yang saat ini mempunyai sisi lembut terhadap istrinya yang membuat semua orang iri melihatnya.


"Aku bahkan tidak pernah berpikir akan ada hal selembut dan setomantis kalian berdua, aku harap kamu tetap bahagia sobat," batin Iyas tersenyum.


Mark yang duduk di hadapan Iyas bersama Ken di sampingnya juga ada Adam yang bersama Rayn di pangkuannya sedang bermain game.


Mark melihat senyum tipis serius Iyas yang memandangi Rendi bersama istrinya yang berada tidak jauh dari mereka berada di taman itu.


"Jangan terlalu banyak ikut campur dan berpikir juga," ucap Mark datar.


Iyas mendengar ucapan Mark yang dominan bersama Ken yang juga mendengarnya ikut memperhatikan Mark dan ucapannya.


"Haha ... kau ini paling tahu apa yang aku pikirkan,aku hanya tidak percaya tuan Rendi yang sedingin kutub Utara yang dinginnya melebihi kau busa bersikap selembut itu pada istrinya, bagaimana denganmu ?" Jelas Iyas.


"Tidak perlu tahu lebih banyak itu akan membunuhmu secara perlahan nantinya," ucap Mark dingin.


"Hahaha ... kau masih saja main rahasia denganku Mark aku juga tahu kau mulai menyukai Sisikan?" Ucap Iyas.


Mark menatap dingin pada Iyas yang terlalu banyak bicara padanya dan mengeratkan pegangannya pada gelas kopi yang saat ini ia pegang.


Begitupun Iyas tidak pernah marah ataupun berkecil hati walau sahabatnya yang selalu bersamanya itu tidak pernah menjawabnya tapi selalu mendengarkannya.


Ken yang berada di kursi bersama mereka hanya memandangi istrinya yang sedang sibuk menikmati makanan yang tersedia di mejanya. Ken bahkan sesekali tersenyum pada istrinya yang baginya terlihat manis walau hanya sedang makan dengan mulut penuh dengan makanan.


Ken masih asik dengan pemandangan yang berada tidak jauh dari hadapannya. Ia tersenyum tipis mengingat kebahagiaanya memiliki tuan dan nona nya dan sekarang ia juga memiliki seorang istri yang sedang mengandung anaknya.


"Kamu selalu manis istriku," batin Ken.


Adam yang sedang sibuk mengajarkan cara bermain Rayn yang berada di pangkuannya. Ia tampak serius dan asik mengajarkan putra dari tuannya yang sangat ia kagumi. Adam bersi kukuh dalam prinsipnya untuk selalu mengagumi tuan Rendi Anggaranya. walau hanya baru terhitung hari saat pertama ia mendapatkan email dari Rendi langsung. Hati dan semangatnya bangkit saat mendapat kepercayaan langsung dari penyelamat keluarganya yang hampir bangkrut karena ulahnya sendiri. Adam yang selalu mengikuti setiap ucapan Jason dan malah membuat keluarganya terjatuh ke jurang yang dalam. Ia di tipu oleh manisnya perkataan Jason padanya dengan iming-iming akan mensejahterakan keluarganya tapi ternyata sebaliknya.


Saat Rendi bergerak secepat kilat hanya satu kali ucapan dia sudah membalikan perusahaan Adam. Menjadi berdiri kembali setelah berada di ujung jurang jatuhnya.


Sebelumnya ia bersumpah untuk menjadikan penolongnya menjadi panutannya seumur hidupnya jika ia bersedia membangkitkan kembali keluarganya. Tapi lain dari dugaannya Rendi justru membuat perusahaannya naik pesat dan memberi jaminan perlindungan pada keluarganya hingga akhir tua.


Adam tetap bersih dalam hal perasaan ia akan setia dalam hal perasaan tapi dalam berbisnis apalagi menjatuhkan orang lain dia akan jauh lebih bersemangat apa lagi tentang tuannya.

__ADS_1


Mereka berbincang bersama sampai sore hari tiba. Dilla sudah merasa mengantuk di tempat duduknya dan mengajak Ken untuk kembali ke rumahnya.


"Ken ... aku mau pulang," ucap Dilla.


"Baiklah," jawab Ken.


Ken berpamitan pada tuannya dan pergi bersama istrinya yang sudah merangkul lengannya dan berjalan dengan kepala bersender di bahunya.


Ken tersenyum melihat istrinya yang sudah mulai lelah, ia mengusap tangan yang melingkar di lengannya dan mempererat pegangannya.


"Apa kau mau aku gendong?" Tanya Ken.


"Hmm .... "


Saat sudah sampai di luar rumah utama. Ken menggendong istrinya yang kini sudah menyusupkan kepalanya di dada suaminya.


Ken tersenyum saat mendapati istrinya yang mulai manja akhir- akhir ini. Ia berpikir mungkin larena faktor bawaan kehamilan yang membuat istrinya semakin manja.


"Ken .... "


"Hmm." Jawab Ken.


"Aku mau tidur tapi kamu tidak boleh pergi," ucap Dilla manja.


"Kenapa?" Tanya Ken.


"Aku mau kamu di sampingku saat tidur sekarang," rengek Dilla.


"Hmm," jawab Ken.


Sepanjang perjalanan menuju rumah belakang Ken menggendong istrinya yang masih bermanja di pangkuannya.


Dilla menggesek- gesekan hidungnya pada dada Ken dalam pangkuannya.


Tingkahnya yang seperti itu membuat Ken tersenyum tipi. Ia berjalan dengan tidak mengurangi ke acuhannya terhadap penjaga yang memandangi mereka berjalan melewati rumah utama.

__ADS_1


__ADS_2