Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Hari yang gundah dan tegang


__ADS_3

Sebuah ketukan pintu di luar kamarnya membuat Rara terbangun. Setelah ia tertidur kembali pagi ini karena kelelahan.


Rara membulatkan kedua matanya ketika melihat jarum jam menunjukan ke angka sembilan di hadapannya.


"Astagfirullooh, kenapa bisa aku bangun sesiang ini, suamiku anak-anakku," gerutu Rara bangun dari tidurnya hanya mengenakan selimut di tubuhnya dan berjalan ke arah kamar mandi.


Rara tidak menghiraukan ketukan pintu di depan kamarnya yang sudah membangunkannya. Ia bahkan sangat kesal pada suaminya yang malah tidak membangunkannya. Rara menggerutu ketika tubuhnya berada di depan cermin kamar mandinya. Ia menggerutu ketika seluruh tubuhnya bahkan tidak tersisa ruang, disana penuh dengan tanda kepemilikan warna merah yang Rendi tinggalkan di sekujur tubuh Rara. Apalagi leher jenjang istrinya sudah tidak nampak lagi karena tertutup oleh perbuatan suaminya.


"Dasar singa ! Hehe, tapi aku suka," ucap Rara terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Rara berjalan keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan berpakaian. Ia melihat ke arah kamar putra putrinya dan bertanya pada kedua pelayan yang sudah berdiri membungkukan kepalanya.


"Dimana mereka?" tanya Rara.


"Semua di bawah Nyonya, Tuan berpesan agar tidak mengganggu tidur Nyonya," jawab salah satu pelayan.


Rara mengangguk. Ia berjalan menuruni tangga dan melihat Dilla yang sedang bermain dengan putra putrinya.


Ia tersenyum ketika anak-anaknya tidak ada yang menangis saat mamanya tidak berada di dekatnya. Rara berjalan dan menghampiri mereka.


Dilla tersenyum melihat Rara yang turun dari tangga dan menghampirinya.


"Hmmm, tuan putri akhirnya bangun juga ya," goda Dilla dengan senyum di wajahnya.


"Siapa suruh tidak ada yang membangunkanku," jawab Rara sambil menggendong Amira yang berjalan menghampirinya.


"Siapa yang akan berani jika tuan rumah sudah berpesan agar tidak mengganggumu," cetus Dilla.


"Suamiku bilang begitu?" tanya Rara heran.


"Ya ... tapi, pagi ini suasananya sedikit mencekam, suamimu itu seperti sedang dalam mode galak," jawab Dilla masih merangkai permainan boneka milik Amira.


"Maksudmu?" Rara menherutkan dahinya penasaran jawaban dari Dilla.


"Tadi pagi di meja makan, aku rasa suamimu itu sedang memikirkan cara membunuh seseorang, tatapannya sangan tajam dan dingin," jawab Dilla.


"Apa ....!"


Rara terkejut dalam diamnya mendengar ucapan Dilla, hal yang tidak mungkin dari suaminya yang terbilang lembut tadi pagi. Ia berpikir apa suaminya kecewa padanya karena tertidur tadi pagi.


Rara semakin merasa cemas saat mengingat suaminya yang memang sedang dalam kekesalan padanya. Ia melihat Adam yang berdiri di kejauhan. Ia berjalan dan mencoba bertanya padanya tentang keadaan suaminya saat ini.


"Dam, kau tahu tentang suamiku, sedang apa dia? Apa benar dia sedang dalam keadaan marah-marah? Bahkan ingin membunuh seseorang?" tanya Rara menekan Adam yang masih berwajah biasa-biasa saja tanpa berekspresi tegang.


"Nyonya, kenapa Anda lebih percaya rumor daripada percaya pada keyakinan Anda pada suamimu?" Adam malah balik bertanya.


Rara terdiam mendengar perkataan Adam yang memang ada benarnya juga. Jika memang suaminya dalam mode tegasnya berarti dia sedang dalam menegakan kebenarannya. Rara memikirkan suaminya yang pagi ini sangat lembut tapi mendengar dia dalam mode selerti itu. Rara malah semakin cemas.


"Dam, kau bisa melihat suamiku? Bukankah keahlianmu IT?" tanya Rara.


"Bisa Nyonya, Anda bisa melihatnya di handpone saya," jawab Adam memberikan handponenya.

__ADS_1


Rara tersenyum ketika melihat suaminya sedang tersenyum melihat sebuah pas photo di tangannya. Rara bahkan sangat merindukan suaminya untuk saat ini. Melihatnya semakin membuat Rara ingin sekali bertemu dengannya. Ia melihat ke arah Adam lagi yang tidak memperhatikannya.


Rara mengembalikan handpone milik Adam dan ia pergi kembali ke arah Dilla dan anak-anaknya. Dengan wajah tersenyum bahagia Rara menghampiri mereka, di dalam hatinya ia sangat merindukan suaminya itu. Mungkin karena ia melihatnya dari handpone tadi.


Adam tersenyum tipis setelah melihat nyonya mudanya berjalan pergi meninggalkannya dengan senyum di wajahnya. Walau sebenarnya Adam hanya memotong dan memotret saat Rendi dalam keadaan baik saja tadi. Karena selebihnya Rendi dengan ekspresi murka dalam wajahnya di dalam ruangannya tadi pagi. Bagi Adam itu akan berguna jika di butuhkan dan ternyata benar juga.


Rara kini sudah duduk kembali di ruang bermain bersama anak-anaknya.


"Kenapa Sayang? Sepertinya yang gila sekarang kamu ya?" tanya Dilla.


"Hmm... aku sangat merindukan suamiku," jawab Rara tersenyum membayangkan wajah suaminya yang tersenyum nakal.


"Kau ini seperti baru jatuh cinta saja, ingat tuh anak kalian sudah dua," cetus Dilla tersenyum tipis dengan sesekali ia mengusap perutnya.


"Aku merasa lapar, apa anak-anakku sudah sarapan?" tanya Rara kepada pengasuhnya.


"Kau bertanya tentang mereka,tapi aku tidak di tanya," cetus Dilla memajukan bibirnya merajuk.


"Aku sudah yakin kau tidak kekurangan makan, bukannya tadi kau bilang sudah sarapan bersama suamiku?" ucap Rara.


"Tapi aku tidak berselera saat melihat suasana seperti itu," jawab Dilla.


Rara memilih diam dan tersenyum. Ia berdiri dan berjalan menuntun putra putrinya berjalan perlahan, di ikuti para pengasuh dan Dilla yang ikut berjalan ke meja makan.


"Kalian siapkan makanannya, kami akan makan," ucap Rara kepada seorang pelayan di dapur yang mengangguk dan pergi memasuki dapur.


Setelah makanan siap, kini mereka makan dengan lahap dan hanya terdengar suara sendok saja tidak ada pembicaraan di meja makan. Rara bahkan sangat merindukan suaminya untuk saat ini. Ia merasa akan ada sesuatu yang membuatnya sangat ingin bertemu dengan suaminya.


Tapi Rara bahkan tidak berani berbicara pada Dilla ia lebih memilih untuk tetap diam dan merindukan suaminya yang kini sedang bekerja untuk perusahaan keluarganya.


"Rayn, kamu manis sekali. Ra gimana kalau kita ke pussat perbelanjaan yu ! Aku sudah lama tidak berbelanja," ajak Dilla.


"Baiklah, ayo kita habiskan semua pakaian disana, aku juga masih dalam kerinduanku pada suamiku nanti setelah itu aku akan menelponnya, ntah kenapa aku sangat merindukannya," ucap Rara.


Dilla terlihat sangat bahagia mendengar jawaban Rara yang untuk pertama kalinya bersedia untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Ia berjalan mendahului Rara dan yang lainnya. Ia bahkan sangat tidak sabar ingin segera sampai di pusat perbelanjaan.


"La ... hati - hati kamu ini sedang hamil besar, kenapa harus secepat itu cara jalanmu," teriak Rara menuntun putranya dan mencemaskan Saudarinya yang kini sudah berjalan jauh darinya.


Rara kini sedang dalam mode sangat merindukan suaminya walau di hadapannya begitu banyak pakaian yang menarik. Bahkan semua yang bermerek dan elegan. Tapi tidak menyurutkan kerinduannya pada suaminya.


Lain dengan Dilla yang kini sedang melihat pakaian- pakaian yang terpajang disana dengan berbagai model dan warna yang sangat indah. Ia bahkan tidak henti-hentinya tersenyum bahagia.


Rara masih dalam diamnya. Ia melihat anaknya Amira yang kesana kemari menghampiri toko mainan, yang terdapat banyak mainan dan boneka disana bersama Rayn yang kini ikut masuk dengan adiknya.


Rara berbalik dan melihat kearah Adam yang ternyata mengikutinya. Ia tersenyum dan memanggil Adam.


Ia menghampiri Rara dan membungkuk kepada Rara memberi salam dan hormat.


"Aku mau menghubungi suamiku, kau bisa menyambungkannya?" tanya Rara.


Adam mengangguk dan memberikan handponenya pada Rara. Karena Rara sedang malas jika harus naik ke kamarnya yang jauh dan akan memakan waktu jika hanya untuk menghubungi suaminya sebentar saja.

__ADS_1


Rara melakukan panggilan video call pada suaminya yang kini sedang dalam ruangannya. Setelah beberapa saat suara panggilan belum di angkat juga. Akhirnya ada jawaban juga dari suaminya. Rara tersenyum bahagia melihat wajah suaminya yang teramat ia rindukan saat ini. Rara melihat kearah anak-anaknya yang kini di awasi oleh para pengasuhnya. Ia tersenyum dan melihat ke arah suaminya yang kini sedang melihat ke arahnya.


"Sayang, kamu merindukan suamimu ini?" tanya Rendi di sebrang telepon. Rara hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Wah ... sepertinya nanti malam aku harus bekerja keras lagi nih untuk kerinduan istri tercintaku," ucap Rendi tersenyum.


Wajah Rara bersemu merah menahan malu karena ucapan suaminya yang terbilang ambigu, membuatnya menjadi salah tingkah.


Rara mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Ia sangat bahagia tapi sangat merindukan suaminya untuk saat ini.


"Sayang ... apa kamu baik-baik saja?" kalimat itu yang keluar dari mulut Rara. Padahal ia mau mengatakan bahwa ia sangat merindukannya bukan hanya sekedar rindu tapi ingin memeluk dan mencium suaminya yang sangat nakal.


Rendi tersenyum melihat wajah malu dan manis istrinya yang teramat ia cintai.


"Hmm ... aku baik-baik saja Sayang. Bahkan perusahaan Papa saat ini bisa aku tangani dengan baik kamu tenang saja. Tunggu suamimu ini pulang ya Sayang," jawab Rendi dengan senyum penuh cinta melihat istrinya yang saat ini tersenyum padanya.


"Baiklah Sayang, aku akan menunggumu pulang dan akan aku suguhkan seluruh cinta dan kerinduanku hari ini untukmu, muach," ucap Rara menutup mulutnya dengan sebelah tangannya merasa malu akan ucapannya sendiri.


Rendi tersenyum bahagia mendengar dan melihat tingkah istrinya yang terdengar manis baginya bahkan membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya dan sesegera mungkin untuk pulang hari ini. Rendi menutup teleponnya setelah istrinya berpamitan dengan wajah malu-malunya.


Rara mengembalikan handpone milik Adam. Kini ia tersenyum bahagia mengingat dan mendengar ucapan suaminya dan kini ia beralih melihat putra putrinya dan melihat Dilla yang kini sedang mencoba pakaian yang bahkan tidak muat untuknya karena ia sedang hamil. Rara tersenyum melihat wajah berseri Saudarinya yang teramat bahagia.


Rara ikut memilih mainan buat anak-anaknya dan tersenyum bahagia memilih setiap pakaian yang teepajang disana. Walau sebenarnya ada perasaan ingin bertemu suaminya di dalam hatinya padahal sudah mendengar dan melihat sendiri ucapan dan wajah suaminya. Tapi Rara baru kali ini ia tidak merasa puas dan ada yang kurang ketika memikirkannya dan iapun bahkan tidak tahu apa itu.


Ia lebih memilih mengalihkan pikirannya memilih pakaian dan menemani saudarinya yang kini sedang menggerutu karena banyaknya pakaian yang tidak muat untuknya. Rarahanya tersenyum melihat Dilla yang kini sedang kembali memilih sebuah tas yang menurutnya terlalu mahal jika hanya bagi seorang istri yang kesehariannya di rumah saja.


Rara menuruti ke inginan Dilla dan mengikutinya memasuki setiap toko. Rara mempercayakan putra putrinya kepada para pengasuhnya. Ia bahkan masih tidak bisa mengendalikan hatinya yang sangat ingin dalam bertemu suaminya yang kini sedang sibuk dalam menangani perusahaan ayahnya.


Hingga menjelang malam senja mereka masih aktip di pusat perbelanjaan tanpa lelah. Rara berjalan perlahan tanpa tertarik melihat- lihat pakaian bermerek dengan warna yang terpajang di sekitar pusat perbelanjaan. Saat Rara beralih fokus melihat ke arah Dilla yang berjalan. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat lantai di depannya terdapat bercak-bercak bening dan semakin ia mengikuti arah setiap tetesnya ia melihat ke arah Dilla yang sedang tersenyum bahagia memegang pakaian yang berwarna merah muda dan ia memeluk dan menciumi pakaian itu.


Rara terkejut ketika bercak bening terdapat di bawah Dilla yang kini berdiri. Ia bahkan terlihat semakin mengalir banyak di dekat telapak kaki Saudarinya.


"La ... kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rara mendekati Dilla yang kini melihat ke arahnya.


"Tidak, emangnya aku kenapa?" jawab Dilla.


"Tapi bercak itu ...."


Rara mengarahkan pandangannya ke arah bawah kaki Dilla yang kini sudah terlihat banyak air mengalir berwarna semu kuning berasal dari dirinya.


"Astagfirullooh Ra ! Apa ini?" ucap Dilla terkejut.


Karena terkejut melihat sesuatu keluar dari bagian sensitipnya tanpa ia rasakan. Dilla meringis merasakan sakit yang teramat di bagian bawah perutnya. Ia bahkan menahannya oleh kedua tangannya sakit yang menjalar di perutnya.


Rara semakin panik saat mendapati Saudarinya yang kini sedang meringis kesakitan. Ia memanggil pelayan dan juga Adam yang kinibmenghampiri mereka. Adam berjalan dan melihat keadaan Dilla yang sudah berkeringat dingin dengan nafas dan ringisan yang teramat menegangkan. Rara merasa panik dan takut akan sesuatu yang akan terjadi pada Saudarinya.


Adam menggendong Dilla tanpa aba-aba. Ia berjalan meninggalkan pusat perbelanjaan dan di ikuti Rara yang mulai cemas akan saudarinya.


Ia melihat ke arah para pengasuhnya.


"Kalian jaga anak-anakku, sepertinya Dilla akan melahirkan aku akan pergi ke rumah sakit menemaninya, Sayang kamu harus baik-baik di rumah dan jaga adik perempuanmu itu ya," ucap Rara kepada pengasuh dan putranya yang kini melihatnya berjalan menjauh dari pandangan Rayn.

__ADS_1


Rara mengejar Adam yang kini sudah mendudukan Dilla di kursi penumpang. Rara ikut masuk dan duduk menopang kepala Dilla yang kini masih meringis menahan sakit yang menjalar di tubuhnya. Rara semakin panik ketika Adam bahkan baru msuk dan duduk di kursi kemudinya setelah berbicara pada pengurus rumah untuk menjaga keamanan dan memberitahu tuannya di perudahaan.


Adam melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi melewati jalanan lalu lintas yang sedikit ramai malam ini. Ia melajukannya dengan pandangan datarnya tanpa ada kepanikan dalam raut wajahnya. Dilla masih dengan rintihan di wajahnya yang penuh dengan keringat. Rara mengusapnya dengan wajah cemasnya. Ia berhrp yang terbaik dan keselamatan Saudarinya yng pastinya sudah mau memulai merasakan reaksi melahirkan.


__ADS_2