
Suasana Resort di pagi hari, terasa dingin. Rara terbangun saat sebuah telepon berdering. Ia terbangun dalam keadaan hanya berselimut di atas dadanya. Ia melihat suaminya masih dengan tidur lelapnya. Rara tersenyum ketika melihat wajah tampan di pagi hari suaminya yang terlihat manis. Apalagi mengingat tadi malam yang terasa panjang dan indah baginya. Rara mengambil handphonenya dan melihat ada 8 panggilan yang tak terjawab tertera di handphonenya.
"Ya ampun ada apa ini? Panggilan sebanyak ini aku tidak terbangun, siapa ya?" gerutu Rara sedikit terkejut.
Ia melakukan panggilan balik pada nomer yang tertera kembali. Ia sedikit penasaran dengan panggilan nomer yang tidak di kenal dan juga berasal dari luar negara. Rara melakukan panggilan dengan sebelah tangan memegang selimut di dadanya untuk menutupi tubuhnya yang tanpa helaian benangpun. Setelah panggilannya terjawab. Rara sedikit mengerutkan dahinya, karena orang yang ia telepon tidak berbicara.
"Hallo!" tanya Rara berulang kali bertanya tapi masih belum ada jawaban dari sebrang teleponenya.
Rendi terbangun dan mengerutkan dahinya ketika tidak mendapati tubuh istrinya di sampingnya. Ia melihat dan mendengar istrinya berbicara sambil teleponan dan sedikit meninggikan suaranya.
Rendi terbangun dari ranjangnya mengenakan boxernya dan menghampiri istrinya yang masih sedang menelepon seseorang di sebrang sana. Rendi menghampiri Rara dan memeluknya dari arah belakangnya. Ia mencium leher jenjang istrinya dan juga menyusupkan kepalanya dengan mencium istrinya dengan gemas dan mengantungkan kepalanya di bahu istrinya melihat handphone yang di lihat oleh istrinya.
Rara membiarkan suaminya melakukan apa yang ia mingin lakukan dan masih tetap dengan handphonenya melakukan panggilan luar negeri.
"Sayang! Ini nomer apa sih? Kok aku telepon balik gak tersambung terus dari tadi? Panggilannya sampe delapan kali tadi!" tanya Rara masih mencoba untuk melakukan panggilan telepon pada nomer tak di kenal itu.
"Hmm, coba aku lihat Sayang!" jawab Rendi malas dan melihat handpone milik istrinya dengan mengerutkan dahinya an mengambil handphone Rara. Ia berpikir panjang sambil mengerutkan dahinya dan melihat ke arah istrinya yang juga ikut prnasaran pada nomer tersebut.
"Apa Yang?" tanya Rara penasaran.
"Ini kode Indonesia, nanti aku coba hubungi ya, sama Mark dan akan di periksa olehnya," jelas Rendi bangun dari duduknya dan menyimpan handpone istrinya, yang kini ikut bangun dan mengahmpiri suaminya yang juga sudah berdiri memakai pakaiannya.
"Sayang, jangan di tunda! Aku takut ada hal penting disana!" ucap Rara sudah mulai merasa khawatir akan keluarganya di Indonesia.
"Tentu Sayang, kamu jangan terlalu banyak berpikir! Aku temui Mark sebentar!" ucap Rendi mengecup kening istrinya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Rara terdiam, ketika melihat suaminya yang pergi keluar meninggalkan dirinya seorang diri. Untuk menghilangkan perasaan gundahnya itu, rasa memilih untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sepuas hatinya.
Bahkan, ketika Rendi kembali ke kamar, Rara masih saja belum selesai berendam untuk membersihkan diri. Rendi tersenyum, ketika ia mengingat kebiasaan istri tercintanya itu yang kalau sudah berurusan dengan mandi atau kebersihan, suka lupa waktu.
Rara biasanya melakukan hal itu hingga lupa waktu, hanya ketika dirinya tengah dalam suasana hati yang baik.
__ADS_1
Rendi duduk di tepi ranjang tidurnya, menunggu istrinya selesai dan keluar dari kamar mandinya. Ia tersenyum, ketika melihat pintu kamar mandi terbuka, tampak senyum di wajahnya sumringah. Melihat istrinya yang berbalut handuk di dadanya dengan handuk di gulung di kepalanya. Rara bahkan tampak indah dan sexsi mengenakan handuk di atas lututnya yang memperlimatkan kemulusan dan keelokan kulitnya yang terlihat memggiurkan bagi yang melihatnya.
Rara mengerutkan dahinya dengan senyum di bibir melihat suaminya yang memperhatikannya. Ia berjalan menghampiri Rendi yang juga memandangnya, dengan senyum di bibir yang tidak ia lepas semenjak melihat sosok istrinya yang tampak menggoda baginya.
Rara mendekati suaminya dan duduk di pangkuannya dengan senyum di wajah. Seketika Rara mencium bibir suaminya dengan lembut di pangkuan suaminya. Ia bahkan hanya mengenakan handuk melilit di bagian dadanya dan memperlihatkan keelokan kulit mulus di atas lututnya. Hingga semakin naik dan baik handuk yang ia kenakan. Karena Rendi perlahan metnggunakan sebelah tangannya merayap di bagian paha istrinya.Tanpa melepas tautan bibir satu sama lain.
Saat sadar, jika tangan suaminya sudah mulai meraba kesana kemari. Rara mengerutkan dahinya dan mengakhiri ciumannya. Ia juga merangkul pundak suaminya dan tersenyum menatapnya.
"Siapa Sayang? Apa ada hal penting? " tanya Rara mengisyaratkan dengan kepalanya juga untuk bertanya pada suaminya.
Rendi tersenyum, melihat tingkah istrinya yang lucu, manis dan menggemaskan. Ia mengecup kembali bibir merah ranum milik istrinya yang basah. Hingga membuatnya tidgak ingin berhenti menciumnya. Ia tersenyum dan membenarkan pangkuannya dengan tubuh istrinya yang sedikit basah dan bercerita.
"Itu panggilan dari Indonesia Sayang! Sepertinya ada hal penting, jadi ! Mari kita pulang dan bersiap ke Indonesia ! " Ajak Rendi tersenyum dan masih mengecup kembali bibir merah ranum milik istrinya yang kini memajukan bibirnya dengan pemikiRFan yang tidak dapat di artikan oleth Rendi. Ia hanya tersenyum, melihat tinglah istrinya yang berpikir terlalu lama jika hanya mendengar kabar itu.
"Kenapa Sayang ? " tambah Rendi mengerutkan dahinya bertanya dengan ciuman yang bertubi-tubi di leher jetnjang istrinya. Saat berpikir, Rara membiarkan suaminya melakukakan hal yang ia inginkan.
"Sayang, Bisakah aku telepon dulu ? Aku ingin tahu dulu itu dari siapa ?" Rara memegang wajah suaminyayang yang menciumi lehernya dan menatapnya dengan segala permintaannya.
"Baiklah ... kita gunakan handphoneku ya untuk melakukan panggilan ! Sepertinya agak sulit menggunakan handphonemu," jawab Rendi memberikan handphonenya dan melakakukan panggila video pada nomer yang belum di ketahui siapa yang ia telepon.
Sebenarnya, Rendi sudah tahu siapa yang meneleponnya, bahwa itu dari keluarga Rara. Sempat Rendi panggil ulang dan ternyata jika ibu Rara sedang sakit dan kini sedang berada di ruang UGD. Rendi hanya tidak ingin istrinya terkejut dan melakukan hal yang tidak di inginknan. Untuk dari itu, ia menyampaikannya dengan perlahan.
Sekitar lima menit, panggilanpun di angkat dan ada sosok yang Rara kenali saat orang tersebut mengangkatnya dan melihat Rara yang belum mengenakan pakaianya.
"Sayang ! " teriak seorang wanita di balik panggilan videonya yang terkejut melihat Rara.
Rara terkejut, ia membuang handphone milik suaminya ke atas ranjang. Ia terkejut dan turun di pangkuan suaminya dan berdiri memegang handuk di dadanya.
"Suamiku ? Aku lupa jika aku belum berpakaian ! " ucap Rara merasa malu ketika mendapati Tantenya memanggilnya dan terkejut melihat keadaannya yang masih belum mengenakan pakaian.
Rara berlari meninggalkan suaminya yang masih duduk di tepi tempat tidur. Ia memasuki ruang ganti dan melihat ke arah suaminya yang melihatnya dan dengan senyum di wajah nakalnya. Rara menjulurkan lidahnya ke arah suaminya yang kini tersenyum melihat tingkah istrinya yang sudah masuk ke dalam ruang ganti.
__ADS_1
"Hallo ...."
Panggilan dari handphone Rendi masih berlangsung, bahkan tantenya masih dengan pertanyaan dan rasa bahagianya memanggil keponakannya yang tadi pergi setelah dia memanggilny. Rendi mengambil kembali handphonenya dan bersitatap dengan panggilan video dengan senyum dan menyapa tantenya Rara.
"Hmmm ... maaf Tante, Rara sedang ke ruang ganti. Dia sedang mengenakan pakaian," jelas Rendi agar tantenya tidak salah paham.
"Oh ... iya. Hmm ... apa kalian baik-baik saja ? " tanya Tante Rara sedikit ragu untuk berbicara.
"Kami baik-baik saja Tante. Ada yang bisa saya bantu ? " jawab Rendi berbalik bertanya dengan tingkah kikuknya takut salah berbicara. Untuk pertama kalinya berbicara di balik handphone dengan panggilan video dengan keluarga istrinya.
"Saya hanya mau memberitahu jika ibu Rara sedang di rawat di rumah sakit ! Aku meneleponnya agar dia bisa kembali ke Indonesia," jawab Tante Rara dengan perlahan mengatakannya. Walaupun ayah Rara berulangkali agar tidak memberitahunya.
"Apa Tante ? ibu Sakit. Sakit apa ? Kenapa tidak memberitahuku sejak awal dan sudah berapa lama ibu sakit ? " sambar Rara mengambil handphone di tangan suaminya dan kini ia yang memegangnya dan dengan segala kecemasannya bertanya begitu banyak pada tantenya.
Rendi memeluk istrinya yang sedang dalam perasaan panik. Ia mencoba agar istrinya sedikit tenang dan bertanya pada tantenya dengan tenang dan benar.
"Apa Tante. Kenapa tidak menjawab ? Aku ingin tahu keadaan ibuku ! " ucap Rara bertanya kembali. Sebelum tantenya menjelaskannya. Rara berulang kali bertanya dengan perasaan gundah dan cemas akan keadaan ibu tercintanya.
"Tidak Sayang. Ibumu baik-baik saja ! Dia kelelahan saja kini dan kini mulai membaik lagi, kamu jangan khawatir. Apa kamu akan kembali ? Aku rasa jika kamu ada disini akan jauh lebih baik Sayang ! " jelas Tante Rara dengan sedikit cemas, takit salah berbicara dan malah membuat Rara melakukan hal yang tidak di inginkan.
Rara terdiam, ia melihat ke arah suaminya yang kini masih denga setia duduk di sampingnya menunggu istrinya yang sedang menelepon. Ia berpamitan pada tantenya dan melihat kea arah suaminya dan merangkul lengan Rendi dan bersandar di bahu suaminya.
"Mari kita pulang ke Indonesia ! " ajak Rendi mendahului ucapam istrinya yang merasa tidak enak jika berbicara pada suaminya yang ingin berlibur bersamanya hanya berdua saja.
Rara mendongakan kepalanya menatap suaminya dan ingin mendengar jelas ucapan suaminya.
"Kita akan pulang hari ini juga. Kamu jangan khawatir ya Sayang ! " tambah Rendi mengecup bibir istrinya. Dengan senyum pkenuh sayangnya memandangi wajah segar istrinya dan juga bibir merah ranum basahnya. Rwndi mengecup kembali bibir itu.
"Tapi, Liburanmu ...."
"Ada apa dengan piburan ? Ini harimu Sayang. Jadi semua atas kehendgakmu dan perintahmu. Semua akan aku lakukak untukmu apapun itu ! " jelas Rendi memotong ucapan istrinya yang kini Rara memeluknya dengan segala perasaan yang tidak bisa di utarakan perasaannya.
__ADS_1
Perasaan yang kini Rara rasakan. Tidak bisa hanya dengan sebuah kata-kata. Kebahagiaan dan rasa syukurnya memiliki suami yang sempurna dan mencintainya. Rara sudah tidak bisa mengatakan segala kebahagiaannya dan hanya senyum yang bisa mengatakan jika ia sangat bahagia saat ini, memiliki Rendi sebagai suaminya yang sangat berarti dan memahaminya.