
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Rayn tersenyum dan mengangguk sembari memajukan bibirnya menatap Naura, calon istrinya itu yang tersenyum manis tepat dihadapannya. Naura kini mengangguk dengan senyumnya yang tipis, lalu ia mendekatkan wajahnya dan mencium tepat di bibir Rayn dengan lembut. Namun lain dari dugaan Naura, Rayn malah menekan kepala kekasihnya itu dan mempererat ciuman keduanya. Keduanya kini hanyut dalam suasana berduanya di dapur dengan air keran yang mengalir di tempat cuci piring.
Keduanya hanyut dalam suasana berdua saja tanpa menghiraukan hari yang sudah siang. Kini Naura mengakhiri ciumannya dan melihat wajah Rayn yang tersenyum padanya.
"Emm, ayo kita menikah! Nanti kamu sepuasnya melakukannya," ucap Naura.
"Kamu serius Sayang?" tanya Rayn tersenyum bahagia.
"Tentu saja aku serius!" balas Naura.
"Baiklah, pulang papa dan mama nanti kita menikah!" ucap Rayn.
"Iyah, tapi kamu harus bekerja dulu! Aku tidak mau punya suami yang pemalas!" Naura mengecup bibir Rayn dengan lembut.
Ryan tersenyum mengangguk ia bahkan sangat bahagia ketika mendapat perlakuan kekasihnya itu dengan lembut bahkan sangat manis berada dihadapannya setelah Raya sarapan Iya pergi ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
"Aku harus pergi ke perusahaan dan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat juga mempersiapkan tentang apa saja yang akan dilakukan dalam sebuah pernikahan. Sebaiknya berbicara kepada Paman Ken," ucap Rayn.
Ia bergegas keluar dari kamarnya, setelah bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan menemui pamannya saat ia turun dari tangga ia melihat seseorang yang iya sempat ia pikirkan tadi dah itu dan yang sebagai pamannya.
"Selamat pagi tuan muda," sapa Ken memberi hormat kepada Rayn.
"Pagi Paman. Oh ya paman, ada sesuatu yang perlu Rayn bicarakan dengan paman. Bisakah kita bicara nanti di perusahaan Paman," ucap Rayn.
"Baik Tuan," jawab Ken.
__ADS_1
Naura tersenyum ketika melihat keduanya kini berpamitan untuk pergi ke kantor, saat di dalam mobil yang sama saya mencoba untuk berbicara kepada Ken.
"Paman Bisakah acara pernikahan saya dipercepat," tanya Rayn.
"Tuan itu sudah berstatus sebagai suaminya. Hanya belum melakukan akad nikah saja, jika hanya sebuah akad nikah Anda bisa melakukannya kapan saja," jawab Ken.
Rayn terdiam, ia memahami apa yang dikatakan oleh Ken, namun setelah itu keduanya berbicara dan merencanakan acara pernikahannya, yang akan dilakukan seminggu kemudian dan itu membuat Ken menyetujuinya, sembari ia akan menjelaskannya kepada Rendi meski tidak akan mudah bagi Rayn untuk menikahi Naura.
Karena syarat dari ayahnya Rendi adalah Rayn harus menjadi pengusaha yang sukses dahulu, baru bisa menikah dengan Naura begitupun di dalam dunia mafia, Rayn juga harus bisa mengendalikannya dan dengan baik. Selama dalam perjalanan Rayn memikirkan berbagai cara dan juga mengerjakan setiap dokumen yang ada di perusahaannya yang kini tengah dikerjakan oleh melihat dirinya.
Rayn yang sangat bersemangat untuk menikahi Naura. Rayn memilih untuk tidak pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Sehingga ia kini berada di dalam kantor, bahkan Ken pun menemaninya tanpa mengeluh sama sekali. Ken memahami apa yang digeluti oleh Tuan mudanya itu, meski seperti itu Rayn yang sudah memperlihatkan kemampuannya dalam menyelesaikan setiap dokumen dan juga memahami artikel-artikel di dalam perusahaan milik ayahnya.
*****
di luar dugaan dan Perkiraannya Naura kini duduk di ruang tamu dia melihat berulang kali jam dinding yang berada tepat di hadapannya. Lalu ia melihat ke arah pintu masuk berharap ada seseorang yang datang dari kantornya entah itu Rayn ataupun Amira masih belum ada yang kembali pulang ke rumah.
Naura sedikit khawatir ketika di antara Rayn dan Amira, masih belum ada juga yang belum kembali pulang ke rumah. Ia menjadi sangat khawatir,berulang kali mengecek handphonenya lalu mencoba untuk menelepon Rayn, namun sedari tadi tidak ada yang mengangkat teleponnya. Setelah ia mencoba untuk menelpon no Amira namun tidak dapat tersambung kepadanya.
"Hmmm, apakah aku harus tidur lebih awal?" ucap Naura.
"Assalamualaikum?" sapa Amira.
"Waalaikumsalam Sayang, kamu akhirnya pulang! Aku takut!" jawab Naura.
"Eeh, takut? Kenapa?" tanya Amira memeluk Naura.
"Habisnya kalian berdua kompak sekali tidak ada kabar bahkan handphone kalian gak bisa di hubungi, mentang-mentang kembar hp mati aja samaan!" gerutu Naura.
__ADS_1
"Hah, iyakah? Handphone aku mati tadi Kak, makanya deh aku gak bisa hubungi kamu, lagipula tadi aku bertemu Aris dulu, dia sedang dalam masalah dan juga sepertinya dia mau pergi ke luar negri " ucap Amira pelan.
"Hah! LN? Mau ngapain dia kesana? Kamu sampai larut gini sayang sama dia?" tanya Naura.
"Yah, aku bahkan maunya nginep aja disana kalo aku bukan cewek mah, ini malam terakhir dia nanti subuh dia sudah berangkat!" balas Amira.
"Dia sebenarnya kenapa Ra?" tanya Naura.
"Dia ada masalah keluarga yang mengharuskannya untuk ke luar negri, tapi aku masih belum memahaminya," jawab Amira.
"Apa sih Ra? Aku tidak mengerti maksud kamu apa? Aris berapa lama dia ke LN?" tanya Naura semakin penasaran.
"Entahlah Kak, aku bahkan tidak bertanya itu," jawab Amira terdiam memikirkan apa yang di ucapkan kata terakhir sahabatnya itu.
"Kenapa si bodoh itu memintaku menunggunya dan tidak boleh ada pria yang aku nikahi? Heh bodoh kan yang ada menikahi kenapa jadi aku yang nikahin pria, hehe bodoh!" batin Amira tersenyum.
Naura terdiam, mengerutkan dahinya ketika melihat Amira yang kini duduk terdiam bergelut dengan pikirannya sembari ia sesekali tersenyum-senyum hanya memikirkan hal yang ia pikirkan saat ini. Namun Naura memahami apa yang dipikirkan oleh Amira, yang memang hanya dirinya saja yang kau apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Meski seperti itu Naura merangkul tangan Amira, dia tersenyum mencoba untuk menghibur adik iparnya itu.
"Anak gadis itu harus cantik dan wangi!Kamu kan habis bekerja, sana mandi dulu habis itu makan," ucap Naura.
"Aku sampai lupa menceritakan padamu kalau aku tiba-tiba saja langsung diterima bekerja. Padahal ini kali pertama aku melamar pekerjaan, tapi pria itu bahkan menyuruh aku bekerja besok," balas Amira.
"Wah! Bagus dong, kamu sudah bisa langsung bekerja! Itu tandanya dia tahu kalau kamu akan bagus jika berada di perusahaan dia," ucap Naura tersenyum.
Lalu Naura menarik Amira yang hanya mengikutinya saja berjalan menaiki tangga, dengan Naura yang mencoba untuk menghibur Amira yang tengah memikirkan sahabatnya yang akan pergi ke luar negeri. Meski Amira memang tidak pernah banyak berbicara atau bercerita tentang hal-hal yang menurut Amira tidak perlu dibicarakan. Naura tetap tersenyum mencoba untuk menghibur Amira. Sehingga ia pun ikut masuk ke kamar gadis itu,setelah Amira masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Naura merebahkan tubuhnya, ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Apakah dia tidak pulang malam ini? Setidaknya dia mengabariku kan?" ucap Naura.
__ADS_1