
Rendi dan Ken keluar dari ruang kerjanya,setelah mereka berdiskusi.
Rendi dan Ken berjalan sambil berbinncang dengan Ken dengan serius,saat mereka melihat ke arah ruang tamu dimana ada keluarganya. Ia melihat ada seorang Dokter yang sedang memeriksa Dilla.
Ken yang terkejut melihat istrinya sedang di periksa oleh seorang Dokter.
"Apa istriku sedang sakit? Ucap Ken heran.
Rendi dan Ken menghampiri keluarganya yang sedang serius berbincang.
"Ada apa? Apa kamu sakit La," Tanya Ken intens.
Semua terdiam tidak ada yang menjawab Ken.
Diam mereka membuat Ken semakin penasaran.
Dokter yang melihat ekspresi isyarat Rara ia tersenyum mengangguk dan berpamitan untuk kembali.
"Dok,Dilla sakit apa?" Tanya Ken menekan.
Rendi yang melihat ekspresi Ken ia tersenyum tertahan. Ia sudah tahu rencana istrinya Rara yang di peluk Rendi dari belakang.
"Sayang ayo kita kembali dan ke rumah sakit untuk periksa," ajak Ken.
Rara dan keluarganya juga Rendi tertawa terbahak, sudah tidak tahan melihat ekspresi Ken.
Begitupun Dilla yang melihat kepanikan suaminya.
"Hahaha, Ken aku akan jadi ibu, " tawa Dilla.
Ken terkejut dengan apa yang istrinya ucapkan.
Ken duduk dan memeluk istrinya,membuat Dilla terkejut.
Ken yang tersadar ia melepas pelukannya ia tersenyum kikuk saat melihat Rendi juga nyonya besarnya.
"Astaga Tuan pasti akan mengolok-oloku jika aku terlihat manja kaya gini," batin Ken.
Rendi yang tahu sifat Ken ia tertawa saat tahu Ken bersikap salah tingkah di depannya.
"Hahaha,tidak perlu sok keren jika kau mau menangis Ken bodoh..!" Tawa Rendi berpindah menghampiri Ken dan merangkulnya.
"Hm tidak Tuan,saya hanya tidak percaya saja," ucap Ken.
"Haha, ada bagusnya istrimu tidak mau dekat denganmu karena ia sedang hamil," ucap Rendi.
"Uuuuhh, Sayang, cepetan lahirannya aku mau anak-anakku ada temn bermain," ucap Rara memeluk Dilla.
"Hei bodoh! Aku baru dua bulan kau sudah menyuruhku melahirkan," ucap Dilla.
"Hahaha, biar aku bodoh tapi tidak segila dirimu yng membiarkan suamimu tidur di luar," ucap Rara tertawa.
Dilla terdiam saat Rara mengatakannya,ia baru tersadar saat mengingat perlakuannya pada suaminya,apalagi saat Rara pernah mengatakan jika sikapnya masih sama suaminya akan di goda wanita lain.
Dilla berdiri dan merangkul suaminya.
"Sayang ayo kita pulang," ajak Dilla.
Ken terkejut saat perubahan sikap istrinya,ada bahagia ada rasa malu juga saat melihat tuan Anggara melihatnya.
"Kita makan malam dulu sebelum kalian pulang," ajak ibu Ratih tersenyum.
Rendi dan semuanya mengangguk dan berjalan ke meja makan.
"Aku sudah gak sabar pengen lihat anakmu La," ucap Rara tersenyum bahagia.
"Iya nanti yang pertama gendong kamu saja biar kamu bahagia," ucap Dilla.
"Benarkah aku sudah gak sabar menantinya," ucap Rara tersenyum.
"Bagaimana kalau kita buat lagi saja Sayang," ucap Rendi.
__ADS_1
Semua yang ada di meja makan terkejut dengan ucapan Rendi,mereka tersenyum tertahan dengan tingkah Rendi termasuk Rara.
"Itu maunya kamu Sayang," ucap Rara.
Rendi tersenyum gemas melihat bibir istrinya yang maju kedepan mengembungkan pipinya.
"Dia selalu menggodaku," batin Rendi.
Ken dan Dilla berpamitan untuk pulang Rara dan Rendi mengantarnya ke depan pintu untama.
"Ingat jangan kau biarkan suamimu lama-lama di luar bisa bahaya," bisik Rara pada Dilla yang mengangguk.
"Kau pastikan istrimu tidak mengusirmu," bisik Rendi Ken mengangguk mengerti dengan saran Rendi saat di ruang kerja tadi.
Ken dan Dilla pergi dari rumah Anggara,Rendi memeluk istrinya dari belakang.
"Ayo kita buat lagi agar seumuran dengan anaknya Ken," bisik Rendi.
Rara terdiam ia berjalan duluan meninggalkan suaminya yang mengikutinya dari belakang.
Rendi tersadar bahwa istrinya masih mendiaminya dari saat ia pulang tadi.
"Apa dia masih harus dingin seperti ini lagi,tapi apa yang salah?" Batin Rendi.
Rendi mengikuti istrinya yang berjalan tanpa menoleh ke arahnya.
Rara memasuki kamarnya,ia memeriksa anak-anaknya yang sudah tertidur lelap,ia berjalan ke arah kasurnya dan duduk di ranjang.
"Sayang ada apa?" Tanya Rendi memeluknya.
"Hmmm," jawab Rara.
"Kenapa kamu menghindariku? Tanya Rendi manja mengelus tangan Rara.
"Tidak." Jawab Rara.
"Tapi aku merasa begitu," ucap Rendi manja.
Rendi membalik tubuh istrinya ia memegang wajah istrinya menciuminya.
"Sayang katakanlah ada apa?" Tanya Rendi.
"Apa kamu bertemu seseorang?" Tanya Rara intens.
Deg ....
Rendi tertegun,jantung Rendi berdetak kencang,apa yang ia khawatirkan akan kepekaan istrinya yang sangat teliti.
"Iya," jawab Rendi pelan.
"Perempuan? Tegas Rara.
"Iya," jawab Rendi.
"Kenal dekat?" Tanya Rara lagi.
"Tidak terlalu dekat," jawab Rendi.
"Tidak terlalu sampai harus menempel," ucap Rara menekan.
Rendi terdiam ia bertanya-tanya dalam pikirannya.
"Sayang apa Ken bicara padamu? Tanya Rendi.
"Tidak." Jawab Rara.
"Tapi pertanyaanmu," ucapan Rendi terhenti.
"Parfummu berbeda saat kamu memelukku waktu pertama datang dari kantor," cetus Rara.
"Ah benarkah," ucap Rendi.
__ADS_1
Rendi terdiam memikirkan cara untuk menjawab pertanyaan istrinya yang selalu benar adanya dan menekan.
"Kamu tidur disana," ucap Rara menunjukan ke arah sofa dekat ranjang bayi.
"Sayang, aku tidak tahu itu akan terjadi,lagipula Ken sudah membereskannya,aku tidak tahu dia akan menciumku dengan tiba-tiba," ucapan Rendi ia menggigit bibirnya yang kelepasan.
"Tidur di lantai atau aku pullang ke Bandung," cetus Rara menekan ia menarik selimut dan menutup matanya.
"Sayang." Ucap Rendi.
"Masih bersuara aku akan berangkat sekarang," ucap Rara menghentikan Rendi.
Rendi turun dari ranjangnya ia mengambil selimut dari Lemarinya,dengan pandangan melihat ke arah istrinya yang membelakanginya tertidur.
"Sebaiknya aku ke ruang kerja," gumam Rendi.
"Saat kau kembali jangan harap ada aku! " Ucap Rara intens.
Rendi berhenti ia membuka selimutnya dan tidur di bawah ranjang,ia melihat istrinya yang membelakanginya,ia tertidur dengan kaki menggigil.
Rara yang menahan,menutup mulutnya menahan air matanya jatuh,tapi sakit perasaan kecewa tidak bisa ia tahan air mata Rara tak tertahan mengalir.
Rara merasa seperti tak berarti bagi suaminya sehingga suaminya masih sempatnya berdektan, bahkan sangat dekat dengan wanita lain. Perasaan yang dulu di khianati suaminya, perasaan tak di hargai, perasaan tak di pentingkan terkecamuk di hatinya.
Rara menangis hingga Rendi yang melihatnya terkejut ia melihat tubuh istrinya seperti sedang menahan tangis.
Rendi bangun menghampiri istrinya, semakin ia mendekat,ia menyentuh istrinya dan melihat air mata Rara yang sedang menangis,Rendi memeluk istrinya dengan erat.
"Sayang kamu kenapa? Aku minta maaf ini tidak seperti yang kamu bayangkan wanita itu bahkan sudah aku buang jauh-jauh dia bahkan bukan siapa-siapa," jelas Rendi.
Rara malah semakin menderaskan air matanya.
"Kenapa kamu membiarkan bibirnya menempel di mulutmu,kenapa kamu tidak menghindar,apa aku masih kurang memuaskanmu,apa aku tidak menarik lagi bagimu," ucap Rara menangis.
"Sayang, apa maksudmu aku tidak seperti itu,aku bahkan mendorongnya hingga tersungkur aku tidak melakukannya itu kecelakaan juga ini jebakan Sayang," jelas Rendi.
"Tapi kamu," ucapan Rara terhenti saat bibir Rendi menempel di mulutnya.
Rendi mencoba memasuki mulut istrinya menciumnya dalam, untuk membuat tenang istrinya.
"Sayang, aku hanya milikmu untukmu dan cintaku padamu tidak ada yang lain," jelas Rendi.
"Apa kamu mencucinya?" Tanya Rara.
"Tentu saja," jawab Rendi
"Entah kenapa saat aku mendengar dia menciummu hati ini sakit," ucap Rara menyentuh dadanya manja.
Rendi memeluk Rara ia tersenyum dengan dalamnya perasaan istrinya walau sensitip karena hal yang pernah ia alami,membuat Rendi harus lebih menjelaskannya.
"Sayang, aku akan pastikan tidak akan ada hal yang menyakitkan di hatimu lagi apa lagi tentang diriku yang seutuhnya milikmu," jelas Rendi memeluk Rara menciumnya.
"Apa kamu yakin?" Tanya Rara.
"Iya." Jawab Rendi.
"Baiklah,aku percaya padamu," ucap Rara.
"Apa aku boleh tidur di sini?" Tanya Rendi tersenyum.
"Memang siapa yang melarangmu tidur di ranjang?" Tanya Rara.
"Tadi ... " ucapan Rendi terhenti ia mengerutkan dahinya.
"Aku hanya menyuruhmu untuk tidur di sofa dan di lantai tapi tidak melarangmu untuk diam di ranjang," jelas Rara tersenyum tertahan.
"Kamu ya nakal," ucap Rendi menindih istrinya.
Rendi bahagia karena istrinya sudah tidak marah lagi,luasnya hati istrinya tidak membuat Rendi khawatir. Rendi mencium Rara dengan dalam. Pertengkaran tidak akan panjang jika di dalam hubungannya di liputi saling mempercayai.
Rendi dan Rara tertidur saling memeluk dengan hati Rara yang tenang kembali,begitupun perasaan Rendi.
__ADS_1