
Prolog Rendi.
Di dalam Apartementnya Mereka habiskan untuk melepas kerinduan. Mereka bersama semalaman hingga menjelang pagi. Rendi dan Rara berpelukan di atas tempat tidurnya. Merekamenutupi tubuh mereka dengan selimut. Rendi tampak sangat bahagia ia tidak henti-hentinya mencium pucuk kepala istrinya.
"Sayang apa sekarang aku boleh menemui keluargamu?" Tanya Rara manja.
Rendi tidak segera menjawabnya tentang pertanyaan istrinya untuk bertemu keluarganya. Kemarin ibunya memintanya untuk datang ke rumah besar. Rendi tidak menjawabnya karena itu permintaan ibunya Rendi mencoba untuk tidak membuat keluarganya malu.
"Hmm, tapi tidak saat ini ya aku ada pertemuan dengan klien gak apa-apakan?" Kata Rendi.
"Kapan aku bisa menemui mereka?" Tanya Rara senang.
"Secepatnya," ucap Rendi lembut.
"Wah Sayang, aku semakin mencintaimu aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu," ucap Rara tersenyum mengembang.
Mereka berpelukan kembali karena Rara dalam suasana hati bahagia dengan ucapan suaminya. Rara melepas peukannya pada suaminya. Ia terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara bunyi handponenya ia melihat pesan masuk.
"Datanglah ke rumah malam ini ada pesta disini aku akan menunggumu," Pesan yang tertulis.
Rara tersenyum mendapatkan pesan itu. Seseorang yang selalu membantunya dan menemaninya jika ia sedang bersedih.
Ia tersenyum dan bergegas ke kamar mandi ia juga bersiap untuk memasak.
Rendi yang mencium aroma masakan ia terbangun dari tidurnya.
Ia mandi dan menghampiri istrinya juga memeluk dan mencium leher istrinya.
"Duduklaah kita makan aku lapar sekali !" Ajak Rara.
"Hmm," ucap Rendi.
"Jam berapa kamu pergi?" Tanya Rara.
"Sekitar Jam tujuh malam," jawab Rendi.
"Bolehkah aku ke tempat Dilla? Aku mau mengajaknya ke suatu tempat," ucap Rara gembira.
Suaminya mengerutkan dahinya. Ia terdiam khawatir akan istrinya bila di ijinkan untuk pergi malam -malam.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rendi.
__ADS_1
"Aku mau ke suatu tempat Sayang boleh ya?" Rengek Rara manja.
"Dengan senjatanya ini aku selalu ingin memakanya sampai ia tak merengek lagi," batin Rendi.
"Hmm baiklah, kamu pergi dengan Dilla?" Tanya Rendi.
"Iya," jawab Rara.
Sekitar jam tujuh malam Rendi bersiap mengenakan pakaian formalnya, untuk menghadiri pesta ibunya. Ia mengenakan jas hitam kemeja putih celana hitam dasi abu.
Rara yang melihat suaminya sedang bersiap ia tersenyum memujinya di dalam hatinya. Betapa tampannya suaminya itu. Ia berdiri dengan penampilan rumahannya hanya mengenakan kaus oblong celana pendeknya menghampiri suaminya menarik dasinya dan menciumnya.
Rendi terkejut dengan tingkah istrinya yang berubah-ubah ini. Ia melebarkan kedua matanya membalas ciuman istrinya tapi istrinya malah memberhentikan ciumanya yang membuat Rendi geram.
"Kamu menggodaku Sayang?" Tanya Rendi kecewa.
"Aku hanya mau meninggalkan bekas lipstik di bibir suamiku agar tidak ada yang berani mendekatimu," ucap Rara dingin.
"Hah begitukah," ucap Rendi tersenyum bahagia mendengar perkataan istrinya itu.
Setelah siap dengan penampilannya Rendi pergi berpamitan dahulu pada istrinya. Mengecup kening istrinya memeluknya erat.
"Sayang apa kamu sudah siap?" Tanya Rara.
"Sudah Ra, tapi aku tidak bisa ikut pergi denganmu,maaf ya Sayang. Aku ada pekerjaan dadakan yang tidak bisa aku tinggal nih, gak apa-apakan Sayang?" Jawab Dilla di sebrang telepon.
Rara terdiam, memajukan bibirnya dan tidak mempermasalahkan saudarinya yang tidak bisa menemaninya. Ia mengerti akan sahabatnya yang sedang di mabuk cinta pada Ken. Ia pergi sendiri menggunakan taxi.
Rara yang berbalut dres agak ketat di pinggangnya berwarna biru muda. Dengan heels silver,kerudung di belit warna abu yang di hias dengan jepit hijab warna biru muda. Ia pergi ke rumah besar untuk menghadiri undangan nyonya besar wanita paruh baya yang telah menolongnya kemarin.
Rara keluar dengan anggun. Ia tampak mencolok di sana karena hanya beberapa tamu hadirin yang mengenakan kerudung dengan cantik seperti Rara. Ia di sambut oleh pelayan berjas hitam dan berjalan mengikuti langkah Rara .
Di sebuah halaman tampak sudah banyak tamu yang hadir disana bernuansa elegan. Sudah ada keluarga Anggara berkumpul dengan para tamu saling menyapa berjabat tangan dengan para tamu sampai ke sebuah acara inti.
Rara yang di sambut hangat oleh nyonya rumah. Ia berpelukan dengan nya Rara berbincang-bincang.
"Kamu nikmati saja dulu hidanganya saya akan ke sana sebentar," ucap Nyonya rumah .
Rara tersenyum mengangguk. Ia di tinggal oleh tuan rumah. Rara merasa bosan ia pergi ke toilet dengan tergesa.
Di toilet terdengar percakapan antar wanita dan terdengar oleh Rara.
__ADS_1
"Kamu harus berhasil mendapatkan hatinya kau bisa senang bila menjadi Nyonya di rumah besar ini," ucap seorang wanita mereka bicara sebentar dan pergi .
"Huh, jaman begini masih aja ada orang yang mengharapkan matreialistis," gumam Rara.
Rara ia kembali ke tempat dimana banyaknya tamu dan ternyata acara sudah di mulai.
"Saya ucapkan banyak terimakasih atas kehadiran para undangan semua yang sangat saya hormati.Saya sangat bahagia karena putra saya Rendi Anggara akan bertunangan dengan Maya putri keluarga Soraya," ucap nyonya rumah.
Deg ...
Hati Rara seperti tersambar petir ia tidak tahu apa itu suaminya atau bukan.
Rara berjalan perlahan memandang ke depan panggung ia melihat ada sosok pria yang ia kenal sedang berdiri di panggung bersama nyonya besar.
Juga seorang wanita bergaun merah Rara menghampirinya sampai ke depan panggung ia tidak menghiraukan orang lain yang memperhhatikannya.
Rendi yang juga terkejut melihat wanita yang ada di hadapanya adalah istrinya.
Air mata Rara sudah jatuh di pipinya ia tidak berbicara sama sekali tapi ia sangat tegang.
Para tamu saling bicara siapa wanita itu?.
"Raaa?" Itu yang keluar dari mulut Rendi.
Rara berbalik dan pergi dengan berlari air matanya beruraian di pipinyaIa seperti di khianati untuk yang kedua kalinya.
Rendi yang terkejut ia hendak berlari tapi di tahan oleh wanita di sampingnya.
"Mah, dia istri Rendi Mah," teriak Rendi.
Ucapan Rendi membuat semua tamu bergemuruh
ibu Ratih yang sama terkejutnya ia melemah.
"Kejar Nak, dia sedang mengandung," lirih ibu Ratih.
"Apaaa?" Teriak Rendi.
Ia lebih terkejut dengan semua yang ia dengar tentang mamahnya mengumumkan pertunanganya dengan wanita lain di hadapan Rara.
Dan dia sama sekali tidak tahu bahwa Rara sedang mengandung.
__ADS_1