
Menjelang sore hari Rendi dan Rara berpamitan kepada mertuanya.
"Kami akan kembali," ucap Rendi.
"Apa tidak mau tinggal disini?" Ibu Ratih.
"Mungkin lain kali kita akan menginap," kata Rendi.
"Iya Mah, jangan khawatir kita akan sering-sering mampir dan juga mengina," ucap Rara tersenyum.
"Baiklah Mamah tunggu ya," ucap ibu Ratih.
"Mah boleh aku bawa buah strawberi?" Tanya Rara.
"Tentu," jawab ibu Ratih mengisyaratkan kepada pelayanya.
Doni yang sedang membersihkan buah Strawberi yang baru ia petik di hampiri pelayanya.
"Sini aku bawa buahnya untuk Nona muda," ucap Pelayan.
"Baiklah, nanti aku masukan di cup ya," jawab Doni.
"Jangan lama," ucap Pelayan.
"Iyaaa," ucap Doni.
Tidak lama pelayan itu membawa cup yang sudah berisi buah Strawberi berjalan bersama Doni di samapingnya yang tersenyum pada Rara,
ia menyerahkanya pada Rara.
Rendi yang melihat tingkah Doni, ia tampak mengerutkan dahinya tidak suka.
Kini Rendi dan Rara dalam perjalanan pulang Rara yang masih asik memakan buah yang dia bawa.
Ia tidak memperhatikan mimik wajah suaminya.
Ken yang di depan kemudi melirik ke spion bagaimanna keadaan tuan dan nonanya yang tidak seperti biasanya yang selalu bertengkar tapi kali ini hening.
"Nona sangat manis walau sedang memakan sesuatu," batin Ken.
"Kau juga jangan coba-coba tersenyum pada Raraku," ucap Rendi dingin.
Ucapan Rendi yang membuyarkan pemikiran Ken juga Rara yang sedang asik mengunyah mengalihkan pandanganya pada suaminya.
"KenapĂ ? memang ada apa dengan wajahku sehingga tidak ada yang boleh tersenyum padaku?" Tanya Rara.
"Karena hanya aku yang boleh melakukanya," jawab Rendi.
"Sayang, walau di dunia ini banyak sekali lelaki tampan aku tetap di hatimu dan hanya ada kamu," ucap Rara manja.
Rendi tersenyum bahagia mendengarnya,ia melihat bibir Rara yang masih mengunyah buah.
Rendi menempelkan bibirnya ke istrinya dan menciumnya.
Itu yang Rendi lakukan bila suasana hatinya sedang baik apalagi melihat istrinya. Ia pasti tidak akan berhenti.
"Kamu ini yah tidak bisa lengah sedikit saja sudah nyosor aja," ucap Rara.
"Memang aku harusnya ngapain?" Tanya Rendi tersenyum.
"Kamu tetap harus bersamaku." Rara manja.
Ken seperti angin yang hanya mendinginkan ruangan. Ken bahkan hanya diam saat mendengar percakapan tuan dan nonanya.
Sesampainya di Apartment Rendi dan Rara masuk ke dalam dan Ken berpamitan.
"Aku mandi ya Sayang aku sudah gerah nih," ucap Rara.
Lalu Rara berjalan ke kamar mandi yang di ikuti Rendi ia berbalik.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rara.
"Aku ikut siapa tahu kamu butuh bantuan," ucap Rendi.
"Tidak perlu," jawab Rara.
Tapi bukan Rendi bila ia akan menyerah begitu saja Rendi tetap mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi.
"Sayang kamu ini kenapa sih?" Tanya Rara.
"Aku juga mau mandi," manja Rendi.
"Iya nanti." Rara kesal.
"Tapi aku mau bareng kamu," rengek Rendi.
"Baiklah, tapi jangan macam-macam ya," tegas Rara.
Tapi sudah Rara duga, Rendi tidak akan pernah mau menyerah dengan keinginanya.
Rara yang melihat suaminya berdiri di depanya dengan tanpa helai benang sedang metap Rara,yang berendam di bathroom Rara menggelengkan kepalanya.
Rara berdiri menghampiri suaminya,ia tahu apa yang di maksud suaminya itu.
Rendi menundukan kepalanya sedikit mencium istrinya karena memang tingginya jauh dari Rara yang hanya sampai dagunya saja.
Rendi yang tidak kenal lelah dengan istrinya karena memang ia atletis tubuhnya tidak mudah lelah dan Rara yang hormonya semakin bertambah, karena ia yang sedang mengandung menambah hasrat suami istri yang sedang hangat ini.
Rara dan Rendi tampak tertidur pulas di ranjang mereka, setelah aktivitas mereka di kamar mandi tadi.
Sekitar pukul 18:24 Rara terbangun, ia bergegas membersihkan diri dan bersembahyang. Setelah itu ia membangunkan suaminya juga untuk membersihkan diri sembahyang dan makan malam.
Kandungan Rara kini sudah menginjak enam bulan.
Perutnya sudah semakin terlihat.
Rara juga sering berkunjung ke rumah besar untuk menemui ibu mertuanya. Kini keluarga Rara yang ada di Bandung juga sangat sering berkunjung untuk menemui Rara. Ada Dilla ada orang tua Rara juga kadang Orang tua Dilla yang sekaligus pamannya.
Suatu hari Rara sedang terduduk di depan kasir Cafe nya ia tampak sedang memakan camilanya dengan memperhatikan para pengunjung berdatangan .
Rara sudah tidak perlu melayani lagi, karena sudah ada dua pekerja yang di rekomendasikan suaminya. Ia tampak seksama siapa saja dan mimik seperti apa yang berkunjung ke tempatnya hingga Dilla membuyarkan pandanganya.
"Sayang apa dia sudah bergerak," Tanya Dilla.
"Hmmm," jawab Rara.
"Apa dia perempuan?" Tanya Dilla.
"Hmmm." Rara masih fokus mengunyah.
"Apa tidak sakit?" Tanya Dilla.
__ADS_1
"Hmmm," jawab Rara.
"Apa dia tampan?" Tanya Dilla.
"Hmmm," jawab Rara.
Tapi kali ini Rara menoleh pada Dilla heran.
"Siapa yang tampan kamu maksud?" Tanya Rara.
"Tentu saja kekasihku," jawab Dilla tersenyum.
"Dia sedikit tampan," ucap Rara.
"Dia tampan!" Seru Dilla.
"Sedikit," jawab Rara.
"Tampan !" teriak Dilla.
"Tidak." Bantah Rara.
"Apanya yang tidak?" Cetus Dilla.
"Tidak tampan," ucap Rara.
"Raraa !" Teriak Dilla kesal.
Perdebatan mereka memang selalu kekanakan,tapi tidak mengurangi kebersamaan mereka selalu saling mengisi juga memperhatikan.
Dilla kembali ke meja keuangan dan bekerja kembali.
Rara yang melihatnya tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang sudah terlihat.
"Apa kamu yakin sudah bahagia?" Ucap seorang wanita tiba-tiba pada Rara.
"Siapa ya?" Tanya Rara heran.
"Hmmm, apa kamu yakin sudah bahagia dengan suamimu apa kamu yakin sudah tau tentang suamimu?" Ucap wanita itu lagi.
Rara hanya terdiam ia sama sekali tidak mengenali wanita itu.
"Anda siapa kenapa saya harus memberitahu saya bahagia atau tidak?" Tanya Rara.
"Huh, wanita ini tajam juga," batin sisi.
"Aku Sisi kalau suamimu sudah memberitahumu tentang aku berarti dia sudah jujur padamu tapi kalau tidak berarti dia tidak sepenuhnya percaya padamu," ucap Sisi.
"Memang siapa kamu harus aku tahu itu tidak penting." Tegas Rara.
"Kalau kamu ingin tahu sekarang aku akan pergi ke kantor Rendi. Kalau kamu ingin tahu suamimu sudah sepenuhnya jujur padamu.Dia tidak akan keluar bersamaku. Tapi kalau dia keluar denganku berarti masih banyak yang ia sembunyikan darimu dan juga dia masih mencintaiku," jelas Sisi.
"Itu tidak penting, kalau kau tidak ingin aku memanggil satpam sebaiknya kau keluar," tegas Rara.
Sisi tersenyum ia melangkah keluar, dan ternyata menuju perusahaan Rendi.
Rara yang melihatnya terkejut tapi ia tak bergeming.
Rara percaya pada suaminya itu, Rendi tidak akan mungkin pergi dengan wanita lain.
Sudah sekitar satu jam, Rara melihat ke arah kantor Rendi. Tapi tidak ada suaminya yang keluar, Rara bernafas lega ia percaya pada suaminya.
Rara sangat terkejut dan ingin sekali ia keluar dan menjambak rambut wanita itu. Tapi ia melihat ekspresi suaminya yang datar itu menandakan bahwa ia tidak melakukan apa-apa. Tapi tampak Sisi menarik dasi Rendi dan mencium Rendi di depan kantor deg.
Hati Rara seperti hancur berkeping-keping, Rara memegang dadanya yang sakit bagaikan terkena besetan pisau. Ia tetap memandang suaminya yang sedang berciuman lama.
Air mata Rara menetes begitu saja tanpa ia sadari.
Dilla yang melihat Rara dan berjalan menghampirinya.
"Ada apa Sayang?" Tanya Dilla.
"Hhmm." Rara menggeleng.
"Sudah jangan mengatakan kata hmm lagi sebagai jawaban, kamu ini menangis ada apa?" Teriak Dilla.
"Aku pulang ya La," ucap Rara meninggalkan Dilla.
Dilla yang melihat Rara pergi ia menahan Rara .
"Sayang tunggu aku telepon suamimu ya untuk mengantarmu pulang," ucap Dilla.
"Tidak perlu," jawab Rara pergi.
"Kenapa ibu hamil sangat sensitip sih hanya berdebat kecil saja ia menangis," ucap Dilla.
"Hal wajar Mba," ucap pengunjung ibu-ibu.
"Iya ya," jawab Dilla menganggukan kepalanya.
Rara yang menggunakan Taxi pergi tanpa arah ia memilih mengeluarkan handponenya dan menelpon suaminya.
"Asalamualaikum Ra, ada apa?" Tanya Suaminya.
Deg baru kali ini Rendi mengatakan namanya,bahkan ia selalu memanggilnya sayang dengan lembut tapi kali ini ia bahkan sangat tegas.
"Hallo Ra, ada apa?" Tanya Rendi kembali.
"Hmmm, kamu dimana?" Ucap Rara.
"Oooh, aku sedang bertemu klien dan sepertinya nanti malam aku pulang terlambat ya," ucap Rendi kembali.
"Sepenting itukah?" Tanya Rara lirih.
"Iya penting karena ini perjanjian antar perusahaan, " jawab Rendi.
Rara menutup teleponya tanpa mengucapkan salam.
Rara menangis tanpa pengarahan air matanya mengalir membasahi pipi dan hijabnya.
Rara kembali ke Apartmentnya dan ia terpikir sesuatu akan Ken. Ia mencoba menelpon pada Ken.
"Iya Nona ada apa?" Tanya Ken.
"Kamu bersama Tuanmu?" Ucap Rara.
"Saya di luar kota Nona, sedang meeting penting ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya Ken.
"Hmm tidak," jawab Rara.
"Baiklah," ucap Ken menutup sambungan teleponya.
__ADS_1
Rara termenung dalam tangisnya .
"Kenapa wanita hamil gampang menangis sebenarnya bukan karena gampang menangis, tapi karena memang yang ia lihat menyakitkan dan pasti akan membuat tangisan," ucap Rara.
Hingga malam pun Rara belum bergeming memikirkan suaminya yang bersama wanita lain, ia tidak paham juga sifat suaminya yang tadi di tanya juga berubah.
Melihat waktu semakin naik ini sudah pukul sepuluh malam,Rara terkejut dan menelpon suaminya dan jelas saja semakin terkejut saat yang mengangkatnya adalah wanita.
"Datanglah ke hotel xx," ucap wanita itu.
Deg....
Hati Rara seperti mengencang berpacu seperti ada yang mengejarnya.
Rara tidak menjawabnya, ia hanya diam dalam hatinya selalu bertanya ada apa apa yang mereka lakukan di hotel juga kenapa aku harus kesana .
"Apa aku harus kesana,tapi aku takut," gumam Rara.
Rara malah menangis menjadi -jadi, ia tidak tau harus berbuat apa suaminya yang tidak seperti biasanya mungkinkah karna akhir-akhir ini.
Rara kurang melayaninya karena kandunganya yang semakin membesar.
Rara mengambil handponenya dan memanggil taxi online ia bersiap dan bergegas keluar.
Perasaanya berkeliaran,ia tidak tau apa yang harus ia lakukan dan bahkan apa yang sekarang ia lakukanpun tidak sesuai pikiranya ia bahkan billang tidak mau tapi tubuhnya malah melangkah keluar.
Di Hotel XX Kini Rara berada, ia masih berdiri tidak masuk ataupun pergi. Ia hanya berdiri hingga seseorang yang ia kenal bertanya padanya .
"Rara, apa yang kamu lakukan malam-malam begini ?" Tanya Radit.
"Hmm," ucapan Rara tertahan.
"Ini memang tempat berbisnis kamu sedang ngapain dan ini kamu sedang hamill ayo kembali aku antar kamu pulang ! " Ajak Radit.
Rara baru menoleh ke arah Radit yang tidak lain mantan suaminya dulu.
Rara bingung kenapa semua lelaki berkumpul di tempat seperti ini . Apakah semua lelaki memang seperti itu pikiran Rara semakin kesana kemari.
"Raaa?" Tanya Radit.
"Aku sedang mencari angin," jawab Rara pelan.
"Ibu hamil untuk apa mencari angin ayo pergi," ajak Radit.
"Tidak perlu kamu urus saja urusanmu aku tidak apa-apa pergilah," tangkis Rara.
Radit yang terdiam dengan Rara yang dingin seperti itu, Rara yang tidak pernah ia kenali ini dulu selalu lembut padanya kini sangat berubah setelah sekian lama tidak bertemu .
Radit terdiam dan melihat Rara yang berlalu pergi meninggalkanya kini Radit menuju mobilnya.
Rara melangkah menuju tempat Resepsionis.
"Boleh saya tanya dimana kamar Rendi?"tanya Rara.
"Maaf Nyonya ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.
"Kamar ini," ucap Rara menunjukan handponenya.
"Mari saya antar itu ada di lantai tiga Nyonya," ucap petugas lainya.
Rara yang naik lift dengan dada yang berdebar kencang,ia takut takut akan hal-hal yang tidak ia ingin lihat.
Juga kenapa ia malah melangkah sampai seperti ini ia bahkan belum istirahat sama sekali.
Setelah mendengar ting tanda bahwa ia sudah sampai di tujuan.
Rara menghentikan langkahnya ia malah mondar mandir.
"Nyonya mari didepan sana kamarnya Anda bisa kesana tinggal lurus saja," ucap petugas yang mengantar Rara tadi.
Rara mengangguk dan berkata.
"Saya bisa pergi sendiri kamu bisa kembali," ucap Rara dan petugas itu pergi.
Kini Rara bergelut dengan pikiranya sendiri,ia tudak berani melangkah lagi tapi karena ini sudah di langkahnya dan bahkan ia terus melangkah hingga sampai kesebuah kamar.
Pintu yang tertera di handponenya tadi yang ternyata Rendi mengirimnya. Rara memberanikan diri untuk mengetuk pintunya tapi ternyata pintunya tidak tertutup rapat.
Ia mendorong pintunya membuka dan ia melangkahkan kakinya dan mendengar tawaan beberapa orang di dalam sana dan Rara melihat adegan yang sama sekali tidak ia pikirkan dari suaminya. Ia terkejut dan terdiam setelah tau bahwa orang yang di dalampun melihatnya.
"Kamu siapa?" Tanya seorang pria yang sedang minum bir dan semua menoleh dan Rendipun ikut melihat siapa yang datang.
"Ra?" Ucap Rendi terkejut melihat Rara Rendi merapihkan bajunya dan berdiri menghampiri Rara.
"Raa, kamu sedang apa kenapa kesini?" Tanya Rendi .
Rara masih terdiam untuk kesekian kali suaminya memanggil ulang namanya, yang membuatnya sakit di hatinya.
"Siapa dia Rend ?" Tanya pria lain.
"Dia ... ist," ucapan Rendi terpotong oleh Rara.
"Saya salah kamar," potong Rara.
Rendi terkejut mendengar ucapan Rara yang sendu, ia memegang bahu Rara tapi di tepis oleh istrinya.
"Oh Nyonya kelihatanya Anda wanita baik-baik mari saya antar ke kamar Anda ," ucap pria yang ada di sana.
"Tidak perlu saya sudah tidak ada kepentingan lagi permisi," pamit Rara.
Rendi yang melihat istrinya yang pergi dalam keadaan raut wajah yang tidak bisa di tebak .
"Kamu sama siapa aku antar ya?" Ucap Rendi.
Rara yang semakin geram mendengar setiap ucapan Rendi. Yang seperti formal dan canggung dari tadi terdiam menghentikan langkahnya. Panggilan yang selama ini Rendi lakukan padanya tidak seperti biasanya. Kini ia ucapkan dengan memanggil namanya Rara.
Dan juga Kamu sangat asing di telinga Rara.
Rara mendongak melihat lekat wajah suaminya yang selama ini ia kenal. Ia melihat sangat lama dan mengerti akan satu hal bahwa Rara salah menduga dan ia berkata.
"Semoga Anda menikmati waktu Anda Tuan dan Anda bisa menghapus darah yang ada di mulut Anda," ucap Rara dan ia berlalu pergi meninggalkan suaminya.
Rendi yang mendengar ucapan istrinya, ia terkejut ia sama sekali tidak mengerti maksud istrinya itu hingga terdengar suara tawa temanya.
"Kamu meninggalkan bekas anggur disana pantas di kira darah juga Rend," ucap pria yang ada di bangku.
"Tapi wanita tadi biar sedang hamil tapi sangat cantik walau tampak kusut," ucapnya kembali.
Ada senyum jahat senang disana yaitu sisi yang tampak bhagia melihat itu semua ia bahkan tersenyum dengan membenarkan bajunya dengan seperti semula kembali.
"Baru seperti itu saja kamu seperti nya sangat hancur apalagi aku yang sudah beraksi," batin sisi tersenyum.
__ADS_1