
Prolog
Rara sedang berendam di dalam bak mandi nya dengan wajah berseri. Hari ini ia mengatakan hal yang tidak masuk akal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Apa aku sudah gilla bagaimana bisa aku berbicara seperti itu pada suamiku kan malu," gumam Rara.
Rara menutup wajahnya dengan kedua tanganya dan tertawa lepas.
"Dia pasti merasa aku konyol," gumam Rara.
Rara melakukan aktivitas mandinya dengan menghabiskan waktu 30 menit.
Rara keluar dari kamar mandi, dengan masih mengenakan handuk melingkar di tubuhnya dan handuk di kepalanya.
Rara tidak tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikanya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Dia sudah mulai berani keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk saja," batin Rendi.
Rara sibuk dengan perawatan tubuhnya di depan meja rias,ia bahkan tidak tahu bahwa Rendi berjalan menghampirinya dan memeluknya dari arah belakangnya.
"Astagfirullooh Sayang,kamu membuatku kaget saja ini juga kamu sinmpan dimana tanganmu itu," teriak Rara melepas pegangan tangan Rendi di dadanya.
"Hmmm harum, aku mau nagih janji istriku," ucap Rendi mencium leher istrinya.
"kita bahkan belum makan malam juga anak kita masih di bawah, kamu kok sudah pulang bukankah ini masih sore?" Ucap Rara.
"Tidak ada kerjaan di kantor," ucap Rendi.
"Mandi sana kita turun lihat Rayn dan Amira, Sayang," ucap Rara.
Rendi memangku Rara dan duduk di pangkuanya dengan Rara yang hanya mengenakan handuk di tubuhnya.
Rendi mengecup istrinya mendalam.
Ciumanya turun keleher jenjang istrinya yang masih segar dengan harum wangi mandi.
"Hmm Sayang, ini masih sore apa tidak terlalu cepat," desah Rara.
Rendi tidak menjawabnya ia bahkan semakin menelusuri istrinya dengan lama tanpa henti menghiraukan istrinya.
Rendi mengecup istrinya semakin lama.
Ia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka menghabiskan waktu berdua di kamar mandi.
Kini Mereka keluar dari kamar mandi. Rendi dan Rara sudah bersiap dengan pakaian malam dengan wajah berseri di raut mereka.
"Apa kamu lelah Sayang?" Tanya Rendi.
"Hmmm, rasanya badanku remuk," lirih Rara.
"Apa perlu aku pijat Sayang?" Tanya Rendi.
"Tidak perlu, kita harus kebawah melihat Rayn dan Amira takutnya mereka mau minum susu," ucap Rara.
"Baiklah, kita ke bawah nanti aku pijat tubuhmu ya seperti tadi," ucap Rendi tersenyum menggoda.
"Emang tadi pijitan?" Tanya Rara polos.
"Tentu saja, bahkan aku yang bekerja keras," ucap Rendi tersenyum.
"Huh, kamu nya gak sabaran kamu rajin jika kerja bersamaku suamiku," ucap Rara tersenyum manja.
"Hehehe apa kamu suka?" Tanya Rendi memeluk istrinya.
"Tentu saja, aku suka apalagi suamiku ini sangat aku Sayangi," ucap Rara.
Rendi tersenyum bahagia,ia memegang wajah istrinya dan menciumnya dengan dalam, ia tampak tidak ingin melepas ciumannya tapi Rara mengakhiri ciuman Rendi dengan mendorongnya.
"Kita harus ke bawah Sayang ," ucap Rara.
Rendi mengangguk,dan pergi menuruni tangga dengan istrinya, menghampiri keluarganya yang sedang berada di meja makan.
"Apa kalian jadi berbulan madunya?" Tanya tuan Anggara.
"Iya Pah, bersama Ken dan anak-anak karena mereka sudah kebal tubuhnya," jawab Rendi.
"Apa Mama dan Papa akan ikut?" Tanya Rara.
"Hmmm Sayang, pergilah kalian mama dan papa sudah tidak perlu pergi juga ada banyak tugas yang harus di lakukan oleh Papamu," ucap ibu Ratih.
Selesai makan malam,Rendi dan Rara kembali ke kamar mereka.
Rendi duduk di depan ranjang tidur Amira,sedangkan Rara terduduk di depan meja riasnya.
"Sayang kamu manis sekali seperti mama mu," ucap Rendi mencium Amira.
Rara melihat mereka dengan tersenyum,ia melihat ke arah Rayn yang sudah tidur pulas.
"Anak kita ini sudah pada pintar,kelak mereka pasti akan sepintar baik dan soleh solehah bagi kita,aku sangat menanti mereka besar Sayang," ucap Rendi.
"Iya Sayang, aku juga sangat menanti hari itu," ucap Rara menghampiri suaminya.
"Ayo kita buat lagi Saudara untuk mereka," goda Rendi.
"Kamu selalu bersemangat Sayang," ucap Rara mencium pipi Rendi.
Rendi yang mendapati istrinya yang berinisiatip,ia menyimpan pangkuan Amira dan menidurkanya, ia menghampiri Rara yang berjalan ke kasurnya Rendi memeluknya.
"Hmmm kamu sangat manis Sayang membuatku tidak mau berhenti mencumbumu," goda Rendi mencium leher istrinya.
"Hmmm Rayn dan Amira tuh masih kecil Sayang kita berdua harus fokus membesarkan mereka,agar hanya orangtuanya lah yang terpenting bagi mereka dan kita sebagai orangtua mereka harus memahami sifat dan keinginan mereka,bahkan kita harus tahu isi hati mereka,aku ingin menjadi ibu yang bisa memahami setiap gerak gerik mereka," ucap Rara.
__ADS_1
Rendi mengangguk dan tersenyum bahagia,dengan istrinya yang tidak memberatkan kedua anaknya pada pelayan seperti ibunya dulu.
"Aku akan selalu mendukungmu sayang,tetap di sisiku aku akan selalu menjagamu di saat kau menjaga putra putri kita," ucap Rendi.
"Apa semua sudah siap?" Tanya Rara.
"Sudah,Ken sudah menyiapkanya," jawab Rendi.
"Apa Dilla bahagia, kenapa dia sangat jarang kemari? Tanya Rara.
"Mungkin Ken, membuatnya tidak bisa melangkah keluar Sayang," ucap Rendi tersenyum.
"Kenapa seperti itu,apa Ken sekejam itu," tanya Rara polos.
"Haha, yang pasti Dillamu itu menyukainya," tawa Rendi.
"Kenapa Dilla menyukai Ken yang kejam aku sudah tahu itu, Ken tidak mungkin bisa selembut kamu Sayang," ucap Rara.
Rendi tersenyum mendengar ucapan istrinya,ia mencium kening istrinya dengan dalam.
Pagi ini Rara sedang siap-siap untuk pergi berbulan madu dengan Rayn Amira dan dua baby sister.
"Sayang sebenarnya kita mau kemana,apa ke pantai?" Tanya Rara manja memajukan bibirnya mencium pipi suaminya.
"Kita ikuti mobil mereka saja," jawab Rendi.
Kendaraan yang ada di depan mobil yang Rendi tumpangi mengikuti mobil tersebut yang di tumpangi Ken dan Dilla.
Dari kejauhan sudah ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari awal keluar rumah Anggara.
"Sayang kenapa kamu nempel terus apa masih kurang tadi malam?" Tanya Rendi pada istrinya yang ada di pelukanya memeluk erat.
"Hmmmm aku mau cium wangimu aku tidak tahu rasanya enak, juga aku sangat menyukainya," ucap Rara manja.
Rendi mencium bibir istrinya dan memeluknya erat,karena hal itu ia juga merasakannya berasa ingin selalu dekat denganya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang berjumlah tiga mobil,Rara tertidur di pangkuan suaminya.
Rendi melihat istrinya yang tertidur lelap.
"Kamu sangat manis sayang,karenamu aku akan selalu melakukan dan menghancurkan siapapun yang mencoba menyakitimu,karena senyummu adalah kebahagiaanku," gumam Rendi mencium kening istrinya.
***??
BANDUNG.
Kini mobil sudah berhenti di sebuah tempat wisata yang ramai di kunjungi banyak pengunjungnya.
Rendi melihat Ken keluar dari mobilnya dan menghampiri Rendi.
Rendi membuka kaca jendela mobilnya.
"Kita sudah sampai Tuan, mari kita masuk," ucap Ken.
"Sudah saya periksa Tuan," jawabKen.
Rendi membangunkan istrinya dengan cara menyusupkan tangan kananya ke dalam baju istrinya dan mencium istrinya seperti biasa. Jika Rendi tidak mau repot harus mengguncang tubuh istrinya,hingga membuat Rara terbangun dan mendorongnya.
"Apa tidak ada cara lain cara membangunkanku itu Sayang," bentak Rara pada suaminya yang sedang tersenyum menggoda.
Rara cemberut dengan wajah kesal ia memperbaiki pakaianya, Rara turun dari mobilnya, ia melihat ke arah Dilla dan melihat kesekelilingnya.
"Aaaaah ini CiWIDEY Sayang,kamu serius kita disini aku mau banget kesini," teriak Rara menghampiri suaminya dan mencium pipi Rendi.
Semua orang yang melihat Rara dan Rendi tercengang menyaksikan dimana Rara mencium tuan mereka.
"Astaga tuan kalian manis sekali Nona muda benar-benar menggemaskan," batin Ken.
"Kalian bisa menyelesaikanya nanti di dalam," cetus Dilla membuat Ken terkejut.
"Istriku ini aku bisa mati karena mulutmu ini," batin Ken.
"Kau benar ayo Sayang, kita lanjutkan di dalam," goda Rendi.
"Huh, kalian bahkan tidak sabaran," cetus Dilla kembali.
Ucapan Dilla malah membuat Rendi dan Rara tertawa, sambil berjalan memasuki area penginapan yang berada di hadapanya.
Rara menggendong Rayn di pangkuanya,Rendi menggendong Amira.
"Mereka sangat manis ya Ken," ucap Dilla.
"Kita juga manis " ucap Ken datar.
"Yang manis hanya aku saja," cetus Dilla.
"Kamu pikir aku tidak manis?" Tegas Ken.
"Kamu manis saat di atas ranjang," ucap Dilla tersenyum.
Ken tersenyum dengan tingkah istrinya,mereka memasuki kamar mereka masing-masing.
"Ini sangat indah Sayang," ucap Rara tersenyum melihat pemandangan indah di depan kamarnya.
"Apa kamu menyukainya Sayang?Tanya Rendi memeluk Rara dari belakang.
"Dari dulu aku ingin sekali kesini sayang,tapi aku tidak tahu kalau kesini akan lebih indah bila berpasangan," ucap Rara tersenyum.
"Apa ada lagi yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Rendi menyusupkan kepalanya di leher Rara.
"Aku tidak tahu Sayang,nanti bila anak-anak kita sudah besar mungkin aku akan mengajak mereka ke pantai,katanya ombak di pantai sangat indah," ucap Rara.
__ADS_1
"Sekarang juga bisa,bila mereka sudah bisa berlari," ucap Rendi.
"Tidak perlu, saat ini kita fokus membesarkan mereka saja, Rayn harus di beri minum ini sudah waktunya sebentar ya Sayang,aku bangunkan dia agar malam nanti dia tidak terlalu haus," ucap Rara menghampiri Rayn yang sedang memainkan bola di keranjang bayinya.
"Waah Putra Mama sudah sangat pintar ya,tidak rewel sudah bangun juga,kamu bahkan tidak mengganggu adikmu," ucap Rara menggendong Rayn yang sudah bisa duduk menghampiri Rendi.
"Dia tahu kalau mamanya sedang dengan papa nya"ucap Rendi mencium pipi Rayn yang putih lembut.
"Aku tidak tahu kalau Rayn sangat pengertian pada papanya,tapi yang jelas manjanya sama kaya Papanya," ucap Rara membuka kerudungnya dan memberi minum susu Rayn.
Suasana di sore hari Rendi dan Rara menggendong Rayn dan Amira, menghampiri Ken dan Dilla yang sudah duduk di meja makan.
"Uuuuh baby Rayn, juga Amira kalian makin lucu saja,uuuuh aku mau gendong kalian berdua,Ken kamu gendong baby Amira ya," ucap Dilla.
"Kenapa?" Tanya Ken.
"Pokonya aku mau kamu gendong baby Amira," ucap Dilla.
"Akhir-akhir ini kamu selalu memerintahku," ucap Ken.
Rendi dan Rara yang melihat tingkah Dilla teringat saat Rara yang membentak Rendi setiap saat.
"Apa kamu hamil?" Tanya Rara.
"Kenapa?" Ucap Dilla.
"Dulu aku selalu memerintah Rendi dan aku baru tahu kalau saat itu aku sedang hamil lima minggu," jelas Rara.
"Hmmm, aku masih datang bulan ko, lancar hanya bulan ini saja belum," ucap Dilla malas.
"Kenapa tidak periksa?" Tanya Rara.
"Dia hampir tiap hari periksa kandungan sudah seminggu ini dia gak periksa," ucap Ken datar.
"Aku kan hanya memastikan seberapa mahirnya kamu membuat anak," cetus Dilla.
Sontak semua terkejut dengan ucapan Dilla. Begitupun Ken yang mendengar ucapan konyol istrinya wajahnya tanpa ekspresi.
"Hahaha, kamu ini gilla masa kamu meragukan suamimu sih?" Ucap Rara tertawa.
"Itu karena dia selalu meminta setiap hari bahkan setiap waktu,"cetus Dilla cemberut.
"Hahaha ternyata Ken sekuat baja ya," tawa Rara.
"Aku juga kuat sayang kamu mau," goda Rendi.
"Apa sih aku tidak menuntut kemahiranmu Sayang,aku juga tidak meragukanmu," ucap Rara tersenyum.
Ken menggendong Amira dengan wajah datar,ia melihat ke arah istrinya yang cemberut.
"Apa kamu mau lagi?" Bisik Ken pada Dilla.
"Malu sama baby Rayn nanti dia dengar," ucap Dilla.
"Dengar apa?" Tanya Rara.
"Nih Ken ," ucap Dilla.
Mereka tertawa dengan tingkah konyol Dilla yang tidak berubah,dari dulu bahkan mereka sudah mengerti dengan kekanakanya Dilla.
"Sebaiknya kau perhatikan istrimu dengan benar,agar dia tidak merasa sepi sepertinya dia butuh teman di rumah seperti bayi," bisik Rendi pada Ken.
"Tapi saya Tuan," ucapan Ken terhenti.
"Aku selalu ada untuk istriku kau tidak perlu khawatir kau fokuskan pada istrimu saja," ucap Rendi.
"TapiTuan." Ken ragu.
Ken mengangguk menuruti ucapan Rendi,ia lebih banyak berdua dengan Dilla dari biasanya selalu mengikuti Rendi setiap saat.
"Sayang aku mau kesana sebentar," ucap Rara.
"Aku antar ya Sayang," ucap Rendi.
"Tidak perlu biar dia antar aku saja ya," ucap Rara menunjuk babysister pelayan Rara.
"Jaga istriku!" Tegas Rendi pada pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk dan berlalu dengan Rara berjalan di depannya,
Rara berjalan menghampiri sebuah toilet yang dekat dimana Rendi tidak jauh dari pandanganya.
Selang tiga puluh menit,Rara masih belum kembali,Rendi gelisah menunggu istrinya ia berbalik ke arah pelayanya.
"Kau ikut aku menyusul istriku," ajak Rendi kepada pelayan yang menggendong Amira.
Rendi berjalan menyusul ke arah toilet yang Rara hampiri tadi,Rendi terkejut melihat pelayan yang bersama Rara terkapar pingsan.
"Ada apa ini?" Rendi terkejut ia panik.
Rendi menelusuri toilet tidak ada siapapun di dalam sana,apalagi istrinya Rara.
Rendi masih menggendong Rayn di pangkuanya dalam keadaan panik.
"Kemana istriku pelayan, Ken," teriak Rendi prustasi.
Pelayan yang menggendong Amira ketakutan,ikut panik karena Rendi mengamuk dan prustasi.
Penjaga keamanan disana menghampiri Rendi ketakutan dengan murkanya Rendi.
Ken menghampiri Rendi yang sedang teriak teriak memanggil nama istrinya.
__ADS_1
Ken dan Dilla menggendong Rayn dan Amira,melihat Rendi yang sedang histeris memanggil istrinya yang hilang.