Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Nesa


__ADS_3

Di malam hari Nesa sudah berada di rumah utama Rendi Anggara. Ia berjalan setelah turun dari mobilnya. Mengingat saat ke rumah sakit, Ken mengatakan jika tuan Rendi sedang sakit.


Nesa bergegas memasuki rumah utama. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya kesudut ruangan yang jarang terpantau orang lain ataupun penjagaan.


Nesa hendak menangkisnya tapi tenaganya di tahan kuat olehnya. Nesa kini berada dalam pelukannya. wajahnya bahkan berada di bagian dada bidangnya. Tangannya terkunci oleh tangannya dengan tenaga yang kuat.


Sekuat-kuatnya tenaga seorang wanita belum tentu bisa melebihi tenaga seorang pria.


Nesa penasaran dengan wajah kesalnya ia mendongakan kepalanya ingin melihat siapa yang berani berulah di kediaman tuannya.


Ia bahkan sempat berpikir jika itu hal tidak mungkin karena keamanan di kediaman Rendi Anggara teramat ketat .


Saat mendongakan kepalanya melihat wajah seseorang yang mendekapnya. Nesa terkejut dan membukatkan kedua matanya. Ia bahkan mengerutkan dahinya karena kesal padanya.


"Kau ... pria idiot ngapain kamu dekap aku seperti ini? Minggir !" bentak Nesa mencoba melepas cengkraman Adam.


Lain dari perkiraan Nesa. Adam menempelkan bibirnya di bibir Nesa. Ia bahkan membalikan tubuhnya agar Nesa tertahan oleh dinding yang tak bersuara.


Nesa membulatkan kedua matanya, kaki kuda-kuda yang selalu ia gunakan untuk menangkis Adam, kini terkunci oleh kakinya.


Nesa memberontak dalam ciuman dan dekapan Adam yang seperti orang kelaparan.


Adam semakin mendalami ciumannya dengan lembut. Hingga membuat Nesa sedikit merasa tenang dan menikmati ciumannya. Adam melampiaskan segala apa yang ia pikirkan selama di rumah sakit tadi. Melihat Nyonya mudanya yang teramat manis jika sedang berbicara bahkan saat Rara sedang marah juga sedang manja pada suaminya. Itu Adam tahan agar tidak semakin terjerumus dalam penglihatannya.


Hingga akhirnya ia melihat Nesa yang baru pulang dari perusahaannya dan ia sangat bahagia melihat gadis itu yang tampak lebih segar dari biasanya. Padahal kenyataannya Nesa habis bergelut mengerjakan proyek yang di tugaskan tuannya seharian ini. Hingga Nesa tidak tahu sama sekali tentang istrinya Ken yang melahirkan.


Nesa memejamkan kedua matanya, mengimbangi ciuman lembut dari Adam. Mereka tidak akan terlihat oleh siapapun walau melakukannya selama yang mereka mau. Karena tempat yang Adam gunakan untuk menekan Nesa tertutup olehGuci yang tingginya setinggi pria dewasa.


Setelah puas dan hati yang tenang. Adam melepas ciumannya dan memandangi Nesa yang juga menatapnya. Kali ini Nesa tidak melihat wajah Adam dengan kesal, tapi dengan senyuman tipisnya.


Adam tersenyum dan memegang wajah Nesa dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Nesa. Nesa tersenyum dan memejamkan kembali kedua matanya.


"Gila nih cowok, masih mau menciumiku walau sudah selama tadi dia menelusuri ciimannya, bisa mati karena tidak bernafas aku," batin Nesa menggerutu dengan mata memejam dalam kerutan alisnya.


"Jadilah kekasihku satu-satuny," bisik Adam di balik wajah Nesa yang merah padam.


Nesa membuka kedua matanya hampir keluar karena terkejut akan ucapan pria yang ada di hadapannya. Jantungnya bahkan lebih berdetak kencang melebihi pekerjaan seharian ini yang teramat banyak.


Nesa mencoba mengstabilkan perasaan dan debaran jantungnya yang selama ini belum pernah secepat ini.

__ADS_1


Nesa mendorong tubuh Adam yang teramat dekat bahkan wajah dan nafas yang Adam hembuskan dekat wajah Nesa teramat panas menjulur dadanya.


Adam tersenyum melihat reaksi Nesa yang malah terkejut mendengar ucapannya. Ia kembali mendekati Nesa yang masih terdiam mencerna ucapan pria yang ada di hadapannya.


"Aku tidak mengulang ucapanku loh, jika kamu mau protes lakukan,tapi sudah di pastikan kau tidak bisa lari lagi dariku," ucap Adam meninggalkan Nesa yang tertegun dengn ucapan Adam.


Setelah Adam berjalan jauh meninggalkannya yang msih tertegun dalam diamnya. Ia baru menyadari hal yang salah dalam ucapan Adam. Nesa membulatkan kedua matanya dan berlari mengejar Adam yang sudah berjalan jauh darinya.


"Hei ... pria bodoh ! Apa yang kau katakan, aku bahkan belum mengatakan apa-apa kamu maen seenaknya saja menekankan aku jadi wanitamu, aku protes," gerutu Nesa berjalan mengikuti Adam yang berjalan di depannya. Hingga ia tidak menyadari jika Adam berhenti dari jalannya dan berbalik ke arahnya.


Nesa tidak menyadarinya dan menabrak tubuh Adam yang malah menangkapnya. Mendekap erat di dalam pelukannya.


Nesa memberontak juga keningnya terasa panas ketika menabrak tubuh Adam yang tiba-tiba berhenti di hadapannya.


Nesa mencoba memberontak dalam dekapan Adam yang makmh tersenyum melihat tingkah Nesa yang masih memberontak padanya.


"Lepaskan! Kamu ini suka sekali ya mendekap di tempat seperti ini aku pengap," teriak Nesa mencoba lepas dari pelukan Adam yang kuat.


"Memangnya kau mau melakukannya dimana? Apa di kamarmu atau di kamarku?" jawab Adam dengan senyum tipisnya.


"Kamu gila dan idiot aku tidak mengatakan itu," cetus Nesa mencoba lepas dari dekapan Adam yang malah tersenyum melihatnya.


Nesa membulatkan kefua matanya dengan kesal ia mencoba keluar dari dekapan Adam yang masih kuat seperti sebelumnya.


Adam tersenyum melihat wajah gadis yang membuatnya ingin menciuminya. Walau faktornya adalah melihat nyonya mudanya yang terlihat amat manis saat ia melihatnya.


"Lepaskan aku ... dahiku sakit karena terbentur di dadamu yang keras ini," gerutu Nesa dengan wajah memelasnya ia pasang bibir sedikit maju kedepan. Hingga membuat Adam tersenyum dan melepas sebelah tangannya tapi Nesa masih dalam pelukannya.


"Mana ... apa ini sakit? Biar aku obati," ucap Adam tersenyum mengusap kening yang tadi menabraknya dengan tangannya yang lembut bagaikan kulit bayi bagi Nesa yang untuk pertama kalinya ada tangan seorang pria yang mau menyentuhnya. Adam bahkan berani menciumnya dengan sangat nafsu. Mengingat Nesa sama sekali tidak pernah mau berbaur dengan pria lain selain tuannya dan para penjaga yang menghormatinya.


Nesa semakin salah tingkah saat mendapati tanga lembut Adam mengusap keningnya. Ia ingin tersenyum bahagia mendaptkan perlakuan selembut itu.Tapi ia urungkan, karena ia harus menjaga harga dirinya yang teramat besar.


Nesa kembali sadar dan mendorong tubuh Adam.


"Kau jangan seperti ini aku harus bertemu tuan," cetus Nesa yang sebenarnya menahan detak jantungnya yang teramat kencang tidak terkendali.


"Dia punya istri yang memperhatikannya, memang kau siapa mau melihat tuan di malam seperti ini?" ucap Adam tersenyum tipis.


"Aku ... aku hanya mau tahu keadaannya," tangkis Nesa ragu. Ia juga tahu sudah ada istri yang mencintai Rendi dengan segala perhatiannya. Jadi ia tidak perlu memperhatikannya karena kini Rendi sudah bukan anak kecil yang harus ia jaga seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Sudahlah ... aku mau ke kamar saja mengingat ini sudah malam dan tidak mungkin mengganggu tuan juga," ucap Nesa berbalik dan mengalihkan perasaan salah tingkahnya.


Nesa berjalan meninggalkan Adam. Tapi lain dari dugaannya, saat Nesa sampai di pintu kamarnya. Nesa berbalik dan melihat Adam di belakangnya dengan senyum tipisnya.


Nesa mengerutkan dahinya dengan mulut maju ke depan.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nesa sedikit berteriak.


"Aku mau masuk," jawab Adam datar.


"Untuk apa?" tanya Nesa.


"Bukankah kau tadi mengatakan agar kita melakukannya di tempat lain dan kau bermaksud mengajakku ke kamarmu kan?" jawab Adam tanpa rasa bersalah ia memasuki pintu kamar yang sudah terbuka.


"Hei ... pria bodoh ! Kau jangan sembarangan memasuki kamarku, kau ini keterlaluan," teriak Nesa menarik tangan Adam tapi malah Nesa yang di tariknya hingga mereka kini duduk di atas ranjang. Begitupun Nesa duduk di pangkuan Adam yang sedang tersenyum padanya.


"Kau ini selain idiot kau mesum juga,minggir kau keluar dari kamarku," cetus Nesa mencoba bangun dari posisinya tapi Adam masih menahannya dan menarik kembali Nesa hingga kini tubuh mereka berada di atas ranjang dalam keadaan berbaring Nesa berada di atas tubuh Adam.


Mereka saling menatap dengan senyum di wajah Adam. Jantung mereka saling bersahutan berdetak kencang hingga terdengar mereka saling merasakannya.


"Kau sangat suka posisi seperti ini?" ucap Adam dengan senyumnya.


"Mana ada tidak ada awas kau selalu menarikku jadi aku yang terjatuh kamu ini konyol Adam,aku harus bangun dan mandi dulu," gerutu Nesa kesal.


"Kau benar kau harus wangi dulu baru kita lakukan," ucap Adam tersenyum tipis.


Nesa membulatkan kedua matanya dengan wajah semakin panas mendengar ucapan Adam yang membuatnya merasa malu dan salah tingkah.


Nesa bangun dari tubuh Adam yang kini Adam juga ikut bangun. dan dudik di samping Nesa yang menyentuh detak jantungnya di dadanya.


"Walau mereka kecil tapi sepertinya aku akan menyukainya," goda Adam mendekati telinga Nesa yang berbalik melihatnya hingga mempertemukan bibirnya dengan bibir Adam bertemu.


Nesa terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Ia memalingkan kembali wajahnya dengan menggeser posisi duduknya kembali.


"Kau ini otaknya kotor sekali, mereka tidak sekecil yang kau kira," ucap Nesa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia juga membulatkan kedua matanya mengingat ucapan yang ia katakan barusan.


"Benarkah? Aku ingin tahu kebenarannya, lalu kenapa aku melihatnya rata ya,?" goda Adam dengan senyum liciknya.


"Kau gila Adam petgi sana aku harus mandi dan istirahat sana," teriak Nesa bangun dari duduknya meninggalkan Adam yang tersrnyum melihat Nesa lari ke kamar mandi dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


Adam tidak tahu bahwa menggoda wanuta seperti Nesa harus dengan rayuan yang terdapat di dalam handponenya tadi siang. Ia bahkan merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh hanya untuk membuat Nesa menyukainya. Ia rela mencari sebuah cara agar dapat perhatian seorang Nesa yang berkesifatannya jauh dari kata wanita sexsi. Tapi Adam sudah terlanjur menyukai gadis yang kini ia berada di kamarnya. Adam berdiri mengitari setiap sudut di ruangan kamar Nesa. Ia tersrnyum ketika melihat sebuah photo yang terpajang dengan gambar seorang gadis tersenyum lepas dengan dres warna pink selutut dan rambut sebahunya. Ia tersenyum melihatnya dengan perasaan kagum meliht gadis secantik itu kini menjadi wanita tangguh seperti Nesa.


__ADS_2