
Singapura.
Di kediaman Robert utama Mark saat ini, para pelayan sedang di sibukan dengan acara persiapan untuk acara ulang tahun yang ke 5 tahun putri tunggal Mark Robert yang bernama Naura Robert, untuk pertama kalinya Mark mau merayakan acara besar di kediamannya dalam rangka merayakan ulang tahun putri satu-satunya itu. kali ini di rayakan secara besar-besaran. Bahkan di liput media setelah acara pernikahan dulu.
Mark berdiri di kamarnya menghadap jendela dengan secangkir kopi di tangannya, pria dingin seperti Mark kini dengan pandangan tanpa arahnya menyeruput kopinya dengan perasaan dan pandangan tanpa arah, ia menikmati kopinya dengan memandangi ke luar jendela dari kamarnya yang memperlihatkan keindahan taman di halaman depan rumahnya, yang kini sedang ada banyak para pelayan yang bekerja kesana kemari menata dan mempersiapkan untuk acara pesta besar besok di hari ulang tahun putri tunggalnya.
"Daddy ...."
Mark menolehkan pandangannya ke arah suara gadis cantik mungil kesayangannya. Yang kini berlari ke arahnya dengan gaun warna putih selutut dan rambut terurai di bawah bahu. Gadis cantik yang bernama Naura kini berlari dengan senyum di wajahnya dengan cantik naik dan duduk di atas pangkuan ayahnya yang juga menangkapnya dan menggendongnya dengan senyum di wajah tampannya. Naura tersenyum memandangi wajah tampan ayahnya dan menempekan dan menggesekan hidungnya dengan hidung milik ayahnya. Dengan gemas Mark tersenyum kepada putri tercintanya itu.
"Gadis Dad ini, sudah cantik! Menemui Daddy membuat Daddy bersemangat saja," ucap Mark.
"Hmm ... Ura mau mengajak Daddy sarapan! Pagi ini, Naura ingin melayani Daddy! Sesuai janji Naura. Jika Naura sudah besar akan menyiapkan sarapan buat Daddy. Ayo, kita sarapan!" ucap Naura dengan senyum manisnya.
"Apa gadis Daddy ini beneran sudah bisa?" ucap Mark tersenyum tipis.
"Tentu saja Daddy ...."
Elak Naura meyakinkan ayahnya dan turun dari pangkuan Mark dan menarik tangan ayahnya untuk berjalan dan keluar dari kamarnya. Naura tampak bahagia dengan senyum manisnya menarik ayahnya untuk turun dan sarapan bersama.
Mark tersenyum tipis. Ia berjalan dengan tangan di tuntun putrinya itu. Saking senangnya dan cintanya yang besar pada putri satu-satunya itu. Ia menarik tangan putrinya hingga kini ia berjongkok dan menggendong Naura.
Naura tertawa geli ketika ayahnya menggendongnya dan menciumi wajah putrinya itu dengan gemas. Tawa Naura menggema ketika ayahnya menggodanya dengan gemasnya.
Mereka menuruni tangga dengan perlahan dan masih dengan tawa Naura bersama ayahnya. Sesampainya di bawah Mark melihat Iyas duduk di meja makan dengan malas. Kini ia melirik ke arah Mark dan Naura yang sudah berjalan menghampiri meja makan dan melihat ke arah Iyas yang tampak malas dengan wajah di tekuk di meja makan.
__ADS_1
"Om! Apa kali ini tante Shela minta liburan ke Eropa lagi?" tanya Naura sedikit meledek pada Iyas.
"Ya ... dia mau membuatku bangkrut!" jawab Iyas malas.
"Jangan bawa Daddyku ya jika Om bangkrut!" ucap Naura dengan malasnya.
"Eh ... gadis 5 tahun ini makin pintar saja bicaranya! Daddymu itu tentu akan memilihku dari dulu juga," bantah Iyas dengan malasnya.
"Aku tidak bicara iya!" tangkis Mark datar.
"Weeeek ... Daddyku mencintaiku!" ucap Naura tersenyum dan memberikan roti yang sudah di beri selai olehnya kepada ayahnya.
"Yah ... yah! Aku tidak akan bangkrut juga! Eh ... punya Om mana sayang?" tanya Iyas.
"Naura yang cantik dan manis, bukankah selama ini Om yang selalu bermain denganmu dan menjagamu kenapa jadi Daddymu yang mendapatkan perhatianmu?" ucap Iyas.
"Aku tidak ingat tuh!" cetus Naura.
"Hmm baiklah, Om tidak akan memberikan komputer yang kamu minta kemarin dengan permainan yang kamu minta waktu itu!" balas Iyas tersenyum tipis.
"Eh! Iya ... iya aku akan buatkan sarapan buatmu juga pamanku yang tampan," tangkis Naura.
Naura mengambil roti dan memberikannya pada Iyas yang sudah berisi selai dengan senyum terpaksanya pada pamannya itu.
Jika bukan karena sebuah data yang di inginkan Naura tentang sosok ibu kandungnya yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Naura tidak tahu harus mencari tahu pada siapa lagi jika bukan pada pamannya Iyas itu. Karena ayahnya Mark tidak pernah memberitahunya tentang siap ibu kandungnya dan darimana asalnya. Bahkan melarang siapapun menceritakan kebenaran tentang ibunya apalagi identitasnya.
__ADS_1
Di usianya yang masih terbilang kecil Naura sudah menjadi anak jenius dengan segala kecerdasannya dan mandiri. Gadis cantik mungil itu tampak ceria dalam setiap hal. Apalagi ayahnya bahkan memperlakukannya dengan lembut dan juga memperhatikan setiap hal yang di lakukan Naura apapun itu.
Naura terbilang tenang dalam setiap hal. Ia mengikuti setiap cara ayahnya dan menjadikannya panutannya. Ayahnya yang tegas dan tidak banyak berbicara dan juga dengan kemampuannya dalam bidang IT membuat Naura semakian ingin mencari tahu tentang ibunya yang kini sudah meninggal. Bahkan photo ibunya yang hanya satu-satunya saja di dunia. Karena Mark meretas dan menghancurkan setiap identitas apalagi photo milik almarhum istrinya itu. Walau hanya tersisa satu yang hanya ada di kamar Mark yang terpajang di samping ranjang tidurnya Mark.
Tidak ada siapapun yang di perbolehkan masuk ke kamar Mark selain putrinya Naura.
Ia bahkan menyimpan rapih kenangan istrinya di dalam dirinya tanpa memberitahu putrinya itu. Saking dingin dan datarnya Mark terhadap kehidupan pribadinya apalagi wanita yang ia cintai itu.
Naura memilih mengikuti cara ayahnya dan tidak membuat ayahnya kesulitan. Dari sifat dan sikap yang menuruni ayahnya Naura lebih dominan pada ayahnya. Hingga saat ia kecilpun Naura sangat jarang menangis. Karena ia memang gadis yang periang namun sifatnya bisa ia atur dalam situasi apapun. Di meja makan bahkan gadis berusia 5 tahun bisa dengan elegannya makn dengan baik dan mengikuti ayahnya yang selalu tenang waslau hanya makanpun. Naura tersenyum melihat ayahnya makan dengan lahap sarapan buatnnya. Walau tanpa ekspresi Mark memakan tanpa melihat putrinya itu.
"Daddy?" tanya Naura dengan senyum manisnya.
"Hmmm," jawab Mark.
"Naura boleh minta hadiah ulang tahun?" tanya Naura lembut.
"Hmmm," jawab Mark dengan makanan di mulutnya dan meminum susu yang di sediakan oleh putrinya.
"Jika pesta sudah berakhir, di tengah malam Naura akan meminta hadiah pada Daddy! Nanti Daddy kabulkan ya?" ucap Naura.
"Hmmm," jawaban Mark masih sama.
Naura mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban ayahnya. Walau hanya jawaban yang sama dan itu-itu saja. Tapi Naura tahu ayahnya yang pasti selalu menempati janjinya, walau dengan caranya yang tidak mudah di pahami. Naura sudah tahu cara ayahnya yang tampak datar tapi penyayang itu.
Iyas tersenyum melihat Naura, gadis cantik dan mungil itu mengedipkan sebelah matanya kearah pamannya Iyas.Mereka melakukan sarapan mersama tanpa berbicara dan dengan rencana dan pikiran Naura yang kesana kemari mencari cara agar ayahnya menepati janji dan memikirkan permintaan yang harus dengan hati-hati pada ayahnya itu.
__ADS_1