
Di dalam sebuah rumah di kegelapan malam yang dingin dan juga hutan yang menyelimutinya. Rara terdiam di dalam kamarnya yang sudah di sediakan oleh anak buah suaminya. Ia terdiam dalam duduknya di atas ranjang. Ia menatapa kosong tanpa arah. Hati yang begitu terasa tidak nyaman dari kemarin itu jawabannya adalah malam ini. Ia bahkan tidak pernah mau berhenti menginginkan suaminya itu untuk selalu berada di sampingnya.
"Apa ini yang kamu maksud aku harus menjadi wanita kuat dalam membesarkan anak-anakmu Sayang? Lalu kamu kemana? Kenapa kamu menjadi sejahat ini meninggalkanku tanpa sebuah peringatan?" ucap Rara melihat photo suaminya yang terpajang di nakas samping ranjangnya.
Tanpa terasa air matanyapun terjatuh, setelah ia menahannya karena ketegangan tadi.
Saat Rara mendengar informasi tentang pesawat suaminya yang meledak tanpa pemberitahuan. Rara terdiam ketika mendengar pembicaraan Mark ketika di depan kamarnya dan bergegas pergi untuk mencari bangkai pesawatnya.
Rara terdiam hingga mematangkan hatinya untuk siap dalam hal apapun. Mengingat setiap hal yang selalu terjadi pada dirinya bukanlah hal kebetulan, melainkan dia berada di genggaman suaminya yang begitu mencolok bagi siapapun yang memusuhi suaminya. Rara berjalan gontai menaiki tangga ketika mendengar suaminya yang belum jelas keberadaannya. Ia berjalan semakin sadar akan sesuatu dan menghampiri kamar putra putrinya. Rara terdiam ketika melihat kedua pengasuh anak-anaknya tertidur sepulas itu. Ia juga mengerutkan dahinya ketika mengetahui hal yang tidak biasa dari mereka.
Rara membangunkan para pengasuhnya dengan kecemasan yang mulai meningkat. Salah satu pengasuhnya terbangun dalam kesadaran yang masih belum sempurna.
"Nyonya, Anda kemari? Maaf Nyonya saya ketiduran," ucap Pengasuh anaknya dengan menundukan kepalanya.
"Tidak apa, aku hanya ingin melihat anak-anakku," jawab Rara menghampiri anak-anaknya.
Ketika Rara terdiam memangku Amira yang tertidur sangat pulas. Rara mendapati kedua penjaga di luar kamar anak-anaknya membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.
Membuat Rara mengerutkan dahinya.
"Sudah tidak sempat nyonya cepat Anda masuk ke ruangan di balik lemari tuan, ayo cepat!" ajak Nesa yang mendahului pelayan yang tergesa untuk membuka pintu.
Rara tidak bertanya kembali saat mendengar ucapan Nesa yang terlihat panik. Ia berjalan dengan Amira di pangkuannya dan pengasuh yang sudah menggendong Rayn. Sudah ada Dilla dengan putrinya di luar kamar dan mereka bergegas berjalan memasuki kamar Rara yang bahkan siapapun tidak pernah masuk ke kamarnya. Nesa membuka sebuah lemari yang bisa terbuka dan berbalik.
Nesa menuntun jalan menuruni sebuah anak tangga yang pencahayaannya bahkan sangat tipis. Rara dan Dilla berjalan tanpa suara, mereka seperti sudah memahami situasi dan bersikap seolah-olah mengetahui suatu hal. Padahal mereka sama-sama baru terbangun dari tidurnya. Tapi mereka lebih bersemangat dan tidak bertanya pada Nesa yang kini berjalan menunjukan arah.
Setelah sekitar satu jam berlalu mereka berjalan dengan jarak tempuh waktu yang lama. Rara bahkan tidak bertanya sedikitpun tentang apa yang terjadi. Ia masih mendekap putrinya dan melihat Rayn yang kini terbangun dalam pangkuan pengasuhnya.
Sesampainya di sebuah pintu yang terbuka. Rara dan Nesa keluar dari sebuah tempat parkir yang luasnya muat untuk ratusan mobil yang terparkir. Sebuah mobil menghampiri mereka tepat di hadapan mereka. Nesa berbicara dan berbalik ke arah Rara yang masih terdiam.
"Nyonya, silahkan turuti dia, Anda akan selamat," ucap Nesa datar.
Rara mengangguk dan berjalan memasuki mobil bersama dengan Dilla yang juga masih dengan putrinya di pangkuannya.
__ADS_1
Rara duduk di dalam mobil yang muat untuk beberapa orang dan melihat Nesa yang masih berdiri dan tidak ikut masuk. Rara mengerutkan dahinya dan mulai bertanya pada Nesa.
"Kenapa kau masih disana? Ayo masuk! " ajak Rara.
"Saya ada tugas yang perlu saya kerjakan Nyonya, anda akan baik-baik saja jika menuruti supir ini," jawab Nesa tegas.
Rara mengangguk dan memilih untuk duduk dalam diam, dengan putrinya yang masih berada dalam dekapannya.
Rayn turun dari pangkuan pengasuhnya dan menghampiri ibunya yang masih terdiam. Lain dari biasanya yang selalu banyak berbicara setiap kali melihat Rayn.
Ia berjalan dan memegang tangan halus dingin ibunya yang kini tersenyum terpaksa pada Rayn yang kini ada di hadapnannya.
Rara tersenyum dan mendekap putra dan putrinya dengan kekuatan hatinya yang getir. Ia tidak tahu akan di bawa kemana mereka oleh supir yang bahkan wajahnyapun di tutupi oleh sebuah masker. Hingga saat sampai di sebuah rumah usang. Rara terdiam dan memasuki ruangan tersebut dan terdiam dalam duduknya membuat putra putrinya tertidur di atas sofa tanpa suara.
Hingga kini Rara berada di sebuah kamar yang sudah di siapkan Nesa setelah mereka terdiam dalam waktu yang cukup lama tadi.
Rara meneteskan air matanya tanpa suara ia terisak dalam tangisannya. Ia merindukan suaminya setiap detik saat bekerja. Rara selalu meminta suaminya untuk segera pulang setiap kali ia merasa merindukan suaminya dengan manja. Tapi untuk kali ini apa yang akan ia lakukan jika kali ini ia sangat merindukan suaminya yang bahkan keberadaannya belum jelas juga. Dalam waktu singkat Rara mendengar suara suaminya yang memgatakan bahwa dia merindukannya. Tapi untuk waktu yang singkat juga, ia mendengar berita tentang pesawat suaminya yang meledak dan keberadaannya jauh lebih mengkhawatirkan.
Rara melihat Mark terlihat serius memegang laptopnya dengan kacamata di matanya.
Ia berjalan menghampiri Mark yang sudah menyadari jika Rara akan secepat itu untuk bertanya padanya tentang kejadian ini.
Rara duduk dengan jarak srkitar satu meter di samping Mark yang kini mendongakan pandangannya ke arah Rara yang duduk dengan tatapan kosongnya.
"Aku hanya mau tau apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa aku akan tetap tinggal disini?" tanya Rara datar lain dari biasanya. Ia selalu tampak manis setiap kali ia berbicara.
"Jika kau mau, tinggal di Singapore bersamaku atau kau kembali ke Indonesia tinggal bersama dengan keluargamu atau keluarga Rendi," jawab Mark datar.
Rara terdiam mendengar jawaban Mark yang di luar dugaannya. Ia sempat berpikir akan kembali ke rumah Rendi yang tadi malam ia tinggalkan. Tapi Mark malah memintanya untuk pergi dengannya atau kembali ke Indonesia. Rara terdiam dalam renungannya cukup lama mengingat apa yang terjadi. Ia tidak mau keluarganya menjadi khawatir akan kehidupannya untuk kali ini lagi. Apalagi ibu mertuanya yang teramat ia sayangi.
"Apakah kabar suamiku sudah sampai di Indonesia?" tanya Rara mencoba tegar bertanya tentang suaminya meski ia sudah mencoba untuk tidak bertanya saat ini.
"Jika kau tidak ingin mereka tahu, aku akan pastikan tidak akan ada yang tahu," jawab Mark.
__ADS_1
"Apa kau bisa pastikan keluarga suamiku tetap aman jika mereka tidak mengetahuinya?" tanya Rara kembali.
"Indonesia keamanannya sangat ketat apa kau pikir akan semudah itu para pendatang keluar masuk dengan bebas? Lagipula tidak ada hal bagus yang mereka inginkan disana, melainkan hal yang di inginkan Rendi sendiri, yaitu dirimu," jawab Mark dingin.
"Aku? Ada apa denganku? Apa aku yang menyebabkan suamiku celaka? Jika kau tahu kenapa tidak kau cegah?" tanya Rara sedikit keras ucapannya.
"Kau sangat berharga bagi Rendi, maka dari itu setiap musuh Rendi mencari kelemahannya dalam setiap hal dan satu lagi. Jika kau ingin suamimu kembali dengan aman kau ikuti semua permainanku," ucap Mark.
"Apa maksudmu?" tanya Rara.
"Kau jadi istriku," ucap Mark.
"Apaa? " teriak Rara membulatkan kedua matanya. Ia tidak percaya jika Mark berbicara seperti itu padanya. Bahkan belum genap sehari Rendi pergi tanpa kejelasan dan sekarang Mark semakin tidak jelas setiap ucapannya.
"Jika kau tidak mau, maka kau pergilah dan tinggal di Indonesia dan jaga anak-anakmu jangan sampai semua musuh Rendi mengetahuinya, jika tidak kau akan tahu tidak akan semudah itu bisa berjalan bebas seperti sebelumnya," jelas Mark masih dengan pandangan datarnya.
"Tapi ... aku tidak mau jika harus mengorbankan kesetiaanku pada suamiku," ucap Rara sendu ia bahkan tidak bisa menangis memikirkannya saja itu tidak mau ia bayangkan.
"Kau pikirkan sehari saja karena aku belum tahu siapa musuh sebenarnya, bisa saja dia di dekat kita dan bisa secepat mungkin ada kejadian yang tidak terduga, jika kau sudah ada jawabanya detik ini juga kita akan pergi ke Singapore dan menetap disana," tegas Mark.
"Aku ... lalu bagaimana perusahaan suamiku di Jerman dan juga rumah kami?" ucap Rara masih sedikit ragu untuk berbicara apalagi menatap Mark.
"Hmm kau pikir mereka tidak pintar? Mereka bahkan sudah menguasai perusahaan apalagi rumah utama," jawab Mark masih datar tanpa simpati ke arah Rara yang kini melai. meneteskan air matanya.
"Lalu ... kenapa harus menikah? Kenapa tidak kau lindungi saja aku seperti sebelumnya?" teriak Rara sendu dengan air mata yang sudah mulai mengalir di pipinya.
"Kau pikir jika mereka masih tahu jika istri Rendi adalah kau, mereka akan diam? Ingat mereka sedang mencarimu bukan mencari perusahaan ataupun kekayaan Rendi tapi mencari sesuatu yang sangat berharga milik Rendi yaitu kamu! " tegas Mark.
Rara tertegun dan mengusap air matanya mendengar penjelasan Mark yang sangat tegas padanya. Ia bahkan tidak pernah di bentak seperti ini oleh siapapun selain kekesalan suaminya yang juga berujung percintaan yang lembut. Rara tidak menyangka jika kehidupannya akan serumit ini. Ia berpikir terlalu lama untuk mendapatkan solusi yang jauh lebih baik dari ini. Tapi ia memikirkan anak-anaknya yang kini masih membutuhkan kekuatan jika bukan dari Mark. Dia akan minta bantuan pada siapa lagi. Mengingat semua beban dia pada keluarganya sudah terlalu lama. Ia tidak ingin jika semua keluarganya merasa khawatir akan keberadaannya saat ini. Apalagi keselamatan mereka juga akan terancam jika sampai musuh sebenarnya Rendi sampai tahu keberadaannya.
"Baik. Aku akan ikuti permainanmu, tapi kau harus jadikan anak-anakku yang paling kuat dan tidak akan ada yang mampu mengalahkannya dalam bidang apapun, aku ingin mereka jago dalam berkelahi dan juga dalam semua ilmu termasuk dalam berbisnis IT," tegas Rara mematangkan keputusannya dan memilih untuk menjadi wanita yang tegar karena semua hanya untuk suaminya dan juga kebaikan semua keluarganya.
"Kau tenang saja, Rendi akan segera kembali dan tidak akan ada kali kedua kejadian seperti ini," ucap Mark berdiri dan berjalan masuk tanpa menghiraukan Rara yang terdiam meratapi nasib dan keputusannya yang bahkan tidak bisa ia pungkiri bisa serumit ini dalam kehidupannya.
__ADS_1