
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Naura mengangguk sesekali ia menopang dagunya menanggapi setiap ucapan dan cerita dari pamannya itu ia bahkan tidak mempercayai Apa yang diucapkan oleh Iyas titik susu kali Naura berpikir sejenak mencari cara cara untuk memperbaiki masalah yang sedang dihadapi oleh ayahnya itu. namun Naura mencoba untuk lebih memahami lagi tentang sifat ayahnya itu. " menurutmu harus bagaimana Om?? Naura.
"Entah, Om juga lebih tidak paham dalam hal itu," jawab Iyas.
"Om tanyakan pada istrimu itu!" tegas Naura.
"Dia? Kenapa dengan dia? Lagipula dia bukan istri Om!" ucap Iyas.
"Diakan wanita Om! Dia pasti tahu!" balas Naura.
"Hmm begitu? Baiklah nanti Om coba bertanya padanya," ucap Iyas.
Iyas tersenyum setelah melihat Naura yang mengangguk dan tersenyum padanya. Dengan senang hati ia mencium pipi gadis kecilnya itu.
Setelah pamannya pergi dari kamarnya, Naura terdiam dan memikirkan cara agar bisa berbicara kembali pada ayahnya yang sedang kacau balau itu. Pasalnya, ayahnya terikat sumpah janji yang menahannya untuk mencintai wanita lain selain ibunya Naura. Hal itu yang membuat Mark memilih berdiam diri di dalam kamarnya. Dia bahkan sangat dingin di setiap orang-orang yang bertanya padanya termasuk Naura.
Sekitar satu minggu Naura dan Mark tidak ada perbincangan di antara keduanya. Namun setelah ada Alea Wijaya yang mewarnai keseharian Mark yang tak lain adalah sekertarisnya yang kini jadi satu-satunya wanita yang selali memberikan kehidupan antara Mark dan Naura. Membuat Naura teramat mencintai sodok wanita yang menggantikan posisi ibunya yang sempat membuat ayahnya Mark menjadi terdiam sepanjang waktu.
__ADS_1
*Flashback off*
"Apa kau menemukannya?" tanya Rayn.
Ucapan Rayn membuyarkan lamuana Naura dan melihat ke arah Rayn yang ada di sebrang balkkon kamar Naura. Naura tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya melihat Rayn yang masih dengan wajah datarnya tanpa melihat ke arah Naura.
"Menemukan? Apa? Hmm," ucap Naura mengerutkan dahinya.
"Kau berdiam diri di luar dengan udara malam, cepat masuk dan makan!" tegas Rayn menatap Naura denga tatapan yang tidak bisa di artikan dengan ketegasan ataupun perhatian.
Naura mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis. Ia sudah tahu apa yang di maksud Rayn dan ia memilih untuk mengangguk. Ia memasuki kamarnya dengan hati yang senang dan bahagia mendapati keksih seperti Rayn yang cukup perhatian denga caranya sendiri. Ia berjalan menghampiri pintu kamarnya dan membuka pintu kamarnya. Namun tiba-tiba Rayn sudah berdiri tepat di depan pintu di hadapannya.
"Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Rayn tersenyum dengan suara seraknya.
"Eh, apa sih? Tidak ada yang aku cari!" jawab Naura.
"Tapi aku mencarimu!" balas Rayn.
"Untuk apa?" tanya Naura.
__ADS_1
"Untuk mencintaimu!" jawab Rayn tersenyum.
Naura tersenyum dan mengerutkan dahinya, ia tidak mempercayai apa yang sedang ia dengar adalah hal yang sangat langka bagi kekasihnya yang ada di hadapannya itu mengatakan hal itu.
"Apa kamu sakit?" tanya Naura menyentuh dahi Rayn.
"Bukan disitu! Tapi disini," jawab Rayn memegang tangan Naura dan menyimpannya di dadanya.
"Apaan sih? Gombalmu garing!" ucap Naura.
"Apa itu gombalan? Kok aku gak tahu ya? Apa aku harus belajar gombal untuk membuatmu tersenyum sayang?" tanya Rayn tersenyum.
"Heh, tidak perlu belajar gombal kamu tetap jadi kekasih hatiku Rayn!" jawab Naura tersenyum.
Rayn tersenyum dan belum sempat ia menjawab ucapan Naura. Tiba-tiba sebuah kecupan mendarat tepat di bibirnya. Namun Naura bergegas keluar dari kamarnya dan berlari meninggalkan Rayn dan turun dari tangga menuju lantai bawah.
Rayn bersender di pintu kamar Naura dan mendekap kedua tangannya di dadanya dan melihat ke arah gadis itu yang berlari meninggalkannya.
"Gadis nakal! Aku bahkan sudah tidak bisa tanpa dirimu ini," gumam Rayn.
__ADS_1
Rayn bahkan tidak menyangka dirinya sudah bisa menerima Naura sebagai tambatan hatinya semenjak perjodohan keluarganya saat itu. Namun ia sudah yakin akan hatinya yang sudah terisi oleh gadis yang bernama Naura Robert itu.