
Di pagi hari Rara sedang duduk di depan meja riasnya setelah bersembahyang. Ia tersenyum melihat suaminya yang masih tertidur lelap.
Setelah selesai merias diri, ia juga membuka jendela yang langit di luaran masih terlihat sedikit gelap.
Rara tersenyum menghirup udara pagi di depan jendela dengan penutup kepalanya yang berkibar dengan warna moca dan blouse warna putihnya.
Rara berjalan menghampiri suaminya dan mencoba membangunkannya.
Ia menggoyangkan tubuh suaminya dengan lembut.
"Sayang, ayo bangun. Kamu harus ke kantor dan selesaikan pekerjaan yang tertinggal yang kau ucapkan kemarin," ucap Rara menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun.
Tapi Rendi malah menarik tangan istrinya dan memeluknya dengan erat, Rara kini berada di atas tubuh Rendi dengan wajah saling bertemu satu sama lain, Rendi tersenyum dan menciumi setiap wajah istrinya.
Tangannya beralih kebagian belakang tubuh istrinya yang kini berada di atas tubuh Rendi.
Rara membulatkan kedua matanya ketika sebuah tangan berada di bagian bokongnya. Rendi bahkan meremasnya dengan senyum di wajahnya yang terlihat ingin menggoda istrinya. Saat Rara mencoba protes, Rendi membungkam bibir istrinya dengan ciumannya yang mendalam dan mengitari setiap ruang mulutnya.
Rara mencoba melepas tautan suaminya. Tapi tenaganya jauh dari tenaga suaminya yang bertubuh kekar.
Rara menyentuh dada suaminya dengan kepala di tekan oleh tangan suaminya.
Saat Rara mencoba mengimbangi sentuhan dan ciuman suaminya. Ia merasakan panas di dada yang membuatnya menikmati setiap sentuhan suaminya.
Ia bahkan memejamkan kedua matanya menikmati dan membalas ciuman Rendi yang kini sudah menjalar kesana kemari, dengan bibirnya yang terasa dingin dan bibir Rara yang hangat.
Ketika di dapati istrinya yang sudah tidak karuan dengan segala hasratnya yang membara. Rendi membalik tubuh istrinya. Kini Rendi berada di atas tubuh istrinya. Dengan senyum di wajahnya melihat istrinya juga menginginkan sentuhannya.
Rendi membuka setiap helaian benang di tubuh istrinya juga pakaiannya. Ia menikmati setiap lekuk tubuh istrinya. Begitupun Rara menikmati setiap sentuhan suaminya menelusuri bagian-bagian khas yang membuatnya mendesah dan merasa menginginkan suaminya lebih dari sekedar sentuhan.
Rendi tersenyum penuh kemenangan ketika menggeluti tubuh istrinya dengan keringat bercucuran di tubuh keduanya. Hingga setelahnya. Rara tertidur kembali dengan selimut di tubuhnya, setelah melayani suaminya yang semakin hari semakin besar keinginan bercintanya.
Rendi tersenyum puas dan berjalan memasuki kamar mandi untuk bersiap. Ia akan pergi melihat perusahaan Ayahnya yang kini harus ia sendiri yang menanganinya.
Setelah mandi, Rendi kini sudah bersiap dengan pakaian formalnya. Setelan berwana hitam dengan kemeja warna putih. Ia berjalan menghampiri istrinya yang tertidur dengan senyumnya ia mencium kening istrinya.
Rendi berjalan keluar kamarnya dan menuruni tangga. Ia melihat sudah ada Ken yang berdiri di bawah tangga menunggunya.
"Tuan, sebaiknya kita tunggu Mark dan Iyas dulu, agar saat kita pergi dari perusahaan kita bisa dengan mudah mengetahui siapa dalang di balik ini semua," ucap Ken.
Rendi berjalan di ikuti Ken di belakangnya dan duduk di meja makan untuk sarapan.
Rendi sarapan tanpa suara atau pembicaraan.
Ia membiarkan Ken mengatakan segala rencananya. Ken juga ikut sarapan dengan istrinya yang baru keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan.
Dilla merasa ada yang berbeda dari aura wajah Rendi. Ia memilih diam dan tidak bertanya tentang Rara yang belum ada dan ikut sarapan pagi ini. Ia merasa Rendi dalam mode serius dan mencekam.
Dilla juga melihat ke arah suaminya yang juga ikut bersikap dingin dan serius mempercepat sarapannya.
"Apakah ada sesuatu yang membuat pagi ini harus sedingin ini?" batin Dilla bertanya-tanya.
Dilla terdiam dan memakan sarapannya. Tanpa menghiraupkan suasana pagi yang baginya tidak pernah ia rasakan. Ia lebih berharap ada saudarinya yang menemaninya dan menghangatkan suasana yang tidak biasa ini.
Setelah sarapan, Rendi berdiri dan berjalan keluar rumah dengan Nesa yang sudah membawa tas dan berkas yang Rendi minta.
__ADS_1
Ken masih dalam duduknya da berpamitan pada istrinya untuk pergi ke kantor.
Rendi sudah berada di depan rumahnya dan kendaraan sudah berada di depan rumahnya. Sudah ada Adam yang berdiri menunggunya.
Rendi menghampirinya dengan tatapan datarnya tanpa menatapnya. Kini Ken sudah berada di belakang Rendi bersama Nesa di sampingnya.
"Kau jaga istri dan anak-anakku," tegas Rendi dingin berbicara pada Adam yang mengangguk.
Adam membukakan pedal pintu mobil untuk Rendi. Ia berdiri hingga Rendi sudah berada di kursi penumpang dengan pandangannya yang sedang memikirkan rencananya untuk mendapatkan penyebab perusahaan ayahnya. hingga diambang kebangkrutan.
Ken dan Nesa kini duduk di kursi depan mobil. Dengan Ken dibalik kursi kemudi.
Rendi melihat kearah pandangan di sepanjang peralanan menuju perusahaannya.
Saat sampai di depan gerbang perusahaan. Ken di kejutkan dengan banyaknya pada pendemo di depan perusahaannya. Hingga ia terkejut dan gelisah. Ia merasa cemas tuannya akan murka jika melihat semua ini seperti yang pernah terjadi. Ia memusnahkan semua yang berdemo di perusahaannya yang di atas namakan perusahaan Jason dulu.
Tapi Ken terdiam, saat melihat Rendi masih dengan pandamgan datarnya. Ia bahkan tidak protes karena kendaraannya sulit untuk memasuki perusahaannya.
"Tuan, mereka protes akan produk yang membuat seseorang rugi dan mengalami kerusakan pada tubuhnya Tuan," jelas Nesa yang sudah memeriksa awal mula adanya kerisuhan di perusahaan ayah Rendi.
Rendi masih dalam diamnya tidak menjawab ucapan Nesa. Ia sedang mencari cara yang baik untuk menemukan siapa dalang dari semua ini.
Saat semua sedang risuh piyuh dan Rendi masih setia dalam diamnya.
Mark dan Iyas beserta beberapa anak buahnya datang membelah kerumunan pendemo menjadi terbelah dua. Kini kendaraan Rendi bisa melewatinya. Tidak ada penyambutan di perusahaan ayahnya saat ini. Lain dari perusahaannya yang berdisiplin dalam peraturannya.
Saat Rendi keluar dari kendaraannya. Ia berjalan dengan Mark,Iyas dan Ken yang berdiri di belakangnya. Mencegah ada pendemo yang melempar sesuatu seperti yang dilakukan mereka pada bagian muka perusahaan yang kini penuh dengan sampah dan bebatuan yang mereka lempar.
Mereka bahkan menuntut untuk menutup perusahaan yang sudah berdiri puluhan tahun itu dengan alasan bahwa setiap produk yang berkandungan mutiara asli milik Anggara group kini menjadi produk abal-abal hingga menyebabkan seorang pengguna menjadi mengalami kerugian dan menjadi buruk di wajahnya.
Rendi berjalan dan duduk di depan meja resepsionis dengan santai dan wajah datarnya ia duduk dengan tumpang kaki tangan mendekap lututnya.
Ken dan yang lainnya berdiri di hadapannya begitupun para karyawan yang lain ikut berdiri di samping Rendi dengan kepala menunduk.
"Mark,Yas! Kalian bereskan yang buat kacau di luar sana, Nesa kau panggil separuh karyawan di perusahaanku kemari, sebanyak yang di butuhkan disini. Aku ingin sebelum jam sepuluh, kalian sudah ada di ruang rapat dan mereka sudah tidak ada di depan perusahaan," ucap Rendi. Ia berdiri setelah mereka mengangguk dan berpencar menjalankan perintah Rendi.
Rendi berjalan memasuki ruangan Direktur milik ayahnya yang kini berada di Indonesia.
Ia berjalan perlahan,melihat setiap sudut ruangan ayahnya yang baru pertama kali Rendi menginjakan kaki di perusahaan ayahnya apalagi memasuki ruangan ayahnya setelah dan sampai saat ini.
Rendi duduk di kursi Direktur. Ia melihat sebuah pas photo yang terpajang di meja Direktur. Ia mengambilnya dan melihat siapa di balik photo tersebut.
Ada poto ayahnya dan poto Rendi saat berusia lima tahun disana. Rendi mengerutkn dahinya mengingat saat dirinya pernah berpoto dengan ayahnya yang dingin beserta Rendi yang malas berpoto. Tapi Ayahnya merangkulnya hingga phto tersebut berkesan ada kehangatan ayahnya yang mengajak anaknya berpoto meski kaku.
"Heh, pria itu bahkan menyimpannya tanpa aku ketahui, Ken kau lihat dan periksa CCTV di perusahaan dan hancurkan semua," ucap Rendi dengan pandangannya masih melihat pas photo di tangannya.
Ken mengangguk dan berjalan meninggalkan Rendi yang sedang duduk di kursinya.
Meski Ken merasa heran dengan perintah tuannya. Tetapi ia menjalankan setiap perintahnya dan menghancurkan CCTV yang ada di setiap sudut perusahaan di bantu oleh karyawan yang tersisa di perusahaan.
Banyak yang merasa heran dengan tindakan merugikan menghancurkan semuanya. Ada yang berpikir kenapa tidak di Resert saja. Tapi tidak ada yang berani membantah dan melakukan setiap perintah tuan baru mereka.
Sekitar jam sepuluhan, Rendi sudah berjalan ke ruang rapat yang luasnya bisa menampung sekitar lima puluh orang. Seperti sebuah aula yang di gunakan untuk konperensi pers.
Rendi berdiri di hadapan para karyawan di perusahaannya yang semuanya bersikap tenang, juga dalam pengendalian Rendi sendiri.
__ADS_1
Mereka sudah paham jika Direktur mereka berdiri bahkan memerintah langsung. Berarti ada pekerjaan yang mengharuskan mereka bersungguh-sungguh bekerja.
"Kalian tahu apa yang membuat kalian berada disini?" ucap Rendi mengawali rapatnya tanpa basa basi baginya.
Semua yang hadir menganggukan kepalanya dan tetap mendengarkan ucapan Direkturnya tanpa ada suara ataupun protes.
"Kalau begitu,aku ingin kalian bekerja di perusahaan ini sekarang,kalian ambil alih setiap bagian keahliannya. Kalian cari tahu dan buat sesuatu yang bisa membuatku bangga pada kalian, aku beri waktu satu minggu, aku ingin kalian bisa meredakan keadaan dan dalam satu bulan keadaan sudah stabil, kalian bekerja dengan baik dan hasil tidak akan menghianati usaha !" tegas Rendi.
Mereka semua tidak ada yang berani protes ataupun berbicara. Setelah di dapati Rendi pergi keluar dari ruang rapat. Semua yang berada di ruang rapat mulai bersuara dan berdiskusi satu sama lain. Tidak ada yang berbicara protes atau membicarakan Direktur mereka yang acuh dan dingin dalam berbicara. Tapi mereka malah mendiskusikan sebuah kerja sama karena mengingat kata2 terakhir dari Rendi yang mengatakan.
Tidak Akan Ada Hasil yang Mengkhianati sebuah Usaha.
Mereka sudah paham jika kata-kata itu sudah keluar dari rapat Direktur utama mereka.
Itu berarti tidak ada kata lain kali bagi mereka jika ingin menggapai kesuksesan bahkan mereka di beri waktu satu minggu untuk menstabilkan dan satu bulan untuk hasilnya.
Mereka keluar dari ruang rapat dan berjalan dengan rapih menghampiri setiap bagian dan pekerjaan mereka masing-masing.
Rendi kini sudah berada di ruang Direkturnya lagi dan di ikuti Ken,Mark dan Iyas yang kini berada di hadapannya.
"Gila, mereka seperti robot otomatis mengikuti setiap isyarat Rendi. Kau memang panutanku bro," batin Iyas mengagumi Rendi yang amat tenang dan tegas di ruang rapat tadi.
Iyas berdiri di samping Mark setelah ikut membereskan para pendemo yang jumlahnya banyak dan kini tersapu rapih oleh mereka berdua dan juga anak buah yang mereka bawa.
"Kalian buat penjagaan dan periksa setiap sudut jangan ada satupun kamera disini !" tegas Rendi memerintahkan Mark dan Iyas.
Meski Ken sudah melakukannya, tapi Rendi selalu memastikan semua bekerja dengan baik dan tidak ada kesalahan dalam hal sekecil apapun.
Mark dan Iyas mengerti dan pergi meninggalkan ruang Rendi dan berjalan menelusuri srtiap sudut ruangan perusahaan terbesar kedua setelah milik Jason yang kini sudah bukan apa-apa lagi.
"Kau tahu Mark? Aku mersa Rendimu itu sekarang semakin keren. Aku semakin mencintainya," ucap Iyas tersenyum.
Mark tidak menjawab ucapan Iyas, ia terap fokus pada pantauannya mencari hal yang bisa membuat Rendi sangat waspada saat ini.
Tapi setelah berjam-jam mereka mencari sisa cctv dan mencari hal yang membuat Rendi sewaspada itu. Mark duduk di teras depan perusahaan dengn Iyas memberi botol minuman dingin padanya.
"Yas, apa mungkin saking pintarnya penyusup bisa masuk akan penjagaan yang sangat ketat seperti ini?" tanya Mark.
"Kau tahu sendiri, setiap prediksi Rendi tidak pernah salah apalagi melenceng," jawab Iyas menenggak minumannya.
Mereka beristirahat dengan pandangan kearah jalanan yang kini sudah tidak ada lagi pendemo di depan perusahaan.
Rendi keluar dari ruangannya di ikuti Ken di belakangnya. Ia berjalan menghampiri karyawan-karyawannya yang kini sedang bergelut dalam tugas mereka masing-masing. Ada Nesa yang berdiri mengawasi mereka.
Semua karyawan yang ia ambil dari perusahaannya Rendi itu, hanya sebagian yang ia ambil dengan kualitas kerja mereka yang terbaik. Maka dari itu Rendi memberi waktu mereka hanya seminggu dan membuat kokoh perusahaan dalam sebulan.
Tidak ada yang memberi hormat atau salam pada Rendi yang sedang memperhatikan mereka satu persatu. Tetapi mereka tetap serius dalam pekerjaan mereka masing-masing tanpa terganggu akan adanya pantauan dari Direktur langsung,tapi mereka segan pada Rendi selaku Direktur utama mereka.
Rendi memperhatikan langsung setiap pekerjanya. Ia tahu sesuatu akan terjadi jika ada banyak CCTV di perusahaan itu. Penyusup akan tahu hal yang akan karyawannya lakukan dan jika masih ada pantauan di dalam perusahaan akan memudahkan musuh mengetahui kegiatan di perusahaannya.
Untuk itu Rendi melarang keras akan adanya cctv dan memberikan pengamanan ketat di perusahaan. Tapi Rendi sudah memerintahkan Adam untuk membuat keamanam dalam jarak jauh di setiap sudut perusahaan dalam jangkauan jarak jauhnya. Hanya Rendi dan Adam yang tahu hal itu makanya, ia memerintahakan Ken untuk menghancurkan cctv lama karena Adam sudah memasang cctv rakitan Adam di setiap titik yang menonjol di perusahaan ayahnya tadi malam.
Tidak ada yang mengetahuinya walau Ken sekalian. Rendi memerintahkan Adam dari jauh-jauh hari saat ia berada di Bandung dan bukan tanpa alasan ia mengajak Adam di bandingkan yang lainnya waktu itu.
Untuk kali ini Rendi lebih mengutamakan tindakan sendiri agar tidak terlalu terlihat pergerakannya oleh seseorang yang sudah tahu tangan kanan dan cara bertindak Rendi. Selama ini Rendi yang biasanya lebih memilih berpikir dan Ken beserta Mark dan Iyas yg banyak bertindak.
__ADS_1
Kali ini ia turun lapangan sendiri dalam menangani kasus perusahaan ayahnya.