Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Akhir perjuangan


__ADS_3

Hari ini, Rendi dan Ken datang ke mansion Dirga. Ken justru mengirim 4 gengster, yang ia ajak untuk bergabung. Mereka bos gengster yang tidak menyetujui kedudukan Dirga sebagai bos mafia terbesar, mengingat Dirga terlalu berkuasa dan semena-mena pada bawahannya.


Selama satu minggu, Ken gunakan waktunya untuk mencari sekutu. Untuk melawan Dirga yang memiliki sifat semena-mena dan merendahkan bos yang lain.


Dirga bahkan selalu menekan pada para bos mafia lainnya sesuka hatinya. Jika ada yang membantahnya, resikonya persekutuan mereka akan pecah di dunia mafia.


Dirga yang baru kembali dari Singapore. Ia memiliki segala maksud dan tujuan untuk kali ini. Maksud dan tujuan barunya. Ia ingin mendapatkan istri Mark yang menghantui pikirannya sepanjang hari. Dirga selalu terbayang senyum wanita yang nampak manis di setiap sudut pandangnya. Dengan segala hasratnya. Ia sangat ingin memiliki gadis itu sesegera mungkin.


Dirga juga akan mendekati Mark dengan segala maksud dan tujuannya. Tentunya keuntungan lebih dominan baginya. Selain untuk memperkuat dan memperkokoh kekuasaannya di dunia mafia. Duniapun akan semakin mengagungkan namanya dengan kedudukan ketua mafia paling berkuasa dan kuat. Ia juga akan mendapatkan istri Mark yang kecantikannya memabukan bagi Dirga.


Ia ingin segala bentuk keserakahan dan konservatisme bos-bos mafia yang menurutnya tradisional itu. Mereka yang tidak berkenan akan dirinya akan di musnahkan siapapun itu termasuk Rendi. Jika mereka di singkirkan. Itu akan membuatnya semakin kaya sementara para bawahannya akan semakin miskin.


Secara general, ia juga ingin membuat semacam sebuah sindikat nasional mafia Jerman. Gar bisnis Dirga group lebih terorganisir dan menguntungkan.


Ketika, kemudian sikap berkuasanya yang semena-mena Dirga tersebut, sampai ke telinga bos para mafia lain, dengan segera ia di anggap sebagai propagandis yang menyesat bagi kalanga mafia di seluruh dunia.


Alhasil Dirga, mendapat ganjarannya. Tiga orang asing bergerak lebih cepat dari Rendi dan Ken. Mereka menculik, memukuli juga menusuknya berkali-kali. Lalu membuang tubuhnya di pinggir pantai. Pulau yang sering Dirga pakai untuk acara lelang tersebut.


Saat bergerak ke kediaman Dirga, kekacauan sudah terjadi di mansion Dirga. Rendi dan Ken bahkan bergerak leluasa. Karena pengawasan kurang disana. Apalagi kini Dirga tidak berada disana karena insiden penculikannya. Ia bahkan di temukan tak bernyawa di pantai. Ken tersenyum, ia mengingat cara dirinya menghasut para bos mafia beberapa hari ke belakang.


Ken tampak kesal, ketika tidak mendapatkan apapun yang ia harapkan. Kedua orang tuanya bahkan adiknya yang Dirga katakan tidak ada sama sekali. Rendi menghampiri Ken yang terlihat sendu.


"Kau tenang saja, jika mereka benar ada, berarti mereka masih hidup dan bisa jadi mereka baik-baik saja," ucap Rendi menepuk pundak Ken yang tampak masih dengan pandangan tanpa arahnya.


"Ayo! Kita ke Singapore, aku ingin membunuh seseorang!" seru Rendi berjalan lebih dulu dari Ken.


Mereka meninggalkan kediaman Dirga yang kini mulai kosong, karena anak buahnya sudah memberi peringatan pada keluarga Dirga jika mansionnya sebentar lagi akan meledak. Karena sudah terpasang boom waktu di setiap sudutnya. Keluarga dan anak buah Dirga yang tersisa berhamburan meninggalkan mansion.


"Kita ledakan?" tanya Ken berjalan di belakang Rendi yang tanpa ekspresi.


"Hmm...."


Ledakan terjadi tanpa suara dan gema yang menggemparkan apalagi mengganggu. Hanya getaran kecil yang menjadi radiasi sekitar. Tapi rumah kediaman Dirga hancur lebur tanpa sisa. Percis seperti kediaman Rendi yang saat ini hanya tinggal nama saja.


Rendi tampak tidak sabar untuk segera kembali dari saat ini untuk menuju istrinya yang kini sedang di Singapore. Ia sangat merindukan istri dan anak-anaknya yang sudah hampir satu bulan ia tidajmk bertemu. Rasa rindu yang kini semakin dalam menyelimuti hatinya dan sangat ingin memeluk tubuh mungil istrinya dan juga bibirnya yang ranum.


Di dalam kendaraannya Rendi memandang ke arah jalanan yang ramai. Ia mengingat senyum istrinya yang tiap kali kepulangannya dengan manjanya ia selalu menggoda istrinya yang selalu marah setiap kali ia goda. Rendi terlihat tidak sabar, ingin segera menemui istrinya dengan tumpukan rindu yang tak terbentung lagi baginya.


Ken yang duduk di balik kemudi. Ia tersenyum melihat wajah bersemangat Rendi dengan bahagianya bisa bertemu dengan keluarga kecilnya Rendi.


"Tuan? Apa kita akan berangkat hari ini juga?" tanya Ken dengan pandangan ke depan memegang stir mobil dengan kecepatan sedang. Ada sekitar tiga mobil anak buah Ken yang mengikuti mereka dari belakang. Sisanya mobil milik para bos mafia lainnya yang ikut mendukung kedudukan Rendi sebagai bos besar.


"Apa kau sudah membereskan mereka?" balas Rendi berbalik bertanya pada Ken. Tetang para mafia besar yang berada di belakang kendaraanya.

__ADS_1


"Rencananya, mereka hari ini ingin di adakan perkumpulan besar bagi kita para gengster mafia. Tapi, di haruskan anda ikut Tuan," jelas Ken masih dengan kemudinya.


"Untuk apa? Aku ingin secepatnya menemui istriku!" tegas Rendi acuh. Masih membara rindu yang menumpuk di hatinya akan wajah istrinya.


"Jika anda tidak menghadirinya Tuan, mereka akan selalu mengikuti anda kemanapun anda pergi, itu akan lebih merepotkan nantinya Tuan," ujar Ken menjelaskan setiap hal yang akan terjadi jika Rendi tidak mau menghadirinya. Mereka bahkan berteguhan sendiri akan hal ini.


Rendi terdiam, ketika mengingat para bos mafia yang keras kepala itu menginginkan sesuatu secara bersamaan dan akan merepotkan jika benaran mereka akan selalu mengikutinya.


"Baiklah, kau atur pertemuannya, aku tidak mau memakan waktu semakin lama lagi, aku sangat merindukan istriku aku sangat merindukannya," jawab Rendi dengan acuh dan mencurahkan srgala keinginnannya hanya pada Ken yang tersenyum tipis mengingat ke konyolan tuannya semalam.


Rendi yang tidak mau tidur, tidak mau makan dan juga meminta untuk secepatnya pergi ke Singapore. Seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainanya dan di larang oleh kedua orang tuanya. Rendi merajuk semalaman ketika melihat Mark dan Rara mempublikan pernikahan mereka. Rendi bahkan memukuli Ken dengan bantal semalaman. Dengan wajah datarnya Ken terdiam dengan tangguh mendapati perlakuan konyol tuannya. Bagi Ken lebih baik di marahi tuannya daripada menghadapi Rendi yang merajuk seperti anak kecil seperti waktu itu. Ken tersenyum mengingat hal itu. Sangat jarang bagi Rendi merajuk dan melakukan hal konyol seperti itu hanya karena ulah sahabat dekatnya Mark.


Bagi Ken, Rendi yang merajuk seperti itu terlihat sangat membahagiakan. Karena Rendi tidak bisa mendapatkan penghianatan dari orang-orang yang ia sayangi. Rendi bahkan akan lebih menyayangi orang itu jika kesetiaan ia dapatkan dari siapapun itu. Rendi menginginkan kesetiaan yang sungguh-sungguh dari siapapun itu. Termasuk dari sahabatnya yang justru mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus Rendi.


Malam itu Rendi tertidur, setelah Ken mengatakan jika dalam dua hari setelah tertidur Rendi akan berada di Singapore dan menemui istri dan anak-anaknya. Seperti membujuk anak kecil, Ken mengatakannya dengan lembut. Rendi bahkan mengangguk dan tertidur sesuai waktu yang di tentukan Ken. Ia tertidur karena Ken memberikan obat tidur di dalam jus yang Rendi minum. Karena jika Rendi masih aktip seperti anak kecil. Luka di bagian perutnya yang masih harus dalam perawatan akan terbuka kembali.


Mengingat saat itu, Ken masih tersenyum tipis saat melihat wajah Rendi sekarang yang dengan wajah acuh dan dinginnya menghadapi Dirga yang bahkan tidak tahu dimana saat ini. Ken melajukan kendaraannya menuju sebuah hotel yang dimana sudah ada banyak pertemuan para mafia di seluruh wilayah. Rendi sedikit mengerutkan dahinya ketika melihat tempat yang Ken bawa untuknya. Bahkan terdapat banyak para bos-bos mafia yang menyambut kedatangan Rendi.


Mereka menyambut hangat kedatanga Rendi. Bersamaan dengan penjagaan yang ketat. Begitu banyak para anak buah dari para gengster yang mengenali Rendi, juga dengan Ken yang sudah terkenal dengan cara kerja halusnya yang mengagumkan bagi para kalangan ketua mafia.


Seorang Daren dari ketua mafia wilayah kota C menghampiri Rendi yang mulai berjalan memasuki hotel. Dengan senyum manisnya Daren menyapa Rendi. Tapi ia tidak mencoba seperti yang lainnya yang mengagulkan Rendi secara berlebihan. Tapi Daren terbuka dalam cara berbicaranya.


"Sepertinya tuan Rendi begitu tampak baik, setelah menghilang beberapa minggu ini," ucap Daren menghampiri Rendi dan ikut berjalan memasuki hotel miliknya.


"Hahaha, aku kira kau akan butuh bantuanku untuk cepat sampai dI Singapore untuk istri tercintamu yang cantik itu?" goda Daren membuat Rendi berhenti dari jalannya dan menoleh ke arah Daren dengan tatapan membunuhnya.


"Hahaha, santai Bro ... aku tidak tertarik pada istri orang lain apalagi istrimu! Tapi aku akan membantumu agar dalam waktu satu jam kau sudah bisa melihat wajah istrimu itu," jelas Daren dengan tampak ragu dan sedikit merasa takut melihat tatapan mematikan Rendi yang tampak menyeramkan baginya. Tapi Daren tersenyum ketika melihat Rendi yang sudah mau menanggapi setiap ucapannya.


Bagi Daren, bisa berkomunikasi dengan Rendi adalah suatu anugrah di kalangan mafia. Karena selama ini tidak ada yang pernah bertemu langsung dengan Rendi seperti saat ini yang akan di adakan di dalam aula hotel milik Daren saat ini.


Rendi menaiki lift untuk menuju sebua ruangan yang di tunjukan oleh Daren dan menuntunnya memasuki ke sebuah aula yang sudah terdapat banyak kalangan elit mafia di berbagai wilayah dan mereka menyambut Rendi dengan senyuman ramah mereka ada yang memandang dengan tatapan tegas mereka dan ada juga yang mengaguminya tapi mereka sudah berencana untuk ikut bergabung dalam pertemuan kali ini. Mengingat Dirga yang kini sudah tewas karena pembunuh dari kalangan mereka yang tidak di ketahui oleh siapapun itu. Yang pastinya mereka juga ikut bergabung dalam pertemuan kali ini.


Setelah semua di pastikan duduk di tempat duduknya masing-masing. Rendi juga ikut duduk di kursi paling depan bersama dengan Ken dan juga Daren yang juga pemilik tempat dan penyelenggara.


Rendi masih dengan tatapan datarnya tanpa memperdulikan para mafia yang memandanginya dengan tatapan ingin saling menyapa. Tapi mengingat Rendi yang akan menujukan ketidak sukaannya jika terlalu banyak berbicara. Mereka urungkan untuk mencari muka di hadapan Rendi dan hanya mengikuti acara yang akan di mulai saat ini juga.


"Apa yang akan mereka selenggarakan?" tanya Rendi tidak berpaling melihat kepada siapa ia bertanya.


Daren mengerutkan dahinya, melihat ke arah Ken kepada siapa Rendi bertanya.


Ken hanya diam dan membiarkan Daren berpikir sendiri. Setelah di kira pasti Daren mencoba untuk menjawabnya meski dari sekian banyak orang yang menghormatinya. Untuk pertama kalinya Daren jadi salah tingkah dari usianya yang lebih tua dari Rendi tapi tampak bodoh berhadapan dengan Rendi dan Ken.


"Ini acara yang di selenggarakan oleh para ketua mafia di seluruh wilayah Tuan, juga semua sudah menyetujuinya," ucap Daren sedikit ragu dan merasa salah tingkah karena Rendi malah diam dan tidak menjawab Daren yang menjelaskannya.

__ADS_1


Rendi masih dengan diamnya menunggu acara di mulai. Setelah di rasa sudah siap. Daren mengisyaratkan anak buahnya untuk memulai acaranya. Kini seseorang yang berjas warna abu dengan tampilan berwibawanya dan juga dengan senyum di wajahnya yang berseri berbicara di atas podium. Mengucapkan segala maksud dan tujuan acara di selenggarakannya malam ini. Bahkan seluruh ketua di setiap kalangan berdatangan dan tidak mengalihkan pandangan mereka melihat Rendi yang masih acuh tanpa memperhatikan yang lainnya.


"Saat ini acara penyambutan ketua baru kita untuk seluruh mafia dan wilayahnya kita sambut dan persilahkan pada ketua baru kita tuan Rendi Anggara pengusaha terbesar di Jerman dan bos dari seluruh mafia," sambutan MC mengulurkan tangannya ke arah Rendi yang mengerutkan dahinya mendengar ucapan pria di atas podium tersebut.


Semua mata tertuju padanya dengan senyum penuh kebanggaan dan harapan pada Rendi yang kini masih terdiam. Ia tidak memahami jika acara ini di tujukan untuk menyambutnya sebagai ketua baru dari kalangan mafia untuk kali ini. Ia bahkan tidak pernah berpikir akan hal itu. Rendi hanya mau jadi yang terkuat buakan menjadi penguasa. Karena Ken sudah berdiri dan memberi isyarat pada Rendi. Rwndi ikut berdiri dan berjalan dengan aura yang sangat jarang di miliki oleh siapapun.


Kini Rendi berdiri di atas podium bersama Ken berdiri di sampingnya.


Rendi masih terdiam dengan tatapan menyoroti semua orang yang terdiam menunggu ucapan pertama Rendi. Selama ini mereka bahkan belum pernah mendengar suaranya apalagi melihat langsung sosok Rendi. Untuk kali ini mereka antusias menghadiri acara dengan niatan ingin bertemu dan melihat sososk yang ramai di perbincangkan anak buahnya di setiap penjuru.


"Apa yang kalian mau dariku?" ucapan Rendi membuat semua orang saling pandang satu sama lain. Mereka tidak menyangka jika kalimat pertama yang Rendi ucapkan adalah hal di luar dugaan mereka. Rendi mengetahui maksud dan tujuan mereka mengusulkan dirinya untuk menjadi ketua di antara para mafia.


Rendi masih diam berdiri di depan mic dan mengedarkan pandangannya ke setiap orang yang malah terheran dan mengagumi suara tegas Rendi dan juga pertanyaan Rendi yang menekankan acara yang mereka buat.


Daren berdiri dan mengambil mic untuk berbicara.


"Kami ingin seseorang yang pintar dan cerdas untuk menjadi pemimpin kami," ucap Daren memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Rendi. Mengingat Rendi tidak pernah mengulang perkataannya.


Semua yang mendengar jawaban Daren mengangguk setuju atas jawaban Daren yang mewakili mereka. Padahal di antara mereka tidak ada yang berpikir kesana. Mereka hanya tahu jika kinerja dan penguasaan Rendi lebih kuat dan selalu unggul dalam setiap hal.


"Kalau begitu, kalian harus kuat fisik jika ingin aku jadi ketua kalian," tegas Rendi.


Semua orang yang duduk berdiri satu persatu mengatakan bahwa mereka siap dan setuju dengan persyaratan Rendi yang sudah pernah mereka dengar. Bahwa Rendi hanya mau orang-orang yang kuat jika ingin bersamanya.


Rendi tidak berbicara kembali. Tapi ia berjalan dan turun dari podium bersama dengan Ken. Kini Daren mengantar Rendi untuk istirahat di kamar yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari khusus untuk Rendi. Rendi meninggalkan para bos mafia dengan senyum di wajah para kalangan dengan hasil yang puas jika Rendi yang menjadi pemimpin mereka. Rendi tidak pernah terdengar menyulitkan bawahannya dan selalu bekerja dengan akal dan kecerdasannya. Untuk dari itu mereka menyetujui kepemimpinann Rendi untuk kedepannya.


Rendi kini sudah berada di sebuah kamar yang nuansanya sangat nyaman dan mewah.


Ia melakukan panggilan video pada Adam dengan segala hatinya yang ia rasakan ingin mendengar kabar istrinya saat ini seperti yang sering ia lakukan dan tanyakan pada Adam untuk yang ke sekian kalinya.


"Sayaaaang?"


Teriakan Rara mengejutkan Rendi saat melihat yang mengangkat panggilan video Rendi adalah istri tercintanya. Rara berbinar saat yang ia lihat adalah wajah suaminya yang ia rindukan. Begitupun Rendi yang tersenyum bahagia melihat wajah cantik istrinya.


Rara mengambil handphone Adam secara sembunyi-sembunyi ketika Adam sedang pergi ke ruang kerja Mark dan handphonenya tertinggal. Saat Rara mencoba untuk mengembalikannya. Ia terkejut melihat panggilan video dari nomer yang tidak ada namanya. Ia iseng menjawabnya dan berteriak melihat wajah suaminya yang sedang melonggarkan dasinya.


Rara seperti ingin melempar handphone tersebut saking bahagianya.


"Suami bodoh! Sedang apa kau hah? Dimana saja? Kau sudah melupakanku? Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak pulang?" ucap Rara menahan air matanya terjatuh dan duduk di sofa yang bahkan tidak ada siapapun saat itu.


Rendi tersenyum melihat wajah istrinya yang sangat ia rindukan kini ada di hadapannya. Selama ini Rendi menahan ke inginannya untuk menghubungi istrinya untuk menjalani setiap rencananya. Tapi ia terlalu berpikir jauh. Karena sikapnya yang terlalu waspada hingga tidak pernah meminta bantuan dari siapapun. Ia terlalu bodoh saat ia tahu jika ada banyak orang yang akan membantunya jika ia lebih baik dalam bersosialisasi dengan para mafia lainnya. Tapi apa yang ia dapat saat ini tidak akan menyulitkannya apalagi jika hanya untuk memusnahkan satu orang saja hanya membutuhkan kerjasama saja.


Rendi tersenyum ketika mendengar suara istrinya yang sedikit lirih dan memarahinya.

__ADS_1


"Sayang, i love you," ucap Rendi tersenyum melihat istrinya yang justru malah menangis mendengar ucapannya. Rendi kalang kabut melihat istrinya yang malah menangis karena ucapannya.


__ADS_2