Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Raraku


__ADS_3

Prolog rendi Rara


Malam ini Rendi dan Rara berencana untuk jalan. Tentang tujuan mereka belum ada yang menentukannya.


Tampak di wajah Rendi tersirat kebingungan di wajahnya.


Sekitar tiga puluh menit Rendi menunggu.


Rara keluar dari cafe dengan setelan jeans hitam dan kemeja putih hijab pech segi empat.


Rara melihat Rendi yang bolak balik di depan mobilnya.


"Ada apa dengan singa badai ini, benar-benar seperti badai saja kalau sudah bicara selalu membuatku tidak bisa berkutik," batin Rara.


Rara berjalan menghampiri Rendi yang masih asik dengan tingkahnya.


Rendi melihat ke arah Rara yang menghampirinya.


"Dia berpakaian sederhana tapi kenapa bagiku itu terlihat indah ya," gumam Rendi.


"Ayo pergi," ajak Rara.


Rendi berhenti mondar mandir yang sedang memikirkan cara agar bisa mempertahankan Rara disisinya.


Ia melihat Rara yang sangat Rapih dan modis gadis muda sekali dengan riasan wajah yang tipis ia tersenyum menghadap Rendi.


Rendi sangat tertegun melihat Rara yang sangat cantik.Padahal menurutnya dulu gadis cantik adalah dengan penampilannya yang sexsi seperti Nia.Tapi entah kenapa ia sama sekali tidak memandang Nia.


"Rendi ... " panggil Rara.


Teriak Rara pada Rendi yang sedang menatapnya.Tanpa menghiraukan ajakannya dari tadi membuat Rendi terkejut.


"Iya ayo," jawab Rendi tersenyum.


Rendi membukakan pintu mobil untuk Rara dan mereka memasuki mobilnya. Di mobil tidak ada pembicaraan di antara mereka.Hening tanpa mengucapkan apa-apa.


Rendi dan Rara saling beradu pemikirannya masing-masing.


"Haruskah aku melamarnya sekarang juga,aku takut dia tidak mau," batin Rendi.


"Apa yang akan dia bicarakan sih,dan ini mau kemana?" Batin Rara.


Rendi masih mengemudi dengan kecepatan sedang,meskki sesekali ia melirik ke arah Rara yang juga sedang terdiam dengan wajah alaminya.


Kendaraan mereka kini berhenti di pinggirjalan. Ada sebuah lapangan taman hijau yang ada bangku panjang di bawah pohon rindang yang mereka berjalan dan hampiri di sana.


Jika di siang hari di taman ini ramai orang -orang menghabiskan liburannya untuk bersantai disana.


Tapi di malam hari hanya ada satu dua orang yang berkunjung di taman itu.

__ADS_1


Rendi dan Rara duduk di sebuah bangku yang hanya muat untuk dua orang saja.Kini mereka hanya diam saja tanpa ada yang memulai pembicaraan.


Sudahh setengah jam mereka terdduduk di taman. Masih tidak ada pembicaraan antara mereka.Rendi mencoba untuk memberanikan diri untuk berbicara.


"Ra kamu mau jadi istriku?" Itu yang terbayang di pikiran Rendi tapi tidak ia ucapkan.


"Coba kamu ceritakan apa yang membuatmu butuh teman untuk menemanimu dari benakmu?" Tanya Rara.


Rara yang mengawali percakapan mereka.


Rendi melihat wajah Rara yang sangat ia kagumi.


Entah sejak kapan hanya wajah ini yang selalu membayanginya.


Rendi lama sekali menjawab pertanyaan Rara karena bingung harus darimana awalnya.


Rendi menceritakan di awal mereka bertemu di Bandung bahwa itu adalah hari pernikahanya dengan istrinya.


Rendi juga menceritakan bagaimana Rendi mencoba lebih baik pada istrinya,yang balasanya istrinya berkhianat padanya.


Dan sampai saat ini tidak ada kejelasan hubungan mereka


dengan alasan tidak ingin mengecewakan ibunya.


Rendi terlihat sedih dan gundah


Rara tidak percaya bahwa kekasihnya suami orang lain.


Rara melihat Rendi yang sepertinya benar -benar bersedih.


Rara mencoba menenangkan hati dan perasaanya yang saat ini terguncang karena mendengar kenyataanya bahwa Rendi sudah punya istri.


Rara mencoba mengusap punggung Rendi dan ia terkejut Rendi menyandarkan kepalanya di pundak Rara.


Rara hanya terdiam dengan jantungnya yang sepertinya berpacu semakin kencang.


Rara seperti ketakutan ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Di satu sisi ia simpati pada Rendi di satu sisi ia sangat kecewa dengan apa yang ia dengar bahwa kekasihnya ini milik orang lain.


"Ya Tuhan apa ini kenapa kau biarkan hamba selalu di bawah ambang kebingungan dan apa ini kenapa dia yang bersandar di bahuku ternyata suami orang lain ," batin Rara.


Rara mencoba menenangkan hati dan pikirannya yang selalu menduga hal yang tidak seharusnya ia bayangkan.


"Lalu hubungan satu bulan ini ,ternyata aku hanya jadi selingkuhannya saja dan bukan untuk mengisi hatinya,uh rasanya aku ingin berlari menemui ibuku untuk saat ini juga," batin Rara.


Mata Rara sudah mulai berkaca-kaca menahan hati yang sudah tidak tentu arahnya. Ia bahkan berpikir sangatingin pergi untuk saat ini juga.


Memeluk ibunya yang jauh darinya.

__ADS_1


"Rend?" Tanya Rara.


Rendi yang di tanya tidak menjawabnya. Ia masih memejamkan matanya di atas bahu Rara.


"Rend ... apa kita harus putus?" Tanya Rara kembali.


Sontak Rendi membuka kedua matanya dan beranjak dari bahu Rara. Ia melihat kedua mata Rara yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu kenapa Ra,apa aku salah kenapa kamu meminta putus ,aku bahkan belum melamarmu?" Tanya Rendi tegas ia seperti tergesa-gesa berkata seperti itu.


Mendengar ucapan Rendi


Rara membulatkan kedua matanya ia tidak percaya apa yang ia dengar.


"Apa maksud dia kenapa bicara seperti itu,kenapa membuatku semakin tidak ingin melepaskanmu Rendi sebenarnya apa maumu kenapa harus seperti ini," batin Rara.


"Apa maksudmu Rendi?" Teriak Rara.


Rara terkejut ia beranjak dari duduknya


Rendi mengikutinya berdiri.


"Iya Ra ... aku sudah berencana melamarmu tapi kenapa kamu malah minta putus?" Tanya Rendi sendu.


"Sadarkah kamu Rendi? Kita ini tidak baik hubunganya, kamu bahkan punya istri dan aku sekarang apa. Aku hanya kekasihmu buat satu bulan Rendi," ucap Rara dengan nada tinggi.


"Iya aku tahu,tapi dia sudah mengkhianatiku Ra dan bahkan aku sudah tak berhubungan lagi denganya pernikahan kami pun hanya sebuah perjodohan," ucap Rendi menegaskan.


"Aku ingin kamu menjadi istriku aku ingin kamu yang satu-satunya cintaku," lirih Rendi menambah perkataannya.


"Atas dasar apa kamu mau menjadikanku istrimu ?" Tanya Rara.


"Karena aku suka kamu Ra ," jawab Rendi.


Rara terdiam mendalami setiap ucapan Rendi yang menurutnya terlalu mendadak. Mereka kini saling diam dengan pikirannya masing-masing.


Rara mencoba mendongakan kepalanya dan menatap Rendi.


Rara memperdalam tatapannya pada Rendi. Rara mencari kejujuran dari mata Rendi dengan ucapannya.


Ada kesedihan ada ketakutan ada juga keegoisan yang sekarang Rara rasakan.


Ia sedih mendengar ternyata Rendi sudah mempunyai istri,ia takut Rendi meninggalkannya,ia juga ingin memiliki Rendi seutuhnya.


Pikiran yang melayang-layang tentang kekasih satu bulannya itu membuat Rara kehabisan kata-kata.


Rara dan Rendi lebih memilih berdiam masing-masing dengan pikirannya sendiri.


Karena keduanya sama-sama takut akan kehilangan.

__ADS_1


__ADS_2