Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Manisnya


__ADS_3

Rara tersenyum ketika melihat seorang gadis berlari dan menghampiri kearah Mereka berdiri. Kini gadis kecil itu berada di pangkuan ayahnya, Mark menyambut gadis itu dengan senyum hangatnya. Rara tersenyum ketika melihat kehangatan Mark kepada putri semata wayangnya itu.


"Ternyata Markmu itu, bisa tersenyum manis juga ya Sayang!" bisik Rara pada Rendi.


"Kamu jangan tersenyum padanya! Aku juga manis dan tampan jika tersenyum," balas Rendi merangkul pinggang Rara dengan erat.


"Iya ... kamu memang sangat tampan dan manis, sampai aku saja ingin memakanmu," goda Rara berbisik pada suaminya.


Rendi tersenyum dan mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan dan tingkah istrinya, yang menurut Rendi hal yang di luar dugaannya.


Rara mengalihkan pandangannya dari suaminya dan melihat tingkah Naura yang masih di pangkuan ayahnya. Rara tersenyum menyukai gadis kecil yang polos yang hampir seusia dengan putrinya Amira. Setelah berbicara dengan ayahnya, Naura beralih melihat kearah Rendy dan Rara yang memang sudah ia kenali. Dari ayahnya yang selalu memperkenalkan orang-orang terdekatnya.


Naura tersenyum dan menyapa kearah Rara dan Rendy dengan ramah.


"Selamat datang Tante dan Om," sapa Naura dengan ramah.


Rara tersenyum melihat ke arah Naura. Apalagi setelah mendengar pertanyaan ramah dari Naura terdengar sangat menggemaskan. Bagi siapapun yang mendengarnya.


"Apa ini gadis kecil yang waktu itu? Kenapa Naura begitu sangat cantik sekarang?" ucap Rara tersenyum melihat Naura.


Mendengar ucapan Rara. Naura turun dari pangkuan Mark dan berjalan menghampiri Rara dan Rendy. Ia tersenyum dan mencium punggung tangan milik Rara dan juga punggung tangan Rendy. Mereka terkejut, ketika mendapati Naura sangat ramah dan pandai dalam bersikap. Bahkan ia mengerti tata cara menyapa dan bersikap kepada orang lain.


"Ya ampu, ini anakmu Mark? Kenapa dia begitu sangat manis dan sangat berbeda jauh denganmu?" ucap Rara tersenyum gemas kepada Naura. Rara mencium pipi Naura, yang berada di hadapannya.


"Terima kasih Tante," ucap Naura kembali dengan ramah.


Rara tersenyum, ketika mendapati jawaban dari Naura yang terbilang sangat jarang bagi seorang anak di usianya. Bahkan putra-putrinyapun sangat terlihat dingin kepada siapapun, tapi lain dengan Naura.


"Kenapa kamu begitu manis Nak? Apa ayahmu memberimu makanan yang manis terus setiap hari?" tanya Rara tersenyum.

__ADS_1


Naura hanya mengangguk dan tersenyum ketika menanggapi ucapan dari Rara. Setelah itu dia melihat ke arah ayahnya dan menghampirinya kembali. Naura sempat melihat ke arah Amira dan Rayn yang terlihat biasa saja tanpa menyapa. Setelah acara penyambutan.


Kini Rara dan Rendy diantar ke kamar mereka berdua. Bgitupun dengan yang lainnya. Mereka di antar oleh para pelayan. Setelah sampai dan memasuki sebuah kamar, Rara duduk di tepi ranjang dan merebahkan tubuhnya merenggangkan badannya yang lelah.


Rendy tersenyum melihat istrinya yang tertidur, berbaring di atas ranjang terlihat lelah. Ia berjalan menghampiri istrinya dan duduk di samping Rara. Rendi tersenyum dan mengusap lembut pucuk dan mengecup kepala istrinya.


Rara melihat kearah suaminya yang kini berada disampingnya. Rara tersenyum saat itu pula Rara terbangun . Akan tetapi, Rendy mencegah istrinya untuk bangun dari tidurnya. Rara mengangguk dan dengan tersenyum lembut. Rara sedikit mengerutkan dahinya ketika mendapati perlakuan suaminya yang melarangnya untuk bangun dari tidurnya.


Rendy tersenyum menatap wajah istrinya. Ia mengecup kembali kening istrinya, dengan lembut dan lama. Ia tampak tidak rela jika istrinya merasa kelelahan hanya karena sebuah perjalanan apalagi di dalam pesawat, Rendi selalu mengganggu istrinya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, jangan sampai terlalu lelah. Apalagi membuat bayi kecilku kelelahan dan juga istri tercinta ku tidak boleh merasa lelah!" tegas Rendy lembut.


"Aku tidak merasa lelah. Aku hanya ingin meregangkan tubuhku saja, karena perjalanan untuk kali ini cukup lama juga ya Indonesia ke Singapura," balas Rara tersenyum kepada suaminya.


"Sebaiknya kamu istirahat. Aku akan turun ke bawah!" tegas Rendi kepada istrinya.


"Aku tidak apa-apa, kamu jangan seperti itu. Bukankah kamu bilang tadi ada satu hal yang akan kita lakukan saat di mobil?" tanya Rara dengan manja.


Rara tersenyum menggoda di hadapan suaminya, yang kini tersenyum mendengar ucapan istrinya. Rendy terdiam ketika mendengar pernyataan istrinya yang lain dari biasanya. Bagi Rendy itu seperti terdengar sebuah godaan untuk dirinya dan sesuatupun terbangun disana. Walau hanya karena mendengar dan melihat wajah cantik menggoda istrinya itu.


"Apakah kau sedang menggoda aku sayang? " tanya Rendi tersenyum.


Rendi mengecup dan menarik istrinya ke dalam pelukannya. Rara tertawa ketika mendengar ucapan suaminya yang menyatakan bahwa dia menggodanya. Padahal Rara sama sekali tidak bermaksud untuk menggodanya. Akan tetapi dia hanya mengingat ucapan suaminya saat berada di dalam mobil di perjalanan tadi.


"Darimana ucapanku yang menggoda kamu sayang?" tanya Rara dengan tawa lepasnya.


"Kamu sudah mulai menggodaku, dengan bicara seperti itu, ya sayang kamu nakal, "jawab Rendy dengan lembut.


"Aku lelah sekali, sebenarnya kenapa tubuhku seperti ini ya berasa sakit," keluh Rara merenggangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Bagian mana yang sakit Sayang? Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Rendy sedikit cemas.


"Apa-apaan, masanya sakit saja langsung ke rumah sakit? Nggak usah deh Sayang. Mungkin aku lelah Haha mungkin aku terlalu lelah memangnya.


Rendi membiarkan istrinya berbaring, ia memijit kaki istrinya dengan lembut. Sesekali ia tersenyum melihat istrinya yang terlihat menikmati pijitan lembut dari suaminya.


"Sayang, apa masih sakit tubuhmu?" tanya Rendi lembut.


Rendi masih dengan tangan di tubuh istrinya yang terbaring. Ia memijit istrinya dengan lembut dan bertanya. Akan tetapi, tidak ada sahutan dari istrinya. Ia mengerutkan dahinya dan mendekatkan dirinya kepada istrinya yang ternyata tertidur menutup kedua matanya yang masih bergerak-gerak. Rendi mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis.


"Hmmm ... Sepertinya ada yang mau membiarkan aku menikmati tubuhnya nih!" goda Rendi tersenyum tipis.


"Aku bahkan bisa meninggalkan jejak yang sangat banyak disini," tambah Rendi.


Rendi tersenyum dan tangannya sudah mulai menyibakan pakaian istrinya perlahan. Ia tersenyum ketika istrinya masih bertahan berpura-pura tidur.


"Hmm ... Aku akan bersenang-senang dengan tubuh ini," ucap Rendi kembali.


"Aaah ... Jangan!" teriak Rara membalikan tubuhnya dan melihat Rendi yang tersenyum.


"Kamu jangan macam-macam ya! Aku tidak akan mengijinkanmu!" cetus Rara.


"Hahaha, masih berani pura-pura tidur sayang?" tawa Rendi menggema.


"Hmm ... Senyumu sangat manis suamiku," ucap Rara merangkul pundak suaminya.


"Tentu saja, aku memang yang tertampan kok!" tegas Rendi.


"Heh, dasar kamu ini sayang, aku ke kamar mandi dulu ya, kita sholat bersama!" ucap Rara. Ia bergegas ke kamar mandi dan meninggalkan Rendi duduk di tepi ranjang tidur.

__ADS_1


__ADS_2