Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Mengikutinya


__ADS_3

Prolog Rendi Rara


Jerman.


Pagi ini Rendi dan istrinya,sedang berada di ruang tengah bersama dengan kedua putra putrinya yang sudah mulai berjalan di usianya satu tahun lebih.


Keseriusan Rara menuntun anaknya Rayn agar bisa berjalan meninggalkan gelak tawa di wajah Rara yang melihat putranya sudah bisa melangkah berjalan.


Rendi yang juga berada di ruangan keluarga. Ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang menertawai putranya.


Ia berjalan dengan Amira di pangkuannya menghampiri putra dan juga istrinya yang sedang menuntun Rayn untuk berjalan.


"Sayang bagaimana kalau kita makan dulu Aku sudah lapar," ucap Rendi.


"Hmm, baiklah ayo Sayang, oh iya kamu jadi untuk pergi ke perusahaan?" Tanya Rara.


"Iyaa nanti kamu tidak boleh kemana-mana diam di rumah saja mungkin aku akan sedikit lebih lama disana !" Tegas Rendi.


"Baiklah, selesaikan secepatnya aku tidak kenal kota ini juga mana berani aku keluar tanpa dirimu," ucap Rara.


"Itu jauh lebih baik bila ada yang kamu butuhkan cari Nera.Dia akan sediakan apapun kebutuhanmu," ucap Rendi.


"Hmm, ayo makan nanti makan siangnya jangan lupa ya kalau pulangnya telat," ucap Rara.


Sepasang suami istri bersama kedua pengasuh yang menggendong putra putrinya kini sedang duduk di meja makan. Mereka makan dengan khusu.


Sesekai Rayn putra mereka menendang makanan yang ada di meja sambil tersenyum senang seperti mendapatkan mainannya.


"Kalian makan sayang bi suapinnya sedikit-sedikit saja ya nanti sisanya bila aku sudah selesai makan aku suapin mereka aku masih laper," ucap Rara dengan mulut penuh makanan.


Rendi yang melihat istrinya ia tersenyum. Ia usap bibir istrinya dengan tisu yang tersedia di meja makan. Istrinya tersenyum padanya dan melanjutkan kembali makannya.


Pengasuh yang melihat adegan tuan besarnya melakukan hal yang lembut pada nyonya besarnya. Mereka terkagum-kagum dan iri dengan sikap lembut tuannya pada nyonya besar.


"Untuk kali ini aku melihat kelembutan dari Tuan besar sungguh manis semoga Nyonya selalu aman karena hanya itu yang terbaik untuk kami," gumam Pelayan yang memegang baby Rayn.


Ada kepedihan di rumah besar Anggara ini. Saat tuan Rendi kembali dengan kesuksesannya dan mengingat kembali tentang adiknya Anisa yang meninggal. Karenanya semua pelayan beserta penjagadi hukum selama tuan besar geram bila ada kesalahan sefikitpun itu.


Kepedihan yang di rasakan tuan mereka. Para pengikut termasuk pelayannyapun ikut pedih karena suasana hati tuan Rumah sedang buruk.


Suatu anugerah jika melihat senyum tuan besar mereka saat ini dan seterusnya.


@@


Rendi yang melihat istrinya makan dengan lahap ia tersenyum dengan hati bahagia juga takut akan seseorang bila tahu tentang istrinya.


"Aku harap kamu tidak akan terkena masalah Sayang aku akan berusaha untuk selalu ada di sampingmu," batin Rendi.


Rendi berpamitan pada istrinya sudah ada Ken menunggunya di luar pintu rumah besar. Ia pergi memasuki mobil dengan Ken di balik kursi kemudi. Rendi melihat handponenya dan memeriksa email yang ia terima dari seseorang tentang pergerakan anak buah Jason di perusahaan.


Juga antisipasi di rumahnya.


"Heh,sepertinya suasana hatinya sedang tegang," ucap Rendi.


Ken yang mendengar ucapan tuan.


Ia mengerti perkataan tuannya.


"Anas bahkan mengajukan presentase nya pada proyek di perusahaan Barak tuan hanya butuh waktu satu jam dia sudah bisa mendapatkan proyeknya tuan," ucap Ken.


"Heh, pastikan kau mengikuti permainannya Ken karena hanya dengan mengikuti permainannya kita akan tahu apa saja yang akan Jason lakukan dengan pergerakannya.Sepertinya dia masih dendam padaku setelah kematian adiknya," ucap Rendi.


"Meskipun dia tahu, bahwa bukan Tuan yang melakukannya sepertinya dia memang kelainan Tuan," ucap Ken.


"Haha, akan lebih mudah jika kita cari tahu dengan menggunakan umpan yang dia berikan pada kita. Hanya seorang Anas tidak akan berpengaruh padaku. Apa kau tahu dimana keberadaan Adam saat perusahaannya bangkit kembali?" Tanya Rendi.


"Dia berada di rumah orang tuanya memastikan agar Jason tidak mencoba mengusiknya,Tuan," jawab Ken.


"Hmmm,kau berikan rumah di kota R untuk tempat persembunyian keluarga lemahnya, antara ibu dan saudarinya agar Adam bebas bergerak katakan pada Dira untuk bersikap tenang tentang perusahaannya," ucap Rendi.


Ken sempat berdiam diri saat mengemudikan kendaraannya ia parkirkan di pinggir jalan.Ia mengenakan handponenya untuk menyiapkan semua perintah tuannya untuk mempersiapkan Adam keluarganya untuk pindah menghindari Jason yang sedang murka saat ini.

__ADS_1


"Akan saya pastikan semua sesuai perintah tuan," jawab Ken.


"Hmmm apa istrimu baik-baik saja?" Tanya Rendi.


"Dia baik Tuan hmm," jawaban Ken terhenti.


"Sudah ku bilang Ken jangan lengah jika lengah dia akan leluasa bergerak," ucap Rendi.


"Saya sudah jamin keamanannya Tuan terutama Nona muda," jawab Ken.


"Aku rasa dia bergerak karena mencari tahu kelemahanku yang sekarang. Setelah apa yang dulu dia lakukan padaku," ucap Rendi datar.


"Selama Adam tidak mengetahuinya kita pasti aman Tuan," ucap Ken.


"Heh, justru dia harus tahu agar dia juga memastikan ke amanan keluargaku untuk apa aku merekrut dia jika dia tidak berguna," ucap Rendi.


Ken mengangguk terdiam untuk kali ini Ken tidak memahami maksud tuan mudanya dalam mengambil tindakan mempercayai seorang Adam yang bahkan pada tuannya yang terdahulu saja ia berhianat.


Rendi melihat ke arah luar jendela mobil dalam keadaan tanpa arah.


Ia membayangkan jika sesuatu sampai terjadi pada istrinya dan Jason bergerak di luar jangkauannya. Setidaknya ada orang yang pasti akan aman bagi keluarganya jika berada di tangan Jason di kemudian hari bagi Rendi antisipasi jauh lebih baik dari pada kewaspadaan singkat.


Kendaraan Rendi kini sudah terparkir memasuki perusahaan Anggardita shoes perusahaan yang Rendi bangun sendiri di Jerman bersamaan dengan ke empat sahabatny Mark, Iyas, Ken Dana.


Rendi pemilik utama di perusahaan ternama di Jerman. Ia mengendalikan setiap jalannya usahanya setelah membangkitkan perusahaan kakeknya di Indonesia.


Saat Rendi keluar dari mobilnya dan berjalan memmasuki perusahaan ada sekitar seratus pegawai kantor yang berdiri menyambutnya. Rendi dengan wibawanya ia berjalan dan di hampiri seorang manajer yang bertugas sebagai pengurus bagian tata ruangan khusus Direktur utama.


"Astaga, tampan sekali pria itu dia Direktur utama setelah Tuan Iyas ternyata aku bahkan jatuh cinta pada pandangan pertama padanya," ucap seorang karyawan


Seorang gadis dengan tubuh kurang tinggi. Ia sedang berdiri di tengah para karyawan yang membungkuk atas kedatangan Direktur utama mereka.


"Melihatnya dari kejauhan saja sudah kebahagiaan bagiku," gumamnya.


Saat ia sedang nergumam sebuah tangan memukul kepalanya. Ia mengaduh memegang kepalanya setelah di dapati Direkturnya sudah jauh dari pandangannya.


"Heh, bodoh kamu ini hanya karyawan magang disini jangan berpikir konyol dengan ingin bersama direktur," cetus


"Siapa juga yang mau sama direktur cape aku harus di kawal seperti tuan putri juga apa-apa harus ijinlah jaga image lah kan menyebalkan," jawab Wilda karyawan magang di perusahaan Rendi di Jerman.


@@


Rendi duduk di kursi kantornya ,yang tertulis Direktur utama. Ia kini sedang melihat beberapa dokumen yang sedang ia periksa tander yang berhasil Anas dapatkan. Ia tersenyum mengagumi kemampuannya Ken yang berdiri saat ini masih belum memahami maksud tuannya yang membiarkan Anas tetap berkeliaran di areanya. Juga Adam yang ia tolong bahkan di beri tempat tinggal.


"Tuan,bolehkah saya bertanya?" Tanya Ken.


"Hmmm," jawab Rendi tidak mengalihkan pandangannya pada berkas yang ia periksa.


"Sebenarnya siapa yang Tuan percayai antara Anas dan Adam?" Tanya Ken.


"Heh,aku lebih percaya padamu," senyum Rendi.


Ada hati bahagia di hati Ken,mendengar ucapan tuannya tapi ia masih penasaaran akan hal yang tuannya lakukan yang masih belun ia mengerti sampai saat ini.


"Ken ada baiknya kita hanya memahami dari tindakan dan kita mengurangi percakapan untuk mencegah dinding yang bertelinga," jawab Rendi.


Ken mengangguk memahami ucapan tuannya. Ia akan menjalankan setiap ucapan tuannya saja dan tidak perlu meragukannya.


Kini tidak ada keraguan lagi di hati Ken pada tuannya untuk menjalankan setiap rencananya.


Sudah sekitar satu jam Rendi di dalam perusahaan ia masih di sibukan dengan Dokumen yang ia tangani sendiri. Karena Mark belum kembali dari Singapore beserta Iyas yang juga mengurus Perkumpulan anak buahnya disana.


Terdengar ketukan dari balik pintu ruangan Rendi. Ia menengadahkan kepalanya dan Ken menyuruhnya masuk. Rendi mendapati duduk dengan rapih saat seorang Anas yang dari awal ia tunggu datang menghampirinya.


Anas membungkukan kepalanya beserta salamnya. Rendi dengan tatapan acuhnya hanya Ken yang menanggapinya.


"Astaga sedingin inikah Tuan Anggara yang aku dengar,kenapa aura membunuhnya sangat pekat hanya dengan tatapan dari wajah datarnya," batin Anas.


"Tuan saya datang untuk menyapa anda dan juga saya di persilahkan untuk ke ruang Direktur utama oleh Manager," ucap Anas.


"Tuan ,akan mengabulkan satu permintaanmu katakanlah selama itu masih berlaku diisni," ucap Ken dengan tegasnya.

__ADS_1


"Baiklah Tuan ,apakah saya boleh menjadi sekertaris Tuan Anggara?" Tanya Anas.


"Hmmm, benar kata tuan Anas wajib di curigai dalam setiap hal begitu banyak jabatan yang menggiurkan tapi dia memilih sekertaris dibandingkkan untuk menjadi wakil direktur ataupun naik jabatan lainnya Tuan selalu tepat prediksinya," batin Ken.


"Kau yakin?" Tanya Ken.


"Ya Tuan, saya mengagumi Tuan Anggara untuk itu saya ingin melayani Tuan Anggara dengan segala kemampuan saya," ucap Anas.


"Dengan bakat dan kemampuanmu kau sudah berhasil memenangkan tander untuk perusahaan,untuk itu kau bisa menjadi sekertaris Tuan atas kinerjamu," ucap Ken mewakili Rendi yang hanya terdiam menatap Anas juga mengangguk atas ucaapn Ken.


"Terimakasih tuan saya sangat berterimakasih dan saya akan melakukan hal lebih baik untuk tuan,"jawab Anas.


"Hmmm ,dengan segampang ini mereka mempercayaiku dan menempatkanku sedekat ini dengan Tuan Anggara," batin Anas.


"Kembalilah mulai hari ini kau bertugas untuk selalu berada di dekat Tuan dan menjalankan setiap perintah Tuan," ucap Ken.


"Baik Tuan, saya akan lakukan dengan lebih baik Tuan,"jawab Anas.


Ada perasaan senang karena rencananya berjalan lancar sesuai lehendaknya. Ada juga rasa ketakutan di hati Anas karenanya ia merasa gugup saat berhadapan hanya dengan Ken dengan ada Anggara di hadapannya yang tampa suaranya.


"Pastikan kau berada tepat waktu dimanapun tuan berada karena itulah tugas sekertaris," tegas Ken.


"Baik Tuan,saya permisi untuk undur," ucap Anas.


Anas berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya untuk bersiap untuk pekerjaan yang ia nantikan selama satu bulan ini.


Dia yang baru berada di perusahaan selama satu bulan sudah dapat mendekati target ada kebanggaan tersendiri di hatinya,tentang berhasilnya dia memasuki area mangsanya.


Padahal kenyataannya dia sendiri yang memasuki perangkap.


Rendi dan Ken terdiam saat Anas keluar ruangannya ada sebuah senyuman di wajah Rendi saat seorang Anas keluar dari ruangannya.


"Dia bahkan menginginkan posisi saya tuan kira-kira bisakah dengan begitu tuan," ucap Ken.


"Kau bisa mengurus yang lain dan juga jangan lengah Anas ingin menghadapiku langsung tanpa Tuannya dia bahkan menatap lekat wajahku saat menatapku tadi aku yakin di pikirannya sekarang sedang penuh kemenangan dengan menghubungi Tuannya," ucap Rendi menyenderkan kepalanya kebelakang kursinya.


"Baiklah Tuan, saya akan pastikan tidak akan ada ruang nafas untuknya selama menjadi sekertaris anda Tuan dan juga saya tidak mau ada saingan bagi saya yang tidak saya suka," ucap Ken dingin.


"Haha, kau jangan khawatir aku akan tetap menjadi tuanmu yang kau banggakan Ken rasa percayaku hanya untukmu bersama kalian berempat," ucap Rendi.


Ken mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan tuaannya yang baginya ada kebanggaan tersendiri ketika mendengarnya. Perasaan di kucilkan oleh keluarganya bahkan di buang oleh orang tuanya Ken tidak ingin itu terjadi jika tuannya sudah tidak membutuhkannya lagi apa lagi setelah kehidupannya berdiri karena tuannya Rendi. Ken sudah berjanji untuk tetap bersama Rendi apapun itu.


Di bandara sudah ada dua orang pria berjalan dengan pakaian memikatnya. Mengenakan mantel di bawah lututnya yang satu berwarna armi yang satu lagi berwarna putih.


Mark dan Iyas sudah menuruni pesawat pribadinya karena ada panggilan darurat dari tuan mereka Rendi yang kini sedang berada di Jerman.


Terpaksa mereka bergegas untuk menyusul tuannya yang sekarang berada di perusahaannya.


"Tuan bukankah sedang berlibur kenapa masih ingin mengoreksi proyek yang menurutku sudah usang?" Tanya Iyas.


"Kita akan tahu jika kita sudah sampai secepatnya," jawab Mark.


"Yaaa, aku sudah rindu padanya sudah lama juga kita tidak melihatnya rasanya aku ingin sekali bisa memeluknya untuk melepas kerinduanku pada sahabat kita itu.. tapi rasanya itu hal yang tidak mungkin lagi kita bisa bercanda ria ya Mark haha," ucap Iyas.


"Kau bukan anak kecil lagi sekarang berhenti menjadi bocah sepuluh tahun kita tidak boleh membuatnya kecewa hanya karena hal spele," tegas Mark datar.


Iyas mengangguk apa yang di ucapkan Mark itu adalah kebenaran yang harus mereka hadapi saat ini juga kedepannya. Sudah tidak akan ada lagi Rendi yang bercanda dengan mereka dengan solidernya sahabatnya itu. Saat mengingatnya ada senyum di balik wajah dingin Mark juga Iyas yang sedang berjalan keluar Bandara.


Mereka mengingat masing-masing perlakuan Rendi pada mereka.


Mark yang saat itu di kejar-kejar sekelompok mafia dengan wajah babak belur. Ia berlari ke sembarang arah tiba-tiba sebuah tangan menariknya untuk bersembunyi yang tak lain adalah Rendi dengan wajah dinginnya.


Rendi bahkan menghadapi sekelompok mafia itu tanpa harus berhadapan.


Ia memasang beberapa peledak waktu di bawah mobilnya.


Hanya peledak mainan yang ia kumpulkan dari pasaran dan ia letakan masing-masing di tengah-tengah bagasi depan dengan teliti dan kumplit.


Ia juga dengan kabel rem mobil yang sudah terputus.


Mark bahkan tidak bertanya bagaimana dan kapan Rendi melakukannya.

__ADS_1


Sehingga para mafia yang tadinya sibuk mencari Mark beralih mencari penyebab kecelakaan tuan mereka.Karena mereka terlalu banyak musuh untuk mencurigai satu-satu.


__ADS_2