Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Dilla di tolak


__ADS_3

Hari ini hari yang sangat bersinar bagi Rara karena ia akan berkunjung ke rumah mertuanya. Keinginan yang selama ini ia nantikan. Di akui oleh keluarga suaminya yang dari awal pernikahan tidak pernah sekalipun Rara bertemu mereka.


Rara yang terbarung pagi sekali ia sangat bersemangat. Ia menyiapkan sarapan dan bergegas untuk mandi.


Rara menyelesaikan aktivitas mandinya dengan berendam di bathroomnya sambil bersenandung hatinya yang bahagia. Setelah mandi ia keluar kamar mandi yang masih terbelit handuk di tubuhnya ia menaiki ranjang dan membangunkan suaminya.


"Rendi sayang, ayo bangun ini udah siang kita harus bekerja setelah itu kita kerumah mertuaku ya," ucap Rara mengusap pipi Rendi.


"Hmmm." Rendi malah membalikan tubuhnya dan tidur lagi.


"Sayang cepat bangun kamu harus ke kantor," ucap Rara kembali.


"Iya," jawab Rendi masih menutup matanya .


Rara yang melihat kelakuan suaminya itu iya mencolek-colek pipi suaminya.


Bulu matanya yang bergerak-gerak Rara hanya tersenyum tertahan lalu ia menusuk-nusuk bibir Rendi.


Tapi suaminya tetap tak bergeming sampai Rara mau pergi Rendi menarik istrinya hingga Rara menindih badan Rendi.


Rendi menghirup aroma harum di tubuh Rara yang segar setelah mandi.


"Hmmm, istriku tercinta ini sudah berani menggodaku ya," ucap Rendi tersenyum.


"Sayang aku tidak menggoda kamu nya aja yanng tidak bangun-bangun," jawab Rara.


"Ayo bangun mandi dan sarapan kamu siap-siap pergi ke kantor," ucap Rara.


"Aku mau sarapan kamu," goda Rendi.


"Aku memang enak?" Tanya Rara.


"Tentu saja kamu yang terbaik yang pertama bersamaku hingga akhir umurku," jawab Rendi.


"Benarkah? memang yang pertama?" Tanya Rara.


"Iyaaa," jawab Rendi.


"Serius suamiku?" Tanya Rara membulatkan kedua matanya.


"Iya kamu wanita pertamaku dan aku juga sangat bahagia saat aku yang pertama bersamamu," jawab Rendi tersenyum.


""Aaaaah, aku sangat bahagia i love you suamiku Rendi Anggara," teriak Rara mencium bibir Rendi.


Mereka melakukan aktivitas sepasang suami istri dengan intens bahkan sampai matahari mau mendahului pekerjaan mereka.

__ADS_1


"Ayo Sayang, kita sudah terlambat nih aku sampai harus mandi dua kali tau," ucap Rara cemberut.


"Mau sesiang apapun kita berangkat bekerja, tetap tidak akan ada yang memarahi kita aku pemilik perusahaan.


Kamu pemilik Cafe yang berani memarahiku ya hanya kamu seorang aku mana berani memarahimmu," ucap Rendi santai.


"Iya yah, hehe aku lupa."Rara cengengesan.


Rendi tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang kelewat bahagia hanya karena ingin bertemu keluarganya.


Mereka kini pergi ke tempat kerja bersam. Sesampainya di tempatparkiran Rendi dan Rara pergi ke tempat kerja masing-masing.


Rara memasuki Cafe menyimpan tasnya. Ia melihat saudarinya Dilla sedang berbicara dengan Ken.Ia mencoba untuk menghampiri mereka dengan seribu pertanyaan di benak Rara tentang mereka.


"Aku curiga, ada apa dengan kalian apa kalian pacaran?" Tanya Rara mengejutkan Dilla.


"Sayang bagaimana keadaanmu lalu benarkah aku akan punya ponakan apa bibi dan paman sudah tahu. Aku sudah tidak sabar menunggu keluarnya baby kecil," Tanya Dilla panjang.


Rara terdiam saat malah Dilla yang mengajukan banyak pertanyaan padanya yang membuatnya malas berbicara ia duduk menghadap mereka.


Ken yang melihat kelakuan kekasihnya ia tersenyum tipis dan hanya geleng-gelengkan kepalanya meminum kopinya setelah itu ia berdiri.


"Aku pergi ke kantor," pamit Ken berdiri dan pergi.


Dilla mengangguk melihat kepergian kekasihnya yang keluar dari Cafe tanpa mengalihkan pandangannya.


Dilla berbalik ke arah Rara yang sedang duduk meminum susu hangat.


"Sayang bagaimana apa sudah memberi kabar pada mereka?" Tanya Dilla.


"Jangan mengalihkan pertanyaanku jawab dengan benar," ucap Rara.


"Apa kalau aku jawab dengan benar akan dapat nilai seratu,dapat hadiah?" Dalih Dilla.


"Dasar ya gila kalau jawabanmu tidak jelas aku tidak akan menggajihmu setahun kalau kamu menjawab dengan benar aku gajih kamu sebulan sekali," teriak Rara.


Dilla yang tertawa melihat habisnya kesabaran sahabatnya malah tertawa terbahak-bahak. Ia malah bahagia saat saudarinya itu sudah bisa mengatakan kekesalannya padanya.


Ada kebahagiaan tersendiri di hati Dilla jika Rara sudah kesal padanya.


"Rugi besar jika aku menjawab tidak memuaskanmu ya," ucap Dilla menahan tawanya.


"Hmmm," jawab Rara.


"Baiklah baiklah iya aku pacaran denganya," jawab Dilla jelas.

__ADS_1


"Siapa yang nembak duluan?" Ganya Rara antusias.


"Tentu saja dia," jawab Dilla sombong.


"Hahahaha serius? Biasanya kamu yang mengejar-ngejar pria dan nembak duluan dan akhirnya di tolak" Rara tertawa.


"Astagfirullooh Ra..Kamu masih ingat saja hal itu," cetus Dilla.


"Tentu saja, karena sejak saat itu juga kamu selalu datang ke rumahku hanya untuk membicarakannya," ucap Rara.


Rara teringat Dilla yang menyukai seorang anak kecil seusianya 10 tahun tapi setelah itu anak itu menghilang tanpa kabar.


"Sayang jangan begitu aku sudah move on tahu," lirih Dilla sendu.


"Baiklah kamu lulus," ucap Rara.


"Kaya ujian sekolah saja," cetus Dilla.


Mereka tertawa setelah berbincang berdua dengan tawa mengisi perbincangan mereka.


Kini mereka kembali bekerja karena Cafe sudah buka.


Rara melayani para pengunjung yang berdatangan ramai sekali.


Sesekali ia terduduk untuk istirahat takut mempengaruhi kandunganya.


Walau nyatanya Rara benar-benar tidak merasa lelah ataupun gejala ibu hamil lainya. Tapi ia tidak mau ambil resiko ini demi anaknya yang belum lahir.


Seharian penuh Rara beraktivitas menghabiskan waktunya untuk bekerja. Walau ia adalah pemilik usaha tapi tidak memberatkannya pada Dilla seorang diri saja. Ia justru senang melakukannya melayani pengunjung dengan ramah ia tidak mengenal lelah.


Di jam makan siang Rendi dan Ken memasuki Cafe untuk meminum kopi juga makan siang.


Rara yang sedang melayani pengunjung iatersenyum dan menghampiri suaminya.


Membuatkan makan siang juga berbincang dengan suaminya.


"Apa kamu lelah Sayang?" Tanya Rendi.


Rendi bertanya setelah melihat keringat di dahi istrinya yang baru datang menghampirinya. Ia mengusap keringat istrinya dengan sapu tangannya. Ia tampak hawatir pada istrinya apalagi dalam keadaan hamil.


"Aku tidak apa-apa Sayang, hanya saja cuaca hari ini terasa panas saja," jawab Rara.


Rara berkata seperti itu untuk menghindari pertanyaan selanjutnya auaminya itu. Apalagi dengan peraturannya yang tidak pernah masuk akal jika ia sudah mengatakannya.


"Apa perlu pasang AC lagi di sini kenapa bisa kamu saja yang panas aku disini tidak," ucap Rendi khawatir akan istrinya.

__ADS_1


"Itu karena kamu habis keluar dari kantormu mungkin jadi masih tidak terasa panasnya," ucap Rara.


"Jangan bicara lagi kamu pikir aku anak kecil kamu duduk saja dan tidak boleh bekerja lagi biarkan Ken yang menyelesaikannya," ucap Rendi dingin.


__ADS_2