Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Memanen


__ADS_3

Di tengah malam Rendi menghampiri istrinya yang kini sedang terduduk di luar jendela rumahnya dengan tatapan malam yang kini masih dengan bintang yang berkerlip dan udara dingin malam yang menyeruak dingin di malam hari di Bandung.


Rendi mendekati istrinya dan memeluknya dari arah belakngnya dan menghirup juga mencium rambut ustrinya. Ia mendekap erat istrinya dengan senyum terpancarkan di keduanya. Perasaan yang sudah mulai tenang ketika kedua orang tua Rara memberi ijin dan tidak membatasi komunikasi mereka saat berada jauh disana. Bahkan Rara memutuskan akan selalu menghubungi mereka di pagi hari siang dan malam sebelum tidur. Itu yang Rara janjikan pada kedua orang tuanya. Rara tersenyum memandangi langit malam saat ini lain dari beberapa tahun yang lalu saat ia memandangi langit malam yang gelap dengan kesedihan hatinya yang di khianati mantan suaminya.


"Sayang ... apa sekarang kamu sudah merasa tenang?" Tanya Rendi.


"Hmmm, aku tenang sekarang sayang tapi kita menginap satu hari lagi ya, aku ingin menghabiskan seharian dengan ayah dan ibu," ucap RarĂ .


"Tentu," jawab Rendi tersenyum ke arah istrinya.


"Eh ... mau ngapain tanganmu ke situ Sayang?" Ucap Rara merasakan tangan suaminya di dadanya.


Rendi hanya tersenyum dan memainkan tingkahnya dan melancarkan maksudnya pada istrinya. Ia mencium bibir lembut istrinya dengan udara malam ini yang dingin. Rara menanggapi aktivitas suaminya yang mulai menjambah setiap inci tubuhnya.


Ketika sudah merasa panas, Rendi menggendong istrinya dan menindih tubuh istrinya dengan senyuman yang penuh kemenangan baginya karena mendapati istrinya yang merespon dengan ekspresi menggoda istrinya saat ini. Rendi mencium bibir istrinya dan menuntaskan pekerjaan malamnya saat ini dengan udara dingin yang kalah oleh panasnya aktivitas mereka berdua di dalam kamarnya.


Setelah menyelesaikannya kini mereka berdua tertidur dengan berbalut selimut hingga matahari menyoroti pintu jendela yang sedikit terbuka dan ayam yang mulai berkokok juga dengan ramainya orang desa saling bersahut sapa berlalu lalang melewati rumah tuan Permana. Apalagi saat ini akan ada panen padi di sawah Ayah Rara.


Ada banyak warga yang sudah berkumpul di depan rumah tuan Permana untuk pergi ke sawah dan memanen hasil sawah hari ini juga.


Mereka berbincang dengan nyaring hingga membuat Rara dan Rendi terbangu.

__ADS_1


Rendi dan Rara terbangun dan melakukan aktivitas mandi berdua di kamar mandi. Karena mereka mandi berdua di kamar mandi. Alhasil Rendi semakin tidak tahan dengan dinginnya air di bak mandinya. Dengan alasan itu Rendi mendekap istrinya dan menggodanya.


"Sayang kamu ini kenapa sih ayo mandi," ucap Rara.


"Dingin," jawab Rendi menggoda yang tak lain ia sengaja bermanja ingin menggoda istrinya dan berharap di manjakan olehnya.


"Huh, kita harus bergegas karena nanti kamu harus pergi dengan Ayah ke sawah sana bantu dia," jelas Rara.


Rendi mengangguk dan menciumi leher istrinya. Rara terdiam dengan segala tingkah suaminya yang tidak ada habisnya dengan cumbuannya. Ia membiarkan suaminya melakukan sepuasnya dan menyelesaikannya dengan segala aktivitasnya dan setelahnya mereka mandi dengan benar dan cepat.


Setelah mandi dengan aktivitas panasnya di pagi hari. Rendi kini sudah bersiap dengan pakaian biasanya untuk pergi ke sawah. Rara tersenyum melihat suaminya yang berpakaian sederhana tanpa mengenakan pakaian formalnya.


Mereka keluar dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menikmati kopi di pagi hari.


Rendi menyapa mereka dan ikut duduk meminum kopi bersama.


Ayah Rara tersenyum memandangi kedua pria yang ada di hadapannya.


Ia berpikir kedua pria ini sama-sama dingin dan datar tapi saling mengisi satu sama lain sama seperti suami Dilla waktu itu. Mereka terlihat acuh tapi saling menghargai dan mementingkan satu sama lain.


Rendi melihat ke arah para petani yang sedang menikmati kopi pagi mereka sebelum berangkat memanen di sawahnya.

__ADS_1


"Ayah, apa ayah melakukan panen ini setiap waktu?" Tanya Rendi.


"Tentu, Ayah menanam dan memanen setiap tahunnya dan semua menikmati hasilnya, entah itu Ayah juga mereka warga disini juga menikmati hasil panennya," jawab Ayah Rara.


Rendi tersenyum mangut-mangut mendengarkan ucapan Ayah mertuanya yang saat ini berbicara dan berbincang kesana kemari bersama Adam menikmati kopi dan sarapan pagi mereka sebelum pergi ke perkebuanan ayah mertuanya.


"Ooh ieu teh mobilna keluarga Permana nu ti kota kitunya?" (ini mobil keluarga permana kayanya) Ucap seorang petani yang sedang duduk di teras depan dengan secangkir kopi yang ia minum.


"Enya saurna mah carogena neng Rara tea anu ti kota mah, saurna parawan urang mah janten pangeran cenah meni kasep pisan" (Iya ...katanya suaminya Rara yang dari kota, kata gadis-gadis di desa katanya seperti pangeran ganteng sekali) Jawab salh satu dari mereka.


Para warga petani yang sedang berbincang, sambil menikmati kopi mereka berbincang, juga melihat-lihat dua kendaraan yang berada di hadapan mereka dan melihat betapa bagusnya mobil yang baru mereka lihat ini lain dari mobil biasanya yang mereka dapati di desa mereka. Mereka tampak berangan-angan dan andai bisa mempunya kendaraan tersebut dan mereka bercanda untuk pergi umroh mengenakan mobil yang mewah dan bagus seperti kebdaraan yang ada di hadapannya saat ini dengan mobil bagus warna hitam.


Rendi kini sudah bersiap di depan rumah dengan Adam menunggu ayah mertuanya untuk pergi ke sawah memanen padinya yang kini para petani sudah mulai pergi meninggalkan kediaman Permana dan berjalan beriringan dengan pembicaraan mereka yang terdengar nyaring saling sahut bahkan terkadang berteriak. Mereka berjalan menuju pesawahan dengan niat dan maksud untuk memanen padi di sawah keluarga besar Permana.


Rendi kini mengikuti mereka menuju sawah bersama ayah mertuanya dan Adam di belakangnya yang hanya berjalan dengan gayanya yang cool, tangan di saku sweater kanan kirinya. Dengan pandangan menikmati udara pagi yang sejuk baginya. Lain dengan orang biasanya merasa dingin di pagi hari jika berada di Bandung.


Adam melihat ke sekeliling perkebunan teh yang teramat hijau menjulang luasnya berjalan menikmati pemandangan yang teramat indah baginya.


Mereka berjalan turun naik untk bisa segera sampai di perkebunan ayah mertua Rendi.


Rendi masih dengan perbincangannya dengan ayah mertuanya di sepanjang jalan menuju pesawahan milik ayah mertuanya.

__ADS_1


Adam mendengarkan setiap obrolan tuan dan ayah mertuanya. Yang menurutnya setiap pertanyaan dan perkataan Rendi semua penuh makna dan artian yang bermanfaat setiap ucapan dan perkataannya. Adam mengagumi Rendi dengan setiap ucapan tingkah dan langkah Rendi yang selalu benar baginya. Apalagi kini Rendi hendak membantu ayah mertuanya memanen padi yang kedua orang tua istrinya tanam. Adam tersenyum dalam kagumnya memandangi sosok Rendi tuanya saat ini dari punggung belakangnya yang berdiri tegak dengan cara berjalannyapun bagi Adam tampak berjiwa gagah dan berwibawa.


__ADS_2