Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Karena dia istriku.


__ADS_3

Prolog.


Suasana di siang hari di perusahaan Anggara group,Raditya dan Ayahnya sedang terduduk di ruang tunggu, mereka tampak gelisah dengan Direktur yang tak kunjung mereka temui.


"Apa pak Direktur masih lama bertemu klienya?" Tanya Radit kepada sekertaris Nina.


"Maaf Tuan,Direktur belum kembali mungkin karena rapat kali ini dengan klien dari Singapore Tuan, mungkin masih lama atau anda bisa kembali dan tinggalkan pesan," ucap Nina.


"Aku tidak mungkin mengatakan kalau Direktur sedang pergi dengan istrinya,karena ini perintah tuan Ken" batin Nina.


Raditya terdiam ia melihat ke arah ayahnya dan menghampirinya.


"Ayah apa kita sebaiknya pergi dan datang lain waktu,hari ini sepertinya tuan Anggara tidak akan kembali dengan cepat," ucap Raditya.


"Tapi kita tidak ada waktu lagi selain hari ini Nak," ucap ayah Raditya sendu.


"Putra Anggara ini sangat sulit di jumpai,apa bisa kita bertemu denganya Ayah,aku ragu," ucap Radit.


"Sebaiknya kita tunggu sebentar lagi, tidak ada salahnya kita menunggu sebentar,bila hasilnya memuaskan kita perusahaan kita akan baik-baik saja bila ada tuan Anggara di pihak kita," ucap Ayah Radit kembali.


Radit terdiam mendengarkan ucapan ayahnya,ia juga melihat kesekeliling ruang tunggu. Terdengar dering panggilan masuk di handpone Raditya, ia mengangkatnya.


"Apa kamu bisa menjemputku?" Tanya Amora di sebrang telepon Raditya.


"Aku tidak bisa,hari ini aku sedang ada meeting," jawab Raditya.


"Kenapa kamu selalu bicara begitu,aku juga mau seperti teman-temanku yang suaminya selalu ada bersama istrinya," teriak Amora.


Raditya menutup sambungan teleponya,ia terdiam dengan pikiranya sendiri.


"Dulu aku selalu berharap dia menelponku dan memintaku menemaninya sebagai suaminya,tapi saat ini aku selalu mendapatkan permintaan seperti itu tapi bukan dia," batin Raditya.


****


Prolog Rara


Di pusat perbelanjaan Rara sedang memasuki toko pakaian khusus bayi. Rara tersenyum bahagia melihat setiap pakaian bayi yang lucu.


Rendi mengikuti istrinya kemanapun istrinya melangkah.


"Sayang apa kita harus makan siang dulu?" Tanya Rendi.


"Jika sudah puas berbelanja, baru kita pikirkan akan makan apa kita sayang, itu baru yang namanya shoping," ucap Rara tersenyum.


Rendi tersenyum melihat tingkah istrinya yang seperti abg baru,di izinkan berbelanja itu.


Rendi memegang wajah istrinya mau menciumnya,tapi Rara menutupnya dengan kedua tangannya.


"Sayang biasakan lihat situasi dulu ya," bisik Rara.


Rendi tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ken yang melihat tingkah tuannya ia tersenyum tertahan. Rendi melihat Ken tersenyum dan memelototinya.


"Keberanianmu sudah meningkat ya, " ucap Rendi dingin.


Ken terdiam dengan senyum tertahan.


"Sayang ayo kita cari lagi?" Ajak Rara pada suaminya.


Rendi mengikuti istrinya yang masih sibuk membeli pakaian,juga keperluan anak-anaknya.


"Kamu tunggu di sini ya sayang aku akan cari toilet dulu," ucap Rara.


Rara berjalan saat ia menolek ia melihat Rendi dan Ken mengikutinya.


"Kenapa mengikuti?" Tanya Rara.


"Aku akan mengikutimu biar tidak ada terjadi apa-apa pada istriku," ucap Rendi tersenyum menggoda.


"Iiiih kamu ini,sudah ku bilang lihat situasi nanti saja di rumah aku tidak akan lama Sayang," ucap Rara.


"Panggil aku jika ada apa-apa," ucap Rendi.


Rara berjalan meninggalkan Rendi dengan Ken mereka sedang berbincang.


Rara masuk ke sebuah toilet umum di pusat perbelanjaan. Ia berjalan.


Bruuuk.


"Aaaah sakit," rengek seorang anak berusia empat tahun.


"Duuuh maaf ya Sayang, kamu tidak apa-apa?" Tanya Rara membangunkan anak kecil itu.


"Hhmm tidak apa Tante, tapi ini sakit," ucap Anak itu menunjukan bokongnya.


Rara tersenyum.


"Kamu lucu Sayang, apa kamu sendiri?" Tanya Rara.


"Mama sedang disana," ucap anak itu menunjukan ke arah pintu toilet.


"Ya ampun seceroboh itu membiarkan anak sekecil ini diam menunggu disini," gumam Rara.


"Kamu ini di suruh menunggu di depan pintu malah kelayaban disini," ucap seorang wanita pada anak kecil itu.


Rara mendongak melihat seseorang yang menghampiri mereka.


"kamu sedang apa kamu disini dan juga ini kamu mau culik anaku ya hah," teriak Amora pada Rara.


Rara terdiam juga terkejut dengan wanita yang ada di hadapanya yang tak lain adalah Amora.

__ADS_1


"Ooowh kamu ini wanita membosankan yang mas Raditya tinggalkan ya, masih hidup juga kamu ya,lagi setelah di tinggal mas Radit kamu sekarang mencoba menculik anak kami ya?" Teriak Amora membuat orang -orang yang berlalu lalang melihat mereka dengan berbisik-bisik.


Rara masih terdiam dengan tingkah Amora yang tidak masuk akal baginya.


"Sepertinya hidupmu sangat menyedihkan ya sampai mau menculik Anakku!" Teriak Amora kembali.


"Huh kenapa aku harus bertemu wanita kurang ya?" Ucap Rara tersenyum.


"Hei siapa yang kau bilang cewek kurang hah!" Teriak Amora.


"Iya kurang laki-laki jadi gak laku maunya suami orang,juga kurang belaian lelaki jadi ngarep di belai suami orang lain," ledek Rara.


"Ngerti apa kamu hah?" Teriak Amora melayangkan tangan kanannya yang tertahan oleh Ken.


Ken memasang tatapan membunuh saat memegang tangan Amora.


"Hei, apa yang kau lakukan hah, wanita ini penggoda, dia bahkan mencoba menculik putraku dan sekarang dia berniat menggoda suamiku!" Teriak Amora mencoba melepaskan tangan yang di pegang Ken keras.


"Siapa yang kau bilang penggoda hah, dia istriku !" Bentak Rendi menghampiri Rara.


"Sayang," ucap Rara.


Amora terkejut karena ada seorang pria yang memeluk Rara juga mengatakan bahwa ia istrinya.


"Hahaha, dia ini wanita membosankan, mana mungkin ada yang mau sama wanita membosankan, suamiku saja membuangnya," ucap Amora.


Rendi sangat geram ia melihat ke arah istrinya yang masih terdiam tanpa bergeming.


"Bukankah kamu wanita yang menjual dirinya pada setiap orang tua?" Ucap Rendi dingin.


"Siapa yang kamu bilang?" Teriak Amora terhenti.


"Apa aku perlu menghubungi setiap pelangganmu?" Tangkis Rendi.


"Kamu aku." Amora terkejut dan ketakutan.


"Aku juga punya bukti saat kamu menggoda ayah mertuamu sendiri," tegas Rendi dengan tatapan membunuh.


"Siapa kamu sebenarnya aku tahu kamu berbohong." Amora gugup.


"Kau tidak tahu siapa suamiku dia pengusaha terbesar di kota ini kalau kau berani memfitnahku dia akan membuatmu tidak bisa berdiri disini lagi," teriak Amora.


"Sepertinya Anda tidak tahu Nona detik ini juga Anda akan terjatuh karena mulut Anda sendiri," ucap Ken.


"Aku tidak perduli pada kalian terutama kamu Rara,wanita membosankan yang sangat menyebalkan,aku tidak tahu kenapa pria ini menikahimu pasti kamu jual diri ya," teriak Amora.


"Ken lakukan detik ini juga," teriak Rendi geram.


"Ayo Sayang kita tidak perlu memperdulikanya," ajak Rendi.


"Aku tidak peduli padanya dan aku juga tidak tahu datang dari mana musang betina ini sangat bau," ucap Rara.


Saat akan membayar Amora memberikan kartunya untuk membayar belanjaanya.


"Maaf Mba, ini sudahh tidak bisa di gunakan," ucap Kasir.


"Oh pakai ini saja," ucap Amora.


"Ini sudah tidak aktip Mba," ucap Kasir kembali.


Amora malu karena banyak orang yang menyaksikanya,ia memerah wajahnya.


Amora menelpon suaminya tapi tidak di angkat olehnya.


"Huh, kemana Raditya ini kenapa tidak mengangkatnya?" Ucap Amora kesal.


"Bagaimana Mba?" Tanya kasir tersebut.


Amora membiarkan belanjaanya dan berjalan gontai di ikuti oleh putranya.


"Huh,kalau tidak mampu bayar tidak usah sok bergaya belanja disini,buat orang kesal nunggu lama saja," ucap seorang pengunjung di belakang Amora saling membicarakanya.


Amora berjalan dengan wajah malu dan kesal.


Raditya kini sedang duduk di luar ruangan tulisan UGD. Ia tampak terpuruk dengan kejadian yang teramat mendadak yang harus ia hadapi.


"Kenapa bisa secepat ini, bukan kah masih ada waktu,kenapa belum seharian tapi sudah terjatuh bangkrut dengan sekali hentakan,siapa yang melakukan ini,aku harus berbuat apa?" Teriak Raditya prustasi.


Raditya masih menunggu,sampai seorang dokter keluar dari ruang UGD dan Raditya berdiri menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Ayah saya Dok?" Tanya Raditya sendu.


"Beliau sedang dalam masa kritis tekanan yang terjadi pada jantungnya tidak stabil kita hanya berharap masa kritisnya terlewati saja, kami sudah berusaha sebaik mungkin," ucap Dokter tersebut.


"Baik Dokter apa sudah bisa saya melihatnya?" Tanya Raditya.


"Tunggu pasien di pindahkan,silahkan anda menemuinya," jelas Dokter.


Raditya melihat ayah nya di pindahkan dengan tubuh di penuhi dengan alat bantu rumah sakit, dengan banyak kabel di tubuhnya.


"Ayah baru saja aku melihat ayah tenang dan juga sangat baik kenapa harus seperti ini Ayah,apa yang harus aku lakukan?" Ucap Raditya sedih.


Amora yang kesal dengan rasa malu, juga bersama putranya ia menuju rumah sakit yang ia ketahui dari orang rumahnya.


"Lelaki ini tidak mengangkat teleponku dan juga mengabaikanku," gumam Amora kesal.


Dengan berjalan cepat membawa putranya, Amora memasuki sebuah ruangan dengan menggebrak pintunya membuat Raditya terkejut dan bangun dari duduknya.


"Mas,kenapa kartu-kartu darimu tidak berguna hah,membuatku malu saja,sampai tidak bisa di gunakan hah?" Teriak Amora.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan bukanya mengucap salam, dan datang baik-baik malah bersikap seperti ini ," ucap Raditya.


"Hei lelaki bodoh, kau bahkan tidak tahu hah,semua ini sudah tidak berguna lagi," teriak Amora melempar kartu-kartu ke wajah Raditya.


"Aku aku sudah bangkrut," lirih Raditya.


Amora seperti tersambar petir,ia bahkan melemah tanpa tenaga tak berdaya, Amora melihat ke arah orang tua yang terbaring lemah di depanya.


"Kenapa,kenapa seperti ini,ini tidak bisa aku tidak mau hidup dengan lelaki miskin apalagi tidak berguna," ucap Amora ia berjalan pergi dengan gontai.


"Kau mau kemana?" Lirih Raditya.


"Kau sudah tidak berguna bagiku aku tidak mau hidup dengan pria miskin aku tidak mau," teriak Amora.


"Kamu bahkan tidak memahamiku," lirih Raditya.


"Kau urus putramu ini,aku tidak mau ada beban, " ucap Amora melihat ke arah anaknya dan mendorongnya.


Raditya terkejut dan sendu dengan ucapan dan kepergian Amora juga mendorong anaknya.


"Ayah, Ibu jangan tinggalkan Leo bu"teriak anak kecil itu menangisi ibunya yang pergi meninggalkanya.


Raditya yang mendapati istrinya meninggalkanya,ia melihat ke arah putranya, juga ayahnya yang terbaring lemah di kasur pasien. Raditya tidak menghampiri putranya,tapi anaknya yang menghampiri Raditya.


"Ayah Ibu? Ayah Ibu!" Seru Anaknya mengguncang tubuh Raditya.


Raditya terdiam,ia terdiam tak bergeming dengan pukullan keras pada keluarganya. Ia hanya bisa terdiam dengan prustasi,baru kemarin ia berencana dengan istrinya untuk pergi ke Jerman tapi kandas sudah.


"Tapi aku bahkan tidak sedih dengan kepergianya," gumam Raditya.


"Ayah, Ayah, " guncang putranya Raditya padanya.


"Nak,kau jadilah yang berkuasa dan kuat agar tidak akan ada kejadian kedua yang akan kau alami ini," ucap Raditya pada anaknya.


Seminggu kemudian tersebar berita meninggalnya tuan Budiman dari perusahaan XX, yang kini sudah bukan perusahaan ternama lagi.


****


Prolog..


Rendi yang sedang terduduk di kursi kerjanya,ia sedang membuka berkas dengan raut wajah sumringah. Karena ada janji istrinya,yang akan ia dapati dari istrinya malam ini hingga membuatnya tampak berseri.


Ken memasuki ruanganya dengan mengetuk dan berjalan masuk tanpa ada respon dari tuanya.


"Tuan, hari ini ada rapat tentang pengembangan pemasaran di area cabang,yang sedang berkembang Tuan, kita akan membahas tentang pembukaan dan penambahan pasaran Tuan," ucap Ken tanpa ada balasan dari tuannya.


Karena melihat tuannya yang sedang terdiam dengan wajah tersenyum, dengan tingkah seperti sedang bahagia denngan lamunanya.


Rendi yang sedang membayangkan istrinya yang mengatakan dan menantangnta tadi pagi.


"Aku akan pastikan kamu akan puas dengan kinerjaku nanti malam Sayang," goda Rara pada Rendi.


"Apa kau yakin?" Ucap Rendi.


"Tunggulah nanti malam aku akan memuaskanmu," ucap Rara menggoda.


Rendi yang mengingat itu,ia tersenyum lebar dengan lamunanya,hingga terdengar gubrakan mejanya yang membuyarkan lamunanya hingga membuatnya kesal.


"Kau sudah berani ya Ken?" Teriak Rendi kesal.


"Ada rapat hari ini Tuan," ucap Ken tidak merasa bersalah .


"Karena suasana hatiku sedang baik, sebaiknya kau percepat rapatnya aku akan kembali secepatnya hari ini," ucap Rendi tersenyum.


"Baik Tuan," ucap Ken.


Rendi masih asik dengan pikiranya sendiri dengan memasang wajah sumringah seperti orang baru jatuh cinta.


"Kenapa rapatnya di percepat,aku bahkan belum siap-siap," ucap salah satu karyawan.


"Aku bahkan belum menyiapkan salinan berkasku," ucap karyawan satunya lagi.


Seisi kantor seluruh karyawan di sibukan dengan pekerjaanya masing-masing,ada yang bolak balik karena sedang di percepat, karena rapat hanya tinggal beberapa menit lagi.


Saat Rendi dan Ken berjalan ke ruang rapatnya.


Rendi berjalan dengan memasang wajah tidak biasanya bagi seisi kantor.


Rendi yang biasanya memasang wajah dingin dengan ketegasanya.


Kini ia tersenyum sepanjang perjalanan hingga membuat para karyawan semakin gemetar ketakutan.


"Apa ini akan menjadi bencana bagi kita yang tidak mungkin secepat ini menyiapkan berkas," gumam salah seorang karyawan Rendi.


Di ruang rapat orang -orang yang melihat kedatangan.


Rendi berdiri dan memberi salam padanya,semua bahkan terkejut saat Rendi menyapa mereka dan tersenyum.


Dalam keadaan seperti ini ruang rapat tampak tegang,dengan berkas-berkas seadanya di karenakan rapat yang di percepat.


Jadi rapat kali ini sudah pasti akan membuat murka Direktur mereka. Hingga mereka sudah siap menerima konsekuensinya.


Hingga rapat selesai, Rendi tidak berbicara sama sekali,ia hanya mendengarkan dan tetap memasang wajah bahagianya.


"Baiklah aku akan terima semua prosedurnya,kalian sudah berusaha dengan baik rapat selesai,pastikan mereka mendapatkan bonus bulan ini Ken," ucap Rendi.


Rendi berdiri dan pergi meninggalkan ruang rapat dengan wajah yang masih bahagia,yang membuat para karyawan di ruang rapat terkejut,dengan reaksi Direktur mereka,hingga pada akhirnya mereka tersenyum lega dan bahagia.


"Sungguh berkah dari Tuan besar kita, Suasana hati Pak Direktur kita sedang sangat baik kali ini," ucap salah seorang karyawanya dan tersenyum

__ADS_1


__ADS_2