
Seminggu kemudian suasana di rumah Rendi Anggara di sibukan akan penyambutan Ken dan istrinya beserta putrinya yang sudah kembali. Putrinya kini sudah memiliki sebuah nama yang indah dari ayahnya sendiri Zein Zara. Sebuah nama yang memancarkan sebuah kepribadian yang lembut dan ceria.
Rendi kini sudah bisa tenang kembali karena perusahaan ayahnya sudah mulai stabil tapi belum ada yang menemukan seluk beluk siapa yang membuat perusahaan ayahnya menjadi kacau seperti saat ini.
Rendi mempercayakan segi keamanan hanya Adam seorang tanpa mengurangi kepercayaannya. Kini Ken juga bertugas mengatur semua karyawannya untuk konsisten dalam bekerja.
Hari ini Rara bersama anak-anaknya bermain di taman belakang yang luas halamannya bisa mereka pakai dengan banyaknya orang. Hingga bisa leluasa untuk bermain.
Rara duduk di kursi dengan secangkir teh di tangannya bersama Dilla yang menggendong bayinya. Dilla sedang memberinya susu dengan hijab jang menutupi kepala bayinya.
"Kau tahu Sayang, semalam anak gadisku menangis tanpa henti, aku sudah tidak kuat karena mengantuk, akhirnya Ken bangun dan menenangkan anaknya ini hanya dengan menceritakan sebuah naskah tentang sebuah perusahaan," ucap Dilla dengan bayi di pangkuannya.
"Haha Nauraku ini ternyata suka cerita ayahnya yah, sini tante ceritakan juga sebuah kisah tentang seorang gadis gila yang mengejar cinta seorang lelaki dan akhirnya di tolak dulu," goda Rara tersenyum melihat Dilla yang kini terlihat kesal padanya.
"Apaan sih kamu ini Ra, masih ingat saja hal itu," gerutu Dilla dengan wajahnya yang sedikit kesal.
"Hahaha, kamu ini mana mungkin aku melupakannya kitakan berteman karena hal itu, baru kamu perduli sama aku," ucap Rara tertawa.
Setelah bayi yang baru berusia satu minggu itu sudah Dilla beri asi nya. Rara mencoba untuk menggendongnya dengan wajah bahagianya bisa menggendong bayi lagi setelah anak-anaknya yang kini sudah besar sudah berusia dua tahun lebih. Mereka bahkan sudah aktip kesana kemari.
Rayn berlari menghampiri ibunya yang sedang menggendong bayi Naura. Ia mendekatinya dan menciummya dengan gemas pada baui yang di pangkuan Rara.
"Kamu suka Sayang? Kalau begitu kamu harus bisa menjaganya ya agar terap aman," ucap Rara tersenyum pada putranya Rayn yang kini mengusap tangan bayi.
__ADS_1
Di usianya yang masih kecilseharusnya Rayn sedang manja-manjanya pada ibunya. Tapi lain dari dugaan, dia malah semakin bermain sendiri dengan game dari Adam yang selalu mengawasi mereka dimanapun mereka berada. Karena Adam bertugas untuk menjaga keluarga Rendi dimanapun mereka berada.
Rendi duduk di ruang kerjanya pagi ini. Ia membiarkan Ken pergi lebih dulu ke perusahaan yang memang sudah lama Ken tinggalkan. Ia kini sedang membicarakan sesuatu bersama dengan Adam yang berada di hadapannya berdiri dengan hormat pada Rendi.
"Bagaimana jika kau lacak lokasi orang itu?" ucap Rendi.
"Baik Tuan, tapi Tuan? Saya harap tetap bersama anda apapun yang terjadi," jawab Adam tegas.
"Hmmm ... kau cukup jaga keluargaku, aku ingin semua berjalan dengan baik, mereka keluargaku," ucap Rendi.
"Baik Tuan," jawab Adam masih dengan banyaknya pertanyaan nya.
"Kau tetap jaga keluargaku aku akan pergi ke perusahaan," tegas Rendi.
Rendi berdiri dan berjalan di ikuti Adam yang masih belum paham dengan semua ucapan tuannya itu. Rendi berjalan keluar dari ruangannya dan melihat istri dengan anak-anaknya sedang bermain dan berada di taman belakang. Ia tersenyum danbmenghampiri mereka yang sedang membicarakan bayi kecil di tangan Rara.
"Sayang .... kamu masih belum berangkat juga?" tanua Rara dengan senyum di wajahnya gemas pada suaminya.
"Kalian jadikan aku ini sebagai obat nyamuk ya? Bermesraan di depan umum," cetus Dilla.
"Ini rumahku, kenapa aku harus minta ijin,? Kau juga bebas mau bermesraan dengan suamimu juga," jawab Rendi tersenyum menghadap istrinya tanpa menghiraukan Dilla yang kini terlihat cetus di hadapan Rara dan Rendi.
"Aku akan pergi ke kantor Sayang, kamu harus hati-hati di rumah ya," ucap Rendi mencium kening istrinya yang mengangguk dan tersenyum padanya.
__ADS_1
Rendi di hampiri oleh putrinya Amira dengan senyum di wajahnya dan memeluk ayahnya dengan senang.
"Putri papa ini yang paling cantik, ada apa? Kamu mau papa cium sampai habis hah," ucap Rendi gemas pada Amira yang tersenyum padanya.
Amira menciumi pipi ayahnya sama percis apa yang di lakukan oleh ayahnya. Mereka selalu melakukan hal itu tiap kali bertemu. Cara mengungkapkan sayang Amira pada ayahnya selalu seperti itu. Apalagi jika menginginkan sesuatu. Amira akan selalu mengikiti ayahnya kemanapun ia berada.
Rendi ersenyum bahagia ketika mendapati putrinya yang selalu manja padanya dan putranya yang selalu mandiri dan tegas dalam setiap hal. Rayn dan Amira seperti sepasangan yang di ciptakan untuk hadir dalam kehidupan Rendi dan Rara dengan sifat yang berbeda tapi saling melengkapi.
Rendi menurunkan Amira di pangkuannya dan berpamitan dengan istri dan juga anaknya. Bersamaan dengan itu Nesa datang menghampiri Rendi yang berdiri dengan Adam.
"Semua sudah siap Tuan, kita tinggal melakukannya dengan baik tuan," ucap Nesa.
Rendi mengangguk dan berjalan mendahului Nesa dan Adam yang kini mengikutinya dengan serous tanpa sebuaj percakapan yang biasa Adam dan Nesa lakukan. Mereka selalu profesional dalam waktu bekerja. Tapi akan ada waktunya mereka menghabiskan waktu berdua hanya untuk bertengkar dengan hangatnya ciuman bertubi-tubi dari Adam yang selalu tidak pernah melewatkan moment bersamanya. Setiap kali mengingatnya Nesa selalu tersenyum seperti orang gila tapi gila karena bisa merasakan jatuh cinta seperti yang pernah dia dengar dari orang lain.
Sedampainya di depan mobil yang sudah menunggunya. Rendi berbalik ke arah Adam yang berdiri di hadapinnya.
"Jika seasuatu terjadi kau harus pastikan hanya keluargaku yang kau utamakan untuk melindunginya," tegas Rendi.
Adam mengangguk dengan segala pertanyaan yang teramat banyak di benaknya.
Adam melihat Rendi yang memasuki mobil bersama Nesa di balik kemudi.
Kini mereka sudah pergi dalam kecepatan sedang keluar dari rumah besar Rendi Anggara.
__ADS_1
Adam masih berdiri dalam diamnya. Dengan banyaknya pertanyaan yang selalu ia tanyakan setiap ucapan tuannya.
"Apa maksud Tuan , agar aku jangan lengah menjaga keluarganya? Aku bahkan sudah memberi pengamanan ketat pada perusahaan dan rumah ini juga," gumam Adam dan berbalik memasuki rumah utama dan melakukan tugasnya selalu bearda di sekitar istri dan anak-anak Rendi seperti yang di tugaskan padanya. Adam mementingkan dan mengutamakan setiap ucapan dan perintah Rendi tanpa bertanya pada tuannya itu walau sebenarnya ia ingin menanyakannya.