
Prolog
Ken melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin mempercepat mobil yang ia kemudi agar cepat sampai di tempat tujuan. Agar tuan dan nona mudanya berhenti akan kekonyolannya. Dengan kecepatan berkendara Ken hanya setengah jam kendaraannya sudah terparkir di tempat parkir. Rendi dan Rara yang keluar dari mobilnya mereka berjalan dengan Ken di belakang mengawalinya.
Kini mereka sudah berada Di pusat perbelanjaan. Rara mengelilingi setiap toko tapi ia belum menemukan sesuatu yang ia sukai.
Ia mencari hadiah apa yang harus ia berikan untuk ibu mertuanya. Apalagi ia selalu mendengar bahwa bila hati ibu mertua baik pada kita itu akan menyelamatkan kehidupan kita selanjutnya.
Rendi dan Ken yang mengikuti Rara yang tiada henti itu. Mereka sama sekali belum menenteng satupun paperbage mereka masih dengan tangan kosong berjalan mengelilingi setiap toko. Mereka berdua mengerutkan dahinya.
Saat Rendi dan Ken melihat orang lain yang berbelanja. Pasangan pria selalu membawa paperbag belanjaan kekasihnya. Tapi Rara malah asik berkeliling saja tanpa membeli satupun yang ia beli.
Rendi memberanikan diri untuk berbicara pada istrinya. Untuk bertanya kenapa belum ada yang ia beli. Tapi Rendi mengurubgkan niatnya mengingat emosi istrinya yang tidak stabil.
Kini Rendi dan Ken hanya menemani Rara berkeliling. Sesekli Rendi mengajak Rara terduduk agar tidak membuat dia lelah.
"ApaNona mau makan sesuatu?" Tanya Ken.
"Hei, hanya aku yang boleh mengatakan itu," ucap Rendi tegas.
"Sayang kamu mau makan apa?" Tanya Rendi lembut.
Ken mengangguk tersenyum juga menggelengkan kepalanya dengan tingkah tuannya.
Rendi mendekati istrinya tersenyum dengan pertanyaan yang di ulang- ulang. Padahal Rendi tidak pernah mengulangi ucapannya pada siapapun. Ia paling tidak suka jika harus mengatakannya untuk yang kedua kalinya. Tapi terhadap istrinya Rendi bersungguh- sungguh mengatur emosinya jika berbicara pada istrinya apalagi sekarang dalam kondisi hamil.
Rara terdiam dengan menerka-nerka apa yang harus ia beli dan bawa untuk berkunjung ke rumah mertuanya.
"Apa yang Mamah suka kamu kan Anaknya?" Ucap Rara.
"Hmm semua Mamah miliki," jawab Rendi.
"Lalu kenapa kamu mengajaku berbelanja hah? Dan juga kalau Mamah mempunyai semuanya kenapa kamu jauh jauh mengajaku kesini?" Teriak Rara berdiri ia tampak kesal.
__ADS_1
Rara memang tidak memiliki gejala hamil apapun tapi perubahan sikap dan emosinya semakin meningkat. Mungkin karena bertambahnya hormon dari janin yang ia kandung saat ini.
Rendi yang terkejut akan teriakan Rara.
Ia berdiri menenangkan istrinya untuk duduk kembali ia takut Rara akan kelelahan bila berjalan kembali.
"Sayang kamu berbelanja yang lain saja dulu untukmu. Nanti biar ada insfirasi hadiah apa untuk mamah ya." Rendi bersikap tenang.
Rendi tak menghiraukan penglihat orang-orang yang berlalu lalang di pusat perbelanjaan. Yang memperhatikan mereka. Ia tetap fokus menenangkan istrinya.
Ken yang berdiri di dekat mereka berdua. Ia terkejut dengan perlakuan nona mudanya yang meneriaki tuannya. Ken sempat geram dengan Rara. Tapi ia memahami perubahan sifat bagi seorang ibu hamil. Apalagi saat melihat tuannya mencoba segala cara untuk membujuk nona muda.
"Ternyata Tuan tetap tenang terhadap Nona ... teriakan Nona percis seperti Tuan di saat berubah jadi singa yang marah," batin Ken.
"Duduk saja dulu ya, makan sesuatu nanti kita lanjutkan untuk mencari hadiah yang tepat untu Mamah yah," ucap Rendi lembut.
Ia mengisyaratkan Ken untuk membeli makanan untuk istrinya. Dan segera Rendi berjongkok untuk memijat kaki istrinya yang pasti lelah setelah berkeliling di pusat perbelanjaan lamanya.
"Aku tidak tahu harus beli apa? Apa kamu tahu apa yang ibu sukai dan sangat ia Sayangi?" Tanya Rara.
"Hmmm, Mamah tidak pernah suka apapun karena ia sudah memiliki semuanya tapi aku selalu melihat mamah jika melihat dia," ucap Rendi terhenti.
"Dia dia siapa?" Tanya Rara.
"Gadis kecilku Adiku yang sudah lama tiada," ucap Rendi termenung.
Rara terkejut mendengar ucapan suaminya yang terdengar menyedihkan. Ia mencoba menenangkan Rendi dan memegang wajah suaminya.
"Sayang benarkah? maaf aku membuatmu sedih," lirih Rara.
"Tidak apa..Ayo kamu makan sesuatu dulu biar kuat mecari hadiah lagi," ajak Rendi mengalihkan perasaan sedihnya mengingat adiknya kembali.
"Heh, ternyata dengan cara begini kamu jadi nurut ya Sayang kamu ini gadis nakal ya hanya dengan perkataan sedih saja langsung luluh hatinya,maaf ya membuatmu sedih istriku," batin Rendi tersenyum.
__ADS_1
Rara yang tahu perasaan suaminya. Ia menurut dengan apa yang suaminya pinta. Rara merasa sedih bila melihat kesedihan di raut wajah suaminya itu.
Ken yang sudah kembali membawa makanan untuk tuannya. Ia melihat tuannya yang dengan wajah sendu.
Ia sudah tahu apa yang membuatnya sendu begitu kalau bukan istrinya pasti adiknya yang telah tiada.
Rara menuruti suaminya dengan memakan makannan yang di beli Ken untuk mereka.
Rendi tersenyum saat melihat istrinya sudah mau memakan sesuatu saat tadi selalu berdebat hanya untuk menyuruhnya makan.
Setelah merasa kenyang. Rara Rendi juga Ken makan bersama.
Mereka melanjutkan berkeliling hingga Rara melihat sebuah boneka Doraemon yang terpajang di toko.
Seukuran dengan tubuh anak usia sepuluh tahun Rara membelinya dan memberikanya pada suaminya.
"Sayang ini apa?" Tanya Rendi.
"Ini hadiah," jawab Rara.
"Benarkah ini untuk mamah ? semoga Anda menyukainya Nyonya besar," gumam Rendi.
Ken tersenyum tertahan saat melihat nona mudanya juga tuan mudanya yang selalu berdebat tapi juga saling mengerti dan memahami. Ken yang melihat tingkah tuan dan nonanya menggelengkan kepalanya.
"Nyonya besar benar-benar special nona Rara tahu bahwa Nyonya besar tidak memiliki boneka seperti ini Tuan," ucap Ken.
"Benar juga perkataanmu mamah mana punya benda seperti ini," jawab Rendi.
Rara hanya membungkus boneka itu saja. Lalu ia mengajak pulang dengan beralasan lelah. Rendi mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Ken yang juga sama tidak mengerti dengan sifat gadis yang ada di hadapannya ini. Rara berjalan terdahulu meninggalkan Rendi dan Ken yang sedang kebingungan. Rara bahkan tidak membeli apapun setelah berkeliling hampir seharian di pusat perbelanjaan.
Kini mereka keluar dari pusat perbelanjaan bertiga dengan Ken membawa sebuah boneka besar di tangannya. Mereka bergegas kembali untuk ke Apartmentnya. Di tengah parkiran tiba-tiba Rara menyentuh perutnya dan mengaduh merasakan sakit di perutnya.
Ia meringis dan meminta untuk di bawa ke rumah sakit secepatnya.
__ADS_1
Rendi yang terkejut apalagi Ken mereka bergegas ke rumah sakit dan memeriksa ke adaan Rara yang mungkin kelelahan karena berkeliling sepanjang pusat perbelanjaan.