Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Hari yang panjang


__ADS_3

Sekitar pukul 08:30 Rendi terbangun dari tidurnya dan melihat istrinya sudah mandi dengan pakaian rapihnya.


Rendi tersenyum melihat istrinya menghampirinya dengan senyum manis di pagi hari. Rara duduk di pangkuan Rendi dengan wangi harum tubuhnya yang tercium oleh Rendi di balik wajah segar istrinya.


"Sayang, ayo bangun! Ini sudah siang kamu harus makan!" ajak Rara duduk di pangkuan suaminya yang malah menyusupkan kepalanya di dada istrinya.


"Aku tidak mau, aku maunya makan kamu saja," rengek Rendi tersenyum di dalam pelukan suaminya.


"Huh, sudah seperti ini aja kamu manjanya gak tertolong! Kemana aja kamu kemarin-kemarin? Aku rindu tahu manjamu ini!" cetus Rara mengusap rambut suaminya.


"Aku selalu merindukanmu, tapi aku tidak mau usaha Ken sia-sia, dia selalu berusaha mencari jati dirinya dan aku hanya tinggal mendukungnya," jelas Rendi melonggarkan pelukannya pada istrinya.


"Tapi tidak sampai kamu terluka juga Sayang, aku tidak sanggup melihatmu seperti itu," ucap Rara menekan wajah suaminya dan menempwelkan hidung mereka dengan senyum di wajah mereka yang bahagia karena rindu yang sempat menyiksa mereka kini sudah terbayar sudah saat ini.


"Kamu tahu Sayang? Ken jauh lebih gila dariku saat melihatku terluka seperti ini. Dia sangat panik, menelusuri lautan hanya untuk menemukanku dan merawatku sepanjang waktu," jelas Rendi tersenyum mengingat tingkah panik Ken yang takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi padanya.


"Aku bersyukur karena ada Ken yang menjagamu, kita turun Sayang! Anak-anak sudah di bawah dan juga kita harusnya makan bersama," ajak Rara memegang wajah suaminya dengan gemasnya dan mengecup bibir Rendi.


Rendi mengangguk dan tersenyum memandangi wajah istrinya yang berseri.


Ia mengecup bibir istrinya dan bangun dari atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Rara tersenyum melihat suaminya yang sesegera mungkin mandi dan saat ini. Ia sedang duduk di atas ranjang menunggu suaminya dan untuk turun ke bawah bersama suaminya.


Sekitar setengah jam, Rendi keluar dari kamar mandi. Dengan hanya mengenakan handuk di bawah pinggang bertelanjang dada. Ia melihat istrinya yang tersenyum tertegun juga melihat dirinya yang baru keluar dari kamar mandi.


Rara yang melihat tubuh sixpack suaminya. Terlihat sangat mengagumi tubuh sexsi suaminya yang terlihat indah dan menggiurkan bagi siapapun yang melihatnya.


Apalagi saat ini Rendi malah menghampiri Rara yang terlihat memerah wajahnya karena malu memperhatikan suaminya yang terlihat elok di pandang. Rendi bahkan semakin mendekati istrinya yang masih tertegun memandangi tubuh suaminya yang terlihat sexsi dengan bercakan tetesan air sisa di tubuhnya.


"Kenapa Sayang? Kamu mau memakanku juga aku siap untukmu, tubuh ini cuma milikmu," goda Rendi tersenyum mendekati istrinya yang membulatkan kedua matanya mendengar penuturan suaminya.


"Apa-apaan? Tidak ada! Yang ada aku yang di makan sama kamu, ayo cepat pakai bajunya aku sudah lapar nih!" ajak Rara mengalihkan pandangannya dari godaan suaminya yang bertubuh sesexsi itu di mata Rara dan juga terlihat sangat menggoda baginya. Rara memasang kembali perban untuk tubuh suaminya dengan perlahn dan lembut. Rendi yang mendapat perlakuan manis dari istrinya tampak bahagia dan tersenyum bahagia.


Rendi tersenyum, ketika melihat istrinya yang salah tingkah karenanya. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengenakan pakaian santainya dan menghampiri istrinya yang sedang membereskan meja rias yang sedikit berantakan.


Rendi memeluk istrinya dari arah belakang. Ia juga menyusupkan kepalanya di leher istrinya dengan penutup kepalanya. Rara tersenyum, mendapati suaminya yang manja seperti sebelumnya. Ia sangat rindu tingkah suaminya semanja ini. Rara memegang wajah suaminya dengan sebelah tangannya. Melihat ke arah cermin meja riasnya.


"Sayang, bagaimana dengan publik yang tahu jika aku adalah istri Mark?" tanya Rara mengecup pipi suaminya yang menggantung di bahunya.


"Itu urusan gampang, yang penting kamu tetap istri tercintaku," jawab Rendi mempererat pelukannya.


"Hmm ... baiklah, mari kita turun! Aku sudah laper nih," ajak Rara memutar tubuhnya dan memegang wajah suaminya dan mengecup bibir suaminya. Rendi mengangguk dan menggandeng tangan istrinya agar memegang lengannya.


Rara tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti itu. Tingkah manjanya hanya untuknya. Itulah kebahagiaan yang ia harapkan dalam diri suaminya jika sedang bersamanya. Mereka berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menghampiri Mark dan yang lainnya yang sedang duduk di ruang tamu. Begitupun Dilla yang sedang duduk di samping suaminya Ken menggendong putrinya.


Mark, Iyas dan yang lainnya melihat ke arah tangga dan melihat Rendi yang menggandeng istrinya dengan erat dan mesra. Bagaikan sepasang suami istri yang baru menikah mereka tampak bahagia dan mesra.

__ADS_1


"Mereka ini seperti pengantin baru saja! Yang pengantin baru asli malah seperti anjing dan kucing tuh buas," ledek Iyas terkekeh melihat ke arah Nesa dan Adam yang tidak tampak kemesraan apalagi bersapa satu sama lain saling memperhatikan seperti kebanyakan pengantin baru yang selalu bermanja dan bermesraan dimanapun mereka berada. Seperti adegan Rendi dan Rara saat ini. Mereka bercengkrama dan tersenyum hanya berdua saja. Bahkan setelah duduk di sofapun mereka masih sibuk dengan cengkraman mereka berdua tanpa memperdulikan yang lainnya.


"Ternyata dunia masih milik mereka berdua," gerutu Iyas memalingkan pandangannya melihat Rendi dan Rara yang kini sedang memakan roti dan juga Rendi yang meminum kopi yang sudah tersedia di mejanya.


Belum ada percakapan di antara mereka. Tapi saling bersitatap satu sama lain. Rendi masih dengan aktivitasnya bermanja dan menggoda istrinya yang juga tersenyum kecut padanya. Yang tidak melihat situasi saat ini.


"Apa kau sudah membereskan publiks?" tanya Rendi acuh dan meminum kopinya dengan tatapan tajam pada Mark yang masih dengan datarnya menanggapi Rendi.


"Kau tenang saja, publiks sudah tidak tahu tentang hal itu," jawab Mark.


"Lalu, apa kau yakin jika mereka tidak akan memperkeruh suasana?" cetus Rendi kembali masih dengn datarnya.


"Yaaa."


Mark memberikan berkas yang perlu Rendi ketahui, tentang semua sindikat Dirga yang ilegal dan sekarang tidak ada yang mengelolanya. Rendi melihatnya dan memberikannya pada Ken yang juga penasaran apa yang di berikan Mark pada Rendi tanpa berbicara padanya dahulu.


"Kali ini tidak perlu banyak bergerak dulu, kita fokuskan perusahaanku saja, bagaimana dengan perusahaanku?" tanya Rendi.


"Yaaa, aku dengar kau...."


Iyas berhenti berbicara ketika Rendi memancarkan tatapan membunuhnya pada Iyas yang hampir berbicara tentang kedudukan Rendi saat ini sebagai ketua mafia terbesar di seluruh bos mafia.


"Tidak perlu di tutupi, aku sudah tahu kok," ucap Rara menyimpan cangkir tenya dan menatap Rendi yang mengerutkan dahinya.


"Kamu tahu Sayang? Darimana?" tanya Rendi mengedarkan pandangannya pada mereka yang juga sama sekali tidak tahu darimana Rara mengetahui identitasnya.


"Sayang, aku tidak menutupinya hanya aku tidak mau membuatmu khawatir," jelas Rwndi ragu mengatakannya pada Rara yang kini menatap tajam pada Rendi yang terdiam.


"Kamu pikir dengan begitu semua akan baik-baik saja? Seperti sebulan ini yang kamu lakukan?" ucap Rara meninggikan suaranya.


Semua yang mendengar nada suara Rara tertegun. Selama ini tidak ada yang berani meneriaki Rendi walau ibunya sekalipun.


Rendi tampak lembut menceritakan alasannya kenapa dia tidak memberitahukan jati dirinya pada istrinya. Rara tampak biasa saja bahkan lebih acuh dari Rendi yang sedang berbicara padanya.


Bagi Rendi hanya istrinya ini yang sangat sulit untuk di bujuk. Rendi mengisyaratkan yang lainnya untuk pergi dari tempatnya sekarang juga dengan tatapan tegasnya.


Setelah mendapatkan isyarat dari Rendi. Mark, Iyas dan Ken berdiri. Begitupun dengan Dilla ikut pamit untuk ke kamarnya bersamaan dengan Mark dan Iyas yang pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang berbicara secara serius.


Lain dengan yang lainnya. Adam masih berdiri di samping Nesa yang masih setia menunggu perintah dari tuannya Rendi.


"Apa kita sebaiknya juga ikut pergi Sayang?" bisik Adam tersenyum menggoda mengingat istrinya yang marah padanya berulang kali. Setiap Nesa bangun tidur di seluruh tubuhnya pasti terdapat banyak tanDCa merah di sekujur tubuhnya. Itu membuat Nesa tampak acuh pada suaminya setelah pernikahannya selama hampir tiga hari ini. Nesa mendelik pada suaminya dan berjalan meninggalkan Adam yang tersenyum melihat tingkah istrinya yang acuh tapi sangat manis jika saat di dalam kamar berduaan.


Adam berjalan mengikuti Nesa yang kini masih merapatkan bibirnya tanpa menjawab setiap ucapan suaminya. Hingga pada akhirnya Adam mulai kesal karena di acuhkan oleh istrinya dari tadi pagi. Kini Adam menarik lengan istrinya dan memasuki kamar mereka berdua. Saat pintu di tutup, Adam menekan tubuh istrinya dan mencium bibir istrinya dengan ganasnya. Begitupun Nesa yang masih terdiam tidak menanggapi ciuman suaminya yang terbilang kasar tapi memabukan bagi Nesa yang baru pertama kali mendapatkan ciuman dan sensasi baru dalam kehidupannya yang selama ini hampa dan datar-datar saja. Hanya mengabdi dan setia di kehidupan selanjutnyapun akan tetap seperti itu. Mengabdi dan setia pada keluarga Anggara.


Adam menekan kepala istrinya dan tanpa melepas tautannya pada bibir istrinya. Adam bahkan menaikan tangan istrinya di atas kepalanya dan memperdalam ciumannya yang kini berubah menjadi sebuah ciuman yang lembut dengan sambutan hangat dari istrinya. Adam bahkan membuka kancing baju istrinya dengan lihainya sebelah tangannya bisa membuka kemeja formal Nesa dan juga tangan Nesa membuka kaus hitam yang di kenakan Adam dan menaik turunkan tangannya dari dada bidang Adam dengan hasrat panas yang semakin membara di dada masing-masing.

__ADS_1


Tanpa melepas tautan bibirnya. Adam membuka semua helaian benang yang menutupi tubuhnya dan juga pakaian yang istrinya kenakan kini berantakan di lantai. Tapi tidak mengurangi kehangatan mereka berdua dan tetap pada posisi masih mencium istrinya dengan bibir yang sudah mulai merasa lelah.


Setekmah di rasa cukup untuk menarik hasrat istrinya. Adam mengedarkan pandangannya pada wajah cantik istrinya dan tersenyum. Mengecup setiap inci wajah istrinya dan Nesa hanya menutup kedua matanya menerima terjangan suaminya yang untuk pertama kalinya mereka lakukan. Hingga selama tiga hari ini mereka melakukannya tanpa merasa lelah. Justru terasa berolahraga di pagi hari bagi tubhb Adam dan Nesa yang terbilang idealis tubuhnya.


Mereka melakukan berbagai macam gaya dalam bercintanya. Di pagi hari yang terbilang senggang seperti saat ini mereka lakukan dengan hati saling suka dan cinta. Apalagi saat ini mereka sama2 sudah menikah juga. Dengan hati leluasa mereka melakukannya sesering mungkin dan kapanpun itu.


Adam menggendong tubuh ideal Nesa yang tinggi dan juga bagaikan model luar negri yang tinggi dan elok dengan fostur tubuh yang sangat menggiurkan bagi pria yang melihatnya. Adam menikmati setiap moment bercinta mereka berdua dengan usaha yang kuat karena Nesa memang terbilang seorang wanita yang kuatbdengan bela diri yang cukup. Begitupula dengan Adam yang memiliki tubuh yang sixpack bagi siapapun yang melihatnya akan terpesona ketika melihat seluruh tubuh Adam dalam keadaan telanjang seperti saat ini. Mereka melakuakn berulang kali aktivitas suami istri mereka di pagi hari. Meski akan banyak tugas yang harus mereka kerjakan, ketika tuannya sudah kembali seperti saat ini.


Adam terkulai lemah ketika sampai di penghujung aktivitasnya. Kini mereka berdua terkulai lemas di atas ranjang mereka. Tapi lain dengan Adam. Ia menggendong tubuh istrinya yang kelelahan menghadapi suaminya yang perkasa. Adam membawa tubuh istrinya dan juga dirinya dengan tanpa penutup sama sekali. Mereka mandi di bawah sower air dengan mesra dan saling bercumbu. Adam menggosok tubuh istrinya begitupun Nesa menggosok punggung suaminya. Mereka saling menatap dan tersenyum saling pandang.


"Kita tidak boleh berlama-lama, karena tuan pasti akan banyak perintah darinya," ucap Adam masih menggosok punggung istrinya dengan lembut dan sesekali Adam mencium punggung istrinya yang lembut karena sabun yang ia kenakan, apalagi tercium wangi di tubuh istrinya yang kini juga tersenyum dan menggosok tubuh Adam.


"Ayo jangan di tunda, takutnya tuan sedang mencari kita!" ajak Nesa mempercepat aktivitas mandi mereka yang nampak hangat. Sesekali Adam mencium punggung istrinya dengan nafsu yang masih membara. Tapi ia urungkan karena akan ada banyak waktu jika hanya ingin sekedar bercinta. Tapi tuannya Rendi. Tidak butuh waktu lama dalam pekerjaannya.


Di ruang tamu, Rendi masih mencoba membujuk istrinya yang masih diam merajuk padanya karena menutupi jati dirinya yang kala adalah seorang mafia. Apalagi saat ini Rendi berperan sebagai ketua bagi para mafia di setiap wilayah termasuk Singapore.


"Sayang, bagaimana sebagai ungkapan permintaan maafku kita diner! Mau?" bujuk Rendi kepada Rara yang masih berdiam dalam duduknya. Padahal di dalam hati Rara sangat ingin mencubit wajah suaminya yang membujuknya dari tadi dengan tingkah manja dan lucunya dari tadi.


"Ayo kita Diner? Kamu mau makan malam dimana Sayang?" bujuk Rendi masih belum bisa membuat Rara menatapnya dengan lembut seperti tadi di dalam kamar. Ia sadar, jika hal wajar jika istrinya marah karena dirinya yang terlalu egois menutupi jati dirinya oada istrinya sendiri. Rendi menggenggam erat tangan istrinya dan menyenderkan kepalanya di bahu istrinya dengan segala rayuannya pada istrinya yang sangat kuat untuk berdiam diri.


Setelah sekitar satu jam. Rayn berlari menghampiri ayah dan ibunya dengan tatapan tidak suka melihat ayahnya bersender pada ibunya dengan manja. Rayn naik ke pangkuan ibunya dan memeluknya dengan tatapan tidak sukanya pada ayahnya yang kini mereka saling menatap tajam satu sama pain. Rara tertawa terbahak, ketika melihat tingkah keduanya yang terlihat lucu. Saling tidak ingin di rebut miliknya. Rendi tersenyum senang ketika melihat dan mendengar tawa istrinya yang manis dan cantik. Ia kini berterimakasih pada Rayn yang sudah bisa membuat ibunya tertawa dan berbicara lagi.


"Kalian ini memang ayah dan anak yang menggemaskan, mari kita makan malam di pantai lagi Sayang!" ucap Rara tersenyum dan mencium pipi Rayn yang terlihat menatap Rendi dengan penuh kemenangan. Mendapatkan ciuman dan perhatian dari ibunya hanya dia seorang.


Rendi menatap tajam pada putranya yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Mendapatkan perhatian dari istrinya yang seharusnya menjadi ciumannya.


"Sayang, aku juga mau di cium, disini dan disini," rengek Rendi menunjukan pipinya kepada Rara yang mengerutkan dahinya heran akan tingkah suaminya yang tidak mau mengalah pada putranya sendiri.


Rara mengangguk dan tersenyum pada suaminya. Saat Rara mau mencium pipi suaminya. Tiba-tiba Rayn yang mencium pipi ayahnya kiri kanan dan kembali duduk di pangkuan ibunya seperti semula seperti tidak terjadi apa-apa.


Rendi mengerutkan dahinya dengan kesalnya Rendi mencoba menggendong Rayn yang nakal menjahilinya.


"Kau mulai berani ya sama papamu ini!" ucap Rendi menggelitiki Rayn di pangkuan ibunya dan tertawa bersama dengan tawa Rayn yang terdengar sangat jarang tertawa. Rara tersenyum hangat melihat Rayn dan ayahnya bercanda dan saling menggelitiki satu sama lain. Rayn yang selalu berbuat usil pada ayahnya dan juga Amira yang selalu bermanja pada Rendi selalu tidak pernah luput dari perhatian kmeduanya. Rara tersenyum melihat kehangatan keluarganya. Kini bahagia sudah rasa cinta dan keutuhan keluarga Rara yang ia impikan selama ini. Melihat mereka tertawa dan bercanda bersama. Membuat Rara srmakin merasa bahagia di dunia ini.


Rara menggendong Amira yang melihat kedua ayah dan kakaknya yang sedang bercanda. Kini Amira melihat ke arah ibunya dan mencium pipi Rara dengan gemas mengikuti kelakuan kakaknya yang tadi di lakukan pada ayahnya. Rara tersenyum bahagia melihat putrinya cepat tanggap dan cerdas.


"Cium pipi itu khusus untuk mama dan papa juga kakak ya, orang lain tidak boleh!" tegas Rara tersenyum gemas pada putrinya yang mengangguk dan memahami ucapan ibunya.


Rara dan Rendi tertawa dan bercanda bersama seperti keluarga yang tanpa beban kehidupan dunia nyatanya.


Dilla dan Ken tersenyum melihat tingkah mereka yang terlihat harmonis bagi siapapun yang melihatnya. Dilla menatap Ken yang dengan pandangan datarnya melihat tingkah tuannya yang seperti anak kecil baginya. Ia melihat ke arah keluarga yang bahagia itu dengan bayi di pangkuannya.


"Ken, apa kita perlu kembali ke Indonesia?" tanya Dilla memberanikan berbicara dan bertanya seperti itu. Mengingat kini mereka sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan Dilla sudah berbicara pada Ken. Bahwa dia tidak mau jika harus tinggal di rumah Mark dan juga satu atap dengan Rara dan Rendi juga. Dilla melihat Ken yang tidak langsung menjawabnya. Tapi Ken sekali melirik wajah istrinya yang sendu.


"Kau tenang saja, besok setelah acara makan malam yang akan di selenggarakan tuan, kita akan pindah dan punya tempat tinggal lagi, lagipula disini kamu tidak di beri makan, kamu sangat kurus," ucap Ken berbicara seperti itu pada istrinya dengan wajah datarnya. Membuat Dilla merasa hangat dapat melihat wajah dingin suaminya untuk kali ini lagi. Dilla mengangguk dan tidak protes seperti biasanya yang ia lakukan pada suaminya setiap kali berbicara.

__ADS_1


Ken mengerutkan dahinya mendapati istrinya tidak terdengar protes atau menambah pembicaraannya. Ken tampak asing melihat istrinya kini lebih banyak diam di bandingkan berbicara panjang lebar seperti biasanya.


__ADS_2