Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Membayar Mahal


__ADS_3

Prolog Ken dan Dilla


Setelah berpamitan dengan Rara. Dilla menaiki mobil dengan Ken di balik kemudinya.


Dilla tampak tegang duduk di samping Ken yang berdiam diri tanpa berbicara padanya.


Suasana dingin terasa di dalam mobil bukan karena AC yang tinggi melainkan pemilik mobil yang berdiam diri dengan dinginnya tanpa suara.


Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tidak ada perbincangan di antara mereka Dilla yang sudah tidak tahan ia berbicara.


"Aku sudah membayarmu jadi kamu jangan menagih lagi," kata Dilla sedikit berteriak.


"Itu belum sampai setengahnya," jawab Ken intens.


"Hah ... apa maksudmu bukankah kamu bilang asal aku mau jalan denganmu aku sudah membayarmu?" Tanya Dilla tak percaya.


"Kamu pikir aku di gajih berapa oleh kantor sejam lima belas juta setiap waktuku tentu berharga. Kamu hitunglah sendiri waktu yang aku habiskan dan kamu hanya membayarnya dua jam kau pikir kamu selebritas yang waktunya amat berharga lalu sisanya kapan kau akan mebayarnya?" Tanya Ken.


"Ini keterlaluan namanya," teriak Dilla.


Dilla menghitung gajih Ken dengan melipat saat jarinya dengancepat menghitungnya yang malah membuatnya prustasi.


Ken yang melihatnya tersenyum licik dengan tingkah Dilla seperti anak kecil.


"Aku bahkan jadi pelayanmu seharian penuh, jadi seharusnya kamu juga membayarnya seharian penuh padaku di tambah lagi kamu tidak berbicara padaku di saat di bioskop tadi. Itu tidak termasuk dalam pembayaran," ucap ken tersenyum licik.


"Aku mana ada uang sebesar itu hanya untuk membayar pelayananmu?" Teriak Dilla.


"Kalau kamu ingin melunasinya sekaligus temani aku seharian penuh dan sekarang kamu tidak perlu kembali ke Cafe bersamaku ke Apartementku," ucap Ken masih dengan senyum liciknya.


"Aku tidak mau," teriak Dilla.


"Belum lagi aku harus memmbayar makanan dan minuman yang tadi kamu minta dan juga aku mendapat tugas tambahan dari bosku gara-gara dirimu," tambah Ken.


"Hah kenapa seperti itu?" Tanya Dilla heran.


Dilla berbicara tanpa henti protes akan tuntutan Ken yang tidak masuk akal bagi Dilla.


Ia bahkan menghitung semua uang yang harus ia bayar jika tidak melunasinya.


Dilla harus selalu menemaninya setiap malam untuk berjalan-jalan.


Dilla tidk hentinya menggerutu di


Saat Ken mefokuskan kendaraannya.


Ken yang sudah tidak tahan akan ocehan Dilla.

__ADS_1


Ia tiba-tiba menghentikan mobilnya mendadak membuat Dilla maju ke depan mobil.


Saat Dilla mendapati dirinya yang terkejut Ken memegang bahunya dan mencium bibir Dilla lama.


Ia menciumnya dengan intens Dilla yang mendapat serangan mendadak. Ia membulatkan matanya seperti mau keluar ia memberontak mencoba mendorong Ken tapi tenaga tangan Ken menahanya kuat Dilla tidak bisa mencegahnya.


Ken masih menciumnya mendalami ciumannya seperti ingin menghabiskan bibirnya Dilla.


Sampai ada rasa asin di bibir Ken.


Ia melihat air mata Dilla menetes dan Ken menghentikan aksinya.


Ken tidak menyangka seorang wanita yang ia cium akan sampai menangis seperti itu.


Dilla menutup wajahnya dengan kedua tanganya menangis.


Ken lain dari Rendi yang tidak pernah menyentuh wanita sebelum bertemu Rara.


Ken sudah pernah mempunyai kekasih tapi ia di tinggalkkan karena kekasihnya menggoda Rendi dengan segala fitnahan yang di lontarkan pada tuannya.


Ken lebih mempercayai tuannya di bandingkan kekasihnya.


Maka dari itu Ken di tinggalkan oleh kekasihnya dan tetap menjadi sahabat Rendi.


Sejak saat itu Ken tidak pernah mau mengenal wanita lagi.


Ken sangat tertarik dan suka dengan hanya memandang Rara dan Dilla.


Sangat jarang jika Ken menyukai seseorang apalagi seorang wanita.


Baginya Tuan Rendi adalah segalanya tidak ada yang lebih penting dan menarik selain tuannya.


Kini Ken sudah mencoba untuk terbuka di saat ia meminum kopi di sebuah Cafe dimana terdapat Rara dan Dilla.


Ia sangat suka dan tertarik.


Saat pertama ia minum kopi di cafe Rara.


Ken suka melihat Rara yang ramah dan lebih suka pada kelakuan Dilla yang sangat penyayang pada sahabatnya itu.


Terkadang selalu menghibur sahabatnya yang sedang bercerita padanya.


Sejak saat itu Ken selalu datang pagi siang dan malam bukan hanya untuk minum kopi.


Tapi untuk memperhatikan mereka berdua.


Ken memperhatikan Rara untuk tuannya karena baginya apapun yang berhubungan dengan tuannya itu penting,sekalian ia juga ingin mengenal Dilla.


"Kamu...." Ucapan Ken tertahan saat melihat Dilla yang menangis tanpa melihatnya.

__ADS_1


Ken melanjutkan mengendarai mobilnya perlahan.


Ia berharap Dilla akan berbicara padanya.


Ken menduga-duga bahwa Dilla tidak menyukainya bahkan membencinya.


Semakin Ken memperlambat kendaraannya semakin tidak tahan Ken terhadap Dilla yang sedang menangis di hadapannya.


Ken kesal dengan dirinya sendiri ia menancap pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menghilangkan perasaan gundahnya.


Dilla yang merasa kendaraannya semakin kencang,ia mempererat pegangannya dan melihat ke arah Ken yang menatap ke depan kemudi.


Ken bahkan tidak meliriknya.


Setelah mempercepat kendaraannya akhirnya kendaraan Ken sampai di depan Cafe store dimana tempat Dilla tinggal.


Ken tidak berbicara sama sekali.Ia takut akan terulang lagi kesalahan yang barusan ia lakukan yang membuat Dilla menangis karenanya.


Dilla dengan perasaan berdebar di dadanya ia mencoba menarik nafas dan menoleh ke arah Ken yang masih dengan pandangannya ke depan.


Dilla sempat ingin berbicara tapi ia urungkan karena Ken yang sama sekali tidak melirik ke arahnya setelah apa yang ia lakukan.


Dilla membuka sabuk pengamannya yang mendadak susah untuk di buka. Sementara Dilla mencoba membukanya yang tidak berhasil sebuah tangan memegang sabuk pengamannya dan membukanya perlahan.


Dilla mendongakan pandangannya pada wajah Ken yang tepat di hadapannya.


Dilla secepatnya keluar dari mobilnya dan berlari tanpa menoleh pada Ken ia masuk kedalam Cafe.


"Sial, kenapa aku lepas kendali," ucap Ken.


Ken mengacak-ngacak rambutnya


Ken menyentuh bibirnya ia memasang senyum di bibirnya,tampak bahagia dengan apa yang ia dapatkan mencium bibir Dilla yang cerewet.


Dilla yang tidak pernah berhenti bertanya dan selalu ada aja yang ia tanyakan,apalagi saat dia dan Rendi datang ke kampungnya.


Dilla banyak sekali pertanyaanya saat itu sampai membuat Ken bergumam ingin menciumnya untuk menutup cerewetñya itu.


Ken lama berdiam di dalam mobil tidak langsung pergi.Dlantai atas Dilla membuka jendelanya dan melihat bahwa mobil Ken masih terparkir di sana.


"Apa yang sedang dia lakukan,apa dia menyesal,uuh aku sangat senang sekali sampai menangis," ucap Dilla.


Dilla mengepalkan kedua tanganya kemulutnya menyentuh bibirnya.


Saat di Rumah orang tua Rara


Dilla melihat Rendi mencium Rara di belakang Rumah di malam senja.


Dilla berlari pergi ia bahkan berlari sampai menabrak Ken dan Dilla melihat bibir Ken dengan intens. Ia membayangkan kalau Ken menciumnya pikiran nakal Dilla sangat liar.

__ADS_1


__ADS_2