Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Ungkapan


__ADS_3

Sekitar pukul 3 pagi. Ken sudah terbangun bahkan sudah siap dengan pakaian formalnya. Dilla mengerutkan dahinya melihat suaminya yang sudah terlihat rapih. Padahal hari masih gelap. Dilla bangun dan turun dari ranjangnya. Ia berjalan menghampiri suaminya yang berdiri di depan cermin.


"Kamu mau kemana? Jam segini sudah setampan ini?" tanya Dilla memeluk suaminya dari arah belakangnya.


"Aku mau kencan," jawab Ken dengan wajah datarnya.


"Memang ada yang mau berkencan denganmu?" goda Dilla tersenyum dan mempererat pelukannya.


"Aku selalu kencan dengannya setiap saat dalam acara," jawab Ken masih dengan wajah datarnya.


"Kau selalu pergi dengannya? Kencan ke acara apa?" tanya Dilla mulai meninggikan suaranya.


"Iya ...."


"Kau ... kau keterlaluan ! Denganku saja kau tidak pernah mengajukku datang ke sebuah acara, sekarang kau bahkan mau pergi dengannya?" protes Dilla dengan wajah kesalnya melepas pelukannya.


"Memang kenapa?" tanya Ken masih dengan wajah datarnya berbalik dan melihat istrinya yang sedang kesal.


"Kau terlalu percaya diri Ken. Aku bahkan tidak pernah kau bawa kemanapun tapi orang lain kau selalu mengajaknya setiap kali berkencan," gerutu Dilla duduk di tepian ranjangnya dengan wajah di tekuk.


"Bukan aku yang mengajaknya, yang ada aku yang di ajak dia," jelas Ken duduk di samping istrinya masih dengan wajah datarnya dan merapihkan dasi yang kini sudah terpasang.


"Aku tidak mau tahu Ken. Kau tidak boleh pergi," ucap Dilla mematangkan tekadnya untuk berani pada suaminya.


"Kenapa?" tanya Ken.


"Kau ...! Kau masih tidak mengerti juga Ken?" tegas Dilla sedikit meninggikan nadanya.


"Apa?" tanya Ken menatap istrinya yang mulai meneteskan air matanya.


Ken mengerutkan dahinya dan mendekati duduk di samping istrinya.


"Sebenarnya kau kenapa Dilla? Aku hanya pergi ke acara Lelang, kenapa melarangku?" tanya Ken menatap lekat wajah istrinya yang kesal.


"Kau bahkan membawa wanita lain dan berani selingkuh dariku !" tangis Dilla mulai terisak.


"Apanya yang selingkuh? Kau pikir ada yang lebih penting dari tuanku hah?" tanya Ken mengerutkan dahinya.


Dilla tertegun. Ia menatap lekat suaminya yang masih dengan pandangan datarnya. Ia mengerutkan dahinya dan mengusap air matanya yang hampir menetes dengan kedua tangannya.


"Hah ? Kau pergi dengan Rendi?" tanya Dilla menatap suaminya dengan pandangan polosnya.


"Kau pikir siapa? Aku tidak tertarik pada wanita, jika itu bukan tuanku," jawab Ken dengan wajah tanpa bersalahnya.


"Jadi kau tidak selingkuh? Kau pergi dengan bos dinginmu itu? Hahaha," tanya Dilla tersenyum.


"Sepertinya kau memang gila," ucap Ken acuh.


"Hei Ken ! Kau bilang istrimu ini gila hah?" bentak Dilla tersenyum tipis mengingat kekonyolannya pada suaminya dan mengira selingkuh.


"Aku tidak ingat bahwa aku tidak ada artinya baginya selain tuan Rendinya itu, hehe," batin Dilla terkekeh.


"Baiklah sana pergi jika itu si dingin Rendi, tapi jika itu wanita akan aku bunuh kau secepatnya," ucap Dilla tersenyum.


"Kau saja aku sudah sakit pinggangku apalagi harus cari wanita lain," ucap Ken masih dengan wajah datarnya.


Wajah dan ucapan suaminya yang seperti ini malah membuat Dilla bahahia menjadi istri Ken.


Ia tidak perlu takut akan sebuah perselingkuhan jika suaminya ini tetap seperti ini. Datar, dingin dan acuh. Dilla hanya akan menjadi satu-satunya wanutanya dan ibu dari anak-anaknya.


"Ken?" tanya Dilla merangkul lengan suaminya.


"Hmmm," jawab Ken datar.


"Aku ingin ucapan cinta darimu," ucap Dilla manja.

__ADS_1


"Ini belum waktunya sarapan pagi," jawab Ken.


"Tapi sebentar lagi pagi Ken," rengek Dilla.


"Nanti saja," jawab Ken.


"Kau kan mau pergi ke acara dan pasti tidak akan sempat jika menunggu nanti, jatah sarapan sekarang saja ya," rengek Dilla tersenyum miring pada suaminya.


Ken menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang mulai manja seperti ini di setiap pagi hari setelah janjinya saat Dilla melahirkan. Akan selalu ada ucapan cinta dari suaminya yang rutin pagi, siang dan malam.


Mengingat hari ini akan ada acara yang menguras waktu. Ken tersenyum tipis dan memegang wajah istrinya dengan senyumnya yang nampak sangat tipis bahkan terlihat datar.


Dilla sudah tahu sifat suaminya yang seperti ini. Baginya senyum tipis suaminya sangat berharga dan itu membuatnya bahagia memiliki Ken.


" I love you," tegas Ken tersenyum lebar dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Hingga membuat Dilla membulatkan kedua matanya menerima ciuman lembut suaminya.


Hatinya sangat ingin terbang melayang ketika mendapati ciuman suaminya untuk kali ini tanpa ia memaksanya.


Ken melepas ciumannya. Ia tersenyum menatap istrinya masih dengan tangan memegang wajah istrinya.


"Jadi istriku satu-satunya dan jadikan anak kita baik hati dan sekuat dirimu," ucap Ken mengecup bibir istrinya kembali dan mengakhirinya dengan tatapan datarnya dan merapihkan pakaiannya.


Ia berdiri dan berpamitan pada istrinya untuk pergi keluar. Dia akan ke kamar Rendi dan membangunkannya. Karena sekitar pukul 4 pagi. Mereka akan segera berangkat untuk mengikuti acara lelang.


Dilla tersenyum melihat suaminya berjalan ke arah pintu kamarnya, ia berjalan mengejar suaminya sedikit berlari dan memeluk Ken dari arah belakang dengan pelukan erat pada suaminya.


Ken terkejut mendapati pelukan dari istrinya. Ia tersenyum bahagia ketika istrinya yang konyol ini bermanja padanya.


"Ken ... aku akan menjadi ibu dari anak-anakmu dan menjadikannya yang terbaik di dunia ini," ucap Dilla memeluk erat suaminya.


"Tidak perlu menjadi yang terbaik di dunia, cukup jadi terbaik bagi dirinya sendiri dan jadi kebanggaan kita sebagai kedua orang tuanya," ucap Ken berbalik dan memeluk istrinya juga mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Aku harus cepat membangunkan tuan, jika tidak. Nanti kita akan terlambat. Ada sesuatu di dalam lelang itu yang sangat penting bagi tuan," ucap Ken berpamitan pada istrinya untuk yang kedua kalinya.


Ia bahagia mendapati suami seperti Ken yang dingin, datar dan acuh.


Ken keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati anak tangga dan naik menuju kamar tuannya yang kini masih ada dua pelayan yang masih terjaga di depan pintu kamarnya.


Saat ia mencoba untuk mengetuk pintu kamar .


"Tuan Ken," ucap Nesa.


Seseorang yang memanggil Ken dan kini tangannya menggantung sebelum mengetuk pintu di depannya. Ia berbalik dan melihat seseorang yang memanggilnya.


"Kenapa?" tanya Ken datar.


"Tuan sudah bangun, kini sedang bersiap. Sebaiknya Anda menunggu di bawah saja," ucap Nesa.


Ken menatap datar Nesa yang mengatakan dia harus menunggunya untuk di bawah dan tidak membiarkannya untuk menunggu tuannya di depan kamarnya saja tanpa membangunkannya.


Ken mengangguk dan memilih untuk berjalan dan menuruni tangga menunggu di ruang tamu bersama Mark dan Iyas yang kini juga sudah ada di ruang tamu duduk bersandar di sofanya.


Iyas dan Mark melihat ke arah Ken yang menghampiri mereka.


"Bagaimana, apa dia sudah siap?" tanya Mark.


"Tuan sedang bersiap, kita tunggu saja," jawab Ken acuh dan duduk di ruang tamu bersama dengan Mark dan Iyas.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya aktivitas mereka meminum kopi dengan santainya.


Saat mereka menunggu sekitar 30 menit.


Ken melihat ke atas tangga dan melihat Rendi sudah rapih dengan pakaian formalnya dan berjalan menuruni tangga menghampiri mereka yang duduk di ruang tamu.


Ken berdiri dan menyapa tuannya. Begitupun dengan Mark dan Iyas menyapa Rendi yang kini ikut duduk di sofa.

__ADS_1


Rendi meminum secangkir kopi yang sudah tersedia di meja tempat ia duduk dan meminumnya perlahan. Ia menyimpan kembali cangkir kopinya dan melihat ke arah teman-temannya yang menunggunya untuk berbicara.


Rendi melihat ke arah Adam yang berdiri di kejauhan tanpa ekspresi. Ia tersenyum tipis dan mengedarkan pandangannya pada teman-temannya lagi.


"Kita berangkat !" ajak Rendi mengawali dan mengakhiri mereka yang penasaran akan hal yang akan di ucapkan Rendi. Tapi mereka malah terkejut mendengar ucapan Rendi yang di luar perkiraan mereka.


Rendi berdiri dan berjalan mendahului mereka yang masih terkejut mendengar ucapan Rendi yang kini sudah berjalan lebih dulu dan di ikuti Ken di belakang Rendi.


Mark masih ingin bertanya tentang apa selanjutnya dan rencana apa yang akan Rendi ambil. Tapi sepertinya untuk saat ini Rendi memang sedang memikirkan caranya sendiri dan tidak membiarkan siapapun tahu.


Mark hanya akan mendukungnya dan tetap di samping Rendi jika itu sudah keputusan Rendi.


Sekitar pukul 03:30 langit masih gelap. Rendi kini berdiri di depan rumahnya dan sudah ada dua mobil yang siap untuk berangkat ke bandara untuk mengikuti acara lelang di kota C yang tempatnya di sebuah pulau terpencil yang jaraknya hanya bisa di tempuh oleh sebuah pesawat atau kapal laut.


Rendi berbalik dan melihat ke arah Mark dan Iyas yang kini sudah berdiri di hadapannya bersamaan Adam di belakang mereka juga Nesa yang kini ada di samping Adam juga.


"Kau tinggal disini dan jaga perusahaan ayah dan perusahaanku, ingat ! Jika darurat lakukan rencana B dan jangan lengah dalam hal apapun," tegas Rendi berbicara pada Mark dan juga Iyas yang kini mereka mengangguk mematuhinya.


Rendi berbalik dan mencoba untuk memasuki mobilnya.


"Rend ?" tanya Mark sedikit teriak meski ia sedikit ragu.


Rendi berhenti dan berbalik ke arah Mark yang memanggilnya. Ia menatap Mark dengan tatapan pertanyaannya.


"Apa kau yakin tidak perlu aku dan Iyas ikut denganmu?" tanya Mark sedikit ragu dalam pertanyaannya.


"Aku percaya kalian bisa aku andalkan, jadi patuhilah," jawab Rendi tersenyum tipis dan berbalik memasuki mobilnya. Tanpa melihat ekspresi Mark dan Iyas yang sudah mulai paham maksud Rendi yang sesungguhnya.


"Ternyata dia sudah tahu seseorang yang membuatnya seyakin itu, baiklah Rend, aku akan lakuakan sesuai perintahmu," batin Mark kini sudah yakin setelah mendapatkan jawaban dari diamnya Rendi.


Mark melihat kendaraan yang di tumpangi Rendi kini sudah keluar dari kediaman Rendi Anggara. Mark mulai mengerti maksud Rendi jika ia sudah tersenyum tipis. Itu menandakan untuk kali ini bekerja dengan serius dan tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun itu.


Mark masih terdiam memikirkan Rendi yang kini lebih banyak diam dan bertindak sendiri. Ia sempat berpikir khawatir. Tapi setelah melihat Rendi yang begitu tenang dengan senyum tipis yang kini ia perlihatkan. Mark kini mengerti bahwa bahaya kali ini sangat serius dan harus hati-hati menghadapinya.


Ken terdiam dan fokus di balik kemudinya. Ia tidak berani untuk bertanya pada tuannya melihat Rendi kini menutup kedua matanya dan menyenderkan kepalanya ke belakang kursi penumpangnya.


Ia lebih memilih untuk fokus pada jalanan untuk mempercepat kendaraannya.


Ken masih penasaran apa saja yang akan di lakukan Rendi kali ini. Tapi ia urungkan, mengingat Rendi tidak pernah mau berbicara jika dari awal ia diam.


NTR : Maaf ya kak, karena dari kemarin masih ada kendala dalam aplikasi. Saya baru bisa up.


Ada karya Author sebelah nih kak, yang mudah-mudahan kakak-kakak suka ya dan mampir.


Nama : M.Y


Judul : Beyond The Imagination



Di dunia yang penuh dengan kekuatan ini, seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullahkesenjangan sosial di seluruh manusia.


Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.


Diskriminasi, penindasan, perbudakan hingga peperangan. Memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.


"Kau kuat maka kau jaya,kau lemah maka kau binasa."


Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi kemampuan yang terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia yang busuk ini.


Teleportasi? Telekinesis?Telepati? Menciptakan nuklirApapun itu bisa ia lakuakn.


Dengan motto,"jangan lakukan apapun. Apabila harus,lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasilmerubah dunia dan berhasil menjadi penguasa tertinggi?


Namanya Aray Kenzie, da adalah seorang pemalas.

__ADS_1


__ADS_2