
Prolog
Setelah menghadiri acara pernikahan di kampungnya. Keluarga Permana sudah terlebih dahulu kembali ke kediaman Permana.
Tinggal Rendi dan Rara sedang berjalan tertinggal jauh dengan keluarganya.
Di dalam perjalanan mereka berdua tidak ada pembicaraan yang mereka bicarakan hanya saling berdiam dengan perasaan masing-masing.
Selang setelah berpikir lama Rendi menyerahkan kertas pernyataan perceraian yang di ajukan istrinya Nia kepada Rendi.
Rara melihat apa yang Rendi tunjukan padanya,Rara bahkan mengambilnya dan melihat isi kertas tersebut.
Rara terdiam dan mengerutkan dahinya.
"Kamu belum tanda tangan?" Tanya Rara.
Rendi tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda jawaban dari pertanyaan Rara
"Kenapa ... apa kamu tidak mau bercerai?" Tanya Rara kembali.
Rendi tersenyum setiap pertanyaan penasaran Rara padanya.
"Aku akan menandatanganinya bila kamu setuju menikah denganku," ucap Rendi tersenyum.
Rara terdiam dan heran apa yang Rendi katakan.
Pernyataan lamaran yang Rendi ajukan padanya teramat sangat aneh bagi Rara.
"Kalau aku menolak?" Tanya Rara.
Rendi hanya diam tidak segera menjawab pertanyaan Rara.
Ia hanya berjalan sambil tersenyum.
"Rendi aku tidak akan menolak kalau kamu sudah resmi bercerai," lirih Rara
"Aku tanda tangan ini," ucap Rendi.
Rendi segera menandatangani kertas itu dengan cepat dan membuat Rara tetawa dengan tingkah Rendi yang konyol.
Setelah kesepakatan antara Rara dan Rendi mereka berjalan kembali untuk pulang.
Sesampainya di Rumah Rara.
Rendi pergi menemui Ayahnya Rara.
Rendi berjalan dan menghampiri ayahnnya Rara.
Ia mencoba untuk berbicarakannya tentang maksud dan tujuannya sekaligus berbincang dengan Ayahnya Rara.
"Pak," ucap Rendi pada Ayah Rara
__ADS_1
"Iya,Nak," jawab Ayah Rara.
"Kalau saya ingin melamar putri Bapak apakah boleh?" Tanya Rendi.
Ayah Rara tampak terkejut dengan ucapan Rendi yang terus terang.
"Nak ... apa kamu yakin pernikahan bukan hanya sekedar suka apalagi ingin memiliki tapi juga suatu hal yang sakral yang harus kamu jaga hingga maut memisahkan Nak ," ucap ayah Rara.
"Saya akan menjaga dan menyayangi Rara hingga maut memisahkan kita Pak," ucap Rendi kembali.
"Apa kamu yakin dengan maksud dari ucapanmu Nak?" Tanya ayah Rara.
"Saya yakin dengan segala keyakinan saya, Pak," jawab Rendi meyakinkan Ayah Rara.
Begitulah lamanya perbincangan Rendi dan Ayah Rara sampai larut malam dan Rendi kembali ke villa nya.
Setelah perbincangannya dengan Rendi.
Ayah Rara membicarakannya dengan istrinya di dalam kamar.
Juga menceritakan apa yang sudah ia bicarakan dengan Rendi.
Tampak ibu Rara termenung dengan apa yang ia dengarkan dari suaminya.
"Bagaimana Bu ... menurutmu?" Tanya Ayah Rara.
"Jika memang semua untuk kebaikan putri kita,kita sebagai orang tua hanya bisa merestui mereka Pak ," jawab ibu Rara.
"Apa Ibu masih punya pertanyaan di dalam benak Ibu?" Tanya Ayah Rara.
"Kalau begitu,Ibu pastikan saja pada putri kita sendiri," ucap Ayah Rara.
******
Setelah pembicaraannya dengan suaminya semalaman. Pagi ini Ibu Rara keluar dari kamarnya dan menghampiri Rara dengan maksud bertanya dan mau menyampaikan sesuatu.
"Sayang ... bangunlah penghulu sudah datang," ucap ibu mengagetkan Rara.
"Apa Bu, penghulu? Untuk apa dan kenapa siapa yang akan menikah bu?" Tanya Rara.
"Tentu saja kamu, masa aku atau Naya,diakan masih kecil aku juga," jawab Dilla yang datang dari pintu.
"Maksudnya apa sih ini,Bu ? " Tanya Rara.
"Jangan bilang Ibu menjodohkan Rara lagi nih,Rara gak mau Bu, Rara sudah janji sama seseorang dan juga kan idah Rara masih tinggal beberapa minggu lagi," ucap Rara cemberut.
"Kamu akan suka dengan mempelai prianya Nak, juga kata Bapak penghulu kalau akad di lakukan untuk menghindari hal-hal yang buruk terjadi, walau masa idah belum selesai. Menikah bisa terlaksana asalkan mempelai wanita jangan di sentuh dulu sebelum masa idahnya selesai,Nak," ucap ibu.
Rara terdiam dalam pikirannya yang tidak menentu.
"Ada apa ini bukankah Ayah sudah janji tidak akan menjodohkanku lagi,lalu ini apa?" Teriak batin Rara.
__ADS_1
"Benarkah apa itu sah? Aku takut Bu, takut akan apa yang sudah-sudah terjadi." Rara bersedih.
"Apa kamu yakin tidak mau menikah denganku?" Tanya orang yang baru datang dengan setelan jas hitam pernikahan.
Rendi berdiri di depan pintu terbuka dengan pakaian rapih wajah tersenyumnya.
"Kamu kenapa berani sekali masuk ke kamar wanita sana pergi," teriak Rara.
"Bagaimana aku tidak terobos masuk pengantin wanitanya baru bangun, bahkan sepertinya ia tidak mau menikah.Lebih baik aku cari wanita di desa ini aja lah," goda Rendi pergi lagi baru sampai pintu.
"Kalau kamu berani akan aku beri kamu kopi hitam berisi racun," teriak Rara.
Rendi malah berlalu tersenyum dan meninggalkan kamar Rara yang sedang marah. Ia tersenyum puas akan tingkah Rara.
Di dalam mesjid kini semua Keluarga permana sudah berkumpul.
Rendi dengan Ken penghulu juga beserta saksi melangsungkan pernikahanya dan hanya sekali rapalan Rendi sudah sah menjadi suami Rara.
Keluarga Rara tersenyum bahagia termasuk warga setempat dengan bersorak ria meramaikan pernikahan Rara dengan Rendi.
"Apa ini, padahal ini pernikahan yang kedua kalinya tapi saat ini jantungku terasa mau copot saat melihat wajah tampan Rendi ketika dia mengijab kobul atas namaku rasanya aku ingin teriak bahagia," batin Rara.
Setelah berdo'a dengan di kerumunan warga setempat.
Bapak penghulu berbicara kembali.
"Sebaiknya secepatnya buatkan surat nikahnya dan ingat apa yang sudah saya katakan sebelumnya," ucap bapak penghulu kepada Rendi dan Mertuanya.
Setelah acara pernikahan selesai, kini hanya tinggal Rara seorang diri.
Ia termenung dengan pikirannya sendiri.Rara duduk di tepi ranjang,ia merenung tentang apa yang terjadi hari ini.
"Kenapa setiap hal selalu mendadak kenapa tidak seperti kehidupan orang lain yang semua berencana," gumam Rara.
"Bukankah kamu bilang semua adalah kehendak-NYa kenapa sekarang kamu mempertanyakan semua yang Tuhan atur untuk kita?" Ucap Rendi masuk dan duduk dekat Rara.
Rara terkejut saat Rendi masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Pikiran Rara menduga-duga mengingat kelakuan Rendi yang selalu tidak bisa ia tebak.
"Ingat kamu jangan sentuh aku," ancam Rara.
"Hahahaha." Rendi tertawa.
"Seperti ini?" Rendi mencolek tangan Rara.
Rendi menggoda istrinya dengan nakalnya,ia mencoba menyentuh tangan Rara yang di tepis oleh Rara.
Ia juga mencoba menarik-narik pakaian Rara yang belum berganti.
Sesekali Rendi mencubit pipi Rara yang mengembung marah.
__ADS_1
Lain dengan Rara seperti anak kecil yang tidak mau bermain.
Rendi mencoba untuk tetap tenang tapi ia tidak bisa terkendali saat melihat bibir cemberut Rara yang kini menjadi istrinya.