
Di pagi hari semua keluarga di rumah besar Anggara kini sedang berada di luar rumah.
Keluarga utama menghabiskan waktu pagi dengan berbincang sambil minum teh di taman
Rara yang di sana asik berbicara dengan ibu mertuanya.
Rendi yang sedang main catur dengan Ayahnya di meja samping di temani Ken dan juga ada Pak Jun di waktu mereka ada seorang pelayan mengantar camilan ke meja mereka.
"Hmmn, aku ingin rujak mangga yang masih muda Mah," ucap Rara.
"Kenapa kau tidak minta padaku," sambar Rendi.
"Iya Sayang sama saja aku mau rujak rasanya tapi mau buatan aku sendiri," ucap Rara tersenyum membuat semua terkejut melihatnya.
"Ada banyak Koki disini sayang kenapa harus kamu yang membuatnya," ucap Rendi.
Rendi mengerutkan dahinya mendengar perkataan istrinya.
"Pokonya aku mau membuatnya," ucap Rara keras kepala.
Rendi dan keluarga mengerutkan dahinya begitu pula ibu Ratih tidak percaya akan apa yang Rara bicarakan.
"Baiklah, tapi kamu sarapan dulu ya Sayang," ucap Rendi kembali
Rara mengangguk, untuk memakan makanan yang lain memang harus dengan perut sudah di isi baru makan rujak.
Kini Rara sedang makan dengan lahap ia tidak mau di suapi oleh suaminya.
Tapi Rara sendiri menyuapi suaminya yang sedang bermain catur Rendi tidak menolak apapun yang di lakukan istrinya.
Semua orang yang berada di sana tidak percaya, tapi bahagia melihat adegan Rara yang menyuapi suaminya. Juga permintaanya yang menurut mereka tidak masuk akal hanya mengikuti keinginan Rara.
"Hmmm, aku sudah kenyang sayang ini minumnya," ucap Rara memberikan gelas minum bekasnya pada suaminya Rendi meminumnya ia bahkan tidak membantah apapun itu.
"Tuan muda benar-benar menghilangkan keras kepalanya dan hanya nona muda yang bisa melakukanya kalian sangat manis," batin Ken
Tidak lama ada dua orang pelayan yang membawa mangga muda yang sudah di petik dan di cuci, juga ada Doni yang membawa mangga tersebut.
__ADS_1
"Silahkan Nona muda buah mangganya segar-segar," ucap Doni.
Rara tampak senang melihat banyaknya mangga juga bumbunya siap .
"Kau kupas mangganya ya, aku akan membuat sambalnya," ucap Rara.
Doni mengangguk dengan senyum tipisnya mendengar perintah nona barunya.
Rendi yang melihat Doni tersenyum ia berbicara.
"Sudah ku bilang jangan terlalu lama melihat istriku!" Bentak Rendi.
Semua terkejut tidak dengan tuan dan nyonya anggara Ken dan Pak Jun mereka sudah tau itu tapi Doni tidak tau itu.
"Maaf Tuan," ucap Doni.
"Tidak usah hiraukan dia, cepat kau kupas dengan benar lalu kau cuci kemballi bila sudah di kupas ya," ucap Rara.
"Sayang?" Ucap Rendi manja.
"Hmmm." Rara sedang membuat bumbu rujaknya.
Rara tak menghiraukanya.
"Kau bukan anak kecil, sana main lagi sama Papa atau kau mau ini," ucap Rara memberikan ulekan yang ada sambal menempel Rendi menjauh menggelengkan kepalanya.
Semua yang melihat itu semua menahan senyumnya, termasuk ibu Ratih yang seperti ini yang dulu ia harapkan dari putranya manja. Merengek pada ibunya tapi Rendi tidak melakukanya ia sangat mandiri hingga hilang sudah sikap hangat seorang anak kepada ibunya.
Rara tersenyum sudah melihat sambal yang ia buat sudah jadi.
Rara bahkan selalu membuatnya di kampung halamanya dia yang pasti paling bersemangat, membuat sambalnya bila ada acara membuat rujak di rumah besarnya.
Rara tersenyum bila mengingat itu semua betapa bangganya ia saat keluarganya sangat puas dengan buatanya.
"Ayo Sayang, ini enak hmmmm aku suka," ucap Rara memakan rujak mangga tersebut.
"Kemarilah kalian dan ini makan!" Ajak Rara pada pelayan yang membawa bahan tadi tapi tidak ada yang mau mendekatinya.
__ADS_1
Rendi yang hanya melihat menggelengkan kepalanya ia tetap main catur dengan Ayahnya.
Ibu nya mencoba rujak buatan istrinya dan tampak menyukainya.
"Ini segar Sayang enak," ucap ibu Ratih.
Rara mengajak Ken juga Pak Jun memisah di buatnya pakai piring masing-masing.
Hanya Doni yang berani memakanya yang lain malah ketakutan .
"Kau jangan khawatir dengan gajih ataupun pekerjaanmu jika kau memakanya ok," ucap Rara pada Doni ia hanya mengangguk tapi menikmaati rujaknya.
Rendi yang mendengar tidak berani bicara lagi tiba-tiba Rara memasukan buah pada mulut suaminya dan Rendi mengunyahnya.
"Ini pedas Sayang!" Seru Rendi.
Tetapi ia membuka kembali mulutnya agar istrinya memberinya kembali
Orang tua Rendi tersenyum melihat kelakuan putranya itu begitupula Ken .
Rendi menghabiskan semua rujak mangga yang istrinya suapi untuknya.
Walau sebenarnya dia kurang suka dengan rasa pedas. Tapi ia tidak suka jika makanan buatan istrinya di makan oleh orang lain selain dia.
Rendi tersenyum saat istrinya menyuapinya dengan lembut juga memberinya minum agar ia tidak kepedasan.
Sesekali ia menusuk-tusuk pipi istrinya yang berisi.
Ada kebahagiaan tersendiri baginya bila melakukannya pada istrinya yang sedang memanjakannya.
Rendi bahkan tidak menghiraukan banyaknya orang-orang melihatnya yang bermanja pada istrinya. Ia asik dengan menikmati suapaan demi suapan dari istri tercintanya.
Saat sudah menjelang siang Rara melihat ke arah suaminya yang masih belum bersiap untuk pergi ke kantornya.
"Sayang,apa kamu sedang berlibur?" Tanya Rara.
"Hmm," jawab Rendi.
__ADS_1
Rendi masih fokus untuk main caturnya bersama ayahnya yang sangat jarang berada di rumah apalagi untuk berbincang dengannya.