
Prolog
Setelah kesepakatan yang Rendi dan Rara bicarakan. Juga dengan hati yang baru terbuka.Mereka menjadi sepasang kekasih untuk saat ini walau hanya sebulan saja.
Rendi melanjutkan mengendarai mobilnya kembali mengantar Rara ke rumahnya untuk mengambil pakaiannya.
Ia akan mengambil pakaianya di rumah Raditya.
Mobil Rendi kini terhenti di depan rumah Raditya. Rara memasuki rumahnya dan masuk meninggalkan Rendi yang menunggunya di dalam mobil.
Rara bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya disaat ia mendekati pedal pintu, ia mendengar rintihan desahan seseorang di dalam kamar.
Rara memberhentikan tangannya yang sudah berada di pedal pintu.
Ia sudah menduga siapa yang ada di dalam dan baiknya itu, Rara sama sekali tidak merasa kecewa menyaksikan itu semua.
Ia sudah ikhlas dan merelakan semuanya Rara turun kembali dan ia bertemu bi ira.
"Nona, Anda kembali?" Tanya Ira lirih.
"Iya Bi, tadinya saya mau mengambil pakaian dan koper saya tapi sepertinya tidak perlu lagi," ucap Rara.
"Non, koper Nona sudah ada di kamar bawah dari beberapa hari yang lalu bibi menyimpanya disana.Karena waktu itu non Amora menyuruh saya membuangnya jadi saya simpan saja di sana siapa tahu Nona kembali lagi," ucap bi Ira.
"Hmm ... terimakasih ya Bi, saya minta maaf bila selama ini selalu merepotkan bibi," ucap Rara.
"Tidak Nona, non Rara tidak pernah merepotkn bibi justru bibi yang selalu tidak enak hati semenjak disini non sangat baik pada bibi ," ucap Ira lirih.
"Baiklah, saya permisi ya Bi,saya harus pergi ke suatu tempat lagi," ucap Rara.
Rara beramitan dengan pembantunya ia bergegas pergi dari rumah yang penuh kepedihan bagi Rara.
Rara keluar dari rumah itu dengan hati bahagia,entah apa yang membuat hatinya setenang itu.
Tapi tersirat dari raut wajahnya tidak ada beban lagi yang ia tanggung sekarang.
Ia hanya tinggal menjelaskan seadanya ke keluarganya nanti.
Sesampainya di depan gerbang Rendi yang melihat Rara sudah membawa kopernya dan embali.
Ia membukakan pedal pintu mobil untuk Rara
Rara masuk ke dalam mobil Rendi.
"Sudah semua ... sekarang kemana?" Tanya Rendi.
Rara mengangguk dan tersenyum ke arah Rendi yang melihatnya.
Rendi takut Rara merasa sedih tapi tidak berani bertanya.
"Cafe," jawab Rara singkat.
"Kan hari ini sedang libur kenapa kesana?" Tanya Rendi kembali.
__ADS_1
"Rendi, aku sekarang ini tidak punya tempat tinggal dan satu-satunya tempat yang aku punya hanya Cafe jadi ya harus kesana," ucap Rara.
"Kamu tinggalah di apartementku," jawab Rendi tegas.
"Tidak!" Tangkis Rara.
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Ya ampun Tuan Rendi Anggara,tidak tahukah Anda bahwa seorang wanita yang belum sah menjadi istrimu dia tidak boleh tinggal denganmu sekalipun anda kekasihku," jawab Rara.
Rara berbicara sampai memajukan bibirnya
Yang membuat Rendi tersenyum lebar dengan tingkah dan perkataan Rara Rendi mengangguk dan mencubit pipi Rara gemas.
"Hei,kamu ini semakin berani ya singa badai tadi menciumku sekarang mencubit pipiku," ucap Rara kesal.
Rendi dan Rara terkejut dengan apa yang terdengar dari ucapan Rara.Sepertinya ada yang salah dengan yang Rara ucapkan mereka berdua langsung hening tanpa suara
Setelah mendengar kata cium.
Rara mengingatnya yang bagaimana Rendi menciumnya tadi.
Itu untuk ciuman pertamanya dan pipi Rara memerah semu.
Begitu juga Rendi.
Ua sampai menggigit kukunya mengingit apa yang dia lakukan tadi,ciuman yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dan untuk pertama kalinya ia mencium seorang wanita dengan sangat intens dan bahkan tidak mau usai.
"Bibirnya manis," gumam Rendi sambil tersenyum.
"Tidak ada ayo aku antar," ucap Rendi.
Rendi melajukan mobilnya kembali di sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tanpa saling bertanya.
Sesekali Rendi melirik Rara yang juga sedang melamun.
"Bagusnya, sekarang dia jadi kekasihku," batin Rendi tersenyum
Rendi senyum senyum sendiri sambil melajaukan mobilnya hati yang senang di samping Rara.
Rara melihat tingkah Rendi dengan mengerutkan dahinya,ia bahkan sempat memikirkan ciuman tadi saat melirik ke arah bibirnya Rendi.
"Astagfirullooh ... kenapa aku ini sampai seperti ini," gumam Rara.
"Kenapa?" Tanya Rendi.
"Tidak ada, hanya merasa tidak terjadi apa-apa saja padahal aku ini baru saja di khianati sampai di ceraikan juga," jelas Rara.
Sesampainya di Cafe Rara mengajak masuk pada Rendi.
Rara danRendi masuk ke dalam Cafe. Di sana sepi memang di karenakan sedang libur Karena Rara sakit kemarin.
Di dalam Cafe disana sudah ada dua orang yang sedang berbincang yang sesekali bercanda.
__ADS_1
"Dilla dan Ken?" Gumam Rara.
Rara melangkahkan kakinya dan menghampiri mereka.
"Kalian sedang apa aku mengucap salam saja tidak mendengar," teriak Rara.
Tampak wajah senang bahagia saat Dilla melihat kedatangan Rara.Ia tersenyum dan menghampirinya.
"Rara sayang kamu tidak apa-apakan katanya sakit,terus gimana sekarang katanya kamu sudah cerai ya sama suami Sialanmu itu. Lalu kamu sekarang tinggal dimana?" Pertanyaan Dilla yang justru membuat Rara dan Ken menggelengkan kepala.
"Aku akan kedalam menyimpan koperku kalian lanjutkan saja," ucap Rara.
Rara tidak menjawab pertanyaan Dilla ia langsung pergi dan berbicara pada Rendi.
"Duduklah, nanti ku buatkan kopi," ucap Rara.
Rendi hanya mengangguk dan tersenyum melihat Rara yang sudah naik tangga menuju kamarnya.
Rendi melihatkan Ken yang sedang duduk dan Ken yang melihat tuannya ia menghampiri Rendi.
"Tuan anda kemari?" Tanya Ken.
Ken duduk di samping Rendi yang tidak memalingkan pandangannya dari atas tangga.
Rendi berharap Rara cepat kembali dari kamarnya.
"Hmmm," jawab Rendi.
Ken yang mendapat jawaban dari tuannya,ia hanya terdiam dan meminum kopinya.
Rendi termenung dalam pikirannya.
Memikirkan segala cara agar bisa mendapatkan Rara seutuhnya.
Rendi berpikir untuk memperistrinya.
"Apa aku harus melakukannya sekarang ya,hehehe sepertinya aku sudah gila karena gadis ini," batin Rendi.
Saat memikirkan segalanya Rendi tersenyum tertahan.
Ia tidak menyadari bahwa Ken memperhatikannya dari tadi yang belum memahami apa yang terjadi pada tuannya.
"Ada apa dengan Tuan ini kenapa dia tersenyum ,apa perlu aku tanyakan keadaannya tapi nanti aku sendiri yang kena marah nya," batin Ken.
Rendi masih asik dengan pikirannya sendiri begitu juga Ken yang memperhatikan tuannya dengan seksama.
Rendi melihat ke arah tangga dimana Rara sudah berganti pakaian dan menghampiri Rendi.
"Bidadari kah yang di depan mataku ini?" Batin Rendi tersenyum.
"Apa kamu mau di buatkan kopi apa jus?" Tanya Rara menghampirinya.
"Apa saja," jawab Rendi datar
__ADS_1
Yang sebenarnya Rendi mencoba untuk lebih terlihat cool di depan Rara.