Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Huneymoon


__ADS_3

Acara pernikahan Dilla dan Ken kini sudah selesai. Rendi yang sedang terduduk di ranjang dengan menggendong Amira di pangkuanya.


Rendi bersandar di ujung kasur.Ia terlihat kelelahan dengan malas ia memejamkan matanya dan terlelap. Amira yang ada di pangkuanyapun ikut tertidur.


Rara masuk ke kamarnya ia melihat suaminya yang tertidur dengan putrinya.


"Sepertinya kamu kelelahan sayang," gumam Rara.


Rara membaringkan Rayn di ranjang bayi juga Amira yang ada di pangkuan suaminya. Ia pindahkan ke ranjang bayi.


Rara terduduk di pangkuan suaminya hingga membuat Rendi terbangun.


"Ada apa Sayang?" Tanya Rendi.


"Tidak ada aku hanya merindukanm," ucap Rara.


"Kamu sedang menggodaku?" Ucap Rendi.


"Iy," jawab Rara tersenyum.


"Jangan nyesel ya," ucap Rendi tersenyum.


Padahal tadi Rendi tampak kelelahan, tapi karena istrinya Rendi tidak terlihat lelah. Ia malah semakin bersemangat,Rendi mengecup bibir istrinya dengan dalam.


Ia mengakhirinya dengan aktivitasnya yang sering ia lakukana bersama.


Setelah selesai mereka berpelukan dengan di selimuti selimut di tubuhnya.


"Ken yang menikah kita yang malam pertama ya Sayang," ucap Rara.


"Kenapa,kamu iri pada Ken?" Tanya Rendi.


"Tidak aku hanya bahagia saja untuk mereka jadi aku ingin merayakanya dengan suamiku," ucap Rara memeluk erat suaminya.


Entah kenapa sejak menghadiri acara pernikahan Ken dan Dilla. Rara bersikap manja seperti ingin di perhatikan.


"Tenang saja kita akan merayakanya setiap hari," ucap Rendi.


Rendi dan Rara tertidur karnea seharian di acara pernikahan Ken.


Sekitar pukul 12:00 siang keluarga Anggara berpamitan untuk kembali ke Jakarta.


Rara yang sedang memeluk ibunya erat juga ayahnya .Ia tampak enggan meninggalkan kedua orang tuanya yang kini tinggal bersama keponakan Rara dan tantenya.


Dalam perjalanan Rara memeluk suaminya tanpa lepas. Ia bergelayut manja di dada suaminya.


"Ada apa dengan istriku ini tingkahnya seperti Amira saja selalu ingin denganku," batin Rendi.


Rayn dan Amira kini tertidur di ranjang bayi di depan Rendi dan Rara. Mereka tertidur dengan perut kenyang dari ibunya.


"Sayang," ucap Rara manja.


"Hmm," jawab Rendi.


"Aku mau piknik," ucap Rara.


"Hah kenapa tiba-tiba?" Tanya Rendi terkejut.


"Kenapa kamu gak mau?" Ucap Rara memajukan bibirnya.


"Uuuuuh bibir manis ini menantangku" batin Rendi.


"Kemana?" Tanya Rendi.


"Pantai," teriak Rara.


"Kenapa harus piknik kenapa pantai?" Tanya Rendi bingung.


"Aku mau saja"ucap Rara manja.


"Anak-anak kita bagaimana?" Tanya Rendi.


"Mereka ikut," jawab Rara.


"Mereka masih kecil sayang nanti saja ya menunggu mereka besar baru kita piknik," ucap Rendi.


"Tapii ... " ucapan Rara tak ia selesaikan.


Rara seperti membisu sepanjang perjalanan ia diam tanpa suara ataupun bermanja pada suaminya.


Rendi yang melihat perubahan sikap istrinya.


Ia mendekati istrinya dan tanganya menggoda istrinya tapi Rara tidak bergeming Ia melihat ke jendela mobil tanpa menghiraukan suaminya.


Rendi kembali ke tempat duduknya karna tidak ada respon dari istrinya.


"Huh di saat seperti ini kalian bahkan tidak menangis sama sekali agar mamahmu tidak seperti itu." Batin Rendi.


Rara yang termenung dalam diamnya yang pandanganya tanpa arah di dekat jendela mobil .


"Kenapa rasanya sakit ya di dada saat aku ingin ke pantai tapi dia tidak mau kenapa rasanya ingin menangis tapi seperti ada yang mencegahku menangis." Batin Rara.


Sesampainya keluarga Anggara di rumah Utama. Rara menggendong Rayn dan bergegas ke kamarnya.Ia bahkan tidak melihat ke arah suaminya yang sedang kebingungan.


"Saabar ya sayang papa harus bekerja keras malam ini," batin Rendi ia menggendong Amira dan memasuki rumah utama naik ke kamarnya.


Orang tua Rendi yang melihat putranya di tinggal istrinya duluan mereka menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Mereka sedang membumbui rumah tangganya," ucap tuan Anggara.


"Iyaa aku bahagia untuk kebersamaan mereka," ucap ibu Ratih.


Rara yang di kamar mandi, Rendi yang menidurkan Amira juga Rayn yang sudah terlelap. Rendi melihat ke arah pintu kamar mandi terus menerus ia berharap istrinya segera keluar dari kamar mandinya.


"Kenapa dia lama sekali sih apa tidak lapar?" Gumam Rendi.

__ADS_1


Rara keluar dari kamar mandi dengan mengenakan dres malam yang transfaran berwarna hitam yang menonjolkan buah dadanya juga belahanya.


Rendi yang melihat istrinyakeluar dengan balutan pakaian yang sexi. Ia menelan salivanya matanya membulat keluar karena istrinya berjalan menggoda ke arah Rendi.


Rara berjalan ke arah suaminya.Ia memegang dada telanjang suaminya dan menciuminya


Rara menggoda suaminya ia mencium suaminya yang menunduk ke arahnya. Ia mencium leher suaminya dan merangkul leher suaminya kini Rara berada di atas pangkuan Rendi.


"Gak dosakan kalau aku menggoda suamiku seperti ini?" Ucap Rara pada suaminya Rendi menggelengkan kepalanya ia tetap terdiam terpana dengan tingkah istrinya.


"Aku cantik?" Tanya Rara


Rendi mengangguk.


"Aku sexsi?" Tanya Rara kembali


Rendi masih mengangguk.


"Aku manis?" Tanya Rara tersenyum


Rendi masih mengangguk.


"Kita piknik?" Tanya Rara


Rendi mengangguk dan ia menggeleng juga terkejut akan pertanyaan istrinya.


"Iya sayang suamiku tercinta," ucap Rara manja ia bahkan mengembulkan buah dadanya pada wajah suaminya.


Rendi menahan istrinya dan ia menindih istrinya kini Rara yang ada di bawah Rendi.


"Kamu cantik sexsi dan sangat manis sayang, kamu menggodaku juga itu sangat baik. Tapi kita tidak perlu ke pantai karena itu tidak baik untuk anak-anak kita kamu mau mereka sakit?" Ucap Rendi dan istrinya menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau mereka menangis kedinginan?" Tanya Rendi


Rara menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau kita pergi berdua saja tanpa anak-anak kita?" Ucap Rendi kembali


Rara menggelengkan kembali kepalanya.


"Kamu mau makan aku?" Ucap Rendi


Rara menggeleng dan membulatkan kedua matanya terkejut.


Rendi tersenyum dan mengecup bibir istrinya ,lalu turun ke leher jenjang Rara,setelah itu ia turunkan ciumanya pada dada yang melambung transfaran Rendi menciuminya. Setelah menyelesaikan aktivitasnya Rendi mengecup istrinya dan berkata.


"Ken akan berbulan madu apa kamu mau ikut?" Tanya Rendi.


Rara terperanjat terduduk ia sumringah.


"kapan sayang kemana?"Tanya Rara.


"kita bicarakan besok ya aku lelah," jawab Rendi.


"Iiih aku mau tau Sayang," teriak Rara tapi suaminya malah tertidur.


"Baiklah aku tidak sabar menunggu besok Sayang," ucap Rara tersenyum.


Kini Rendi tersenyum dengan istirahatnya istrinya. Entah apa yang ia katakan padahal dia hanya asal bicara saja. Tapi itu berhasil membuat istrinya terdiam dan tidur.


Rendi memeluk istrinya yang tertidur di dadanya. Ia mencium kening istrinya dan memejamkan matanya tertidur.


Di waktu-waktu tertentu di tengah malam Rayn dan Amira sudah rutin terbangun minta minum susu. Begitupun Rendi dan Rara yang sudah terbiasa dengan anak-anaknya mereka terbangun dan bergiliran menggendong.


Jika Rara menyusui Amira, Rendi menggendong Rayn menenangkanya menunggu Amira kenyang. Setelah Amira kenyang bergantian Rara menyusui Rayn dan Rendi menidurkan Amira.


Begitulah aktivitas malam mereka kali ini tidak ada yang mengeluh. Justru Rendi bahagia akan hal baru yang ia alami bahkan saat melihat istrinya yang dari tertidur pulas tapi saat mendengar tangisan anak-anaknya. Ia justru terlihat bersemangat dan selalu terpasang senyum bahagia saat bersama Rayn dan Amira.


Setelah anak-anaknya tertidur Rendi dan Rara kembali tertidur. Mereka bahkan tertidur dalam terduduk dan saling memeluk hingga matahari pagi mmasuki celah kamar mereka.


Suasana di pagi hari yang cerah keadaan rumah besar Anggara kini terdengar hangat dengan tangisan bayi. Bahkan dua bayi di rumah itu, Rayn yang di pangku oleh neneknya dan Amira di pangkuan kakeknya.


"Sayang jangan menangis nenek bawa ke taman yaaa," ucap ibu Ratih.


"Mamah kalian sedang makan dulu ya sayang kalian baik-baik dengan kakek dan nenek," ucap tuan Anggara.


"Hmmm mereka berhenti menangis, ucapanmu lembut dan tegas sayang kamu memang selalu yang terbaik," ucap ibu Ratih.


Rara yang sedang sarapan dengan suaminya. Ia tampak lahap dengan sarapanya ia kelaparan karena si kembar meminum susunya dengan lahap. Oleh dari itu Rara selalu makan dengan kenyang agar putra putrinya makan dengan kenyang juga.


"Sayang ucapanmu semalam seriuskan?" Tanya Raraa dengan mulut penuh.


"Iyaaa nanti kita pergi ke tempat yang hangat dan indah "jawab Rendi.


"Uuuuhh, secepatnya ya sayang aku mau bulan madu juga," teriak Rara sumringah.


Rendi yang melihat istrinya selucu itu, ia tersenyum dan mencium pipi istrinya.


"Aku harus bergegas ke kantor sayang juga harus melihat Cafemu yang di kendalikan karyawanku," pamit Rendi.


Rara mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya.Kini Rendi sudah berangkat ke kantor.Ia harus menghandle berkas yang terlewatkan beberapa hari lalu karena pernikahan Ken.


*****


Prolog


Dilla&Ken


Dilla yang terduduk di kamar pengantinya,ia terdiam dan dadanya berdetak kencang.


"Kenapa seperti ini ya seperti mau ada perlombaan saja, kenapa jantungku kencang sekali," batin Dilla


Kini pintu kamar Dilla terbuka,Ken memasuki kamar Dilla dan duduk di sampingnya.


"Kamu senang?" Tanya Ken.

__ADS_1


"Iya aku senang," jawab Dilla tersenyum.


"Baguslah itu baik untuk kita?" Tanya Ken.


"Iya," jawab Dilla.


"Apa aku sudah boleh melakukanya?Tanya Ken.


"Melakukan apa?" Tanya Dilla.


"Hal yang kita inginkan," goda Ken.


"Maksudmu?" Dilla masih tidak paham.


"Kemarilah," ucap Ken.


Dilla mendekati Ken, tentu saja suaminya mencium bibir istrinya dengan dalam hingga Ken memegang tangan Dilla dan menekanya.


Dilla membulatkan kedua matanya, jantungnya kini semaki kencang bergenderang. Dilla membalas ciuman suaminya hingga mereka melepaskan satu sama lain.


Ken melihat lekat wajah istrinya ia tersenyum ternyata istrinya sangat cantik.


"Aku bantu kamu bukakan?" Ucap Ken.


"Tidak perlu kamu ganti baju saja dulu biar aku lakukan sendiri ini tidak susah," ucap Dilla.


Dilla membuka kebaya pernikahan yang ia kenakan begitupun Ken ia membuka pakaianya dan hanya bertelanjang dada mengenakan celana dalam Boxer.


Ken menghampiri istrinya ia melihat Dilla kesulitan mengambil peniti di hijabnya,Ken membantu Dilla melepas kerudungnya.


Ken terpana saat melihat Dilla yang tanpa kerudungnya,ia terpana dan tidak mengedipkan matanya.


"Kamu bahkan sangat cantik," ucap Ken.


Dilla yang mendengar pujian dari suaminya,pipinya memerah karena malu ia sangat bahagia karna suaminya memuji penampilanya yang tanpa kerudung.


Ken menatap istrinya dalam ia tersenyum tanpa henti..


Dilla melihat tubuh Ken yang bidang tanpa penutup pipinya semakin merah karna senang.


"Uuuuuuh, kenapa sesilau itu tubuhmu?" Ucap Dilla terlepas ia menutup mulutnya dengan kedua tanganya.


Ken tersenyum mendengar ucapan istrinya,ia menggendong istrinya dan menidurkanya di ranjang pengantin yang bertaburan bunga mwar merah di atasnya.


Ken menatap wajah istrinya yang cantik ia mencium bibirnya,hingga ke leher jenjang istrinya. Ken membuka helaian pakaian istrinya dan melihat sesuatu milik istrinya yang lambunganya senada tapi tidak senampak Rara.


Ken mecium seluruh tubuh istrinya ,ia mencoba menuju tahap selanjutnya, kini mereka sudah bertelanjang bulat. Di saat Ken ingin memulainya terdengar bunyi handponenya Ken.


Ken mendecak kesal dan ia bergegas mengangkat handponenya tanpa melihat siapa yang menelponya.


"Apa!" Bentak Ken dengan wajah merahnya.


"Kau sudah berani membentaku ya," ucap Rendi di sebrang telponya.


Ken terkejut dengan suara yang ia dengar dari hndponenya ia melihat handponenya yang tertulis tuan muda.Ken mematung dengan suara yang terbata.


"Tu tuan ada apa?" Tanya Ken.


"Kau sudah ingat pada tuanmu?"ucap Rendi dingin.


"Mana mungkin saya melupakan anda Tuan," suara Ken sudah normal kembali.


"Aku tahu apa yang sedang kau lakukan," ucap Rendi.


Ken yang mendengar itu semakin panik,ia celingak celinguk melihat kesekeliling,apa benar mengetahuinya.


"Tenang saja aku sudah kembali saat acara sudah selesai," ucap Rendi.


Ken semakin terkejut mendengarnya ia mobdar mandir memeriksa setiap sudut kamarnya siapa tahu ada cctv yang di pasang tuanya, bisa-bisa terekspos tubuh istrinya oleh tuanya.


"Aku juga tidak memasang kamera," ucap Rendi kembali.


"Lalu darimana kau tau apa yang sedang saya lakukan Tuan," batinKen.


"Sebaiknya kau tunda dulu,kau percepat untuk kembali saja kita akan bicarakan bulan madumu," jelas Rendi kembali.


"Tapi Tuan." Ken tidak sempat menjawab apa lagi menolaknya.


"Aku tunggu di rumah pagi nanti"ucap Rendi ia menutup telponya tanpa mendengarkan Ken.


Ken masih mematung ia tak percaya apa yang di katakan tuanya,tentang Ken harus menahanya juga dia yang harus segera kembali. Tapi yang membahagiakan tuanya merencanakan bulan madu Ken dan Dilla.


Dilla yang melihat suaminya mondar mandir celingak celinguk kesana kemari juga memeriksa setiap sudut ruangan. Tapi Ken mengerutkan keningnya karena suaminya hanya mendengarkan dan Dilla tau siapa yang menelponya di saat yang tidak pas itu.


"Kenapa menelpon di jam seperti ini?" Tanya Dilla kesal.


Ken yang tersadar dengan ucapan Dilla. Ia menghampiri istrinya dan duduk di sisi istrinya.


"Kita kembali," ucap ken.


"Kembali kemana?" Ucap Dilla terkejut.


"Ke jakarta," jawab Ken.


"Kenapa harus sekarang kan bisa nanti," ucap Dilla kesal.


Dilla tau bahwa Ken akan mendengarkan apapun yang tuanya katakan.


"Huh aku akan menelpon istrinya dan mengomelinya," ucap Dilla kesal memajukan bibirnya ia mengambil handponenya.


Ken yang melihat itu ia merebut handpone istrinya.


"Kau mau bulan madu?" Ucap Ken.


Dilla tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu turuti aku dan jangan bertindak apapun," tegas ken Dilla yang mendengar itu ia terdiam dan mengangguk.


__ADS_2