
Sudah seminggu lebih Rara dan yang lainnya tinggal di Singapore, di rumah Mark yang juga ada Iyas yang juga ikut tinggal disana.
Hari ini ada sebuah pernikahan di kediaman Mark yang membuat media ramai di Singapore mengingat perusahaan Mark Robert pengusaha IT terbesar di Singapore.
Hari yang bahagia dan sangat langka yang di adakan di rumah Mark ini kini sudah tersebar luas berita sebuah pernikahan akan di adakan di kediaman Mark Robert yang terbilang sangat jarang di publikasikan. Mark yang kini sedang di dalam perusahaan. Ia masih sibuk dengan berkas-berkas pekerjaannya. Ia menandatangi setiap lembar dokumen hari ini yang teramat banyak baginya. Karena perusahaan Rendi yang di Indonesia juga ia ambil alih untuk saat ini.
Saat Mark sedang membalikan dokumennya tiba-tiba pintu di ruangannya terbuka secara keras. Iyas masuk dengan tergesa-gesa.
"Bro, Dirga akan hadir di acara besok bagaimana ini?" teriak Iyas dengan terengah-engah.
"Biarkanlah, memang itu yang semestinya," ucap Mark acuh.
"Kau tidak takut dia akan tahu tentang istri Rendi?" ucap Iyas mengerutkan dahinya.
"Selama dia jadi istriku, itu tidak akan terjadi," jawab Mark masih dengan pengalihannya memeriksa dokumennya.
"Tapi ...."
Iyas terdiam dan melihat Mark yang berdiri mengambil jasnya bersiap dan berjalan keluar dari kantornya. Iyas berjalan mengikutinya dengan tanda tanya yang teramat banyak di benaknya. Memikirkan ide konyol Mark yang mengharuskan sebuah pernikahan di adakan di kediamannya hingga semua wartawan media di undang untuk meliput acaranya.
Mark turun dari lantai paling atas memggunakan lift pribadi Direktur. Yang di ikuti Iyas yang juga berjalan di belakangnya.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Mark berjalan dan berbicara tanpa menoleh ke arah Iyas yang masih terdiam di belakangnya. Untuk kali ini Iyas tidak bisa membaca pemikiran rencana Mark yang terbilang selalu mengandalkan dirinya sendiri tanpa memberitahunya secara detail.
"Yaaa, semua sesuai yang kau minta," jawab Iyas.
__ADS_1
"Bagus, kau pastikan tidak ada yang kurang, aku tidak mau jika ada yang tidak beres," ucap Mark memasuki mobil yang kini sudah terparkir di hadapannya.
Iyas ikut menasuki mobil yang di tumpangi Mark di belakang kursi penumpang. Iyas bahkan masih berpikir banyak tentang pernikahan yang akan di adakan esok hari.
Mark masih dengan pandangannya yang adatar melihat ke arah kaca mobil di sampingnya. Tanpa menghiraukan ucapan Iyas yang bertanya tentang hari esok dan juga pernikahan.
Sepanjang perjalanan menuju pulang. Markbmasih tidak menjawab apalagi menjelaskan setiap pertanyaan Iyas yang kini ikut terdiam karena tidak di hiraukan oleh teman di sampingnya ini.
Sesampainya di rumah utama Mark.
Mobil tersebut berhenti di depan rumah dan Mark keluar dari kursi penumpang dengan wajah yang acuh tanpa menghiraukan pelayan yang memberi hormat padanya.
Sesampainya Mark memasuki rumahnya. Dekorasi di rumahnya nampak indah bak sebuah acara pernikahan yang akan sangat megah di adakan di rumah ini. Ia mengedarkan pandangannya melihat ke segala arah. Mencari seseorang yang harus ia lindungi yaitu Rara. Yang tak lain istri dari sahabatnya sendiri.
Mark bertanya pada pelayannya menanyakan dimana keberadaan Rara dan juga yang lainnya. Setelah di beritahu jika Rara sedang berada di taman belakang. Mark mengangguk dan berjalan menuju taman belakang. Ia mencari sosok yang ia maksud dan berharap tidak ada GBal yang membuatnya khawatir.
Mark sedikit merasa hangat di hatinya melihat Naura tertawa melihat tingkah cerita yang Rara katakan.
Begitupun Rayn dan Amira yang menertawakan ibunya yang sedang menceritakan dan tertawa semanis itu di hadapan siapapun yang melihatnya.
Mark tidak menghampiri mereka dan berniat untuk berbalik dan kembali naik ke kamarnya dan berganti pakaian. Tapi ia berhenti ketika sebuah suara teriakan dari anaknya yang memanggilnya.
"Papa...."
Putrinya Naura memanggilnya dengan lantang di usianya yang belum genap dua tahun. Naura berdiri dan berlari menghampiri Mark yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
Mark bahkan memeluk dan menggendongnya dengan ciuman bertubi-tubi pada Naura yang kini berada di pangkuannya.
Rara tersenyum melihat adegan anak dan ayah yang tersenyum dengan hangat dan bahagia. Bertemu dengan segala kasih sayang mereka yang nyata. Rayn yang melihat itu, ia mendekati ibunya dan duduk di pangkuannya. Amira yang melihat tingkah kakaknya. Iapun ikut duduk di pangkuan ibunya dan memepet kakaknya yang kini geram padanya. Rara tersenyum mendapati tingkah anak-anaknya yang saling menjaga tingkah mereka dan bermanja pada ibunya. Walau sebenarnya mereka berdua memiliki sifat yang dominan walau masih kecil.
Rara memeluk keduanya dan mencium pipi Rayn dan Amira. Baginya merekalah penguat dan pelepas rasa rindunya pada suaminya. Rara bahkan tidak pernah menunjukan kesedihan dan rasa rindunya pada suaminya yang masih belum tentu dimana dan bagaimana keberadaannya.
Dilla yang duduk di kursi taman. Ia masih dengan putrinya yang di pangkuannya sedang minum susu.
Ia juga tersenyum melihat tingkah kedua keponakannya. Yang selalu ;encari perhatian ibunya. Meski Dilla tahu jika kedua anak Rara itu sangat pintar dan jenius dalam segala hal termasuk mendapatkan perhatian ibunya agar tidak larut dalam kesedihan mwmikieggkan suaminya yang masih belum jelas keberadaannya.
Dilla bahkan tidak berani mengeluh ketika melihat Rara masih bisa tertawa dan mengurus tiga anak sekaligus. Ia sempat ingin menangis di bahu saudarinya. Tapi ia urungkan, karena baginya melihat saudarinya bahagia fan tetap tersenyum itu sudah jauh lebih cukup baginya. Dilla tersenyum melihat kebahagiaan saudarinya dengan anak-anaknya.
"Sayang, ayo kita buat acara besok meriah, kita harus bersiap-siap untuk pengantin wanitanya," ucap Dilla memberikan putrinya yang sudah tertidur kepada pengasuhnya untuk di bawa masuk ke rumah dan menidurkannya ke kamarnya.
Rara tersenyum dan mengangguk mengingat sebuah pernikahan akan terselenggarakan di rumah Mark esok hari.
Mark yang masih berdiri dengan putrinya di pangkuannya.Ia tidak menatap Rara sama sekali. Ia acuh dan tidak berani menghiraukan Rara dan Dilla yang melewatinyabersama dengan putra-putrinya yang juga ikut masuk ke dala rumah.
Rara memperhatikan Mark yang berpaling pandangannya tidak melihatnya dengan wajah heran. Ia juga mengerutkan dahinya.
Rara dan Dilla berjalan sudah jauh dari Mark yang masih berdiri bersama Naura putrinya di dalam pangkuannya.
Mark melihat wajah putrinya yang manis tampak wajah istrinya yang teramat ia cintai.
"Aku tidak tahu jika jatuh cinta padamu sangat merindukan istriku, ayo kita masuk, akan ayah buatkan makanan yang kamu suka bubur jagung ala ayah," ucap Mark menciumi wajah putrinya yang menggemaskan.
__ADS_1
Mark memasuki rumahnya dengan Naura di pangkuannya. Tapi tidak mengurangi wajah datarnya. Ia bahkan mengacuhkan pelayan yang menawarkan diri untuk mengambil Naura di pangkuannya.