Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Dimana?


__ADS_3

Setelah dirasa puas dengan waktu istirahatnya, Iyas mengedarkan pandangannya pada seisi kafe.


"Ternyata ramai juga kafe ini!" gumam Iyas.


Iyas mengedarkan pandangannya, ke seluruh isi kafe tersebut. Ia melihat seorang gadis yang tadi sempat ia temui. Seorang pelayan, gadis yang berambut sebahu, sedang membawa sebuah bingkisan, yang sepertinya akan dikirim olehnya. Iyas tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya dengan malas.


Tiba-tiba terdengar suara dering handphone-nya berbunyi. Iyas lalu mengangkatnya dan hanya menjawabnya, hanya ber oh ria saja. Setelah menutup teleponnya, Iyas lalu berjalan dan keluar dari kafe tersebut. Sesampai dia diluar Cafe, ia melihat gadis tadi, berdiri di pinggir jalan. Dengan bingkisan di tangannya.


Iyas berjalan melewati nggak di situ dan tanpa sengaja ia mendengar gumaman gadis yang sedang berdiri di samping yaitu.


"Andai saja ada kereta kencana yang sering diceritakan di dalam dongeng itu, dapat mengantarkan aku dan pergi ke rumah pelanggan sampai deh," gumam Lina dengan bibir sedikit tersenyum dan kaki menendang-nendang kerikil.


Iyas yang mendengar gumaman Lina tersenyum tipis dan merasa gadis itu sangat konyol berbicara seperti itu. Mengingat di depan orang lain, Lina tampak cuek dan lebih banyak terdiam, daripada menanggapi ucapan orang lain. Iyas berjalan melewatinya dan memasuki mobilnya.


Iyas sudah di dalam mobilnya, dia melihat kearah Lina kembali. Gadis itu masih belum mendapatkan taksi untuk mengantar piesanan pelanggannya. Setelah menunggu lama.


Iyas memajukan mobilnya perlahan, namun setelah ia melewati dimana gadis itu berdiri. Beberapa saat kemudian, ia memundurkan mobilnya dan berhenti di depan Lina. Lina yang melihat sebuah mobil berhenti di hadapannya. Ia mengerutkan dahinya dan mundur satu langkah, dari mana ia berdiri.


Setelah kaca mobil diturunkan Lina mengerutkan dahinya, ketika melihat pria yang ada di kafe tadi melihat ke arahnya dengan senyum tipisnya. Lalu Iyas mengisyaratkan Lina untuk masuk ke dalam mobil, hanya dengan gerakan matanya.


Lina masih terdiam, dia masih belum mencerna maksud dari Iyas, apalagi mengisyaratkan nya seperti itu. Ia memilih mengalihkan pandangannya ke jalanan.


Saat mendapati gadis itu, masih enggan untuk menatapnya. Iyas mengerutkan dahinya dan mulai berbicara kepada gadis itu.


"Gadis manis, masuk biar aku antar! Jangan mengkhayal tidak-tidak! Tidak akan ada kereta kencana yang kau inginkan itu! Kamu mau kemana?" ucap Iyas.


Jangankan menjawabnya, Lina bahkan tidak menatap Iyas. Lina masih belum memahami maksud Iyas menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Bagi Lina seumur hidupnya, tidak ada atau tidak pernah ada seorangpun yang menawarkan tumpangan untuk dirinya. Apalagi seorang pria yang cukup tampan di hadapannya ini. Sangat mudah tersenyum kepada Lina. Perihal selama ini, Lina tidak pernah menyaksikan dengan jelas seorang pria tersenyum kepadanya.


Kebanyakan pria selalu mengejeknya. Apalagi dengan tampilan norak Lina, yang ke zaman dahuluan, ia hanya mengenakan gaun berwarna coklat, persis seperti warna kulit dan rambut sebahu yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan wanita.

__ADS_1


Iyas yang mendapati gadis tersebut tidak menanggapi, ataupun menghiraukannya. Ia mulai merasa geram dan lebih tepatnya dia merasa tidak percaya akan sifat seorang gadis di hadapannya ini. Tanpa alasan gadis itu tidak menghiraukannya.


"Gadis manis, masuklah dan duduk di samping di kursi depan aku akan mengantarkanmu ke tujuan dengan selamat,"ucap Iyas kembali.


Lina masih tidak menjawab atau pun melirik Iyas yang berbicara sendiri. Saat ia masih diabaikan oleh gadis itu. Iyas mulai kehabisan kesabarannya dan membuka pintu mobilnya. Ia berjalan mengitari mobilnya dan kini ia sudah berada di hadapan Lina. Iyas tersenyum manis mencoba untuk tebar pesona, karena untuk selama ini para gadis selalu terpesona akan Senyum manisnya itu.


Namun lain dari dugaannya, Lina bahkan mendelikkan matanya dengan malas. Ketika melihat tingkah laku Iyas yang malah membuatnya ilfil, melihat tingkah laku Iyas yang sama persis narsisnya seperti pamannya tadi pagi.


Iyas yang mulai kehabisan kesabarannya hingga kembali menatap lekat wajah gadis tersebut. Dengan senyum tipisnya, ia tersenyum dan memajukan bibirnya. Ia mengangkat sebelah alisnya dan berpikir sesaat. Tiba-tiba, ia menarik tangan Lina dan membuka pedal pintu mobil.


Iyas memaksa menariknya dan mendorong Lina hingga ia terduduk di kursi penumpang.


Di samping kursi kemudi. Iyas menutup pintu dengan cepat tanpa mendengarkan protes Lina. Lalu ia mengitari mobilnya kembali dan memasuki mobilnya tanpa mendengarkan ucapan Lina.


Lina hanya terdiam, merasa heran kepada pria yang berada di sampingnya. Dengan pandangannya ke depan, Iyas menyalakan kembali mobilnya dan melajukan kendaraannya, tanpa menghiraukan Lina.


Lina yang sedang menatapnya.


"Apa-apaan ini! Kenapa dia membawaku? Apa dia akan menculik? Itu adalah yang tidak mungkin, apa yang dia lihat hingga ingin menculikku? Tapi Kenapa pria ini malah memaksaku untuk masuk kedalam mobilnya?" gumam Lina yang juga terdengar samar oleh Iyas.


Bahkan Iyas tidak bertanya mau kemana mereka. Sekitar 1 jam, Iyas mengemudikan mobilnya. Lalu ia menepikan kendaraannya di pinggir jalan. Ia menekan pedal rem dengan keras, hingga membuat Lina terkejut dan maju kedepan. Setelah itu ia melirik kearah Lina yang sedang mengusap dadanya. Iyas merapatkan bibirnya dengan serius menatap kepada gadis yang ada di sampingnya. Lina sama sekali tidak berbicara selama di dalam mobil bersamanya.


"Sebenarnya kau ini manusia atau bukan? Kenapa kau dari tadi tidak berbicara? Bahkan aku membawamu tanpa tujuan pun kamu tetap saja diam! Bukankah kamu seorang gadis? Kenapa kamu membiarkan seorang pria membawamu begitu saja?" tanya Iyas.


Pertanyaan Iyas begitu banyak, hingga membuat Lina mengerutkan dahinya dan merasa lucu. Sehingga ia sedikit tersenyum tipis tertahan, menanggapi Iyas yang tidak mau berhenti berbicara. Saat mendengar dan melihat Lina tersenyum menertawainya. Iyas tertegun melihat senyum Lina tampak manis di hadapannya. Iyas begitu menikmati pemandangan senyum gadis tersebut. Tanpa ia sadari dia pun tersenyum mengagumi senyum gadis di hadapannya.


"Itu sangat manis," ucap Iyas spontan tanpa ia sadari.


Mendengar ucapkan Iyas, Lina terkejut. Ia menutup rapat bibirnya dan menjadi salah tingkah ketika mendengar ucapan manis dari Iyas.

__ADS_1


"Kenapa terdiam dan berhenti?"tanya Iyas mengerutkan dahinya.


"Tidak ada," balas Lina pelan.


"Kamu itu manis juga tersenyum, kenapa kamu tutup rapat itu bibir? Sangat disayangkan Jika kamu tidak sering tersenyum,"ucap Iyas.


"Tersenyum itu, jika ada yang menyukainya dan diperbolehkan. Aku tidak mengijinkan untuk tersenyum,"jelas Lina.


"Kau pikir siapa yang melarangnya? Sungguh konyol dan bodoh kau ini," protes Iyas melirik kearah Lina.


"Tidak ada ... hanya aku yang membuat peraturan itu sendiri," jawab Lina malas.


"Peraturan yang sangat bodoh bagi seorang gadis yang cantik seperti dirimu," godai Iyas.


"Sepertinya, Anda perlu mencuci tangan mata Anda tuan!" balas Lina mendelikkan matanya.


"Hahaha, gadis datar seperti dirimu ternyata bisa bercanda juga," tawa Iyas.


Lina menaikkan alisnya, tidak mungkin bagi seseorang mengatakan bahwa Lina setiap ucapannya adalah lelucon. Padahal Lina sama sekali tidak bermaksud untuk membuat lelucon. Karena dia memang tidak seperti wanita lain, yang ingin bermanja di hadapan siapapun termasuk seorang pria.


Lina memalingkan pandangannya dari Iyas yang masih menatapnya. Lina melihat ke arah jendela, lalu ia terkejut ketika mengingat daerah yang tidak dikenali bahkan bukan tujuannya.


"Ini di mana?" tanya Lina heran.


"Entah, aku juga tidak tahu," jawab Iyas malas.


"Apa-apaan ini kamu? Membawa aku tanpa Izin, bahkan tidak jelas tujuannya," protes Lina.


"Kau tidak bilang tujuanmu mau kemana! Makanya aku tancap gas aja. Karena kau dari tadi hanya berdiam diri saja, membuatku kesal," jawab Iyas malas.

__ADS_1


Tanpa mendengarkan protes Lina, Iyas duduk bersandar dan menyandarkan kepalanya ke belakang kursi. Lina mengangkat sebelah alisnya tidak percaya mendengar jawaban pria yang telah membawanya pergi. Ia bahkan di paksa masuk kedalam mobilnya tanpa bertanya dahulu kepada dirinya.


__ADS_2