
Rendi yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia juga sudah sarapan bersama istri dan keluarganya.Rendi berpamitan untuk berangkat bekerja pada istrinya.
"Sayang aku berangkat ya," ucap Rendi.
"Iya hati-hati dan cepat pulang," jawab Rara.
"Apa ada jatah lagi?" Goda Rendi.
"Hmm baiklah," ucap Rara mencium punggung tangan suaminya.
Rendi mencium kening istrinya dan ia berpamitan. Rara melihat suaminya sampai Rendi keluar gerbang utama.
Ia yang sedang di perjalanan sedang berbicara menggunakan handponenya.
"Apa seperti itu sebaiknya kamu atur secepatnya karena ini penting bagimu," ucap Rendi.
"Baiklah," ucap Rendi menutup telponya.
Di ruangan kantor Rendi sudah ada Mark, Iyan dan juga ken yang menunggu Rendi datang juga yang tadi menelpon Rendi tidak lain adalah Ken.
Selang empat puluh lima menit Rendi sampai di kantornya. Ia berjalan tanpa terburu -buru terpasang senyuman di wajahnya. Semua karyawan disana ada yang heran juga ada yang memuja Rendi dan ada juga yang merasa takut karena sangat jarang bagi bosnya untuk bersikap ramah pada mereka.
Rendi memasuki Ruanganya yang ada di dalam berdiri dan menyapa Rendi sampa ia duduk di kursinya.
"Dia sudah pergi," lirih Ken
"Apa kamu yakin?" Tanya Rendi.
"Yaa Cafe nya tutup," lirih Ken.
"Kalau istriku tau Cafenya tutup bisa ribet nantinya pastikan Cafe tetap buka biar mereka yang menangani Cafenya," ucap Rendi.
"Baik," ucap Ken.
"Apa yang kamu lakukan hingga dia pulang," Tanya Rendi.
"Karena dia menciumnya dengan rakus semalam," teriak iyas.
Ken memasang tatapan membunuh pada Iyas. Ia tidak senang dengan ucapan iyas.
"Hei bro aku berkata jujur," bela iyas pada Ken.
"Bagaimana Tuan?" Tanya Ken.
"Apanya?" Tanya Rendi pura -pura tak paham.
"Haah sudahlah mungkin aku harus mencari teman baru," ucap Ken.
"Hahahaha," mereka bertiga tertawa melihat Ken.
"Memang kapan kita tidak dapat menyelesaikan sesuatu?" Jelas Rendi.
"Apa semua siap?" Tanya Rendi pada Mark.
Mark mengangguk tanda ia paham.
"Apa Nona muda tahu Tuan?" Tanya Ken.
"Nanti kuberitahu dia jika sudah siap semua,"jawab Rendi.
"Pastikan Nona selalu tahu tuan agar tidak ada hal yang di tutupi tuan karna nona sangat sensitip," ucap Ken.
__ADS_1
"Iya aku tau memang yang suaminya itu siapa hah," ucap Rendi.
"Huh saya mengingatkan tuan yang sering bodoh ini," batin Ken.
Rendi memeriksa dokumen seperti biasa.Lain dengan Mark, Iyas dan Ken kini mereka sedang di sibukan rencana dan keperluan untuk sebulan kedepan. Ken yang bertugas menghubungi Dilla ia sedang mondar mandir gelisah karena Dilla mengangkat telponya
pada akhirnya Dilla mengangkatnya.
"Asalamualaikum?" Tanya Dilla.
"Waalaikumsalam sayang kemana saja kamu?" Teriak Ken ia tersenyum bahagia karna akhirnya Dilla mengangkat telponya.
Mark dan Iyas yang melihat tingkah Ken tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Dilla.
"Apa kamu sudah makan?"Tanya Ken.
"Kenapa biasanya juga tidak pernah begini?" Ucap Dilla.
Ken terdiam ia mencoba memperbanyak percakapanya dengan Dila karena ia merindukan kekasihnya itu.
"Tunggu aku bulan depan ya Sayang," ucap Ken.
"Ada apa bulan depan?" Tanya Rara cetus.
"Aku ingin kamu menungguku sebulan lagi apa kamu bisa?" Tanya Ken.
"Jangankah sebulan seumur hidupun aku mau menunggumu," batin Dilla ia tersenyum.
"Bagaimana? Tanya Ken.
"Baikllah sampai jumpa," ucap Ken.
"Yaaa aku akan menunggumu," jawab Dilla di sebrang sana dan menutup telponya.
Prolog
*Dilla*
Dilla keluar dari Cafe store dan ia menaiki Taxi menuju Bandung. Ia hanya sedang berlibur saja karna sebuah alasan sendiri ia pulang kerumah orang tuanya.
Dilla mengambil handponenya ia menelpon sahabatnya Rara.
"Asalamualaikum?" Ucap Dilla.
"Walaikum salam ada apa Sayang?" Tanya Rara.
"Aku sudah bicara aku akan pulang ke Bandung dan hari ini aku kembali." Ucap Dilla.
"Ooh baiklah Sayang berapa hari kamu disana?" Tanya Rara.
"Aku tidak tahu," jawab Dilla.
"Maaf ya Sayang aku tidak bisa menemanimu di saat seperti ini," lirah Rara.
"Tidak apa Sayang, jagalah si kembar agar mereka bisa seperti tantenya," ucap Dilla.
"Ko seperti tantenya ya sama kaya aku donk," teriak Rara.
"Haha,baiklah sayang aku tutup dulu ya nanti kalau aku sampai aku telpon kembali Salamualaikum," ucap Dilla ia menutup telponya.
__ADS_1
Dilla melihat ke arah jendela mobil ia melihat jalanan yang sepi karna ini hari minggu.
Dilla sampai di rumah orang tuanya dan di sambut oleh keluarganya. Dilla menceritakan pada orangtuanya kalau dia mau memberi waktu untuk Ken berpikir dan Dilla ingin sendiri di rumah orang tuanya.
Dilla terduduk di bangku teras depan ia memandang taman depan rumahnya yang masih asri hingga ibunya menghampirinya.
"Jangan lama-lama ngambeknya nanti kangen," ucap ibu Dilla.
"Iya ini juga sudah rindu Bu,"jawab Dilla.
Dilla dan ibunya berbincang -bicang sore di depan rumahnya.
Di sela perbincangan mereka terddengar dering ponsel Dilla dan ia langsung mengangkatnya. Dilla sangat bahagia ketika Kekasihnya menelponya tapi ia tampak so cuek.
Setelah selesai menelpon Dilla kembali berbicara pada ibunya.
"Aku akan tinggal sebullan Bu," ucap Dilla.
"Oh lalu bagaimna Cafemu?" Tanya ibu.
"Rara mengijinkan Bu, tentang kedepanya aku akan menelpinya nanti," jawab Dilla.
Satu bulan sudah berlalu hingga tepat pada hari ini seluruh keluarga Anggara akan bergegas pergi ke Bandung. Dengan tujuan akan melamar Dilla atas Ken.
Rara yang sudah siap dengan si kembar juga yang berada di pangkuan dua babysister.
Rara tersenyum bahagia mengingat Dilla akhirnya menikah juga.
Rara melihat dirinya di cermin ia berpakaian rapih dengan syal pemberian suaminya yang berada di lehernya sekarang.
Rendi menghampiri istrinya dan ia memeluk istriny itu Rara yang melihat dari cermin suaminya memeluknya.
"Sayang benarkah Ken tidak punya sodara sama sekali?" Tanya Rara.
"Ada..Hanya dia tidak tahu keberadaanya karena sejak kecil Ken hanya hidup dan selalu berada bersamaku," jawab Rendi.
"Kamu benar-benar suamiku yang terbaik dalam semua hal Sayang sahabatmu sendiri kamu sangat memperhatikanya," ucap Rara.
"Itu karena Ken dan aku tumbuh bersama Sayang dan selama ini ia selalu ada di sisku, jadi kami harus saling membantu dalam hal apapun itu," ucap Rendi.
"Dan aku sangat bahagia mamah dan papa mau ikut pergi menjadi wali mempelai peria ya Sayang. Apa Ken baik-baik saja sekarang?" Tanya Rara.
"Kenapa kamu lebih banyak menanyakan Ken hari ini aku bahkan belum dapat makan malamku tadi malam," rengek Rendi mencium leher Rara.
"Nanti aku bayar lunas yaa pake bonusnya juga," ucap Rara.
"Janji ya," ucap Rendi.
"Iya muach," ucap Rara mencium pipi suaminya.
Sekitar Lima mobil Rendi dan keluarga menuju Bandung ke rumah Dilla kini Ken menjadi penumpang tidak menjadi pengemudi kembali. Ia bersama Mark dan juga Iyas yang membawa mobil.
Rara yang sedang menggendong Rayn juga Rendi menggendong Amira,kini mereka duduk bersandar di bangku penumpang. Rara menyusui Rayn yang kini sudah berkesip matanya sepertinya sudah melihat.
"Sayang kenapa aku merasa Rayn suka memandangku ya,dia sangat tampan," ucap Rara.
"Ya mungkin mereka sudah mulai melihat Sayang dan ini Amira sangat manis ," ucap Rendi.
"Kemarilah Sayang aku ingin menciummu," ucap Rendi merangkul istrinya.
Rendi dan Rara saling menciumi wajah mereka satu sama lain.
__ADS_1