
Demi merayakan pesta ulang tahun Naura, Mark telah memerintahkan para pelayan untuk menghias taman belakang dengan beberapa balon berwarna-warni. Dengan setiap sudut diletakkan beberapa meja yang telah tersedia makanan dan minuman buat para tamu undangan yang telah diundang oleh Mark. Di tengah taman juga terdapat meja kecil berbentuk bundar dengan kue ulang tahun yang cukup tinggi dengan model kartun kesukaan Naura.
Di sebuah kursi di taman ada banyak pelayan dan penata yang bersibuk kesana kemari. Naura duduk di kursi dengan dua pelayannya. Ia sedang menunggu ayahnya setiap pagi hari. Seperti biasanya, ayah dan anak itu akan berbincang di pagi hari jika senggang waktu mereka.
Rayn keluar dari rumah berjalan bersama dengan adiknya Amira. Amira berlari lebih dulu dari kakanya. Ia tampak berjalan dengan tatapan datarnya menyusul Amira yang kini sudah berlari menghampiri Naura. Gadis kecil yang usianya hanya selang dua tahun sedang diam duduk di kursi taman. Rayn bahkan tidak melihat ke arah Naura. Namun, ia ikut duduk di bangku taman yang dimana adiknya duduk dan menyapa Naura. Naura menyambut hangat dengan srnyuman pada Amira.
"Kak ..." sapa Naura ramah.
"Hai Naura! Emmm ... aku ikut duduk denganmu ya? Tapi ada Kakaku gak apa-apakan?" balas Amira tersenyum manis.
"Tentu," jawab Naura tersenyum pada Amira.
Amira duduk di samping Naura dan berbincang dengan Naura. Amira membawa bonekanya dan mengajak Naura untuk bermain. Tapi lain dari dugaan, Naura hanya menanggapinya dengan anggukan dan hanya Amira yang memainkan bonekanya, Naura hanya menemani Amira sebagai tanda pertemanan mereka. Naura yang lebih muda dari mereka berdua, tapi cara pikirnya jauh dari perkiraan anak-anak di usianya.
Gadis sok lugu!
Rayn mengerutkan dahinya ketika melihat sikap Naura yang lain dari sifat adiknya Amira yang ceria dan manis. Tapi Naura sedikit datar dan acuh dihadapannya dan Amira.
Ia tidak nampak seperti gadis di usia 5 tahun.
__ADS_1
Lebih terlihat seperti seorang gadis yang di usianya Rayn duduk bersebrangan dihadapan Naura dan Amira tanpa melakukan hal-hal apapun. Ia hanya duduk dan memperhatikan adik perempuan kesayangannya itu. Sesekali Rayn melirik kearah Naura yang tampak masih acuh tak acuh terhadap dirinya. Mereka bertiga duduk di taman bersama, tanpa ada pembicaraan sama sekali. Hanya Amira yang banyak berbicara dan bertanya kepada Naura begitupun kakaknya.
Pagi ini Rara dan Rendy sudah bangun dan bersiap untuk turun dari kamarnya. Rara tampak berseri saat bersama suaminya. Tampak berjalan menuruni tangga, mereka bergandengan tangan menuju ruang tamu.
Sudah ada Mark yang duduk di ruang tamu tersebut. Sedang menikmati secangkir kopinya sendiri saja. Rendy berjalan ke arah ruang tamu, yang di mana ada Mark yang sedang duduk. Rara berpamitan untuk pergi melihat-lihat dekorasi persiapan ulang tahun yang akan diselenggarakan nanti malam. Rendi mengangguk dan membiarkan istrinya untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Rendy berjalan setelah melihat istrinya pergi meninggalkannya dengan menyapa Nesa. Rendy menghampiri sofa dan duduk di samping Mark dengan tumpang kaki. Rendi tampak datar bersahutan dengan Mark yang tak kalah datarnya. Mereka berdua kini berbincang sambil menikmati kopi dan snack di hadapan mereka.
Rara berjalan menghampiri Nessa yang sedang menggendong putrinya. Ia tersenyum gemas ketika melihat Nisa putri Adam yang usianya baru menginjak beberapa tahun. Nesa sedikit cemas, ketika Rara meminta untuk menggendong putrinya. Mengingat Nona mudahnya itu sedang hamil muda. Nesa tidak ingin terjadi sesuatu, jika Rara menggendong putrinya yang terbilang sedikit gemuk itu.
"Sebaiknya Nyonya hati-hati! Nisa sedikit berat," ucap Nesa mencemaskan Rara.
"Yaa ... Icha sangat berat, hahaha ...gemes!" jawab Rara tertawa dan menciumi putri kecil Nesa.
"Tidak perlu, aku mau menggendongnya, Icha sangat menggemaskan," elak Rara berjalan meninggalkan Nesa dan menggendong Nisa.
Nesa mengerutkan dahinya, ia mengikuti Rara yang berjalan keluar rumah dengan Nisa di pangkuannya. Mereka menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain di halaman rumah. Kini sudah ada Dilla beserta putrinya Zain, yang juga ikut bermain bersama Amira dan juga ada Naura beserta Rayn yang sedang duduk berhadapan.
Rara tersenyum, melihat kebersamaan putra-putrinya yang terlihat sangat mendamaikan pandangannya. Di pagi hari mereka yang terbilang rukun. Dilla dan beberapa pelayan disamping anak-anaknya.
__ADS_1
Rara beralih melihat kearah Rayn dengan wajah acuhnya. Ia sedang bermain game di handphonenya. Rayn tampak serius dengan permainan gamenya tanpa menghiraukan Naura yang ada di hadapannya. Naura asyik dengan aktivitasnya memakan makanan yang tersedia di hadapannya.
"Sepertinya rencana Perjodohan ini sangat tepat, bagaimana menurutmu Nesa?" tanya Rara pada Nesa disampingnya.
"Saya rasa dengan Nona Naura yang sangat pintar dan cerdas itu, akan sangat cocok bagi tuan muda Rayn yang yang genius juga Nyonya," jawab Nesa sedikit hati-hati.
Rara mengangguk dan tersenyum, ia melanjutkan perjalanannya menghampiri saudarinya. Dimana Dilla sedang bermain dengan putrinya. Rara tersenyum ketika melihat gadis cantiknya Amira, sangat menyayangi Zein sebagai saudaranya. Bagi Rara kebersamaan keluarganya, terutama putra-putrinya yang rukun. Adalah hal terindah yang patut disyukuri, karena sangat jarang di zaman sekarang sebuah kerukunan di dalam keluarga.
Rara bahkan sangat tidak suka dengan kehidupan glamor, meski kekayaan suaminya akan memenuhi apapun yang ia minta. Tapi Rara memberikan fasilitas putra-putrinya dengan cara tegas dalam menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Rara dengan gemasnya, ia mencium kembali Nisa yang berada di pangkuannya.
Setelah melihat ibunya menghampirinya, Amira mengerutkan dahinya, lalu berdiri dengan cepat meninggalkan permainannya.
"Mama Icha itu sangat gendut! Sebaiknya Mama jangan menggendong ya, kasihan adik aku yang di perut," protes Amira melihat ibunya menggendong Nisa. Amira mengelus-ngelus perut ibunya dengan manja.
"Mama dan adik kamu itu sangat kuat! jadi kalau hanya untuk menggendong Icha Mama masih kuat," jawab Rara tersenyum memeluk dan mengusap pucuk kepala Amira.
Rayn mengakhiri permainannya mendengar dan melihat ibunya dengan Amira. Adiknya yang bermanja pada ibunya. Rayn berdiri dan menyimpan handphonenya. Ia menghampiri Ibunya dan Amira dengan cepat. Rayn menyentuh tangan ibunya dengan wajah datarnya, ia menatap tajam ke Amira adiknya
"Jangan manja pada mamahku! " tegas Rayn kepada Amira.
__ADS_1
Amira mengerutkan dahinya, ketika mendengar teguran kakaknya yang kini sedang memegang tangan ibunya. Amira mendengus kesal. Tapi ia tidak melepaskan pelukannya kepada ibunya.
Rara tersenyum bahagia, lalu melerai kedua anaknya dan duduk bersama dengan Dilla dan juga putra-putrinya yang lain. Termasuk Naura juga dipanggil oleh Rara untuk ikut duduk, di bawah yang sudah disediakan tikar. Untuk mereka bercengkrama di taman.