
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Setelah sampai di perusahaannya, Rayn kini bersungguh-sungguh mengerjakan dan mengisi semua isi dokumen memahami setiap perusahaan ataupun tentang proyek-proyek yang tengah di kerjakan oleh eh ayahnya yang diambil alih olehnya.
"Tuan muda! Sistem proyek keamanan perusahaan kita ada yang meretas Tuan," ucap Ken memasuki ruangan Rayn.
"Benarkah? Bukankah keamanan kita tidak ada yang tahu? Bagaimana dengan Adam, apa dia sudah tahu?" balas Rayn menyimpan dokumen yang sedang ia periksa.
"Dia sedang di kota C Tuan," jawab Ken.
"Hmm, baiklah biar kita lihat paman," ucap Rayn.
Rayn berdiri dan di tanggapi anggukan oleh Ken yang kini mengikutinya dari arah belakang. Rayn berjalan menuju ke ruangan sistem keamanan dimana milik perusahaan Rendi ayahnya. Meski terbilang sistem keamanan yang dipasang oleh perusahaan Rendi sangat langka dan tidak sama dengan sistem keamanan orang lain, bahkan akan sangat sulit bagi peretas jika ingin membobolnya.
Namun Rayn masih tidak percaya jika sistem keamanan milik perusahaannya kini bisa diretas bahkan oleh seorang hacker.
"Apa papa aku sudah tahu?" tanya Rayn.
"Tuan belum mengetahuinya, namun jika Tuan berkenan saya bisa memberitahunya kepada tuan Rendy," jawab Ken.
"Sebaiknya tidak perlu memberitahunya. Biarkan saja nanti besok pagi sistemnya pasti akan baik-baik saja,"jawa Rayn.
Rayn dan Ken, kini memasuki ruangan keamanan sistem, lalu ia memeriksa setiap kode-kode yang tertera di depan layar yang sangat besar itu untuk mengontrol layar monitor.
"Sialan dia pintar sekali membobol keamanan milik ayahku," decak Rayn.
Rayn duduk di depan monitor dan mencoba untuk menggagalkan setiap perancangan keamanan dari lawannya. Rayn bergelut di sistem komputer keamanan yang ada dihadapannya itu, lalu membuka setiap tombol fiymtur keamanan milik ayahnya. Jiak sampai terbuka kunci keamanan dari perusahaannya, semua rahasia perusahaan Anggara akan di ketahui olehnya.
"Jika sampai terbuka kunci terakhir kita akan sangat berbahaya ketika rahasia perusahaan kita terpecahkan Tuan," ucap Ken menambah susana menjadi semakin genting.
Rayn tidak menanggapi setiap ucapan pamannya itu. Meski dia tidak tahu apa yang tengah terjadi kepada sistem keamanan perusahaannya. Namun Rayn kini dengan serius memainkan tanagnnya di atas keyboard berargumen sistim dengan hacker itu. Bahkan saling menyapa satu sama lain dengan saling membuka pintu keamanan, di setiap hacker yang mencoba untuk membobol keamanan perusahaan ayahnya itu.
Ken ikut duduk sembari ia mencoba untuk membantu Rayn dengan menggunakan sistem keamanan di komputernya, untuk mencari tahu siapa yang sudah mencoba mengusik keamanan di sistem itu pemilik perusahaan Rendy Anggara.
__ADS_1
Keduanya tengah sangat serius ketika mengerjakan dan mencoba untuk membatalkan hacker, yang mampu masuk ke kunci keamanan perusahaan Anggara.
*****
Naura bolak-balik kesana kemari di ruang tamu. Dia sangat khawatir ketika Rayn jam 4 sore masih belum pulang juga, padahal ia sudah berjanji dengan Rayn bahwa akan menyambut kepulangan ayah dan ibunya dari Bandung. Namun sampai mobil Rendy dan Rara tiba di depan rumah. Naura merasa cemas, lalu ia membuka pintu dan dengan senyum terbukanya ia menyambut kedatangan keluarga Rayn.
"Assalamualaikum," salam Rara tersenyum ramah ketika melihat Naura membukakan pintu dan tersenyum ramah kepada mereka.
"Walaikumsalam Tante," jawab Naura.
Naura tersenyum mencium punggung tangan Rara dan memeluknya, begitupun dengan Rara yang sangat bahagia ketika melihat Naura. Setelah itu Naura mencium punggung tangan Rendy dan juga menyapa Raisa yang juga tersenyum menyapa.
"Kamu sendirian saja Sayang di rumah?" tanya Rara.
"Iya Tante, Amira sedang kerja begitupun dengan Rayn. Jadi Naura sendirian saja di rumah," jawab Naura.
Rara mengangguk dan dia mengajak Naura untuk masuk ke dalam rumah, begitupun dengan Rendy berjalan masuk mengikuti anak dan istrinya memasuki rumah. Namun saat ia berada tepat di ruang tamu dering telepon dari handphone Rendy berbunyi.
"Sayang aku angkat telepon dulu ya!" ucap Rendi.
"Bagaimana Sayang kabar kamu? Kamu betah kan disini? Anak tante tidak macam-macam sama kamu?" tanya Rara memegang tangan Naura.
"Tentu saja malah Naura betah sekali di sini. Apalagi sudah ada tante di sini. Cuman ya gitu Tante, Naura tidak bisa ngapa-ngapain di sini," balas Naura.
"Mama ini sini! Harusnya kan kakak Naura itu diberi dulu oleh-oleh dari Bandung. Jangan di beri banyak pertanyaan buat kak Nauranya!" sela Raisa sembari ia memakan camilanya duduk di sofa berhadapan dengan ibu dan Naura.
Rara tersenyum begitupun dengan Naura ketika mendengar penuturan Raisa yang terdengar sangat dewasa.
"Iya juga maaf ya Nona muda, tadi lupa. Sekarang mari kita berikan oleh-oleh yang kita bawa dari Bandung sana, buat Kakak ipar kamu," ucap Rara tersenyum kepada Raisa yang kini tengah duduk mengangkat sebelah alisnya menanggapi ucapan ibunya.
Saat Rara dan Naura engah membuka bingkisan bingkisan yang dibawa dari Bandung Rendi datang menghampiri keduanya.
"Sepertinya Rayn tidak akan pulang malam ini! Ada hal yang membuatnya harus tinggal di perusahaan," ucap Rendi duduk di samping Raisa.
__ADS_1
"Memangnya ada apa Sayang? Apa Rayn dalam masalah?" tanya Rara.
Rara bangun dari duduknya menghampiri Rendy yang tengah duduk sembari memakan camilan yang disuapi oleh Raisa.
"Ada apa dengan putra kesayanganku itu Sayang? Apa dia sedang dalam masalah?" tanya Rara duduk di samping suaminya.
Rendy tidak menjawab pertanyaan istrinya itu, namun ia tersenyum dan merangkul pinggang istrinya hingga kini duduk berat bersamanya di sampingnya ada Raisa dan juga Rara.
"Kamu ini kenapa sih Sayang? Cepetan jawab! Ada apa dengan anakku," gerutu Rara.
"Tidak masalah apa," balas Rendi mengunyal mkanannya.
"Kenapa kamu malah diam di sini? Kenapa tidak langsung segera ke kantor? Bantu dia! Ddi mana Adam? Biar dia juga membantunya. Aku tidak mau jika putraku sampai dalam masalah hanya gara-gara kamu!" gerutu Rara menatap tajam kearah Rendy.
"Jika kamu ingin aku menolong putramu dan juga yang lainnya berarti kamu meragukan kemampuan putramu itu!" balas Rayan sembari mengunyah makanan yang masih disuapi oleh Raisa.
Rara terdiam Ia lalu menatap lekat ke arah Rendy.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Kan kasihan kalau misalkan Rayn harus nginep di kantor padahal kan, jika kamu menolongnya itu hanya sekejap saja akan menyelesaikan pekerjaannya," ucap Rara dengan manja.
"Kamu mulai menggoda aku ya? Hanya untuk menolong putra kesayangan kamu itu?" ucap Rendi mempererat pegangan nya di pinggang istrinya.
"Tidak kok aku memang serius. Aku sangat merindukan putraku itu, jadi jangan biarkan dia berlama-lama di kantornya. Aku sangat merindukan dia," rengek Rara memasang mwajah memelsnya.
"Karena kamu sangat merindukan dia, bahkan lebih merindukan dia dibandingkan aku. Aku tidak akan menolongnya!" tegas Randi.
"Kok kamu seperti itu sih Sayang? Jangan begitu sama putramu sendiri," ucap Rara.
"Tidak ada!" balas Rendy.
Sementara Rara membujuk Rendy. Naura terdiam lalu ia memikirkan apa yang tengah dialami oleh Rayn saat ini.
"Memangnya ada masalah apa ya Om tentang pekerjaan Rayn?" tanya Naura.
__ADS_1
Rendy menatap lekat ke arah Naura yang bertanya lalu ia mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum tipis melihat Naura yang tengah penasaran kepada Rayn yang sedang dalam masalah saat ini.