
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Setelah bermain game cukup lama, Naura kini tertidur di dalam kamarnya. Ia tertidur tanpa mematikan gamenya, biasanya ia selalu menyelesaikan permainannya. Namun dia tertidur tanpa mematikan handphonenya ataupun berbicara dulu kepada temannya yang menjadi lawan mainnya itu.
Rayn mengerutkan dahinya ketika mendapati teman bermainnya, tidak melanjutkan permainan lagi. Setelah berulang kali, ia mengirim chat kepada temanya itu. Namun tidak ada lagi balasan ataupun tanda eudah dibaca pesannya. Rayn tersenyum, ia bahkan menggelengkan kepalanya mengingat teman lawan mainnya itu memang sangat sering seperti itu.
"Dia pasti tertidur lagi, dasar tidak waspada sekali dia," ucap Rayn.
Ia mematikan permainannya dan menyimpan handphonenya. Lalu ia memperhatikan adik perempuannya yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya di dalam kelas. Rayn berjalan dan meninggalkan kelasnya tanpa menghiraukan anne-marie perempuannya yang melihatnya terheran-heran ketika ia pergi dari kelas Aris melihat Amira yang memperhatikan Rayn penuh perhatian.
"Nah kan kamu tidak bisa pergi darinya kan? Ngaku saja Amira, kamu jatuh cinta padanya kan?" ucap Aris.
"Kok kamu makin gila Ris!" balas Amira.
"Aku tidak gila! Kamu tuh yang gak jelas, bilang gak suka tapi perhatian gitu sama Rayn kan aneh!" ucap Aris.
"Memangnya kenapa? Kamu cemburu?" balas Amira.
Aris tertegun mendengar ucapan Amira yang diluar dugaannya, ia bahkan terdiam ketika melihat Amira. Gadis yang ada di sampingnya itu memasang senyum manisnya, dengan hijab yang sangat rapih dan pakaian yang sederhana. Dia melihat ke arah Aris yang terdiam melihat Amira ya mengangkat sebelah alisnya sembari tersenyum kepada Aris.
Saat Aris mencoba untuk mencerna ucapan Amira yang tengah menggodanya .Dia menepuk jidat Amira dengan sangat keras. Pria yang perawakanya cukup tinggi itu meski dirinya selalu berlaga dengan gaya sedikit culunnya, ia tidak bisa membohongi perasaannya tentang dirinya yang menyukai Amira.
Namun demi menjaga sebuah persahabatannya. Aris tidak ingin jika dia harus mengorbankan persahabatan hanya demi perasaan yang hanya dan pastinya itu akan hanya bertepuk sebelah tangan saja.
Pasalnya Aris bukanlah pria yang seperti Rayn yang memiliki pesona kharisma sehingga membuat para gadis menyukainya, namun hanya Amira yang begitu baik dan dengan senang hati mau bersahabat dengan Aris yang terbilang seorang pria yang cukup penakut bahkan tidak mudah bergaul.
"Jangan terlalu serius untuk meracuniku Nenek," ucap Aris.
"Apanya yang meracunimu? Aku aja hanya bertanya? Apa kamu cemburu?" ucap Amira.
"Ya, kamu meracuniku dengan pertanyaan seperti itu? Itu adalah hal yang tidak mungkin jika aku harus menyukai kamu! Apalagi sampai harus berpacaran dengan mu, karena ada seorang pria tampan yang menunggumu tepat di pintu keluar ruangan kita ini," ucap Aris.
"Apa maksudmu?" tanya Amira.
Saat Amira mencoba untuk bertanya kepada Aris, namun ia menoleh ke arah pintu keluar melihat rayon yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah pintu.
"Jadi maksudmu dia?" tanya Amira.
Amira mengerutkan dahinya tentang ucapan yang dibicarakan oleh sahabatnya itu, yang sedikit tidak karuan dan juga tidak jelas.
"Iya ... dia jauh lebih baik untuk menyukaimu dibandingkan aku," jawab Aris.
"Kamu pikir aku tipe cewek yang suka melihat penampilan dahulu? Aku ini orangnya bukan tidak suka sama kamu. Tapi kita itu sudah menjadi sahabat sejak dulu jadi mari kita pertahankan persahabatan kita hingga akhir hayat memisahkan kita," ucap Amira tersenyum dan memegang tangan Aris.
__ADS_1
'Yah, meski aku juga tidak tahu apa sebenarnya yang ada di perasaanku ini Ra, tapi aku gak mau kehilangan sosok gadis sepertimu di dalam hidupku, mau kamu sebagai sahabatku ataupun lebih aku gak akan pernah mau kehilangan kamu,' batin Aris.
Lain dengan Amira yang tersenyum penuh ketulusan detak jantung Aris, yang berdetak begitu kencang menatap lekat wajah gadis yang ada di sampingnya itu. Seorang gadis yang memang membuatnya semakin menyukainya. Meski Aris juga tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini, namun ia lebih merasa lebih baik ketika hanya sebatas berteman dengan sahabatnya Amira yang selama ini selalu ada saat ia sedang terpuruk karena keluaraganya yang tidak jelas.
"Ayo kita pulang!" ajak Amira.
"Kok, pulang? Bukannya masih ada mata kuliah ya?" tanya Aris.
"Ada temanku di rumah, jadi aku takut dia merasa bosan sendirian," jawab Amira.
"Teman apa? Cewek apa cowok? Aku mau kenalan donk!" ucap Aris antusias.
"Datang saja besok nanti aku kenalkan, sekalian biar kamu tahu!" balas Amira.
Keduanya kini keluar dari ruangannya dan berpisah untuk pulang. Saat Amira berjalan dan menunggu halte bus duduk di tempat tunggu. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.
"Ayo Dek, Kakak antar pulang! Soalnya Kakak harus sesegera mungkin ke perusahaan Papa!" ucap Rayn di balik kemudi.
"Hmm, iya Kak," balas Amira.
Amira dan Rayn kini berada di mobil yang sama menuju ke rumah mereka.
Dari kejauhan, sepasang mata melihat dengan tatapan tajam, ia seorang gadis yang memasang wajah senyum tipis tidak sukanya. Namun setelah itu ia pergi menjalankan mobilnya sendiri dengan perasaan antara kesak senang dan picik.
Ia tersenyum dan tertawa ketika mendapati sebuah photo yang dimana Amira memasuki mobil mewah yang di tumpangi Rayn. Ia tersenyum dengan liciknya ketika mengingat rencananya.
Saat sampai di rumah, Rayn berjalan lebih dulu meninggalkan adiknya yang baru saja membuka pintu mobilnya. Ia berjalan memasuki rumahnya dan menaiki tangga, sampai di depan pintu sebuah kamar yang sedikit terbuka. Ia mengerutkan dahinya, ia mencoba mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari orang yang di dalam kamar tersebut. Rayn ingin melihat Naura yang tengah tertidur di atas tempat tidurnya.
Bahkan gadis itu terlentang sembarangan saat Rayan menghampirinya, ia tersenyum tipis ketika melihat Naura yang tidur dengan posisi kepala dan rambut terurai ke lantai.
"Gadis ini tidak waspada sekali! Tidur saja tidak seksi," ucap Rayn tersenyum.
Saat Rayn mau membenarkan posisi tidur Naura dengan benar. Namun saat ia mencoba untuk membenarkan Naura tiba-tiba sebuah tangan mencegah tangannya. Dia melihat Naura yang menatapnya tajam ke arahnya. Namun Rayn tersenyum melihat kekasihnya itu.
"Sudah bangun! Kenapa? Kamu sudah bangun?" tanya Rayan.
"Iya, Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku datanya" jawab Naura.
"Aku hanya sedang melihat gadis yang sedang tertidur dengan sangat cantik!" jawab Rayan.
"Bisa tidak jangan menggombal! Kamu sudah pulang? Di mana Amira?" ucap Naura.
"Di ada di bawah! Ayo turun kamu makan. Sebentar lagi aku akan pergi ke kantor," balas Rayn.
__ADS_1
"Kamu akan pergi lagi?" tanya Naura mengerutkan dahinya.
"Iya ada kerjaan yang harus aku selesaikan!" jawab Rayn menyentuh pangkal hidung Naura..
"Baiklah ... nanti jangan lupa pulang!" ucap Naura manja.
"Tentu saja, aku akan pulang apalagi di rumah ada seorang gadis yang cantik menunggu kepulanganku sama," balas Rayn tersenyum.
Ia menarik tangan Naura untuk bangun dari atas tempat tidurnya dan kini mereka berjalan sembari berpegangan tangan. Dengan Rayn menuntun Naura, saat mendapati perlakuan sangat lembut dari kekasihnya itu, Naura tersenyum lalu ia melihat tubuh kekasihnya itu.
Naura senyum di wajahnya, ia tampak bahagia ketika saat ini berada tepat di samping Rayn dengan perlakuannya yang sangat lembut kepada dirinya. Saat keduanya menuruni tangga. Amira tersenyum dan memiringkan kepalanya. Ia sangat bahagia ketika melihat kakak nya memasang wajah senyum yang sangat bahagia itu terlihat olehnya.
Bagi Amira ketika melihat senyum di wajah tampan kakaknya itu, adalah suatu anugerah yang sangat jarang ia lihat. Mengingat kakaknya adalah seorang pria yang yang sedikit acuh kepada siapapun. Ia hanya akan menanggapi dirinya, ibunya, adiknya Raisa dan terutama Naura. Bagi Amira melihat Rayn wajah senyum dari kakaknya itu adalah moment terindah baginya ataupun keluarganya.
"Apa kamu sudah masak sayang?" tanya Naura kepada Amira.
"Belum, aku menunggu masakan Kakak aja deh!" jawab Amira.
"Aku? Apa aku bisa masak?" tanya Naura.
Rayon dan Amira mereka tersenyum melihat wajahnya Naura yang menjadi salah tingkah. Ketika Naura tidak bisa memasak, apalagi makanan Indonesia. Namun ia tersenyum mengangguk menanggapi kedua adik kakak itu, yang tersenyum kepadanya.
"Baiklah, baiklah! Tapi jangan salahkan aku jika makanan yang aku buat tidak sesuai dengan perut kalian! Kalau lidah kalian sih aku tidak masalah," jawab Naura.
Ia berjalan mendahului Amira dan Dayan yang mereka saling tersenyum ketika melihat orang yang berjalan terlebih dahulu memasuki dapur Jadi namun saat Naura berada tepat di meja makan ia tersenyum bahagia ketika melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja akan terlihat sangat enak.
"Waah, ini masakan siapa tanda tanya ini kamu yang masak merah? Bukannya kamu bilang mau aku yang memasak?" tanya Naura tersenyum dan memajukan bibirnya cemberut ke arah keduanya.
"Hari ini kita tidak masak Kakak Rayn memesan makanan di sebuah restoran. Jadi kita tinggal makan aja!" jawab Amira tersenyum lalu ia duduk di depan meja makannya.
"Iyakah? Syukur deh ya. Aku selamat dari acara masak buat kalian," ucap Naura tersenyum bahagia. Naura duduk di meja makannya.
"Ya aku tahu kedua gadis cantik ini memang sedang bermalas-malasan untuk memasak! Jadi aku pesankan saja makanan untuk kita. Agar kalian bisa menghabiskan sebagian waktu kalian untuk bersantai saja dan berbincang. Karena setelah ini aku harus pergi ke kantor," ucap Rayn tersenyum.
Naura dan Amira mengangguk tersenyum lalu ketiganya makan makanan yang sudah tertera di meja makan, dengan hati bahagia mereka makan tanpa berbicara, hanya terdengar suara sendok makan. Setelah itu mereka kini duduk di ruang tamu dengan Rayn yang akan pergi ke kantor. Sat Naura mengantar Rayn ke depan rumah dan pergi ke kantor.
"Apa kamu akan segera pulang?" tanya Naura dengan manja.
"Ada apa dengan calon istriku ini? Aku belum juga berangkat. Kamu sudah tanyakan pulang?" tanya Rayn tersenyum.
Lalu ia mencium kening Naura dengan lembut. Rayn tersenyum ketika melihat Naura yang tidak menjawab ucapannya.
"Baiklah tuan putri! Aku akan pulang secepatnya jika sudah selesai," ucap Rayn tersenyum.
__ADS_1
Rayn berjalan memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Naura yang tampak senyum terpaksa. Meski ia merasa ada hal yang sangat ingin sekali ia mencegah Rayn untuk pergi hari ini. Namun dia percaya akan kekasihnya itu dan kembali memasuki rumah. Ia duduk di ruang tamu bersama dengan Amira yang tengah memakan buah strawberry sebagai pencuci mulut mereka.