Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Menduga-Duga


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen dan vote yach... Selamat membaca kak.


Iyas dan Lina masih dengan asyiknya mereka menikmati pemandangan di taman dan danau tersebut di hadapan mereka. Namun tidak terasa langit sudah gelap bahkan Lina kini berdiri dan mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling Taman tersebut. Rina mengerutkan dahinya ketika melihat what langit yang sudah malam lalu ia melihat kearah hias.


"Jam berapa sekarang?" tanya Lina.


Iyas yang kini mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan Lina. Gadis  yang kini sudah berdiri dihadapannya.


"Sekitar jam 8 malam, ada apa?" Jawab Iyas sekaligus bertanya.

__ADS_1


Lina terkejut, mendengar jawaban Iyas, yang mengingatkan bahwa saat ini hari sudah malam, bahkan Lina belum pulang sama sekali. Seperti kalangkabut Lina berjalan kesana-kemari, lalu berbalik ke arah Iyas lagi dengan paniknya.


"Ayo kita pulang! Aku harus segera pulang!" ajak Lina.


Lina yang berbicara  kepada Iyas, dengan cepat ia memegang tangan Iyas dengan erat. Iyas tersenyum dan mengerutkan dahinya, ketika melihat tingkah panik gadis yang kini menarik tangannya.  Bahkan kini tangannya dipegang oleh Lina dan dituntunnya menuju mobil. Iyas tersenyum untuk kali ini, Lina berinisiatif untuk menuntunnya. Bahkan dengan tergesa-gesa. Iyas hanya tersenyum tipis lalu pikirannya melayang-layang kesana-kemari.


Sesampai di depan mobil, Lina terdiam mengingat suatu hal yang ia lupakan dengan tangan masih memegang tangan Iyas. Lina berbalik dan melihat kearah Iyas, lalu ia melihat tangannya yang masih memegang tangan pria dihadapannya itu. Lina terkejut dan melepaskan tangan yang memegang tangan Iyas dengan cara kasar. Wajah Lina memerah menahan malu, ketika dirinya dengan sangat berani menuntun seorang pria.


Ia bahkan memegang tangan pria dihadapan itu dengan sangat lama. Iyas tersenyum lalu mengerutkan dahinya ketika melihat reaksi Lina. Gadis itu menyadari bahwa dirinya telah menarik seorang pria hingga membuatnya merasa malu.

__ADS_1


"Tidak usah malu, tidak apa-apa lagi pula memang kita mau ke mana? Bukankah mobil kita mati!" ucap Iyas dengan santainya.


Lina mengerutkan dahinya, ketika mengingat memang kendaraan Iyas sejak tadi siang tidak bisa dihidupkan kembali. Lina membuang nafas kasar mengingat dirinya belum pulang juga ke kosannya.


"Sudahlah! Ayo duduk di dalam saja. Kita tunggu taksi yang akan menjemput kita nanti!" ajak Iyas.


Iyas lalu pergi mengitari mobilnya dan memasuki mobil dengan santainya dia duduk di kursi kemudi. Lina membulatkan kedua matanya juga menepuk kedua pipinya menahan malu. Ketika ingat dirinya tadi menarik dengan sangat berani. Untuk seumur hidupnya, kali ini Lina bahkan berani memegang tangan pria dengan sendirinya. Ia lalu mengambil nafas dengan dalam dan memberanikan dirinya untuk membuka pedal pintu mobil dan masuk duduk di kursi depan. Kini dengan Iyas di sampingnya. Pria itu sudah menutup kedua matanya dengan sweater memiliki.


Lina menghela napas lega. Ketika melihat Iyas yang bahkan biasa saja, menanggapi apa yang sempat ia lakukan kepada Iyas. Dari tadi mereka berdua memilih untuk diam dan menunggu taksi yang sudah Iyas Panggil. Sekitar 1 jam mereka berdiam diri didalam mobil, tanpa berbicara ataupun berbincang satu sama lain. Tanpa pembicaraan di antara mereka berdua, Lina mengedarkan pandangannya ke arah jendela dan langit malam yang sudah gelap. Ia membayangkan hal-hal yang akan terjadi jika. dirinya hanya berdua saja dengan pria yang tidak di kenalinya. Namun pria di sampingnya ini tampak pria baik-baik saja. Tidak ada menunjukan dirinya pria tidak bermoral seperti yang di bayangkan Lina.

__ADS_1


__ADS_2