Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Memantau Kasih


__ADS_3

NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.


Di malam hari mereka menyalakan api sembari membuat makan malam membakar ikan. Amira yang sedang membakar ikan bersamaan dengan kakaknya Rayn. Naura dengan Nisa menyiapkan yang lainnya. Namun Aris dan Zain saling diam duduk di alas tikar memperhatikan Rayn dan Amira yang kini tengah saling membakar ikan satu sama lain.


"Kak, Mira akan pergi ke perusahaan yang kakak bilang itu lusa nanti!" ucap Amira.


"Hmm, pergilah. Kakak akan dukung kamu sayang," balas Rayn tersenyum.


"Kak? Apakah Kakak akan secepatnya menikah?" tanya Amira.


"Kakak belum tahu, tapi Kakak gak akan melepaskannya!" jawab Rayn tegas.


"Hmm, kamu memang kakaku!" ucap Amira.


Rayn dan Amira tersenyum keduanya membakar ikan dengan saling membatu satu sama lain. Lain dengan yang lainnya. Zain dan Aris saling memandang dengan ketidak sukaan mereka dengan tajam saling memelototi masing-masing.


"Ayo makan!" ajak Naura dengan lembut.


"Astaga Rayn, istrimu manis dan cantik sekali hanya mengajak kita makan saja!" ucap Zain.


"Dia mengajakku bukan mengajak kalian!" balas Rayn dingin.


"Cih, sombongnya kamu punya istri cantik sekali," cetus Zain.


Tidak ada di antara mereka yang menanggapi perdebatan keduanya, namun mereka memakan makan malam mereka dengan kebersamaan dan juga Rayn yang disuapi oleh Naura begitupun dengan Amira ikut menyuapi kakaknya.


Melihat mereka melakukan hal yang seperti itu membuat orang-orang yang melihat adegan dimana ketiganya saling menyayangi membuat iri setiap orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Kalian ini seperti satu suami dengan dua istri," ucap Zain.


"Satu kali lagi kamu berbicara! Lebih baik kamu kembali saja kepada Paman!" tegas Rayn.


"Cih, segitu saja ancamannya mengusir terus. Aku kan hanya mengatakan apa yang aku lihat aja," balas Zain.


Mereka kini menghabiskan makan malamnya. Tanpa menghiraukan Zain yang tidak pernah putus dengan bayaknya pertanyaannya. Di malam yang sangat dingin di halaman rumah mereka berbincang dan bercnda di temani api ungggun yang sedang.


Dari kejauhan di lantai paling atas tuan Anggara memperhatikan cucu-cucunya yang tengah menikmati momen malam berkemah. Nynya Anggara menghampiri tuan Anggara, rambut putih yang sudah mengitari keduanya. Membuat mereka merasa hangat ketika melihat kedekatan cucunya yang saling menyayangi satu sama lain.


Begitupun dengan sikap kedua cucunya yang yang begitu mengagumkan, bahkan di usianya yang terbilang masih muda. Keduanya sudah bisa saling memahami satu sama lain, bahkan tidak ada di antara keduanya yang saling mengandalkan ataupun bermanja-manja.


"Kamu tahu cucu kita yang paling kecil pun, dia sangat pintar meski tingkah manjanya tidak tahu menurun dari siapa. Tapi yang aku tahu sepertinya itu menurun dari kamu," ucap Nyonya Anggara tersenyum kepada suaminya.


Ketika mendengar penuturan istrinya tuan Anggara memeluk wanita yang sangat ia cintai itu dengan erat, sembari memperhatikan cucu-cucunya di taman yang tengah bercanda-canda dengan bahagia.


Malam itu kini Rayn tertidur dengan adiknya Amira dalam satu tenda, begitupun Naura, Zain dan Nisa mereka tertidur pulas di dalam satu tenda yang sama. Lain dengan Aris ya tertidur di luar tenda dengan api unggun yang menyala sedang. Ia berada di dalam balutan tempat tidur berkemah yang yang membuatnya sedikit pengap, namun memberinya kehangatan ketika dirinya harus tidur di ruang luas di malam hari. Ia tampak terlihat tidak bisa tertidur ketika mendapat idirinya tengah kedinginan dengan angin yang berhembus dingin.


Di dalam tenda Amira duduk di samping kakaknya yang sedang bermain game, ia melihat lihat tempat dimana ia akan melamar pekerjaan lusa nanti.


"Apakah kamu sudah paham dengan tempatnya?" tanya Rayn tidak mengalihkan pandangannya dari gamenya.


"Ya aku sudah memahami setiap sudut lokasi perusahaan itu. Namun kenapa di sana tidak terdapat ruangan direktur?" jawab Amira.


"Benarkah? Kenapa Kakak tidak menyadarinya?" tanya Rayn.


Rayn yang menyimpan handphonenya lalu melihat denah lokasi perusahaan di mana Amira akan bekerja disana.

__ADS_1


"Mungkinkah di privasi atau dibuat samar oleh mereka tentang denah ini?" tanya Rayn memperhatikan handphone Amira.


"Aku sudah tahu kok Kak, lokasinya," ucap Amira.


"Kamu? Hmmm, kamu memang adik aku yang sangat pintar," ucap Rayn.


Setelah melihat Rayn tertidur, Amira masih dengan handphonenya mencari tahu letak dimana ruang direktur utamanya. Ia tersenyum ketika bisa mengetahui dengan tepat ruangan utama di perusahaannya. Bukan ada hal dan tujuan tentang Amira mencari tahu letak denah perusahaan tujuan dia bekerja, tapi mengingat ayahnya yang ketua mafia, membuat Amira harus lebih bisa menjaga dirinya dan juga lebih pintar sebelum anak buahnya.


Karena bagi Rayn dan Amira berada di bawah perlindungan diri sendiri adalah jauh lebih bagus, di bandingkan harus berlindung di bawah pantauan ayahnya yang juga mesti melindungi mereka. Dengan beberapa anak buahnya, yang tersebar di berbagai tempat mengawasi mereka berdua yang menurut ayahnya masih dalam masa remaja yang labil.


Meski Rendi sudah tahu jika kedua anak kembarnya jauh lebih pintar darinya dan licik dari musuh-muduhnya. Namun bagi seorang ayah anak-anak di matanya tetaplah sebagai anak-anaknya. Maka dari itu Rendi tidak pernah melepaskan pengawasannya pada kedua anaknya itu terutama anak gadisnya yang masih belum terlihat kemampuan dalam berbaur di dunia luar.


Untuk kali ini Amira bekerja sebagai karayawan di perusahaan lain, adalah hal yang sangat tidak di sukai oleh Rendi, namun hanya dengan cara seperti itu, Rendi akan tahu kemampuan sesunggguhnya putrinya itu dalam melindungi dirinya sendiri dan juga dalam berkarir.


Setelah itu Amira menyimpan handphonenya dan melihat kakaknya yang sudah tertidur, lalu ia keluar dari tenda melihat sahabatnya yang tengah menutup kedua matanya tertidur. Namun dalam keadaan tidak nyaman, dia membolak-balik tubuhnya kesana kemari merasakan dinginnya di luar ruangan di tengah-tengah perkebunan. Amira tersenyum lalu menghampirinya duduk di samping tepat Aris tertidur.


Ia duduk sembari memegang kedua lututnya memandangi langit-langit malam yang berbintang. Ia tersenyum ketika mengingat senyum tawa ibunya dan juga adik kecilnya Raisa.


"Apa kamu juga jatuh cinta hingga di tengah malam seperti ini kamu tersenyum?" tanya Aris.


Ia sudah duduk di samping Amira, tanpa gadis itu sadari.


"Yah, aku bahkan sangat mencintainya," jawab Amira sambil tersenyum mengingat betapa besarnya kerinduannya kepada ibunya.


"Pantas saja kamu tidak jatuh cinta kepada Rauyn! Kamu ternyata sudah ada seseorang yang kamu cintai," ucap Aris.


"Ternyata pikiranmu semakin kesini semakin tidak karuan dan malah terlihat sangat bodoh!" balas Amira.

__ADS_1


"Ya ya, aku memang selalu bodoh di matamu, tapi aku sangat menyukainya ketika kamu yang mengatakan aku bodoh," ujar Aris.


Amira mengerutkan dahinya mendengar penuturan sahabatnya itu yang terdengar sangat tidak masuk akal, dengan apa yang diucapkannya. Namun ia hanya tersenyum tipis membiarkan sahabatnya itu membuat kopi di tengah malam, begitupun dengan Amira membuat secangkir susu coklat. Meski begitu banyak pengawal dan pelayannya berjaga dari kejauhan, tidak ada satupun diantara mereka yang mendapatkan tugas untuk melayani Amira dan Rayn apalagi beberapa teman-temannya.


__ADS_2