
Setelah perjanjian dengan perjodohan antar sahabat, Rendi Anggara dan Robert Mark. Kini ikatan di antara kedua keluarga yang bersahabat itu, semakin erat karena adanya hubungan masa depan yang sudah pasti akan jauh lebih erat dan dekat. Mengingat Rwndi dan keluarganya sudah terlalu lama di Singapura. Mereka berencana untuk kembali ke Indonesia.
Kini Rendi dan keluarganya sudah berada di bandara bersamaan dengan Mark yang mengantar sahabatnya kembali ke Indonesia. Lain dengan keluarganya Naura dengan Rayn dan keduanya semakin dekat. Meski sikap mereka sama-sama dingin dan acuh. Kini keduanya sudah jauh lebih dekat setelah acara perjodohan. Setelah 2 hari yang lalu Rayn dan Naura sesekali berkomunikasi, walau hanya sepatah dua patah. Saat di bandara keduanya mengikat janji bahwa jika mereka sudah remaja keduanya akan bertemu.
Naura melihat ke arah rombongan Rendi dan Rara namun fokus pada Rayn yang kini sudah tersenyum tipis berbalik melihat Naura. Begitupun Naura tersenyum melihat Rayn. Ia sudah mulai menerima Rayn sebagai calon suaminya kelak.
Setelah melihat pesawat Anggara lepas landas. Naura dan Mark kini berbalik dan meninggalkan bandara dengan Naura di pangkuan Mark.
Alea yang berada di samping mereka. Kini melihat kehangatan Mark terhadap putrinya. Ia begitu mengagumi Mark dan juga putrinya yang teramat manis di matanya.
"Daddy?" tanya Naura.
"Hmmm," jawab Mark.
"Daddy lupa ya?" tanya Naura kembali memajukan bibirnya terdiam.
"Tidak," jawab Mark.
"Lalu, kenapa sampai sekarang masih belum juga?" tanya Naura lagi.
"Bukannya kamu juga sibuk dengan calon suamimu itu?" goda Mark.
"Tidak Dad, Ura gak gitu kok," jawab Naura dengan malu-malu.
"Heh, kamu pikir apa yang tidak Daddy tahu tentang putri kesayangan yang nakal ini?" tanya Mark dengan gemas mencium pipi Naura.
Melihat kedekatan ayah dan anak, membuat Alrea tersentuh dan tersenyum mengagumi Mark seorang yang dingin. Namun bisa sehangat itu dkepada putrinya.
Sangat manis kutub utara ini,batin Alea.
Sesampai di depan mobil, Naura pindah ke mobil yang khusus untuknya dan Mark kini masuk ke dalam mobilnya bersamaan denga Alea di sampingnya. Alea terdiam dan berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Tuan, bisakah saya di mobil nona muda saja?" tanya Alea sedikit ragu.
"Kau sekertaris siapa?" tanya Mark.
__ADS_1
"Anda," jawab Alea.
"Masuk!" tegas Mark tersenyum tipis penuh kemenangan.
Pasalnya, Mark memerintahkan Naura di mobil belakang, karena ada hal yang akan Mark lakukakan denga sekertaris barunya itu dan Naura sangat mengerti, hingga ia membiarkan ayahnya hanya berdua saja.
Kini di dalam mobil hanya ada Mark dan Alea. Hanya ada Alea yang merasa gugup berada di samping Mark duduk berdua saja. Ia menjadi salah tingkah ketika harus melirik ke arah Mark yang memperhatikan wajahnya sedari tadi.
"Hmm Tuan, kenapa tuan Iyas belum mengantar Lina untuk kembali ke Indonesia?" tanya Alea mencoba membuyarkan suasana.
"Aku bukan ayahnya," cetus Mark.
Suasana menjadi sedikit dingin ketika Alea mengalihkan pembicaraan pada yang lain.
Kenapa berasa aku yang harus membujuknya sih? batin Alea.
Mark terdiam dengan tanpa berbicara sepatah katapun. Ia merasa kesal ketika dirinya mau membahas tentang mereka berdua. Tapi Alea malah bertanya yang lain. Kini Mark memilih untuk berdiam dan tidak menghiraukan Alea yang sedari tadi bertanya segala hal.
Alea yang merasa tidak di hiraukan, ia merasa jesal dan geram melihat tingkah Mark yang justru semakin acuh kepadanya.
Mark yang mendapat serangan dari Alea. Ia mengerutkan dahinya dan tersenyum penuh kemenangan. Meski ciuman Alea tampak kaku, namun Mark menikmatinya. Setelah cukup lama. Alea melepas pautannya dan menatap lekat wajah Mark di hadapannya tanpa jarak. Alea menatap wajah Mark yang kini juga menatapnya.
"Masih tidak menghiraukan aku?" tanya Alea menatap Mark.
Mark tidak menjawab Alea. Namun ia mencium kembali bibir ranum Alea dengan kelembutan dan benar. Tidak seperti apa yang di lakukan Alea padanya tadi yang sedikitpun tidak ada benarnya mencium tanpa bernafas. Setelah cukup lama mereka berdua menikmati momen ciumannya. Kini mobil terhenti tepat di kediaman Robert.
Alea tertegun dan mendorong tibuh Mark kebelakang hingga Mark mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis melihat Alea yang tersipu malu.
"Inisiatip yang bagus, gajihmu akan 2kali lipat bahkan lebij jika kerjamu benar," ucap Mark membenarkan pakaiannya.
"Hmm," jawab Alea merapihkan pakaiannya dan membuka pedal pintu mobil untuk keluar dari zona berbahaya baginya.
Mark tersenyum dan keluar dari mobilnya yang di ikuti Naura yang kini tersenyum menghampirinya. Mark menggendong putrinya dan menghampiri Alea yang masih terdiam.
"Tante, kenapa?" tanya Naura berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Tidak ada Nona muda," jawab Alea salah tingkah.
Mark tersenyum dan berjalan memasuki kediamannya. Dengan Naura di pangkuannya dan Alea di belkangnya mengikutinya memasuki kediaman utama.
"Bro, aku pergi dulu," ucap Iyas keluar dari kamarnya dan melewati Mark yang berpapasan dengannya.
"Hmm, jangan lupa kembalikan ke asalnya," jawab Mark tegas.
"Astaga, memangnya mahluk astral di kembalikan? Dia manis kok, aku bahkan mau mendekatinya lagi," jawab Iyas dengan senyum penuh arti cinta.
"Terserah," jawab Mark berjalan memasuki rumahnya dan Iyas keluar dari rumahnya berjalan dengan senyum penuh kebahagiaan.
Pasalnya, saat malam tiba, Iyas melakukan kesalahan yang tidak semestinya ia laukan pada seorang gadis di bawah umur seperti Lina. Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada gadis itu.
Iyas menancap pedal gas mobilnya dan menuju hotel dimana Lina berada saat ini. Setelah semalam, Iyas mengajaknya keluar. Iyas lupa diri hingga berakhir mereka berdua di dalam kamar hotel. Meski Iyas hanya sedikit minum alkohol mengingat mantan kekasihnya. Saat dirinya melihat Lina. Ia lepas kendali dan membuat Lina dan dirinya tertidur bersama melewati malam yang panas hanya berdua saja di dalam kamar hotel Singapura.
Kini Iyas sudah berdiri di depan pintu kamar hotel dan membuka pintu kamar tersebut. Saat memasiki kamar tersebut. Iyas terkejut melihat Lina yang sedang menangis di atas ranjang dengan hanya selimut yang menutupi tubuhnya. Iyas menjadi ketakutan dan salah tingkah.
"Lin, maaf! Aku ... aku," Iyas mendekati Lina yang masih menangis.
"Apa yang kamu lakukan hah?" teriak Lina.
"Aku tidak melakukannya hanya keinginanku seorang, tapi kamu yang minta Lina," jawab Iyas.
"Aku?" tanya Lina terkejut.
"Heem, semalam kamu juga minum dan malah mengajak aku pulang,namun aku lepas kendali saat kamu inisiatip menciumku," jawab Iyas dan menjelaskannya.
Lina tertegun mendengar apa yang di ucapkan Iyas tentang dirinya yang mengawali semua yang terjadi pada dirinya.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Bisa di bunuh mas aku ini," gumam Lina.
"Apa? Siapa yang akan membunuhmu? Biar aku yang menghadapinya," tanya Iyas meyakinkan Lina.
Lina terdiam dan melihat ke arah Iyas yang terlihat serius dalam berbicaranya dan juga mencoba memperbaiki dirinya yang kusut dan berantakan saat ink. Ia hanya terdiam melihat Iyas yang membereskan semua yang terlihat berantakanpada diri Lina.
__ADS_1