
Prolog
Setelah memberikan hadiah untuk mertuanya Rara melihat ke arah ibu mertuanya yang ternyata jauh dari bayangannya. Ibu mertuanya tidak seperti kebanyakan orang lain bilang bahwa ibu mertua sangat mengerikan. Tapi kenyataanya ibu mertua Rara sangat baik dan penyayang. Rara menemukan kehangatan seorang ibu dalam diri ibu mertuanya. Ia tersenyum memandang ibu mertuanya yang juga tersenyum padanya.
Ibu mertua Rara menyentuh tangannya. Ia tersenyum dan berkata dengan lembut padanya.
"Ayo makan Sayang, kamu pasti sudah lapar?" Ajak ibu Ratih.
Hati Rara terasa melayang saking bahagianya di perhatikan oleh ibu mertuanya. Ia mengangguk dan tersenyum atas ajakan ibu mertuanya.
Walau suasana terasa tegang di rumah besar keluarga Anggara bagi keluarga Anggara yang lain.
Setelah acara penyambutan yang mengharuka. Rara yang memberikan sebuah boneka untuk ibu mertuanya.
Bahkan boneka besar itu hal yang mengejutkan bagi semua orang.
Tapi lebih mengejutkan lagi saat nyonya besar menyambutnya dengan senyum terbuka bahasa yang ramah dan merentangkan tangannya untuk berpelukan dengan Rara.
Kejutan seperti itu yang Rara lakukan malah membuat ketegangan seisi rumah besar termasuk suaminya.
Setelah berbincang dan kebanyakan Rars yang tertawa. Nyonya besar mengajak menantunya untuk makan malam bersama.
Rara justru sangat gembira ia setuju dengan bahagia ketika ibu mertuanya mengajaknya makan bersama.
Kini mereka sudah berada di meja makan sudah tersedia makanan hijau di sana.
Semua khusus makanan untuk ibu hamil. Ada daging panggang,steak yang terbuat dari daging dan sayuran hijau,juga semua yang tertera di meja adalah makanan khusus ibu hamil.
"Waaaaah Mah, ini semua makanan yang sangat banyak,juga terlihat enak sekali Mah ! Apa aku sudah boleh makan aku sangat lapar tadi Rendi sama sekali tidak memberiku makan, " ucap Rara manja.
Rendi mengerutkan dahinya mendengar ucapan istrinya yang tidak ia duga. Ia berdecak bergumam sendiri.
"Astaga, bukankah aku berkali kali mengajakmu makan di restoran,dan kamu bahkan memakan dengan lahap makanan yang di bawa Ken tadi sekarang kamu bilang seolah-olah aku menelantarkanmu huh," batin Rendi.
Rara yang melihat ekspresi suaminya yang seperti anak kecil itu tersenyum tertahan. Rara memandang meja makan dengan sangat menggiurkan.
__ADS_1
"Hmmmm Mah, apa aku sudah boleh makan?" Tanya Rara pada ibu mertuanya yanga ada di depannya tersenyum.
Ibu Ratih mengangguk dan tersenyum melihat tingkah Rara. Yang seperti bahagia mendapatkan mainan yang ia inginkan.
Apalagi di saat Rara memakan dan mencicipi semua yang ada di meja.
Ia seperti penasaran dengan apa saja yang ada di meja.
Rara memang tidak pilih-pilih dengan makanan apapun itu ia suka.
"Apaan, ini semua makanan terbuat dari sayuran yang khusuus ibu hamil. Dan kita juga harus memakanya?" Ucap seorang gadis muda yang berambut pendek di samping ibunya.
Ia berdecak kesal dengan semua makanan yang ada di meja makan. Ia tampak memberikan tatapan tidak suka pada Rara yang sedang makan dengan lahap.
Semua mata menatapnya dan memberi isyarat agar ia tidak berbicara.
Jelas tidak akan ada yang berani bicara karena ini semua nyonya besar yang merekomendasikan masakan malam ini.
Ibu Ratih tampak menatap ke arah suara ia menatap dingin kepada keponakannya di sebrang meja makan menatapnya tajam. Membuat orang yang melihatnya ketakutan.
Gadis yang berbicara tadi juga semua orang terkejut dengan perkataan ibu Ratih yang tegas.
Tadi mereka berpikir ini hal yang sangat konyol tapi tidak ada yang bergeming ataupun pergi dari tempat duduk mereka makan dengan seperti tidak terjadi apa-apa .
Rara tampak tidak menghiraukan ucapan orang yang dari tadi menggerutu. Tentang kedatangan Rara ke rumah besar Anggara.
Rara bersikap seolah-olah tidak mendengarnya. Ia mencicipi setiap menu makanan yang ada dihadapannya.
"Hmmm Mamah, ini sangat enak aku sangat suka mamah memng yang terbaik," puji Rara
Rara memuji makananya pada ibu mertuanya.
Dengan mulut yang penuh oleh makanan. Rendi yang di sampingnya menyenggol Rara dan berbisik.
"Jangan melebih lebihkan dengn berpura-pura menyukainya sayang bersikap biasa saja," bisik Rendi.
__ADS_1
"Apanya yang berpura-pura, aku beneran suka kok, lagipula ya kapan setiap ucapanku berbohong," tangkis Rara pada suaminya.
Ucapan Rara terdengar oleh semua orang.
Ibu Ratih tersenyum dia sudah tahu bahwa menantunya ini mempunyai sifat yang apa adanya.
Kalau dia bahagia dia akan bilang bahagia tapi kalau dia bilang tidak suka dia juga tidak bisa menahan diri bahwa dia tidak suka.
Itulah yang membuat ibu Ratih selalu mengagumi Rara. Ia tidak pernah semunafik seperti orang-orang yang ibu Ratih kenal.
Rendi yang tahu istrinya memang sangat polos apa adanya. Ia tersenyum melihat pipi istrinya yang penuh dengan makanan di mulutnya seperti sulit untuk mengunyahnya .
Mungkin karena ia tadi belum sempat makan karena hanya ngemil saja.
Selesai makan keluarga Anggara kembali ke kamarnya masing-masing. Tidak dengan Rara suaminya,ibu dan ayah mertuanya.
Mereka memilih untuk duduk di ruang tamu berbincang -bicang .
"Sebenarnya sangat jarang kami berkumpul seperti ini nak.
Tapi hari ini Papah sangat senang melihat ini semua. Kamu yang membuat kami berkumpul juga tersenyum dari tadi dan juga mamahmu sangat bersemangat menyiapakan makan malam ini," ucap Papa Rendi.
Rara terkejut dengan apa yang papa mertuanya katakan bahwa makanan malam ini ibu mertuanya yang menyiapkannya. Berasa seperti sebuah mimpi indah hal yang tidak mungkin terjadi bagi seorang menantu yang mendapatkan suguhan ibu mertuanya.
"Benarkah? Pantas saja aku belum pernah melihat makanan seperti tadi Mah. Juga sangat enak aku sungguh beruntung malam ini bisa makan makanan enak sekali," ucap Rara bahagia.
"Selama suamimu tidak memberimu makanan yang baik, kamu bisa datang kesini mamah akan menyiapkanya untukmu," ucap ibu Ratih tersenyum.
"Apanya memang aku tidak sanggup memberi makan buat istriku. Aku selalu memberinya makan," tangkis Rendi sedikit teriak.
"Ahahaha ... Sayang kamu emosian begini sih hanya begitu saja memang hari ini kita tidak makan dengan benarkan?" Ucap Rara tertawa.
Hanya Rara yang berani tertawa nyaring di rumah besar ini. Semua tersenyum melihatnya lain dengan para pelayan terheran -heran melihat kelakuan nona barunya.
Ibu Ratih sudah tahu bahwa Rara memang seperti itu apa adanya. Saat bertemu dengannya untuk yang kedua kali juga. Rara sesuka hati berbincang dan tertawa dengannya.
__ADS_1
Tidak seperti kebanyaka gadis-gadis lain yang mendekati ibu Ratih hanya untuk mendapatkan ke inginannya. Mereka mendekatinya dengan maksud ingin di jodohkan dengan puteranya.