
Menjelang di sore hari Rendi beserta teman-temannya kini di sibukan dengan pekerjaan bagian masing-masing. Rendi masih dalam ruangannya dengan pekerjaan yang banyak di hadapannya. Ia teringat akan sesuatu yang membuatnya teringat istrinya yang selalu membuatnya merindukannya.
Ia mengambil handphonenya dan melakukan panggilan video.
Saat Rendi melihat ke arah panggilannya. Rara menganggkat panggilannya dan Rara sedang berada di dalam kamarnya bersama putra dan putrinya yang tertidur di atas ranjangnya. Rara tersenyum ketika mendapati suaminya yang tersenyum padanya.
"Sayang ... kamu masih bekerja? Aku ingin dengar kamu merindukanku?" ucap Rara terkekeh dengan menutup senyumnya oleh sebelah tangannya.
Rendi tersenyum ketika mendengar ucapan istrinya.
"Aku memang sangat merindukanmu Sayang, sangat rindu, hingga sebuah katapun tidak cukup untuk memberitahumu bahwa aku sangat merindukanmu," jawab Rendi tersenyum pada istrinya yang terkejut mendengar ucapan suaminya yang teramat jarang mengatakan bahwa ia merindukannya.
Padahal mereka setiap hari bersama hanya sebuah pekerjaan yang memberi jarak pada mereka itupun hanya hitunga jam saja dan mereka akan habiskan sisa waktu semalaman hanya untuk bersama dan berpadu kasih.
"Sayang ... kamu ini seperti kita tidak pernah bertemu saja , kita bahkan bercinta setiap saat, apa kau tahu besarnya cintaku tidak terukir di dalam sebuah percintaan tapi terukir di dalam hati yang sudah ku serahkan hanya untukmu suamiku, jadi ... rindulah rindulah pada istrimu ini yang selalu merindukanmu," ucap Rara memasang bibirnya memaju kehadapan handphonenya mencium suaminya.
"Hahaha ... aku sangat ingin menciumu dan bercinta lagi dengan istriku ini, menggemaskan," tawa Rendi membuyarkan keheningan di dalam ruangannya.
Ia bahagia melihat dan mendengar istrinya yang teramat lucu akan kata-katanya.
"Jadi ... apa kau akan selalu merindukan aku Sayang? Jangan pernah berhenti merindukan aku karena aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintai dan merindukanmu setiap detikpun," ucap Rara.
"Sayang ... aku mau pulang, aku mau memakanmu," ucap Rendi mengerutkan dahinya.
"Hahaha Suamiku , kau itu tuan di setiap hal termasuk tuan di dalam hatiku ... jadi, lakukanlah apa yang kau mau, makanlah aku sesuka hatimu karena jiwa dan ragaku ini semuanya milikmu imamku," ucap Rara tersenyum tipis. Ia tidak tahu apa yang sedang Rara katakan tapi itulah kenyataannya. Hanya saja untuk kali ini ia untaikan sebuah kata-kata untuk suaminya dan untuk pertama kalinya, ia pandai merangkainya.
"Kamu tunggu aku Sayang, aku akan segera pulang," ucap Rendi membereskan dokumentnya dan melihat ke arah istrinya yang kini sedang tersenyum padanya.
"Baiklah Suamiku aku tunggu kepulanganmu aku akan berikan semua cintaku untukmu," tambah Rara tersenyum melihat suaminya yang kini sudah mengenakan jasnya dan berpamitan pada istrinya juga mematikan panggilannya.
Rendi berjalan keluar dari ruangannya dan sudah ada Ken, Mark dan Iyas yang sudah berdiri menunggunya. Mereka mengerutkan dahinya ketika melihat wajah berseri Rendi yang lain dari sebelumnya yang dingin dan tegas.
"Ada apa dengan Rendi ini dia seperti sedang jatuh cinta," batin Iyas tersenyum tipis.
Tidak ada yang berani berbicara apalagi bertanya dalam perjalanan keluar dari perusahaan. Tapi mereka mengikuti Rendi masih dengan segannya.
"Kita akan berangkat malam nanti Ken?" ucap Rendi.
"Iya Tuan," jawab Ken.
"Baiklah pulang dulu, aku ingin istirahat dan bersiap , kau ikut ke rumah dan jangan kemana-mana sebelum aku bicara nanti," tegas Rendi pada Ken dan Mark yang berdiri di hadapannya. Iyas hanya ikut mengangguk ketika mendengar ucapan Rendi.
__ADS_1
Rendi memasuki kendaraannya dan duduk di kursi penumpang dengan Ken di balik kemudi.
Mark melihat kendaraan Rendi sudah jalan lebih dulu darinya. Ia berjalan bersama Iyas memasuki mobilnya dan melaju mengikuti kendaraan Rendi yang kini berada di depan mobilnya.
Mark masih dengan pikirannya. Ia masih bertanya hal apa yang Rendi akan katakan sesuatu yang belum ia ketahui hal apa.
Iyas yang di sampingnya bertanya pada Mark yang membawa mobilnya tanpa percakapan di antara mereka.
"Apa yang kau pikirkan Bro? Apa kau merindukan putrimu?" tanya Iyas melihat ke arah Mark yang masih fokus dalam menyetirnya.
Mark masih dengan pandangan ke depan menancap gas dengan kecepatan sedang mengikuti kendaraan yang di balik kemudinya adalah Ken.
"Apa kau pernah berpikir tentang serikat hitam? tanya Mark tidak mengurangi pandangannya ke depan jalanan.
"Ya ... aku hanya bertanya siapa yang menjadi keta besarnya," jawab Iyas menopang dagunya dengan tangannya sambil berpikir dan bertanya tentang seseorang yang tidak pernah ia ketahui.
"Apa kau pikir Rendi sudah mengetahuinya?" tanya Mark kembali.
"Apa benarkah? Aku tidak berpikir kesana Bro, tapi darimana kau bisa berpikir seperti itu? Bukankah jika dia sudah tahu harusnya memerintahkan kita untuk menyelidikinya?" ucap Iyas semakin penasaran akan apa yang di ucapkan Mark.
"Dan ada kemungkinan dia juga belum tahu pasti, atau dia hanya baru menduga saja, aku hanya berpikir akhir-akhir ini dia lebih banyak bertindak daripada memerintah, aku hanya merasa pekerjaanku semakin berkurang saja," ucap Mark mengerutkan dahinya.
Dua kendaraan kini sudah memasuki area Rendi Anggara. Setelah sampai di depan rumah utama. Rendi keluar dari mobilnya tanpa menghiraukan yang lainnya. Ia juga tidak menyapa para pelayan yang memberi salam padanya. Ken melihat ke arah Rendi dengan tatapan kosongnya. Begitupun Mark dan Iyas yang melihat Rendi dengan sikap dinginnya masuk ke dalam rumah.
Ada banyak pertanyaan di antara mereka tapi tidak ada yang berani berbicara apalagi bertanya tentang perubahan sikap Rendi apalagi Mark dan Iyas. Mereka tidak berani bertanya pada Ken yang juga sedang berdiri depan rumah.
Ken memasuki rumah utama dan menghampiri anak istrinya.
Rendi berjalan mengitari ruang tengah yang terasa jauh baginya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya yang dari tadi menggodanya.
Rendi membuka pedal pintu perlahan. Ia takut jika anak-anaknya tertidur dan terganggu karena kedatangannya. Rendi memasuki kamarnya dan ia mengerutkan dahinya ketika melihat kamarnya yang tidak ada siapa-siapa bahkan istrinyapun tidak ada di kamarnya. Rendi mulai berjalan perlahan dan tiba-tiba seseorang dengan tangannya merangkulnya dari arah belakangnya. Ia tersenyum ketika melihat tangan itu. Ia berbalik dan merangkul pinggang istrinya yang tersenyum bahagia padanya.
"Istriku ini sudah mulai nakal ya, kamu mau menggodaku dengan pakaian seperti ini?" ucap Rendi tersenyum melihat wajah istrinya yang berseri tersenyum bahagia menengadahkan kepalanya melihat suaminya yang kini menunduk untuk memandanginya.
Mengingat Rara tingginya hanya sdada Rendi.
"Hmmm ... aku ingin menepati janjiku menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya untuk suamiku seorang," ucap Rara menggoda Rendi dengan senyum manisnya.
Rendi merangkul tubuh istrinya semakin menempel di tubuhnya. Ia tersenyum dan mencium pucuk kepala istrinya.
"Aku akan memakanmu setiap saat tapi juga akan selalu menghargai dan menghormati gadis tercintaku ini bukan karena nafsu semata tapi karena kau memang amat berharga bagi hidupku, maka jangan pernah kau ragukan cintaku ini Sayang," ucap Rendi mencium kening istrinya.
__ADS_1
Rendi memegang wajah istrinya. Mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya dan menempelkan bibirnya di bibir ranum istrinya yang berwarna semerah cery.
Ia menekan kepala istrinya memperdalam ciumannya dengan lembut hingga membuat Rara menutup kedua matanya menikmati sentuhan bibir suaminya yang lembut dan membuatnya terbang dengan kebahagiaan dari cinta dan kelembutan suaminya.
Rendi semakin memperdalam ciumannya dan kini Rara membalas ciuman suaminya hingga keduanyapun hanyut dalam ciuman manis mereka berdiri di depan ranjangnya dengan jendela terbuka dan langit malam yang berbintang.
Rendi melepas ciumannya dengan tangan masih memegang leher istrinya. Ia tersenyum ketika Rara membuka kedua matanya dan tersenyum manja menatapnya.
"Sayang ... jadilah istriku satu-satunya untuk selamanya dan jadikan anak-anakku setangguh dirimu dan sesukses papanya, hingga suatu saat kita bisa menghabiaskan waktu masa tua hanya berdua saja dan mereka yang menyayngi kita," ucap Rendi tersenyum dan mencium kening istrinya.
Rara memeluk erat suaminya dan menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya yang teramat ia cintai dan Rara merasa sangat bahagia ketika suaminya yang kini berdiri di hadapannya sedang mengusap kepalanya dengan senyum di wajahnya.
"Aku akan memakanmu malam ini sepuasnya tapi aku harus mandi dulu, tunggu aku dan jangan pernah berpaling dariku Sayang," ucap Rendi mengecup bibir istrinya an berjalan ke arah pintu kamar mandinya.
Rara tersenyum dan melihat suaminya yang kini sudah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rara merasa bahagia dan beruntung akan srtiap sentuhan dan cinta dari suaminya yang sangat ia cintai. Rasa cinta dan sayangnya semakin bertambah dan menumpuk hingga membuatnya tidak bisa berada jauh dari suaminya itu.
Hai kak ada karya author sebelah nih kak yang bagus recomended bila berkenan mampir ya kak.
Nama:Aliceline.
Judul karya: My Fate Is Yoi(MFIY)
Terkadang takdir hanya memberikan sebuah kesempatan untuk mengenalnya. Bukan untuk memilikinya. Takdir selalu memiliki jalannya. Entah itu berderai air mata atau derai air mata.
Amira Lin seorang gadis belia, putri pengusaha Lin Corp. Ia bertemu dengan Vincent Zhang, seorang presdir perusahaan Royal Corp.
Karena ikatan takdir yang mereka miliki.
Mereka berusaha menjalani takdir mereka masing -masing. Mereka memutuskan untuk hidup bersama.
Ada sebuah misteri besar yang mengguncang kisah cinta mereka berdua.
Sanggupkah mereka berdua menghadapinya?
Apakah mereka memang di takdirkan memang untuk bersama atau malah sebaliknya.
"Bertemu denganmu adalah nasib, tetapi tak bisa bersamamu adalah takdir yang ingin ku hindari."
__ADS_1