Istri Kedua Tercinta

Istri Kedua Tercinta
Masih Bersama


__ADS_3

Menjelang sore hari Rara terduduk di bawah atap tenda dengan merebahkan tubuhnya di kursi malasnya.


Rendi yang berada di sampingnya memegang tangan istrinya ikut berbaring di kursi sebelahnya.


Dengan suasana hati bahagia yang Rendi rasakan rasanya ingin saat ini juga ia mencumbu istrinya. Pikiran konyol Rendi kesana kemari mengingat istrinya sudah pandai berbicara untuk saat ini,dia bahkan sudah tidak bisa membantah setiap ucapan kebenaran istrinya itu.


Pengasuh Amira sedang menemaninya bermain permainan bola milik Rayn oleh Amira.


Dilla sedang bermain dengan Rayn yang sedang di pangkuan Ken di tepian pantai dengan air yang sesekali menerpa kaki mereka. Rayn ikut tertawa karena tingkah Tante dan Pamannya yang membuatnya tertawa.


Iyas berselancar begitupun dengan Mark yang ikut berselancar di tengah-tengah ombak gergelombang.


Rara membuka kacamatanya dan melepas genggaman tangan suaminya yang kini sedang tertidur.


Ia tersenyum melihat wajah suaminya yang terkena sinar matahari.


Rara tersenyum melihat suaminya yang terkena matahari di wajahnya.


Ia menghalangi trik matahari yang terkena wajah suaminya dengan berdiri di hadapan sumaminya,ia tersenyum dan juga memggeser tubuhnya agar suaminya terkena matahari juga terkadang tidak terkena berulang kali membuat suaminya gundah dalam tidurnya.


Rara menutup tawanya dengan kedua tangannya,menahan agar tawanya tidak terdengar suaminya.


Saat Rendi mulai merasa tidak nyaman dengan perasaan terkadang panas terkadang sejuk,ia membuka kedua matanya dan melihat wajah istrinya yang sedang tersenyum padanya.


Rendi tersenyum melihat wajah istrinya tepat di hadapannya.


"Kamu nyenyak,Sayang?" Tanya Rara.


"Kamu sedang menggodaku," ucap Rendi


"Tidak."


"Kemarilah!" Pinta Rendi.


"Hmmm,ada apa?" Tanya Rara.


Rendi mengisyaratkan matanya pada istrinya yang malah asik berdiri di hadapannya,tidak menghampirinya.


Rendi menarik pinggang istrinya dan membuat istrinya duduk di pangkuannya.


Rara terkejut dengan tingkah suaminya yang membuatnya terduduk di pangkuannya.


"Kamu mulai nakal ya,membiarkan suamimu kepanasan," ucap Rendi.


"Hehe,tidak kok,Sayang," ucap Rara.


"Apa kamu bahagia,Sayang?" Tanya Rendi.


"Hmm,aku sangat suka hari ini," jawab Rara.


"Kalau begitu mari kita tinggal lebih lama disini kita bisa sesering mungkin datang kesini," ucap Rendi.


"Kenapa? Aku ingin pulang Sayang, lagipula memangnya kita harus tinggal disini?" Tanya Rara.


Rendi terdiam dengan perkataan istrinya yang memng belum mengetahuinya bahwa Rendi berencana untuk tinggal di Jerman selamanya bersama istri dan anak-anaknya.


Tapi belum berani ia mengutarakan niatnya kepada istrinya. Ia merasa ragu karena istrinya selalu merindukan tanah kelahirannya walau hanya sekedar berlibur sebentar saja ke Jerman.


"Kenapa Sayang,kamu ko diam?" Tanya Rara.


"Hmmm,tidak ada kamu mau jalan sore gak Sayang?" Tanya Rendi.


"Mau,ayo Sayang," jawab Rara.


Rendi menarik tangan istrinya dan berjalan menelusuri pesisiran pantai.


Rendi melihat jeans istrinya.


Ia berjongkok dan menggulung celana istrinya. Rara terkejut ia mundur.


"Sayang,apa yang kamu lakukan?" Tanya Rara.


"Diamlah,aku bantu menggulungnya," ucap Rendi.


"Tidak usah Sayang kamu ini," ucap Rara.


Rendi tidak menghiraukan istrinya,ia tetap menggulung celana istrinya agar tidak terkena terpaan air pantai yang sesekali menyentuh menyapa kaki mereka.


Rara terkejut dan mengerutkan dahinya tidak percaya akan suaminya yang sedang membantunya menggulung celananya.


Ken yang melihat tuannya melakukan hal itu pada istrinya, ia tersenyum dengan kesungguhan tuannya menjaga istrinya.


Dilla yang melihat betapa romantisnya Rendi pada Saudarinya, ia mengerutkan dahinya saat melihat suaminya tersenyum melihat tingkah tuannya yang memanjakan istrinya.


Lain dengannya yang selalu tegas pada dirinya tanpa memanjakannnya ia memajukan bibirnya dan bersungut-sungut.


"Lihat tuh Tuanmu saja romantisnya bisa ia lakukan walau masih kaku juga, kamu kali-kali manjakan aku juga dong," gerutu Dilla.


"Memang apa yang belum aku kasih untukmu?" Tanya Ken.

__ADS_1


Dilla terdiam mengingat apa saja yang belum suaminya betikan untuknya.


Ia memikirkam setiap keinginannya yang selalu tersedia untuknya dari suaminya. Setelah lama berpikir Dilla tidak menemukan apapun yang belum tersedia untuknya dari suaminya ybv dingin itu.


"Ada?" Tanya Ken.


"Hehe,aku tidak tahu." Dilla cengengesan.


"Kamu yakin?" Tanya Ken kembali.


"Aku tidak tahu tapi aku mau kamu kaya Rendi !" Teriak Dilla.


"Kamu ingin aku seperti Tuanku?" Tanya Ken.


Rayn yang masih di hadapan Ken sedang memainkan pasir,ia tidak menghiraukan Pamannya yang berdebat dengan Tantenya.


"Kamu mau aku melarangmu untuk bertemu orang lain?" Tanya Ken.


"Hah,Tidak aku," ucapan Dilla terhenti.


"Kamu mau aku selalu membuatmu diam di kamar hanya untukku?" Tanya Ken kembali.


"Aku tidak mau, aku mau kamu seperti saat ini,yang selalu megerti aku," ucap Dilla tersenyum.


Dilla mencoba mengalihkan setiap pembicaraan suaminya yang selalu benar adanya terhadapnya.


Ken tersenyum dengan tingkah istrinya yang sedang salah tingkah kebingungan menjawabnya.


Ia tersenyum menghampiri istrinya dan mencium pucuk kepala Dilla.


Dilla terkejut saat mendapati suaminya yang menciumnya di ruang terbuka. Karena biasanya Ken tidak pernah melakukan hal intim di ruang terbuka. Ia membulatkan kedua matanya dan terdiam melihat suaminya bahkan tersenyum kepadanya.


"I love you," ucap Ken tersenyum.


Dilla terkejut dalam diamnya tidak mempercayai ucapan suaminya saat ini, ia terdiam mengingat ucapan suaminya yang terlalu mendadak dan aneh baginya.


"Ken apa yang kau katakan tadi?" Tanya Dilla menganga.


"Aku tidak mengulang perkataanku," jawab Ken acuh.


Ken menghadap ke arah Rayn dan membantunya membuat istana yang terbuat dari pasir.


"Ken katakan sekali lagi," rrengek Dilla.


"Tidak."


"Ken,ayolah aku mau mendengarnya lagi," ucap Dilla.


"Ken..!" Teriak Dilla.


Kesabarannya sudah habis karena ulah suaminya yang sangat tidak bisa membuatnya senang sekali lagi.


"Ken,aku akan bersusah payah malam nanti bagaimana?" Tanya Dilla.


Ken terdiam ia menghentikan aktivitasnya membuat istana pasir dan melihat ke arah istrinya yang memasang wajah imutnya pipi kembung dan bibir maju ke depannya.


Ken tersenyum dan mendekati istrinya, Dilla terkejut karena suaminya yang mendekatkan wajahnya kepadanya.


Ia menutup kedua matanya dengan tegangnya.


Tapi setelah lama ia menutup kedua matanya, ia tidak merasakan apa-apa dan mencoba membuka kedua matanya kembali.


Ia melihat wajah suaminya di hadapannya yang jaraknya sudah tidak terukur kembali.


Ken tersenyum melihat istrinya yang menutup kedua matanya bersiap untuk mendapatkan apa yang ia pikirkan.


Saat Dilla tidak merasakan apapun yang terjadi, ia melihat wajah lekat suaminya dan mengeritkan dahinya dengan bibir cemberutnya ia kesal akan tingkah suaminya yang menjahilinya.


"I love you, Sayang," ucap Ken pelan tapi jelas di hadapan Dilla.


Dilla tersenyum bahagia mendengar penuturan suaminya,saking bahagianya ia memeluk suaminya dan mencium bibir suaminya di saat itu juga.


Ken terkejut mendapati istrinya yang malah menciumnya di hadapan tuan mudanya.


Dilla tidak memperdulikan keadaan yang tidak hanya mereka berdua saja.


Karena hatinya sedang bahagia mendengar ucapan suaminya ia mencium dengan lama pada suaminya yang kini juga membalas ciumannya.


Bahkan Rayn menjadi saksi pernyataan cinta Ken pada istrinya Dilla.


Rendi dan Rara sedang berjalan bergandengan tangan dengan celana sudah tergulung rapih karena ketelatenan suaminya yang perhatian padanya.


Rara terlihat sangat bahagia mendapati perlakuan manja suaminya saat ini, karena bukan hal biasa suaminya memperlakukan hal lembut di muka umum seperti itu.


Mungkin di luaran sana akan ada banyak orang yang akan mencibirnya karena tuan Anggara yang pengusaha terbesar di Asia sangat patuh pada istrinya dan bahkan memanjakannya.


Rendi melihat ke arah istrinya yang sedang merentangkan sebelah tangannya menikmati udara lantai yang menyegarkan bagi penikmatnya.


Ia melihat wajah berseri istrinya yang penuh dengan syukur kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini.

__ADS_1


"Aku selalu berharap bisa bahagia,tapi aku tidak tahu jika kebahagiaan sesungguhnya sangat menyenangkan dan tidak bisa hanya dengan di ucapkan," kata Rara.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kebahagiaan itu berlalu untukmu Sayang," ucap Rendi memeluk istrinya dari arah belakang.


"Hmm,aku akan selalu menemani kebahagiaanmu itu Suamiku," ucap Rara.


Rendi menyusup ke leher istrinya dan menyentuh dagu istrinya, untuk berhadapan dengan wajahnya dan menciuminya dengan intens.


Mereka berciumam dengan posisi berdiri dan Rendi di arah belakang tubuh Rara.


Mereka menikmati setiap aktivitas ciuman mereka hanya berdua di depan pantai dan matahari yng sudah mulai bersembunyi.


Rara memejamkan kedua matanya saat mendapati ciuman dari suaminya yang kini mencoba menekan kepalanya dan mendalami ciumanmya.


Setelah melakukannya kini mereka berjalan kembali menghampiri Tenda dan teman-temannya yang kini sudah berkumpul di depan tenda.


Angin yang menggebus menerpa tenda dengan bersahabatnya dengan alam.


Angin menghiasi malam yang indah bagi siapapun yang harinya penuh dengan cinta dan kasih sayang.


Dilla sedang duduk di depan tenda dengan secangkir teh hangat di tangannya. Ia kini mengenakan baju hangat yang suaminya sediakan dari kopernya. Setelah mengingatnya Dilla ternyata menyetujui pendapat suaminya untuknya mengenakan pakaian hangat karena angin yang kencang berhembus di malam hari dekat pantai.


**


Rara di dalam tenda memberi minum susu pada putra putrinya, bersama suaminya yang kini sedang menyelimuti putrinya yang sudah tertidur lebih dulu dari siapapun termasuk kakaknya.


Rara tersenyum saat melihat suaminya sedang menepuk bokong putrinya dengan sabar dan lembut. Kini membuat putrinya tertidur dengan cepat,karena memang Amira lebih suka tidur dan cepat untuk tertidur pulasnya.


"Putri kita ini paling jago kalo masalah tidur, dia bahkan tidak tahu kita membawanya ke pantai untuk berlibur tetap saja ia tertidur dengan pulasnya," ucap Rara.


"Karena dia putriku,biarkan dia melakukan hal yang ia sukai karena hanya itu hal yang akan ia dapatkan di masa kecilnya, tentang masa depannya kita akan menentukannya yang terbaik," ucap Rendi.


"Haha, kita akan bimbing putri kita ini untuk menjadi gadis solehah,jika saat ini dia damai dan tertidur pulas maka hari esok dia harus menjadi pekerja keras dalam mencapai segala ke inginannya," ucap Rara.


"Akan aku berikan semuanya untuknya," ucap Rendi.


"Akan aku hukum kamu jika kamu melakukannya," tegas Rara.


"Kenapa?" Tanya Rendi.


"Karena kita tidak akan tahu hari esok apalagi masa depan Sayang, kita harus mengatur diri putra putri kita dengan baik agar mereka selalu terbiasa dengan kata berusaha," ucap Rara.


Rendi mengangguk dan memeluk istrinya yang selalu paling benar dalam berbicara.


"Baiklah aku serahkan semuanya padamu istriku," ucap Rendi.


"Kalau begitu, jangan biasakan selalu memanjakan putrimu yang tukang tidur ini ya," tegas Rara.


"Siap, Nyonya Rendi Anggara," ucap Rendi.


Rendi memeluk istrinya dengan melihat putra putrinya yang sudah tertidur. Ia memikirkan segala hal untuk masa depan keluarganya dan juga orang-orang di sekitarnya.


"Aku bahkan selalu memikirkan segalanya menggunakan uang Sayang, bahkan tidak terpikirkan untuk memberikan sebuah peraturan untuk putra putriku, aku hanya tidak mau mereka sepertiku yang hidup tanpa perhatia kedua orang tuanya," batin Rendi.


Rendi dan Rara keluar dari tendanya dan melihat semua sedang membakar daging panggang. Mereka sibuk kesana kemari memanggang steak yang akan di makan malam ini.


Rara menghampiri Dilla yang sedang duduk di depan tendanya meminum secangkir teh hangat.


"Kamu habis bercinta, duduk memegang secangkir teh dan memandangi suamimu yang sedang bekerja?" Tanya Rara duduk di samping Dilla.


Dilla terkejut saat mendengar perkataan Rara yang benar adanya.


Dilla salah tingkah tidak langsung menjawab semua pertanyaan Saudarinya. Yang saat ini sedang memandanginya dengan tajam dan tersenyum tertahan padanya.


"Hahaha,kamu kenapa Sayang,apa aku benar?" Tawa Rara.


Dilla salah tingkah dan terdiam saat Rara tertawa dengan kerasnya dan membuat semua yang berada di sana melihatnya yang dengan bahagianya menertawakan Dilla.


Dilla menutup mulut Rara yang sedang dengan lepasnya menertawakannya.


"Kamu jangan tertawa begitu nanti mereka bertanya hal yang tidak-tidak," ucap Dilla.


"Memamg kenapa?" Tanya Rara.


Dilla menggelengkam kepalanya ia sudah tidak bisa berbicara jika Sahabatnya ini sudah keluar dengan segala pertanyaan dengan segala kebenarannya.


"Uh...aku sudah merasa pusing dengan tawamu ini yang selalu benar adanya, bagaimana kamu tahu kalau aku habis," ucapan Dilla terhenti.


"Haha, aku hanya asal tebak saja,tapi reaksimu itu membuatku tahu kebenarannya," tawa Rara.


Dilla cemberut dan mengerutkan dahinya, ia merasa terjebak dengan tingkah Saudarinya yang membuatnya jadi semakin salah tingkah di hadapannya.


Adam dari balik api unggun di hadapannya melihat Rara yang sedang tertawa bersama Saudarinya, ada hati mengagumi saat melihat nyonya barunya itu, untuk pertama kalinya Adam melihat seorang wanita tertawa tanpa jaimnya.


Biasanya seorang wanita apalagi di setiap kalangan elit akan sangat jarang menunjukan jati dirinya yang menunjukan kealamian tentang dirinya. Tapi lain dengan wanita yang ia lihat saat ini, wanita yang dengan wajah polos dan alaminya ia tertawa bahagia tanpa beban.


Adam menundukan pandangannya dan fokus pada gamenya kembali yang sudah game over oleh tuan mudanya Rayn sedari tadi. Ia harus mengulangi permainanya jika ingin ke tingkat master. Adam mengabaikannya seperti hal yang biasa ia lewati tanpa memperhatikan seorang wanita dalam hidupnya.


Rendi memandangi lautan malam yang riuk piuk dengan kobaran ombak yang menenangkan segala pikirannya.

__ADS_1


Ia mengingat wajah berseri adiknya dahulu sama persis seperti istrinya saat ini. Tertawa bahagia hanya dengan bermain di tepian pantai.


Ia menarik nafas dalam dan menutup matanya ia tersenyum. Mengingat kembali senyum manis adik kesayangannya yang kini sudah tenang, karena kakaknya saat ini sudah mengikhlaskan kepergiannya dan bahkan berniat untuk membuat rumah di dekat pantai. Hanya untuk membahagiakan istrinya dan mengingat kenangan adiknya.


__ADS_2