
Rara memegang tangan ibunya dengan lembut. Dia duduk di samping ranjang pasien. Ia menggenggam erat tangan ibunya yang lemah. Ada sakit di dalam hatinya ketika melihat ibunya berbaring lemah, bahkan ia melihat ibunya terbaring dengan mata tertutup. Ibunya yang selama ini selalu menyemangatinya dan juga selalu menunjukkan bahwa ia adalah seorang ibu yang kuat dan bahagia.
Ibu Rara yang selalu membuatnya semangat dalam hal apapun, kini terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan bahkan ibunya pun tampak lemah dengan alat deteksi jantung yang berbunyi pelan. Rara mencium tangan lembut lemah ibunya dengan deras air mata yang mengalir di pipinya.
Ia semakin merasa sakit ketika ia, bahkan tahu lebih lambat. Seharusnya ia berada di samping ibunya saat pertama kali ibunya sakit. Apa lagi Ibunya selama ini dalam keadaan banyak hal yang ia pikirkan. Bagi Rara ibunya adalah segalanya, maka dari itu Apapun yang diucapkan ibunya selalu ia turuti. Karena ibunya pun demikian selalu menuruti setiap keinginannya.
"Ibu? Apa yang terjadi padamu Bu? Kenapa bisa seperti ini? Aku bahkan sangat merindukanmu Ibu. Mana ibu ku yang selalu tersenyum menyambut kedatanganku? Kenapa ibu malah Menutup Mata? Bahkan Ibu tidur terlalu lama disini, Rara sudah pulang Bu! Ibu cepat sembuh, Ibu cepat sadar, Rara ingin mendengarkan cerita ibu semua yang Ibu rasakan selama ini. Rara akan mendengarkannya dengan sabar Ibu bangun ya ya Rara ingin memeluk ibu," ucap Rara berbicara pada ibunya.
Rara duduk di samping ibunya berbaring dengan hati yang menangis. Rara tidak tega melihat keadaan ibunya yang seperti ini. Ia bahkan belum pernah melihat ibunya menangis. Apalagi sampai sedih yang ayahnya ceritakan, bahwa ibunya akhir-akhir ini sering berdiam diri dan tidak banyak bercerita.
Rara sangat kesal pada dirinya sendiri, karena di saat Ibunya membutuhkannya, Rara bahkan berada jauh darinya. Rara menggenggam erat tangan ibunya dengan air mata yang selalu mengalir di pipinya, menangisi ibunya yang masih belum sadarkan diri. Dokter bahkan menjelaskan bahwa ibunya dalam keadaan koma. Bahkan Dokter tidak bisa memprediksi Kapan ibunya akan sadarkan diri. Karena kepala yang terbentur mengenai bagian kepala belakang dan itu akan mempengaruhi kesadaran pasien. Apalagi sebelum terjatuh, pasien dalam keadaan banyak pikiran bahkan syok dalam suatu hal.
Rara tidak pernah menduga jika Ibunya bisa sampai banyak yang ia pikirkan. Apalagi memendamnya hanya sendiri saja. Biasanya Ibu Rara selalu terbuka dalam hal apapun. Maka dari itu, Rara sedikit tidak percaya jika ibunya banyak pikiran. Apalagi sampai tidak terbuka dalam berbicara. Ayah Rara bahkan menjelaskan jika selama satu minggu itu ibunya tidak banyak berbicara.
"Sebenarnya apa yang Ibu pikirkan? Apa yang membuat Ibu sampai sakit seperti ini? Apa karena Rara yang tidak ada di samping ibu, atau Ada hal lain yang membuat Ibu sampai seperti ini?" ucap Rara kepada ibunya yang masih Menutup Mata tidak sadarkan diri.
Rara mengedarkan pandangannya ke segala arah di ruangan perawat tersebut. Ia juga melihat ke arah pintu masuk ruangan tersebut. Pintu itu terbuka dan ternyata suaminya Rendi masuk kedalam dan menghampiri Rara yang melihat kearahnya. Rendy menghampiri istrinya yang masih duduk di samping pasien.
" Bagaimana keadaan ibu Sayang? apa kamu baik-baik saja?" tanya Rendi pada istrinya yang masih menangis.
"Ibu masih belum sadarkan diri entah apa yang terjadi pada ibu? Yang bisa membuatnya sampai seperti ini, apalagi sebelum kejadian banyak hal yang Ibu pikirkan hingga membuatnya sampai lengah," Jawab Rara kepada suaminya yang kini duduk di sampingnya.
"Kamu harus bersabar, kita berdoa saja yang terbaik agar sadarkan diri dan segera sembuh," ucap Rendy menenangkan istrinya.
Rara lalu menganggukkan kepalanya, mendengar ucapan suaminya yang kini berada disampingnya menemaninya. Ibu Rara yang belum sadarkan diri. Sekitar 1 jam Setelah Rara datang ke rumah sakit, Dilla beserta yang lainnya datang ke rumah sakit dan menghampiri Ayah Rara dan juga tuan Anggara yang sedang menunggu di luar ruangan.
Dilla meninggalkan putrinya kepada pengasuhnya. Ia juga ikut terkejut ketika mendengar ibu Rara dirawat di rumah sakit.
"Apa yang terjadi kepada tante Paman?" tanya Dila kepada ayah Rara yang kini berdiri dari duduknya dan menghampiri Dila.
"Dia terjatuh dari kamar mandi dan kepalanya terbentur sangat keras hingga membuatnya menjadi koma. Saat ini ini tantemu belum sadarkan diri juga dan Rara kini berada di dalam sedang menunggu tantemu," jawab ayah Rara yang kini sudah mulai tidak bersedih lagi karena mengingat adanya Putri semata wayangnya yang dapat menguatkan nya juga istrinya yang kini sedang terbaring di ruangan tersebut.
"Ya ampun! Apa yang terjadi dengan tante?Semoga tante cepat sadarkan diri dan sembuh seperti semula, apa Dila boleh masuk pemakaman?" tanya Dila pada pamannya. Dibalas anggukan oleh ayah Rara.
Dilla berbalik dan melihat ke arah suaminya yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Seperti seorang penjaga dengan pakaian formalnya. Dila menghampiri suaminya dengan senyum tipisnya.
"Apa yang kamu lakukan? Aku akan masuk ke dalam! Aku akan melihat keadaan tante saat ini! Apa kamu mau ikut ke dalam?" tanya Dila pada suaminya yang kini menanggapinya hanya dengan anggukan menyuruh Dilla masuk denga wajah datarnya.
Dilla tersenyum tipis dan ia membuka pintu masuk. Setelah memasuki ruangan tersebut Dilla melihat saudarinya Rara, bersama suaminya sedang duduk di tepi ranjang pasien. Dilla berjalan dan menghampiri Rara yang kini juga melihatnya. Ia memeluk Rara yang sedang menangis. Dilla ikut bersedih melihat keadaan ibu Rara yang masih belum sadarkan diri.
Dilla mengusap punggung saudarinya yang kini sedang menangis tanpa henti. Rendy berdiri untuk berpamitan keluar dari ruangan tersebut.
"Aku keluar dulu ya Sayang, jika nanti ada sesuatu kamu tinggal memanggilku dan juga Ken, aku akan menunggu di ruang tunggu bersama dengan ayah dan ibu!" ucap Rendy berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut kepada istrinya yang di balas anggukan oleh istrinya.
Rendi mengerti keadaan perasaan Rara saat ini. Ia bahkan tidak banyak banyak berbicara. Mengingat kondisi istrinya sangat sedih ketika mendapati ibunya terbaring tanpa sadarkan diri.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya nya Rara tidak banyak berbicara seperti biasanya. Hingga membuat Dila yang berada di sampingnya merasa gelisah dan cemas pada saudarinya yang kini tengah bersedih.
Rara menyesali dirinya yang berada tinggal jauh dari kedua orangtuanya hingga membuat Ibu tercintanya jatuh sakit. Perasaan bersalah yang telah rasakan teramat membuatnya merasa sedih. Karena di saat-saat dia dibutuhkan oleh ibunya hanya seorang diri tapi Rara berada jauh dari ibunya.
"Kamu harus yakin! Tante akan secepatnya sadarkan diri dan akan baik-baik saja. Setidaknya saat ini masih bisa menemani ibumu ataupun nanti sampai ibumu sadarkan diri! Kamu bisa menghabiskan waktu bersama ibumu," ucap Dilla menenangkan saudarinya Rara.
Rara mengangguk dan memeluk saudarinya Dilla disampingnya menggantikan suaminya tadi. Bagi Rara menangis dipelukan saudarinya jauh lebih nyaman dibandingkan menangis di dada suaminya saat ini.
"Terima kasih La, jika bukan karenamu mungkin aku sudah akan menangis hanya sendirian saja disini. Aku tidak kuat jika harus melihat keadaan ibuku dalam keadaan seperti ini! Apakah Ibuku akan secepatnya sembuh? Dia bahkan belum sadarkan diri. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Ibuku sadar?" ucap Rara menangis meratapi ibunya yang masih belum sadarkan diri itu.
"Apa yang kamu katakan ini Ra? Bukankah kamu selalu menyemangati siapapun dan dimanapun orang yang kamu sayangi termasuk ibumu? Saat ini dia mungkin tidak akan senang jika melihat kamu dalam keadaan seperti ini! Menangis terus dan menyesali segala hal yang semestinya terjadi!" jelas Dila menenangkan Rara.
Kini hanya ada Rara dan Dilla yang menunggu di dalam ruangan pasien.
Rendy keluar dari ruangan rawat dan ikut duduk bersama ayah dan ayah mertuanya. Disana juga ada saudara Rara yang ikut Duduk di ruang tunggu. Karena dilarang mengunjungi pasien lebih dari dua orang.
Mereka berbincang dan ayah Rara menceritakan kejadian yang menimpah keluarganya sebelum ibu Rara jatuh sakit.
Rendy mengangguk menanggapi cerita Ayah mertuanya dan memikirkan hal yang terjadi sebelum Ibu mertuanya kecelakaan. Ia juga merangkum isi cerita secara detail Ayah mertuanya. Adam ikut mendengarkan cerita dari ayah Rara, di dalam cerita Ayah Rara.
Seminggu sebelum kejadian ada seorang pria yang memberitahu Ibu Rara, jika keadaan keluarga Rara di Jerman sudah tak menentu. Apalagi mendengar rumah Rendy dan Rara hancur dan tak tersisa. Juga tersebar bahwa Rendy menghilang. Belum ada yang tahu dimana tempat Rara dan suaminya kini berada. Hal itu yang membuat Ibu Rara menjadi cemas. Bahkan ia mencoba menghubungi Rara dan Rendy tapi tak kunjung ada kabar.
Ibu Rara bahkan mengunjungi orang tua Rendy untuk mencari tahu keadaan Putri tercintanya. Pria yang tidak dikenal itu bahkan berulangkali menemui Ibu Rara dan menceritakan secara detail peristiwa yang menimpa Putri dan menantunya di Jerman. Ucapan pria itu, malah membuat Ibu Rara semakin khawatir akan keadaan ini putrinya.
Ayah Rara merasa sudah mendapatkan kebenaran tentang keadaan putrinya. Ia kembali ke Bandung dari Jakarta. Ketika ayah Rara sudah mendapati istrinya dirawat di rumah sakit di Bandung. Yang kebetulan diketahui oleh saudaranya yang saat itu kebetulan sedang menginap di rumah utama Permana. Hingga akhirnya ibu Rara di rawat di Jakarta atas permintaan Dokter di bandung.
Setelah mendengar cerita dari ayah Rara Rendi berpikir akan 1 hal janggal yang tidak ia mengerti. Jika memang seseorang memberitahu keluarga Rara bahwa keadaan keluarga Rendi sedang dalam kekacauan.
Rendi memikirkan motif orang tersebut menceritakan semua hal tentang keadaan Rara di Jerman. Juga bagaimana dia bisa tahu secara detail keadaan keluarga Rendi di Jerman saat itu.
"Kau cari tahu siapa yang yang bisa mengetahui keberadaanku di Jerman dan juga cari tahu secara rinci dan kejadianan saat sebelum Ibu Rara jatuh sakit!" seru Rendy pada Adam.
Juga di dengarkan oleh Ken yang juga ikut berdiri bersama Rendy kepada Adam.
"Jika memang ada seseorang yang memantau kita selain Dirga yang sudah mati! lalu siapa dan motifnya? Kenapa yang dia incar adalah keluarganya Nona muda?" ucap Ken memikirkan tentang seseorang yang sudah membuat rasa keluarga ga Rara.
"Yang pasti dia ada maksud lain dan juga dendam kepada aku!" ucap Rendy terdiam memikirkan setiap hal yang diceritakan oleh ayah mertuanya.
Lain dengan Ken dan Rendy Adammenggunakan handphonenya untuk memeriksa kamera pengawas yang Ia selipkan di rumah Permana saat dulu. Adam pasang saat ikut mengunjungi rumah orang tua Rara bersama tuannya ke Bandung. Adam masih belum bisa menemukan hal janggal, karena saking lamanya ia tidak pernah memeriksanya. Adam mempercepat pencariannya, waktu di mana orang tersebut datang ke rumah tuan Permana.
Saat semua sedang berdiam diri menunggu di ruang tunggu. Adam mencaritahu terus-menerus yang bisa ia dapatkan dari kamera CCTV yang Ia selipkan di rumah Permana. Kamera yang ia pasang di pintu gerbang rumah Permana. Yang awalnya Ia hanya iseng saja memasangkan CCTV di rumah nona mudanya itu. Adam mengerutkan dahinya, ketika melihat adegan dimana seseorang yang datang bertamu ke rumah Permana. Adam mulai memeriksa semua identitas orang-orang yang datang ke rumah Permana.
Ia meragukan salah seorang yang pemuda yang datang di waktu sore hari datang ke rumah Permana. Adam menghampiri Rendy dan Ken yang juga melihat Adam menghampirinya.
"Tuan, apa Anda mengenal orang ini?" tanya Adam menunjukkan handphone-nya dan disitu ada foto seseorang seorang pria yang mencurigakan bagi Adam.
__ADS_1
Rendy melihat handphone yang diberikan oleh Adam dan memperhatikan seseorang yang dibalik kamera tersebut dan ia bahkan tidak mengenalnya sama sekali.
"Kita tanyakan kepada ayah mertuaku!" ucap Rendi mengambil handphone Adam dan menunjukkannya kepada tuan Permana.
Saat Permana melihat foto pria tersebut ia mengerutkan dahinya dan mengatakan bahwa memang pria itu yang datang memberi kabar, bahwa terjadi sesuatu kepada Rara dan keluarganya di Jerman.
Bahkan pria tersebut berulangkali datang menemui ibunya Rara dan memperjelas setiap detail kejadian yang terjadi pada keluarga Rendi saat di Jerman.
Ia juga memberitahu tidak ada kabar dari keluarga Rendi saat itu. Hingha membuat keluarga Permana merasa khawatir akan keadaan putri semata wayangnya yang kini berada jauh di Jerman bersama suami dan anak-anaknya.
Rendy mengangguk menanggapi pernyataan dari ayah mertuanya dan kembali menghampiri Adam dan Ken.
"Kau cari tahu siapa orang ini dan ingat temukan dia dan bawa ke hadapanku kita akan tahu sesegera mungkin apa yang diinginkan pria ini dan siapa yang memerintahkannya!" Rendy memberikan handphone Adam dan juga memerintahkan Ken untuk memeriksa dan mencari tahu keberadaan pria tersebut yang sudah Mengusik ketenangan mertuanya di Bandung.
Setelah melakukan pemeriksaan secara detail pria tersebut. Adam masih meragukannya jika harus mengatakan langsung kepada Rendy disini. Ada keluarga Rendi termasuk ayah Rara.
Ibunya Rendi yang kini baru datang menghampiri Rendy dan ikut Duduk di sampingnya.
"Kamu sudah pulang Rendy? Kapan kamu pulang di mana istri dan anak-anakmu?" tanya ibu Rendi.
"Aku datang tadi siang mah, Rara kini berada di dalam menunggu ibu nya dan Putra putriku berada dirumah sekarang, tidak baik Jika mereka harus ikut menunggu di rumah sakit, " jawab Rendy.
Kini ibunya duduk di samping Rendi. Ibu Rendy mengangguk dan juga ikut bersedih menceritakan selama Ibu Rara dirawat. Ibu Rara sempat berpesan bahwa ada seseorang yang berniat buruk kepada putrinya.
Rendy mengangguk dan mengerutkan dahinya ketika mendengar cerita dari ibunya yang bahkan Ibu Rara pun sempat tahu jika ada orang jahat yang berniat buruk kepada Rendy.
"Ternyata memang benar, ini semua sudah direncanakan jadi Ibu tenang saja! Rendy pasti akan membereskan semuanya, Mah aku titip Rara jika ada sesuatu terjadi, secepatnya hubungi Rendy! Rendi akan mencari sesuatu untuk memperjelas dan menyelesaikan masalah ini," jelas Rendi meminta ayah dan ibunya agar tetap berada di rumah sakit.
Rendi khawatir Jika Nanti istrinya Rara menanyakannya yang tidak berada disampingnya. Orang tua Rendi mengangguk begitupun Ayah mertuanya memahami apa yang terjadi.
Bahkan Tuan Permana pun berpikir demikian bahwa semua yang terjadi belakangan ini sudah direncanakan oleh seseorang. Dengan motif tertentu. Rendy memasuki ruang rawat tersebut, di mana istrinya masih ada di dalam menunggu Ibu mertuanya yang menghampiri istrinya.
"Sayang, bolehkah aku pergi sebentar keluar?Ada sesuatu yang harus aku kerjakan dan juga ini sangat penting! Apa boleh?" Rendy meminta izin kepada istrinya.
"Kamu mau ke mana? Apa sepenting itu?" tanya Rara kepada suaminya. Ia takut akan sesuatu hal yang akan terjadi jika tidak ada suaminya di sampingnya.
"Ini sangat penting dan aku akan menyelesaikannya secepat mungkin dan aku akan kembali kamu harus tunggu di sini bersama dengan keluarga kita. Ada mama dan Papa di luar. Jika perlu sesuatu kamu tinggal perintahkan Adam, dia akan menunggu disini menjagamu dan akan ada beberapa anak buah ku yang menunggu diluar rumah sakit kamu tenang saja," jelas Rendy dan mencium kening istrinya.
Rara mengangguk dan memeluk pinggang suaminya mengizinkan suaminya untuk pergi keluar. Rendy tersenyum tipis dan berpamitan keluar ruangan.
Kini Rendy pergi dengan Ken untuk pergi ke ruang kerjanya dan mengambil sesuatu untuk mendapatkan informasi tentang orang yang sudah membuat Ibu mertuanya sampai kecelakaan.
"Aku rasa ibu mertuaku bahkan bukan jatuh dari kamar mandi melainkan ada seseorang yang mencelakainya, kau cari tahu secara detail kejadian penuh sebelum ibu mertuaku kecelakaan."
Perintah Rindi pada Ken di balik kemudi dan kini mobil mereka melaju untuk ke rumah utama Anggara. Ia akan mencari detail orang-orang di kalangan mafia yang masih bertolak belakang dengan jalan pikirnya selain Dirga.
__ADS_1