
Prolog Ken.
Ken dan Dilla berbicara dengan banyaknya pertanyaan di lontarkan pada Ken yang sama sekali tidak menjawab setiap pertanyaanya.
Mereka berdua memilih untuk tidak kembali ke rumah besar. Kini mereka dalam perjalanan kembali pulang tidak ada perbincangan di antara mereka berdua.
Tampak Dilla yang gelisah dengan suasana canggung di dalam mobil bersama Ken yang di balik kemudi. Sesekali ia melirik ke arah Ken yang sedang fokus mengemudi. Ken yang merasa di perhatikan melihat ke arah Dilla sontak Dilla memalingkan wajahnya ke arah jendela .
Ken melihat tingkah Dilla tersenyum tipis dan menduga-duga dengan segala pertanyaan yang menumpuk di benak Dilla yang tidak pernah kosong dengan seribu pertanyaannya. Ken yang merasa keadaan tuannya sudah membaik.
Ia memilih untuk mengantarkan Dilla membali pulang dulu. Setelahnya ia akan pergi ke Apartment tuannya untuk menanyakan kabarnya. Ken mencoba melihat ke arah Dilla yang tidak memandangnya malah asik dengan memandangi jalanan di balik jendela kaca mobil. Ken kesal dengan tingkah Dilla yang acuh padanya.Ia memarkirkan mobilnya ke pinggir di atas playover.
Mobil yang tiba-tiba berhenti membuat Dilla terkejut dan melihat ke arah Ken yang juga sedang terdiam memegang stir kemudi.
Ken melihat ke arah Dilla dan berkata.
"Ayo kita bicara," pinta Ken ia membuka pedal pintu mobil keluar bersamaan dengan Dilla juga keluar dari mobilnya.
Dilla menngikuti Ken ke pinggir jembatan. Ia berjalan dan melihat kendaraan berlalu lalang.
Mereka baru bertemu kembali setelah insiden Ken mencium Dilla.
Tidak ada pembicaran antara mereka kalaupun bertemu hanya sebatas pengunjung dan penjual. Ken masih diam begitupula Dilla tidak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka bicara bersamaan.
"Apa dia akan meninggalkan aku di tengah jalan begini ya duuuh kenapa kamu ini pendendam sih Ken aku kam belum punya uang untuk membayar hutangku," gerutu barin Dilla.
"Kamu," ucap Ken dan Dilla.
"Aku,"mereka bersama sampai Ken mendahului pembicaraan. Ken mencoba mendahului pembicaraannya setelah mereka berdiam lama.
"Jadilah wanitaku," ucap Ken singkat.
"Apa?" Teriak Dilla terkejut.
"Cium aku bila kamu mau jadi wanitaku," ucap Ken.
"Baru kali ini aku berpikir kenapa Rara memanggilku gila pada saat ini memang aku seperti orang gila seperti ini? Ini namanya aku di tembakan?" Batin Dilla.
Dilla bergelut dengan pikirannya sendiri sampai ia terkekeh dan gemas dengan pikirannya itu.
__ADS_1
Ken memperhatikan Dilla yang sedang asik dengan pikirannya sendiri yang baginya Dilla terlihat manis dengan kekanakannya.
Ken tersenyum tipis melihat tingkah Dilla yang tidak menutupi imagenya di hadapan seorang pria. Ia bahkan berani berpikiran lain saat di hadapan pria.
Mereka terdiam cukup lama dengan pikirannya masing-masing, tampak tidak ada perkataan lagi yang perlu Ken katakan lagi pada Dilla.
Ia yang terlihat bingung membuat Ken terdiam.
"Kalau kamu tidak mau baik..." Ucapan Ken terpotong di saat Dilla menempelkan bibirnya kepada Ken lama.
Bibir yang lembut membuat Ken membulatkan kedua matanya ada senyum di hati Ken.
Tapi ia tidak mengekspresikannya. Ken memegang kepala Dilla dan menekannya memperdalam ciuman mereka dengan intens.
***
Prolog Rendi
Sesampainya di Apartementnya Rendi mendudukan Rara di sofa. Rendi menatapnya dan mengecup istrinya yang terdiam. Rendi berdiri berjalan ke dapur dan kembali membawa wadah air juga kotak P3K. Rendi berjongkok mengangkat kaki istrinya mencucinya.
Rara meringis menahan sakit. Rendi memelankan mengusap luka goresan di kaki istrinya dan mengoleskan obat juga memakaikannya plester
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Rendi memegang perut Rara tersenyum.
"Heem Dia sangat baik bahkan aku sama sekali tidak merasakan mual apapun Sayang, waktu itu mamahmu bertanya apa aku merasa mual atau yang lainya aku sama sekali tidak merasakan apa-apa mamah bilang berarti anak kita sangat baik," ucap Rara.
"Yaaa, dia memang baik-baik saja tapi kamu sama sekali tidak baik akhir-akhir ini kamu banyak sekali permintaanya sampai memmbuatku kewalahan apalagi di saat kamu bersikeras ingin bertemu keluargaku terutama Mamah," ucap Rendi.
"Hehe, apa kamu menyesal sayang menghadapi semua permintaanku"?Tanya Rara tersenyum.
"Sama sekali tidak apapun itu akan aku usahakan untukmu juga anak kita,"jawab Rendi.
"Aku bahagia bahkan keinginan anak kita untuk bertemu ibu mertuakupun terpenuhi bahkan tinggal semalaman di rumah besar Anggara," ucap Rara senang.
"Kamu memang gadis gila yang sangat hebat Sayang," ucap Rendi tersenyumm.
"Ko gila sih, dasar Singa badai," ucap Rara cemberut.
"Hahaha iya Sayang, kamu memang membuatku ikut gilla karena mencintaimu," ucapan Rendi membuat hati Rara tersenyum kembali.
__ADS_1
"Hmmm kapan kita bisa bertemu mamahmu?" Tanya Rara bahagia.
"Sekarang juga boleh," jawab Rendi tersenyum.
"Benarkah Sayang?" Rara terkejut.
"Hmmm tapi ini sudah malam kamu lelah kasihan baby kita," ucap Rendi.
"Hmm iya yah tapi," ada raut kecewa dari wajah Rara.
"Sayang, kalau kita kesana sekarang bukankah kita akan mengganggu seisi rumah kamu tidak kasihan pada mereka yang bekerja dalam acara hari ini?" Ucap Rendi.
Yang kenyataanya tidak ada yang kelelahan karena bekerja di keluarga Anggara.
Semua di persiapkan oleh para Ahli Dekor. Rendi hanya mengarang agar istrinya tidak keras kepala untuk saat ini.
Rara terdiam memikirkan apa yang suaminya katakan. Ia juga tidak mau mengganggu suasana keluarga Rendi yang pastinya saat ini sedang rusuh karenanya yang menggagalkan acara.
"Baiklah besok kita berangkat jam berapa sayang?" Tanya Rara bersemangat.
"Sepulang dari kantor,"jawab Rendi.
"Aaah lama," ucap Rara.
"Apa kamu mau aku tidak bekerja hanya untuk menemui mamahku. Kalau aku tidak bekerja lalu siapa yang akan membiayai kelahiran anak kita nanti kehidupanmu kebutuhan kita juga masa depan anak kita," ucap Rendi tersenyum tertahan.
"Ah iya yah, baiklah kita berangkat sepulangmu bekerja ya Sayang," ucap Rara bersemangat.
"Hmm,aku harus sedikit pintar untuk meredakan keras kepalamu ini sayang maaf ya ini untuk kebaikanmmu," batin Rendi.
Rendi mencoba mengundur setiap ke inginan istrinya yang tidak bisa ia bantah itu.Rendi sudah tidak perlu bekerja lagi karena semua sudah ia miliki dalam kendalinya setiap hal tidak ada yang tidak ia jangkau kecuali keras kepala istrinya ini.
"Ayo tidur aku sudah tidak sabar datangnya hari esok untuk bertemu keluarga Anggara," ucap Rara bersemangat .
"Bukankah katamu sudah bertemu mereka?" Tanya Rendi.
"Iya siiih, tapi itukan bukan aku yang sebagai menantu di rumah itu," jawab Rara.
Mereka kembali ke kamar dan tertidur sampai menjelang sepertiga malam Rara bersembahyang dan berdoa.
__ADS_1
"Alhamdulillaah terimakasih ya Allaah atas segala kebaikanmu yang tak pernah tiada hentinya kau jadikan aku anak, ibu, dan ayah yang menyayangiku sahabatku dan sekarang Suamiku juga, kau berikan anak untuk pernikahan kami, semoga keluarga Anggara bisa memperlakukan kami dengan baik dan menyayangi kami," Aamiin. Ucap Rara mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.