
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen yang banyak kak, favoritkan dan vote, Tip juga kak, yach... Selamat membaca kak. Oh iya gabung group chat aku Kak ya, Emot senyum.
Setelah masak Rara dan Naura kini Menyiapkan makan malam dengan wajah yang berseri dan tersenyum di wajah Rara yang memang sangat ceria tidak lepas dari kelembutan dan senyumannya. Naura sangat nyaman ketika ia berada di rumah Rara, apalagi mengingat ibu mertuanya itu sangat ramah dan baik kepadanya.
Bagi Naura kelembutan Rara terasa seperti dirinya memiliki seorang ibu. Meski memang Naura tidak pernah merasakan sentuhan seorang ibu sama sekali namun ia memiliki cinta seorang ibu dari diri Rara.
"Mah, kenapa Mama sangat baik sekali?" tanya Naura.
Naura terdiam dengan apa yang ia tanyakan kepada Rara hal yang sangat konyol, yang sebenarnya adalah dia tidak berniat untuk berbicara seperti itu tapi dia sebenarnya sangat ingin sekali meminta izin kepada Rara untuk pergi ke kantor Rayn. Namun karena ia tidak berani untuk mengatakannya Naura memilih untuk mengalihkan pertanyaannya.
"Kamu kok lucu sekali sayang? Mama itu harus baik apa lagi seorang ibu tentu akan baik kepada anak-anaknya apalagi sama kamu!" jawab Rara tersenyum lalu ia mencubit pipi Naura dengan gemasnya.
"Hehe iya Mah, Naura heran saja selama ini Naura tidak pernah merasakan sentuhan seorang ibu yang sesungguhnya, Memang iya sih ih Daddy sama tante Ale mereka sedang dekat tapi kan mereka belum seutuhnya bersama," ucap Naura tersenyum mengingat Daddy dan juga sekretarisnya itu.
"Oh jadi Daddy kamu itu beneran jatuh cinta sama sekretarisnya itu? Mama pikir dia mau sama anak pengusaha itu soalnya kata Rendy jadi kamu sering makan malam tuh dengan anak pengusaha itu," ucap Rara.
"Tidak tahu kalau pun seperti itu, Naura hanya akan mendukung mami Alea tidak dengan wanita lain," balas Naura.
"Ya Mama dukung kamu sayang kita harus menyatukan Dedi kamu sama tante Ale, Mama juga setuju itu," ucap Rara tersenyum.
Naura mengangguk dan tersenyum keduanya tertawa mendengar penuturan Naura tentang Mark dan Alea yang seringkali bertengkar dengan manis yang diketahui oleh Naura sejak kecil. Meski mereka berhubungan sebagai rekan kerja, namun bagi Naura mereka terlihat manis dan bahkan sangat romantis.
Hanya tidak berstatus sebagai sepasang kekasih. Setelah menyiapkan makan malam, Rara dan Naura kini duduk di ruang tamu menghampiri Rendi yang tengah bercanda gurau dengan Raisa.
"Mah makanannya sudah matang? Raisa sudah laper!" tanya Raisa di pangkuan Rendy.
"Sudah Sayang, kalau mau makan ayo sekalian sama papa kamu juga kita makan bersama!" ajak Rara.
"Bukannya kamu bilang mau menunggu anak gadis mau itu? Dia belum pulang lo jam segini?" tanya Rendy.
"Iya juga ya anak gadis ku itu kenapa belum pulang juga?" balas Rara.
Rara mengerutkan dahinya mengingat Amira yang masih belum pulang juga.
Saat keduanya tengah memikirkan tentang anak gadisnya tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, membuat Rara tersenyum lalu ia berdiri.
"Nah itu pasti anak gadisku!" ucap Rara lalu ia berjalan meninggalkan ruang tamu menghampiri pintu rumahnya.
Saat pintu terbuka Rara tersenyum begitupun dengan Amira yang sangat bahagia ketika melihat ibunya berada tepat di hadapannya. Keduanya sangat bahagia lalu Amira memeluk ibunya dengan sangat erat dan penuh Kerinduan kepada ibunya itu. Begitupun dengan Rara ia sangat merindukan anak gadisnya itu.
"Kamu sudah pulang sayang?Mama sangat merindukan kamu!" ucap Rara.
__ADS_1
"Iya Mah. Maaf Amira tadi banyak sekali pekerjaan dan kini Mama menghilangkan rasa lelah Amira dengan membayar segala Kerinduan Amira pada Mama!" jawab Amira tersenyum lalu ia memeluk ibunya lagi.
"Tentu saja Mama juga sangat merindukan kamu. Apalagi saat kamu jam segini masih belum pulang juga! Kamu pulang sama siapa tanda tanya sama anak buahnya Papa bukan?" tanya Rara.
"Tentu saja mereka selalu mengikuti Amira Mah, walaupun Amira menggunakan bus untuk pulang," jawab Amira tersenyum lalu merangkul lengan ibunya dengan senyum di wajahnya ia sangat merindukan ibunya itu.
"Kamu ini masih saja nakal, padahal sudah disediain mobil untuk khusus untuk kamu tapi malah dengan asyiknya kamu naik bis!" ucap Rara.
"Iya Mah! Lain kali kalau pulang malam jam Amira pulang sama anak buah papa saja," balas Amira tersenyum lalu mencium pipi ibunya.
"Nah gitu dong kamu itu anak gadis jadi harus waspada!" ucap Rara.
Saat keduanya sampai di ruang tamu Raisa turun dari pangkuan ayahnya dan menghampiri Amira yang juga tersenyum kepada Raisa.
"Kakakku yang sangat cantik, yang sangat baik, yang sangat keren dan sangat aku cintai, aku sangat merindukan kamu Kak!" teriak Raisa menghampiri Amira dan memeluk kakaknya itu.
"Benarkah kamu merindukan Kakak?" tanya Amira tersenyum tipis.
"Tentu saja! Aku sangat merindukan kamu tahu! Tapi sepertinya kakak tidak merindukan aku ya? Kenapa tidak pernah menelponku lagi?" jawab Raisa merajuk.
"Kakak itu akhir-akhir ini sibuk kesana kemari selain melamar pekerjaan Kakak juga sudah mulai bekerja!" jelas Amira.
"Perusahaan cetak media IT Pah, disana Mira menarik info tentang setiap perkembangan perusahaan," jawab Amira.
"Kamu jadi sekertaris?" tanya Rwndi mengerutkan dahinya.
"Tidak! Mira hanya bertugas bagian pemeriksaan aja di kantor," balas Amira.
"Hmmm, Papa kira sekertaris! Jika begitu kamu tidak boleh bekerja jadi sekertaris!" tegas Rendi.
"Memangnya ada apa dengan sekertaris Sayang?" tanya Rara menghampiri Rendi.
"Tidak ada, hanya Papa gak suka saja kamu jadi sekertaris!" balas Rendi.
"Iyah kenapa Pah?" tanya Amira.
"Ayo makan! Nanti Papa beritahu mama alasannya," elak Rendi berjalan mendahului semuanya berjalan menggendong Raisa ke meja makan.
"Ada apa dengan papamu itu?" tanya Rara di hampiri Amira dan Naura.
"Entahlah Mah," jawab Naura dan Amira bersamaan.
__ADS_1
"Ayo makan Sayang!" ajak Rara.
"Aku mandi dulu ya Mah," balas Amira.
"Eeh, makan aja dulu sayang!" Rara menekan lengan Amira.
"Mah! Mira gak bakal lama kok, mandi aja," Amira meyakinkan ibunya yang enggan melepas dirinya.
"Tapi Mamah masih rindu!" rengek manja Rara.
"Dih, Mama ini! Cantik banget kalo sudah manja sama Mira! Mira jadi kangen mama," Amira memeluk ibunya dengan erat.
"Kalian ini yah! Aku juga ikutan!" sela Naura ikut memeluk Rara.
Ketiganya tersenyum ketika mereka melepas kerinduannya.
"Mira mandi sebentar Mah!" pamit Amira.
"Ya sudah,jangan lama!" balas Rara.
Amira mengangguk dan kini berjalan menaiki tangga sembari ia melihat ibunya kini berjalan bersama Naura ke meja makan. Naura masih dengan diam, ia memikirkan tentang Rayn yang kini masih belum pulang.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Rara.
"Mah, boleh gak Naura ke kantor Rayn?" tanya Naura ragu-ragu.
"Hmmm, kamu memang mau apa Sayang? Kan Rayn sedang sibuk disana?" Rara berbalik bertanya.
"Naura mau menemaninya saja Mah," jawab Naura.
"Hmmm, iya juga. Kamu bawa makanan saja, biar dia gak laper kasian suamimu!" ucap Rara tersenyum.
"Jadi boleh Mah?" tanya Naura tersenyum.
"Memang siapa yang melarangmu Sayang? Sana siap-siap!" balas Rara tersenyum.
Naura tersenyum, ia sangat bahagia dan memeluk Rara sembari ia juga mencium pipi Rara saking bahagianya. Naura bergegas pergi ke kamarnya dengan hati yang sangat bahagia ia menaiki tangga sangat bersemangat.
Rara tersenyum ketika melihat Naura yang sangat bahagia mendapatkan ijin darinya.
"Gadis baik, kenapa juga kamu tidak dari tadi!" ucap Rara berjalan menghampiri meja makan.
__ADS_1