
Dalam perjalanan, kini Rara bersama suaminya dan juga anak-anaknya sudha berada di dalam mobil. Menuju ke Jakarta dan berencana untuk berangkat ke Jerman esok hari.
Rara terdiam. Mengingat wajah kedua orang tuanya yang sangat ia sayangi. Wajah mereka yang selalu tersenyum padanya. Membuatnya meneteskan air mata. Saking tidak maunya ia berada jauh dari kedua orang tuanya.
Rendi memeluk erat istrinya. Ia tahu alasan istrinya menangis. Tapi semua sudah bertekad dan berencana untuk tinggal dan menetap di Jerman. Rendi mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut dan mengecupnya.
Mereka menuju Jakarta dengan dua kendaraan. Nesa duduk di balik kursi kemudi dengan wajah berseri. Dari tadi pagi, ia tersenyum bahagia. Saat mengingat perlakuan dan ucapan Adam padanya menjelang pagi tadi.
Kedua pengasuh yang melihat raut wajah dingin Nesa kini berubah jadi bersemu penuh senyum. Mereka berpikir jika Nesa sedang gila. Hingga pikiran mereka sendiri membuat mereka terkekeh dengan senyum di tahan.
Nesa yang selalu memasang wajah dingin dan datar. Walau ia seorang wanita. Tetapi Nesa paling di segani.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam. Kini kendaraan Rendi memasuki kediaman Anggara. Para penjaga dan pelajan sudah berbaris menyambut kedatangan tuan dan nona mereka. Ken sudah berada di baris terdepan bersama Pak Jun yang menyambut Rendi beserta anak istrinya.
Rendi keluar dari mobilnya lebih dulu. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun dari mobilnya. Rara menggendong Rayn saat turun. Ia tersenyum kepada suaminya. Ia berjalan memasuki rumah utama lebih dulu.
Rara tetap tampak ramah pada semua pelayan dan penjaga yang memberi hormat padanya. Ia berjalan memasuki rumahnya.
Lain dengan suaminya. Rendi pergi ke ruang kerja yang di ikuti Ken di belakangnya.
Ken mengerutkan dahinya, ketika ia berjalan mengikuti tuannya yang baru pulang dari Bandung.
"Ada apa dengan tuan? Kenapa dia hendak bergegas ke ruang kerja apa ada hal yangvmembuatnya masih gelisah?" batin Ken.
Rendi duduk di kursi kerjanya dengan wajah sedikit terganggu. Ia mengerutkan dahinya. Ken melihat tuannya dan berdiri di hadapannya. Ken tidak berani bertanya sebelum tuannya memulai pembicaraan dan mengutarakan semua kekesalannya.
"Ken katakan padaku apa langkahku benar?" tanya Rendi.
"Bagi saya setiap langkah tuan adalah kebenaran Tuan," jawab Ken.
"Bodoh ! Aku bukan bertanya tentang pengabdianmu, aku ingin bertanya keputusanku membawa istriku dan menetap disana," teriak Rendi.
Ken terdiam. Ia tahu maksud ucapan dan kekesalan tuannya yang meragukan setiap tindakannya jika tentang istrinya.
Ken tidak langsung menjawab pertanyaan tuannya. Ia lebih memilih menunggu tuannya reda dari amarahnya. Di saat itu ia baru akan mengutarakan pendapatnya.
Setelah di rasa suasana sudah mulai membaik. Ken memberanikan diri untuk berbicara pada tuannya.
"Tuan, bagaimana jika tuan biarkan istri saya yang berbicara dengan Nona Tuan. Mereka saling berbagi satu sama lain saya yakin salah satu dari mereka bisa saling mengerti dan berbagi kegelisahan," ucap Ken.
"Hmmm kau panggil istrimu kemari," ucap Rendi mengangguk.
"Baiklah Tuan. Saya akan meneleponnya dahulu Tuan," jawab Ken.
Ken berlalu keluar ruangan kerja Rendi. Meninggalkannya sendirian dalam keadaan menopang dagunya dengan kedua tangannya melihat ke arah Ken yang berjalan ke luar ruangannya.
Ken melakukan panggilan pada istrinya. Tapi tidak ada jawaban dari sana. Ken mencoba berulang kali menghubungi istrinya. Sudah hampir ke sepuluh kalinya Ken mencoba menghubungi istrinya tapi tidak ada respon dari istrinya.
"Ada apa?" tanya Rendi memegang bahu Ken dari arah belakangnya yang sedang melakukan panggilan pada istrinya.
"Belum ada jawaban dari Dilla Tuan," jawab Ken.
" Apa ada penjaga disana?" tanya Rendi.
"Ada Tuan," jawab Ken.
"Cepat," ucap Rendi menekankan Ken untuk menghubungi para pengawalnya di Apartmentnya.
Ken menghubungi salah satu penjaga di Apartmentnya, menanyakan tentang istrinya yang masih belum menjawab panggilan handponenya.
Ken mengerutkan dahinya. Ketika ia mendengar bahwa istrinya sedang di supermarket membeli banyak makanan. Kedua penjaga bahkan mengikutinya dengan keranjang belanjaan di keduanya.
Ken memerintahkan agar mereka mengantar nyonya mereka ke rumah besar Anggara.
Setelah mendapat jawaban dari anak buahnya. Ken berjalan ke arah tuan mudanya. Rendi sedang duduk di ruang tamu. Rendi duduk dengan santai. Ia memegang secangkir kopi di tangannya juga tumpang kaki. Terlihat indah jika melihat seorang Rendi meminum kopi dengan anggun di depan mata.
Ken tersenyum melihat tuannya kini sudah sedikit reda rasa khawatirnya.
Ia berjalan menghampirinya dan ikut duduk di sofa menghadap tuannya.
"Apa istrimu sudah menjawabnya?" tanya Rendi.
"Dia sudah berada dalam perjalanan pulang dan kemari Tuan," jawab Ken.
Rendi mengerutkan dahinya dengan mata tajamnya melihat Ken yang juga terkejut mendapati tuannya menatapnya tajam.
"Bagaimana bisa kau biarkan istrimu keluar sendi?" ucap Rendi.
__ADS_1
"Dia pergi membeli beberapa makanan Tuan, juga bersama kedua anak buah saya," jawab Ken.
"Bodoh ! Sudah ku bilang jangan pernah membiarkan istrimubkeluar sendiri apalgi kondisinya sedang hamil besar," gerutu Rendi.
"Kenapa Tuan lebih khawatir dari saya? Dilla bahkan lebih tidak mau jika aku terlalu banyak mengaturnya jika tidak, aku akan tidur di luar setiap malam Tuan," batin Ken menggerutu.
"Pergi sana jemput istrimu," ucap Rendi.
"Jemput siapa?" ucap Dilla berjalan perlahan menghampiri Rendi dan Ken yang juga terkejut melihat Dilla yang kini sudah berada di hadapan mereka.
"Kamu sudah ada disini? Bukannya sedang di super market?" tanya Ken.
"Hmm... aku tadi sudah bergegas pulang, ketika kau menelponeku, makanya tidak aku angkat aku sedang sibuk mencari makanan. Ada apa sih panggil aku?" ucap Dilla malas.
"Aku ..."
Ken tidak mau berdebat dengan istrinya. Jika berada di hadapan tuannya.
Ia lebih memilih mengalah ketika menghadapi gerutuan istrinya.
Dilla duduk di samping suaminya dengan tatapan mata malas dari istrinya.
"Apa kau sudah merasa susah berjalan?" tanya Rendi.
"Hmm tuh lihat. Tuanmu saja menanyakan kabarku dan keadaanku saat ini. Kamu mana pernah menanyakannya padaku," cetus Dilla.
"Aku tidak perlu bertanya atau mengatakannya karena aku juga sudah tahu kamu merasa berat kalo berjalan untuk apa aku bertanya lagi," batin Ken.
Rendi tersenyum melihat tingkah Ken dan istrinya yang seperti anak kecil. Ia meneminum kembali kopi yang masih di tangannya.
"Ada apa?" tanya Dilla malas.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Rendi.
"Memang Ken tidak memberitahumu usia kandunganku?" jawab Dilla sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Heh. aku saja belum tahu, aku cukup bilang saja sudah besar jika ada yang bertanya, memang siapa yang berani bertanya padaku," batin Ken tersenyum.
Setelah di dapati tidak ada jawaban dari keduanya. Dilla mendesah malas. Is bahkan menutup kedus matanya jugs bersandar ke belakang sofanya.
"Sudah ku duga, aku juga bertanya apa kau tahu berapa usia kandunganku Ken," gerutu Dilla malas.
"Berapa bulan?" tanya Dilla memandang suaminya dengan tatapan tajam.
"Sudah di bulan yang besar," jawab Ken.
"Hahaha ... "
Suara tawa dari arah tangga membuat semua orang yang ada di ruang tamu terkejut dan melihat ke arahnya. Rara tertawa menuruni tangga ketika mendengar jawaban Ken yang terdengar konyol baginya.
Rara menghampiri mereka yang masih terdiam mendengar tawanya.
"Aku tahu kalian bahkan tidak tahu seorang wanita hamil bagaimana perasaannya, tapi setidaknya kalian harus tahu usianya kan," ucap Rara masih dengan tawanya memelan.
Rara berjalan dengan senyum di wajahnya yang merubah setiap ekspresi mereka yang melihatnya.
Ia berjalan menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya.
Dilla tersenyum melihat kedatangan Rara. Ia tampak bahagia memandangi wajah segar saudarinya. Ia cemberut ketika Rara berjalan ke arah suaminya bukan ke arahnya.
"Sayang ... kemari kamu jangan duduk di sana . Aku merindukanmu," ucap Dilla.
Rara tersenyum dan mengangguk. Ia menghampiri Dilla yang sedang memasang wajah merajuk padanya.
"Sayang. Kamu semakin besar kandunganmu malh semakin manja ya," ucap Rara memeluk Saudarinya.
Ken menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah istrinya yang manja pada Saudarinya. Tapi pada suaminya malah selaku tegas dan sering marah-marah.
Rendi mengerutkan dahinya ketika Dilla membuat istrinya yang hendak ia rangkul duduk di dekatnya malah berpindah dan menghampirinya. Ia memasang wajah tidak suka saat melihat Dilla yang bermanja pada istrinya.
"Kau punya suami. Bermanjalah pada suamimu," cetus Rendi.
"Kau pikir siapa yang memintaku kemari," jawab Dilla malas.
Dilla malas dan memeluk Rara dengan erat. Dengan mata mengejek ia juga menjulurkan lidahnya ke arah Rendi yang menatap tajam padanya.
"Sayang. Memang ada apa kamu kemari? Juga kenapa ada yang memintamu kemari, kamu sedang hamil besar?" tanya Rara.
__ADS_1
Dilla terdiam dengan senyum liciknya. Ia melirik ke arah Rendi yang menatapnya dengan isyarat agar Dilla tidak mengatakan bahwa Rendi yang memintanya untuk datang.
"Aku hanya bersedia jika ada vvip Di pusat perbelanjaan di Jerman," ucap Dilla melirik dengan senyum liciknya ke arah Rendi.
"Heh, sudah ku duga apa yang ada di pikiranmu," batin Ken tersenyum.
" Ide yang bagus," ucap Rendi bersikap datar.
Rara mengerutkan dahinya ketika mendengarkan ucapan Saudarinya dan juga suaminya.
"Kamu ini gila, aku bertanya apa kamu jawab apa," gerutu Rara.
"Haha, tidak ada sayang, ayo kita naik ke kamarmu, ada yang harus aku ceritakan padamu," ucap Dilla.
"Jangan mengalihkan pertanyaanku, cepat katakan siapa yang memintamu yang sedang hamil besar begini kesini?" ucap Rara.
Rendi mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan istrinya yang semakin waspada.
"Sudh ku bikang aku ada hal yang harus aku ceritakan padamu sayang," jawab Dilla.
Rara mengerutkan dahinya. Ia melihat ke arah Dilla yang sudah berdiri dengan perlahan. Mengingat Dilla yang sudah mulai susah bergerak. Rara menuntun Dilla ke tempat bermain anak-anaknya yang berada di lantai bawah tanpa harus naik tangga ke kamarnya.
"Kenapa mengajakku kesini . bukannya ke kamarmu, aku mu ke atas melihat baby Rayn," protes Dilla.
Rara membantu Dilla duduk di sofa dengan hati-hati.
Dengan wajah serius dan penuh perhatian. Rara memberikan gelas minum beserta camilannya untuk menemani Dilla yang akan bercerita padanya.
"Katakanlah, ada apa?" tanya Rara.
Dilla tertegun juga terdiam mendengar antusias saudarinya yang sudah siap menjadi pendengar ceritanya.
"Ada apa ini aku kan kesini bukan untuk bercerita tapi untuk mendengarkan ceritamu sayang, tapi aku sudah terlanjur mau mengatakan sesuatu padanya, Rendi sialan. Akan aku habiskan pusat perbelanjaanmu karena membuatku bingung menghadapi segala perhatian saudariku ini," gerutu batin Dilla.
" Sayang, aku dengar kamu akan tinggal di Jerman apa itu benar?" tanya Dilla mencoba untuk memancing Rara bercerita.
"Hmmm. Jadi apa yang akan kau ceritakan?" tanya Rara msih dengan pandangan seriusnya.
Dilla menjadi kebingungan ketika Rara malah kembali dengan pertanyaannya. Ia bahkan berpikir dengan keras apa yang akan ia ceritakan pada Rara. Sedangkan niatnya untuk datang ke rumah Anggara adalah untuk mendengarkan cerita dan kegelusahan Saudarinya. Tapi Dilla malah jadi terasa terpojokan di setiap pertanyaan Saudarinya. Ia tidak mau berbohong apalagi membuat saudarinya cemas.
"La ... kamu baik-baik sajakan? Suamimu tidak memperlakukanmu dengan burukkan?" tanya Rara khawatir melihat Dilla yang malah terdiam dengan pikirannya.
Dilla memikirkan hal apa yang akan ia ceritakan agar saudarinya tidak selalu bertanya padanya.
Ketika Dilla berpikir terlalu dalam dan keras. Perutnya sedikit berdenyut dan memberi respon pada bagian bawah perut Dilla.
Ia sedikit mengaduh memegang perutnya.
Rara terkejut mendengar gaduhan Dilla yang berada di depannya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Rara khawatir.
Dilla tersenyum melihat saudarinya sangat khawatir padanya.
"Tidak apa-apa, bayiku hanya menendangku saja aku terkejut," jawab Dilla.
"Kamu serius Sayang? Ayo kita pergi ke rumah sakit," ucap Rara merasa khawatir.
" Tidak apa kata Dokter itu hal biasa jika bayiku bergerak , juga usia kandunganku baru delapan bulan," jawab Dilla.
" Apa kamu yakin, kok aku malah mengira kamu akan melahirkan Sayang," ucap Rara.
"Dokter bilang ibu hamil akan melahirkan ketika usia sudah sembilan atau sepuluh bulan," jawab Dilla.
"Eh, seriusan? Aku baru tahu tapi bukannya ada ya yang melahirkan di usia Tujuh buln juga?" ucap Rara menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
Dilla tersenyum menanggapi Saudarinya yang tidak berhenti bertanya. Setidaknya bisa mengalihkan kegelisahan Rara untuk saat ini.
Rara dan Dilla berbincang di ruang bermain yang kini sudah ada Rayn dan Amira yang juga ikut bermain di ruangan tersebut.
Rara bercerita dengan Dilla dengan gelak tawa yang seperti mereka berdua lakukan sejak di bandung dulu. Tapi kali ini di temani kedua anak Rara dan juga Dilla yang kini masih di dalam kandungannya.
Dilla tertawa dengan lepasnya. Walau sesekali ia meringis merasakan tendangan dan pergerakan di bagian perutnya.
Rayn selalu mendekati Dilla dan sesekali menyentuh perut Dilla yang terlihat besar di hadapannya.
Rara dan Dilla tersenyum melihat tingkah putranya yang pendiam seperti ayahnya kini sedang mengusap-usap perut Dilla dengan lembut dan menggemaskan.
__ADS_1
Amira bergelut dengan mainannya tanpabbermanja pada orangtuanya. Ia memainka boneka di depan Rara yang juga memperhatikannya. Sesekali Rara ikut bermain peran di dalam permainan Amira yang tampak selalu santai dan tanpa membuat keributan dalam kesehariannya.
Amira hanya lebih suka tertidur di bandingkan bermanja pada ibunya.